Showing posts with label non-fiksi. Show all posts
Showing posts with label non-fiksi. Show all posts

Judul buku : Backpacker KW : Ngider ke 7 Kota di Prancis-Jerman
Pengarang : Brillianto K. Jaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2017
Tebal buku : 161 Halaman

Pengalaman yang bukan KW

Buku Backpacker KW: Ngider ke 7 Kota di Prancis-Jerman merupakan buku karya sang Executive Producer (EP) stasiun televisi bernama Brillianto K. Jaya, ia lahir di Jakarta dan merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) jurusan bahasa Jerman dan Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan penyutradaraan televisi. Karier televisinya berawal di ANTV sebagai  production assistance (PA), scriptwriter, dan naik menjadi seorang produser. Saat ini ia menjadi Executive Producer (EP) di Metro TV.
Selain menulis buku Backpacker KW: Ngider ke 7 Kota di Prancis-Jerman, pria yang akrab disapa Brill ini pernah menulis Buku-buku mengenai dunia televisi diantaranya adalah Broadcast Undercover (2013), Belajar News Anchor pada Najwa Sihab (2014), Mengikuti Jokowi dari Solo ke Istana: Kisah Jurnalis Embadded (2015), Belajar Host dari Farhan dan Nico (2015), Produser TV dari A sampai Z (2016), dan Kuliah Jurusan Apa? Broadcasting.
Buku Backpacker KW: Ngider ke 7 Kota di Prancis-Jerman berisi cerita perjalanan Brillianto K. Jaya menjelajahi negara Prancis dan Jerman yang sudah lama ia inginkan dan ia tunggu selama 24 tahun,karena Brill dulunya berkuliah di Sastra Jerman di Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang sekarang Fakultas Ilmu Bahasa (hal v).  Dalam perjalanannya ke Prancis dan Jerman, Brill melewati beberapa  hal yang unik dan menurutnya lucu, loket pemeriksaan visa di bandara Paris “main asal tutup” yang membuatnya kaget, dan harus berpindah ke loket lain (hal 12), di Bandara Charles de Gaulle dalam monitor LCD kata ‘Jakarta’ masih menggunakan ejaan lama yakni ‘Djakarta’ dan karena hal itu ia merasa di Prancis pada tahun 1960-an (hal 13), pintu WC yang menggunakan nomor password untuk menghindari yang bukan pelanggan restoran Brasserie u Printemps masuk ke WC tersebut(hal 33), makam dari raja dan pahlawan-pahlawan yang tidak seperti makam (hal 49), tiket masuk ke makam yang sekali bayar bisa berkunjung ke tiga obyek wisata (hal 52), jika di indonesia buang air kecil membayar Rp. 1.000, di stasiun paris membayar Rp. 15.000 (hal 69), berkeliling Jerman sepuasnya tanpa harus membayar lagi dan satu tiket berlaku untuk 5 orang (hal 72), dan masih banyak lagi hal unik yang terjadi selama di Jerman dan Paris.
Selain keunikan dan kelucuannya, dalam buku tersebut  terdapat berbagai kisah tentang perbedaan Indonesia, Jerman, dan Prancis. Mall di Prancis sangat disiplin dan tepat waktu karena saat sudah memasuki jam tutup, maka semuanya akan tutup, beda dengan Indonesia yang belum waktunya untuk tutup tapi para pedagangnya sudah mulai berbenah untuk tutup (hal 59). Selain itu pemerintah Prancis dan Jerman menganjurkan para masyakarakatnya untuk membawa kendaraan pribadi, namun kendaraan yang dimaksud adalah sepeda, karena untuk mengurangi polusi dan kemacetan, pemerintah juga memberikan gaji tambahan untuk warganya yang menggunakan sepeda ketika berangkat bekerja (hal 62), dan masih banyak lagi beberapa perbedaan Indonesia, dan Jerman yang dituliskan melalui catatan singkat (hal 127). Brillianto K. Jaya juga menyisipkan berbagai tips untuk para pembaca bagaimana cara Backpacker, Melewati berbagai hal yang terjadi ketika di negeri orang, dan banyak sekali pesan dan tips yang disampaikan Brill.
Kelebihan dari buku Backpacker KW: Ngider ke 7 Kota di Prancis – Jerman menurut saya adalah dari segi Cover buku yang berwarna berisikan animasi-animasi yang simple, kemudian kertas dari buku terlihat berwarna namun tidak terlalu banyak warna menjadikan buku terlihat elegan, Buku ini juga memiliki keterangan-keterangan orang yang terlibat dan yang berperan besar dalam pembuatan buku ini. Penulis juga menggunakan kata-kata yang jenaka / lucu sehingga cerita dalam buku ini tersisipi humor-humor yang membuat pembacanya menjadi terhibur karena kalimat yang digunakan. Dibalik itu juga pesan dari buku ini tersampaikan dengan jelas, tidak hanya cerita saja, pesan yang disampaikan ada yang langsung ataupun tidak langsung, kemudian tips dan trik juga tersampaikan di buku ini bagaimana cara melalui seluruh perjalanan di negeri orang dengan baik walaupun Brill pertama kali untuk melakukan sebuah backpacker, cocok untuk orang yang ingin belajar berkelana. Cerita dari buku ini juga  disampaikan secara runtut dengan batasan setiap pembahasan sehingga mengurangi kalimat yang berbelit.
Kekurangan dari buku ini adalah dari bahan kertas yang tipis dan berwarna kuning sehingga mungkin dalam jangka lama akan sedikit rapuh ataupun rusak dimakan usia, bahasa yang digunakan adalah bahasa nonformal yang digunakan untuk bercerita ataupun bahasa sehari-hari dan kata-katanya sedikit seperti kata lokal sehingga kurang dipahami oleh orang dari daerah yang diluar jawa. Tebal dari cover buku juga kurang bagus jadi mungkin ketika buku tidak tertata rapi makan akan banyak kertas yang menekuk dan tidak lurus lagi, mudah lecek.
Buku ini bermanfaat dan layak dibaca untuk berbagai kalangan, terutama bagi orang yang ingin mencoba pengalaman baru pergi keliling kota lain ataupun negara lain, karena didalamnya ada berbagai tata cara dan bagaimana cara melalui setiap kendala dalam perjalanan karena menggunakan dana yang pas-pasan. Dalam buku ini juga berisi pesan bahwa setiap orang harus belajar tidak hanya dari buku pelajaran namun pengalaman, Brill tidak hanya bercerita namun memberikan info yang sangat penting agar saat pembaca ingin melakukan backpacker  tidak tertipu oleh ketidaktahuan. Dan buku ini mengajarkan untuk tidak mengeluh dalam melewati sesuatu, tetap lewati saja dan nikmati perjalanannya.





  • Penerbit: Brilliant Books
  • Penyusun: Zaka Putra Ramdani
  • Tahun: 2019
  • Halaman:151
  • Berat: 470 Gram
  • Dimensi: 14 x 20 Cm
  • Cetakan: Pertama       
  • ISBN: 978-602-5861-20-8
  • Harga: Rp. 45.000,00

Sesuai judulnya, buku ini mengajak kita untuk membiasakan kebiasaan yang tidak biasa. Buku ini lebih banyak memotivasi kita agar selalu bersikap positif dan optimis terhadap apapun. Sangat membantu untuk orang-orang yang merasa dirinya kurang,down,tidak percaya diri, dll. Yang membuatnya menarik adalah setiap halamannya berwarna cerah. Mengesankan bahwa buku ini benar-benar memotivasi kita untuk tetap cerah, ceria, semangat, dll. Memang warna yang dipakai didominasi warna oranye yang merupakan warna sampulnya. Tetapi tetap enak dilihat dan dibaca. Dan untuk buku yang halamannya hampir semuanya berwarna oranye dan kertas yang bagus ini, harganya termasuk murah. Bahkan tidak menyentuh Rp. 50.000,00. Tidak hanya itu, desain setiap halaman dan layoutnya sangat rapi sehingga enak untuk dibaca lama-lama. Ukurannya juga kecil jadi mudah untuk dimasukkan ke dalam tas kecil. Yang menjadi kelemahannya adalah buku ini kurang berisi. Memang halamannya lumayan banyak, namun karena satu halamannya terkadang memiliki layout yang berlebihan membuat isinya menjadi sedikit.

Overall buku ini sangat cocok bagi kalian yang sedang merasa down atau kurang semangat. Isi bacaannya ringan-ringan  dan sangat memotivasi kita.


Ijo Anget Anget
Judul buku : Ijo Anget Anget
Penulis : KomunitadS Blogger Angingmammiri
Penerbit : Gradien Mediatama
Tahun terbit : 2008, cetakan pertama
Panjang : 19cm
Lebar : 12,3cm
Tebal : 144 halaman

Buku Ijo Anget Anget karya Komunitas Blogger Angingmammiri ini merupakan salah satu buku yang ditulis bersama-sama oleh suatu komunitas . Buku yang berisi kumpulan dari pilihan terbaik lomba pengalaman  gokil dikemas dengan sampul buku yang menggambarkan salah satu pengalaman lucu dalam cerita buku tersebut. Warna dominan dark sampul buku ini hijau dan kuning keeputihan. Terdapat gambar perempuan yang sedang menginjak kotoran kerbau berwarna hijau, dan seekor kerbau berwarna coklat yang sedang tertawa. Warna tulisan dari buku ini berwarna hijau. Pada bagian pojok kanan bawah terdapat logo dari Kelompok Blogger Angingmammiri dan pada bagian pojok kanan atas terdapat logo dari penerbit. Buku ini menampung 15 tulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman penulis. Namun kali ini, saya akan membahas salah satu tulisan dari buku ini yang berjudul Ijo Anget Anget
Beberapa waktu terakhir, aku sering bnaget ngeliat acara televisi yang berbau petualangan dan menjelajahi seluruh isi Indonesia. Sempat berpikir bahwa pekerjaan mereka, yaitu para host dan crew sangat enak sekali karena sama halnya seperti hobi yang dibayar. Selama menonton acara itu aku sembari berandai andai jikalau aku juga bida seperti mereka, tapi apalah dayaku, itu hanya angan angan yang sulit dicapai.
Tapi, tak lekang oleh waktu  tiba tiba kepala bagian di kantor aku bekerja memberiku kabar kalau aku harus pergi ke salah satu daerah di Sulawesi. Aku ditugaskan disana untuk mencari tau bagaimana kehidupan masyarskat disana. Kaget dong sayaaaaa, rasanya seperti mimpi didalam mimpi. Senaangnya bukan main, akhirnya yang saya inginkan selama ini dapat terrealisasikan. Yaaaps, hobi yang dibayar!
Sesudahnya sampai di salah  satu daerah di Sulawesi, aku dan rekan rekan team bergegas mencari penginapan. Kami berada di kota Malino, Kota yang memilikj suasana sejuk dan asri jauh dari polusi. Jalan jalanan dan kehidupan yang masih tradisional sangat terlihat sekali di kota ini. Setelah mencari penginapan, kami bergegas untuk menjalankan tugas. Selama perjalanan, pemandangan yang disuguhkan sangat cantik dan bersih.
Perjalanan terus djlakukan sesuai prosedur pekerjaan. Namun diteengah perjalanan, tiba tiba saya menginjak sesuatu yang lembek dan banyak. Dan ternyataaaaaaa  bener ijo anget anget tai keboooooo…
Karena terlalu bersemangat berjalan menyusuri desa desa dengan suasana yang sejuk, langkah kakiku ternyata menyalahi aturan sehingga menginjak hal yang tidak-tidak.

Kelebihan :
·         Bahasa dari buku ini mudah dipahami oleh anak muda
·         Ringan  dalam pembahasannya
·         Dalam satu buku terdapat 15 tulisan yang berbeda-beda sehingga tidak membuat jenuh para pembacanya
·         Beberapa tulisan menginspirasi pembaca

Kekurangan :
·         Gambar-gambar yang tertera tidak berwarna
·         Beberapa cetita bertele-tele

Kesimpulan :
Buku kumpulan pengalanan teman teman dari komunitas blogger Angibgmammiri membawa inspirasi.  Bermimpi untuk mendapatkan sesuatu memang tidak ada yang melanggar. Melihat keatas agar selalu optimis dalam menggapai mimpimu. Tetapi, lihatlah kebawah siapa tau nginjek ijo anget anget juga hahaha. Dainty Dheanara, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY

detail buku



Judul              : Titik Lemah
Penulis           : Zarry Hendrik
Penerbit         : Mediakarta
Kota Terbit    : Jakarta
Tahun Terbit : 2019
Cetakan          :
Kedua
Tebal Buku    : 2
12 Halaman
ISBN               : 978-979-794-576-3

Berbicara tentang sebuah perasaan,  pembaca buku ini akan terlarut dengan sebuah ungkapan-ungkapan perasaan yang sangat dalam tentang apa yang dirasakan langsung oleh penulis buku ini.

Buku ini membahas tentang Titik Lemah adalah sebuah buku kumpulan perasaan, karena tiap orang punya titik lemah, ada yang titik lemahnya karena di keluarga tidak ada sosok ayah, keluar dan mencari sosok ayah, ada juga yang titik lemahnya mantan.

Berdasarkan isi Buku yang ditulis oleh Zarry Hendrik ingin memberitahukan tentang mencintai kesendirian. Setiap orang pasti pernah sendiri, mau yang perasaan tidak terbalas, atau sudah berhubungan tapi tiba-tiba sendirian, sang penulis mendapat ceritanya dari teman-temanya, ada yang ditinggal waktu sayang-sayangnya, lalu penulis memposisikan diri sebagai yang orang kehilangan Lewat buku ini, penulis berharap pembaca dapat mengambil hal berguna dari tulisannya, seperit penataan kalimat, diksi, dan gaya menulisnya yang berima. Penulis uga ingin pembaca belajar untuk merelakan,.setiap yang hilang, pasti harus direlakan namanya juga hilang mau dicari kemana.

Dalam segi bahasa, buku ini menggunakan bahasa sehari-hari yang sangat mudah dipahami Dalam segi kualitas kertas yang digunakan, buku ini menggunakan kertas seperti kertas buram namun sedikit bagus kwalitasnya. Bagian dalam dari buku ini sangat menarik, karena selain berisi cerita juga buku ini memberikan beberapa kata-kata mutiara di setiap sub bab yang ada, sehingga pembaca tidak merasa jenuh atau bahkan mengantuk saat membaca.








Judul              : Seni Membaca Karakter Orang
Penulis           : Hasna Wijayati & Abdul Wahid
Penerbit         : Psikologi Corner
Kota Terbit    : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2016
Cetakan          : Pertama
Tebal Buku    : 264 Halaman
ISBN               : 978-602-6380-71-5

Membaca karakter orang lain? Pastinya seru sekali. Dengan menggunakan beberapa teknik yang didasari oleh riset pakar psikologi membuat pembaca buku ini akan menjadi paham bagaimana caranya membaca karakter seseorang dilihat dari bentuk anggota tubuh, perilaku, bahasa tubuh hingga sampai asal negara.

Buku “Seni Membaca Karakter Orang” membahas tentang karakter seseorang menurut bentuk anggota tubuh, bahasa tubuh, dsb. Di dalam buku ini juga terdapat cara-cara ampuh untuk menghadapi orang yang menunjukkan bahasa tubuh baik itu bahasa tubuh menolak, marah ataupun bahasa tubuh ketika berbohong, dsb. Contoh-contoh bentuk anggota tubuh juga disertai dengan ilustrasi gambar, seperti wajah lebar artinya seseorang tersebut sangat percaya diri, wajah sempit artinya kurang percaya diri, dan masih banyak lagi yang lain. Dalam buku ini juga berisikan tentang karakter umum seseorang yang terdapat di berbagai negara.

Berdasarkan isinya, Hasna Wijayati dan Abdul Wahid sebagai penulis buku ini ingin memberitahukan tentang berbagai macam karakter orang lewat bahasa tubuh yang ditunjukkan. Selain itu, buku ini juga berisikan tentang apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi kejadian-kejadian tertentu contohnya saja ketika seseorang sedang berbohong kita diberikan pilihan-pilihan bagaimana cara untuk menghadapi orang yang sedang berbohong.

Dalam segi kebahasaan atau ejaan bahasa, buku ini menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami namun tidak meninggalkan ejaan yang harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan. Dalam segi kualitas kertas yang digunakan, buku ini menggunakan kertas berwarna krem yang terang dengan perpaduan warna tinta hitam sehingga tulisan dalam buku ini dapat dibaca dengan sangat jelas. Bagian dalam dari buku ini sangat menarik, karena selain berisi tulisan juga buku ini memberikan beberapa ilustrasi gambar di sela-sela tulisan, sehingga pembaca tidak merasa jenuh atau bahkan mengantuk saat membaca. Walaupun ilustrasi gambar hanya berwarna hitam putih, kesan monokrom menambah kesan warna tersendiri dalam ilustrasi gambar tersebut.



“Aku Mendakwa Hamka Plagiat”, karya Muhidin M. Dahlan


Seorang kyai pun tidak luput dari berbuat salah.  Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau Hamka, seorang ulama cum sastrawan terkemuka, pernah didaku sebagai plagiator. Karyanya yang terkenal, “Tenggelamnja Kapal van Der Wijck” (1938), dianggap jiplakan dari karya sastrawan Mesir, Al-Manfaluthfi, “Magdalena”. Manfaluthfi sendiri menyadur karya penulis Perancis, Alphonse Karr, “Sous les Tilleuls”. Oleh Pramoedya Ananta Toer (Pram), Hamka didakwanya plagiat.

Kasus ini disebut sebagai polemik terbesar kesusastraan Indonesia tahun 1962-1965. Peperangan antara Pram dengan Hamka menuai pro-kontra. Gus Muh, sapaan sang penulis, melihat bahwa pada masa itu, para sastrawan terpolarisasi menjadi dua: kubu Lekra dan kubu Manifesto Kebudayaan (Manikebu). Kubu Lekra, dipelopori oleh Pram, berusaha “mengoreksi” novel yang diduga jiplakan ini. Sedangkan Manikebu, digaungi oleh HB Jassin, membela Hamka dengan berbagai alasan.

Berbagai usaha dilakukan oleh “Lentera” untuk membuat Hamka mengaku. Data dan fakta disajikan dengan begitu detil. “Tenggelamnja Kapal van Der Wijck” ditelanjangi dan Hamka "dibantai" habis-habisan.

“Lentera”, lembar kebudayaan dalam surat kabar Bintang Timur menggugat orisinalitas novel tersebut. Dinakhodai Pram, “Lentera” berusaha mencari kebenaran atas dugaan kecurangan Hamka. Di bawah bendera Lekra, raksasa kebudayaan Indonesia kala itu, Pram menabuh genderang perang atas Hamka.

"Tindak plagiat adalah tindak paling hina dalam kehidupan kebudayaan."
(Bintang Timur, "Lentera", 12 Juli 1964)

Awalnya, “Tenggelamnja Kapal van Der Wijck” merupakan cerita bersambung (cerbung). Berjudul serupa, cerbung ini dimuat dalam majalah Pedoman Masjarakat. Sehabis dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit M. Sjarkawi di Medan, novel tersebut langsung habis di pasaran. Kata Gus Muh, sapaan Muhidin M. Dahlan, novel itu telah 10 kali dicetak ulang, dengan total oplah sebanyak 80 ribu eksemplar. 

Tidak terlalu banyak memang, bila dibandingkan dengan seri Dilan 1990 yang dilansir Tempo.co, mencapai satu juta eksemplar oplahnya. Namun, sebut Gus Muh, oplah “Tenggelamnja Kapal van Der Wijck” termasuk sangat besar bagi karya sastra prakemerdekaan.

Hamka Di bawah Ketiak Pendukungnya

Perang Pram versus Hamka dimulai kala “Lentera” memuat esei-resensi Abdullah SP pada 7 September 1962. Namun, kala itu banyak dugaan bahwa Abdullah SP hanyalah nama samaran Pram sendiri. Terlepas dari dugaan-dugaan atasnya, Abdullah SP lah orang yang menggarami luka lama plagiarisme Hamka.

Tuduhan Abdullah SP bukan asal jeplak. Lewat perbandingan  perbaris dan idea script, ia benar-benar berhasil meyakinkan pembaca untuk turut menggugat orisinalitas novel Hamka. Lantas apa yang dilakukan Hamka? Ia tetap tak bersikap, bersembunyi di belakang para pembelanya: H.B. Jassin, Ali Audah, Goenawan Muhamad, dll.

Setelah esei-resensi itu terbit, dunia kesusastraan Indonesia heboh. Banyak yang tak menyangka ulama sekelas Hamka melakukan perbuatan yang menurut “Lentera” merupakan “keserakahan hewaniah” (hal. 45). Surat-surat pembaca pun berdatangan ke kantor redaksi Bintang Timur. Diceritakan bahwa banyak bentuk keprihatinan, gugatan, bahkan sumpah serapah ditujukan para pembaca kepada Hamka.

HB Jassin mencoba meredakan polemik ini dengan dukungan terhadap Hamka. Gus Muh menyebut, HB Jassin tak melihat adanya gelagat plagiarisme dalam novel tersebut. HB Jassin, dalam pengantarnya dalam terjemahan novel Magdalena, menganggap novel ini merupakan pengalaman pribadi Hamka, dan pengalaman pribadi masing-masing penulis itu berbeda. Pihaknya juga berkata, perlu dihitung kesamaan dan dugaan plagiarisme Hamka dalam persentase. 

Dengan tegas, Abdullah SP menyebut bahwa Hamka 95% menjiplak Manfaluthfi. Jassin tidak membalas.

Gus Muh berpendapat bahwa Jassin plin-plan. Selain berkali-kali berkelit dalam alibinya sendiri, Jassin, tulis Gus Muh, sampai tidak bisa lagi membedakan makna jiplakan, terjemahan, dan saduran. Jassin dianggap panik, dan menyangsikan arti plagiat yang ia tafsiri sendiri dalam bukunya “Tifa Penyair dan Daerahnya”. Jassin, menurut Gus Muh, telah pilih kasih.

Tak hanya Jassin, Goenawan Muhammad dan Ali Audah ditampilkan membela Hamka. Namun, hanya Jassin yang “membabi-buta” membentengi Hamka. Padahal, dalam ulasan Gus Muh, Jassin hanya berputar-putar dan tenggelam dalam ketidakjelasan definisinya terhdap makna plagiarisme.

Kelemahan Gus Muh dalam buku ini adalah tidak secara tegas menyikapi polemik ini. Namun, Gus Muh secara tersirat menggugat bahwa Hamka telah melakukan tindak plagiarisme. Hal ini dilihat dari keberimbangan argumen antar kubu. Gus Muh lebih banyak menuliskan data argumentasi kubu kontra, dan turut mempertanyakan argumen pendukung Hamka.  

Kasus-kasus “Menjijikkan” Lainnya

Gus Muh tidak hanya menyajikan polemik Hamka. Ia turut memaparkan skandal kesusastraan Indonesia terbaru. Salah satunya adalah dugaan plagiarisme yang dilakukan oleh Seno Gumira Ajidarma (2011). Cerpennya, “Dodolit-Dodolibret” sangat mirip dengan karya cerpenis Rusia, Leo Tolstoy, “Three Hermits”. 

Perbedaan antara keduanya hanya sedikit. Seno hanya mengubah latar belakang tempat, tokoh, dan latar belakang sosial. Namun, kasus ini hanya muncul sebentar, itupun hanya hangat di media sosial Facebook (hal. 213).

Gus Muh menemukan pola yang sama setiap terjadi dugaan plagiarisme. Ia turut mengritik berbagai kalangan sastrawan yang permisif terhadap dugaan plagiarisme. Mereka selalu berkutat pada tesis yang sama setiap kasus plagiarisme muncul: konsensus arti plagiarisme, dan pembelaan kontekstual yang dibuat-buat.

Muncul keresahan dalam diri Gus Muh karena hal ini. Kasus-kasus dugaan plagiarisme tidak pernah ditanggapi secara serius. Kasus-kasus serupa timbul-tenggelam tanpa jelas penuntasannya. Tidak pernah ada inisiasi di kalangan satrawan untuk membuat semacam komite sastra nasional, atau mahkamah kesusastraan. 

Lambat laun, plagiarisme sastra hanya dianggap sepele, atau kata H.B Jassin, hanya sekadar “pengaruh jang datang dari luar diri siseniman mendjelang seniman itu mendjadi” (hal. 219).

Keuletan Gus Muh dalam mengoleksi dan mengarsip surat kabar lawas patut diacungi jempol. Ia mampu menyajikan data yang diperoleh dari surat kabar sejak prakemerdekaan. Tak hanya menyadur, ia turut memasukkan hasil scan arsipan dalam buku ini; menegaskan keabsahannya. 

Bukanlah hal mudah untuk mendapatkan arsip-arsip tersebut. Selain karena selang waktu yang terlampau jauh, arsip yang digunakan merupakan keluaran lembaga terlarang kala itu:—hingga sekarang—Lekra. Afiliasi Lekra dengan PKI membikin produk-produk lembaga tersebut dilarang peredarannya semenjak Gestapu/Gestok 1965.

Judul: Jangan Kuliah Kalau Nggak Bisa Dapat Kerja!!!
Penulis: John Afifi
Penerbit: Saufa
Kota Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2015
Cetakan: Pertama
Jumlah Halaman: 124
ISBN: 978-602-255-876-7
Harga: Rp 28.000

Pendidikan tinggi makin bisa dirasakan oleh banyak orang dari tahun ke tahun, lulusannya pun berjumlah ratusan ribu hingga jutaan yang sudah siap terjun ke dunia masyarakat dan tentu saja ke dunia kerja. Tapi kenaikan jumlah sarjana ini tidak diimbangi dari jumlah lapangan kerja yang tersedia di lapangan. Hal ini tentu saja menimbulkan banyaknya sarjana pengangguran. Alhasil, ilmu yang mereka telah timba di perguruan tinggi tidak bisa mereka terapkan di dunia nyata.

Buku "Jangan Kuliah Kalau Nggak Bisa Dapat Kerja!!!" membahas secara mendalam tentang permasalahan sarjana pengangguran yang kian membludak dari tahun ke tahunnya. Lalu apa saja sebenarnya yang dibahas oleh buku ini? Mengapa bisa terjadi fenomena sarjana pengangguran, meskipun mereka adalah orang-orang terpilih yang sudah dibekali oleh ilmu-ilmu yang melimpah?

Pada dasarnya buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas asal muasal fenomena sarjana pengangguran dan penyebab lain yang turut menyelimutinya. Lalu bagian kedua membahas mengenai strategi apa yang perlu disusun saat sebelum memasuki dunia perkuliahan, saat menjadi mahasiswa, dan apa yang perlu dilakukan jika telah lulus dan menghadapi dunia kerja.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bagian pertama buku ini mengulik secara mendalam permasalahan sarjana pengangguran. Menurut buku ini, permasalahannya yaitu terletak pada cara pandang mahasiswa dan orang tuanya, serta sistem pendidikan yang berlaku saat ini. Tekanan pada masyarakat juga turut mempengaruhi lahirnya sarjana pengangguran, salah satu produknya adalah rasa gengsi. Rasa gengsi inilah yang kemudian membuat para lulusan sarjana enggan memulai karir dari yang terlihatnya remeh temeh, padahal bagus untuk mengasah etos kerja mereka di kemudian hari.

Adapun dalam bagian kedua, para pembacanya disuguhkan strategi untuk menghadapi dunia perkuliahan sehingga dapat menghindari yang namanya "salah jurusan". Karena salah jurusan akan berakibat dari tidak maksimalnya pengembangan minat dan bakat seseorang. Lalu ketika sudah menjadi seorang mahasiswa, strategi yang perlu disusun adalah dengan memperkaya diri dengan hard skill, menargetkan IPK tinggi, mengikuti organisasi, mengasah kemampuan berbahasa Inggris, dan lainnya. Dan ketika sudah lulus dan siap terjun ke dunia kerja, ada beberapa taktik yang tidak hanya berguna dalam dunia kerja, tetapi juga berguna untuk bertahan hidup di zaman yang terus berubah-ubah, salah satunya yaitu berinvestasi.

Buku ini masuk dalam kategori "Pengembangan Diri/Motivasi" bukanlah tanpa alasan, karena penulisnya sendiri adalah seorang pakar motivasi. Sehingga dapat dikatakan motivasi-motivasi yang ada dalam buku ini tidak berdasarkan omong kosong belaka. Strategi-strategi yang dituliskan oleh penulis adalah strategi yang sebenarnya bisa diterapkan oleh siapa saja. Adapun kalau sudah terlanjur ke dalam golongan sarjana pengangguran, buku ini bisa menjadi cermin untuk berkaca dan merefleksikan kekurangan yang ada dalam diri kita sehingga kita tahu apa saja yang perlu dibenahi.

Namun karena berbasis motivasi, buku ini kekurangan data dan sumber referensi yang valid untuk mendukung isi tulisan buku ini sendiri. Kebanyakan penulis memasukan pengandaian-pengandaian atas situasi tertentu yang belum tentu semua orang akan merasakan atau memahaminya. Permasalahan-permasalahan yang dibahas agaknya merupakan simplifikasi dari suatu permasalahan yang sebenarnya melibatkan banyak faktor dan cukup kompleks.

Judul             : Mencuri Kreativitas Desainer
Penulis          : Raul Renanda
Penerbit        : Transmedia Pustaka
Kota Terbit   : Jakarta Selatan
Tahun Terbit : 2014
Cetakan        : Pertama
Tebal Buku   : 250 Halaman

     Desainer menurut sebagian besar merupakan orang yang terlahir kreatif, namun ternyata kekreatifan semua orang dapat dilatih. Melalui buku ini sang penulis Raul Renata akan memberikan bagaimana cara berfikir kreatif layaknya seorang desainer. Karena menurut Raul "Menjadi orang yang kreatif adalah sebuah keunikan yang positif.
     Buku ini secara garis besar memberikan gambaran awal, tentang bagaimana seorang desainer bekerja dan bagimana dengan cara tersebut seorang desainer dapat memberikan sebuah jawaban, dari tugas yang diberikan menjadi sesuatu yang istimewa. Keistimewaan inilah yang dibutuhkan dan dipercayakan oleh klien kepada desainer, dengan pola pikir yang sama, yang dapat diaplikasikan oleh orang non-desainer, untuk membantu menjawab persoalan-persoalan lainnya. Dalam berbisnis, dalam bekerja, atau bahkan  dalam meningkatkan kualitas dirinya.
     Buku ini sendiri hanya dicetak dalam tinta putih,hitam dan orange. Pada hampir setiap halaman juga dihiasi gambar ilustrasi sehingga para pembaca bisa lebih mudah untuk menerima maksud pesan yang tertulis juga tidak bosan dengan hanya melihat tulisan saja. Walapun gambar yang tersedia hanya berwarna hitam dan putih namun kesan monokrom dalam gambar menambah kesan tersendiri. 
     Buku ini bukan hanya saja cocok untuk desainer namun juga para pekerja dengan profesi lain seperti, pebisnis yang harus tetap kreatif untuk mengembangkan bisnisnya. Bahkan pekerjaan monoton seperti seorang akuntan sekalipun juga direkomendasikan membaca buku ini agar konsep kreatif desainerpun dapat diaplikasikan dalam pekerjaannya dan bisa mempunyai nilai plus dari akuntan lainnya.

Design is a way to solve a problem, beautifully - Raul Renanda




Judul                : The Hole
Penulis             : Pyun Hye Young
Penerjemah      : Dwita Rizki
Penerbit           : Penerbit BACA
Kota Terbit      : Tangerang Selatan
Tahun Terbit    : Juli 2018
Tebal buku       : 240 Halaman
ISBN                : 978-602-6486-21-9
Harga Buku      : Rp 63.000

Tidak ada darah. Tidak ada senjata tajam. Tidak ada juga darah yang bercucuran. Bukan pembunuhan brutal yang diterima Oh Gi. Seorang pasien korban kecelakaan yang kini hanya bisa hidup di atas ranjang.

Bukan ketegangan seperti pada umumnya yang diinginkan oleh Pyun Hye Young. Tidak ada adegan action dalam novel ini hingga membawa pembaca menggebu-gebu ketika membaca. Karena tokoh utamanya lumpuh, hanya bisa menggerakkan tangan kirinya saja. bukan juga ketegangan yang muncul akibat sosok yang muncul perlahan secara diam diam. Apalagi adegan berdarah-darah yang membuat Oh Gi lumpuh.

Novel karya Pyun Hye Young merupakan nomine Shirley Jackson Award pada tahun 2017. The Hole juga masuk dalam kategori 10 novel thriller terbaik tahun 2017 versi majalah Time. Tidak heran, karena setelah membaca novel ini ketegangan yang muncul bukan dari adegan yang menggebu-gebu. Pyun Hye Young mengelola emosi dan ketegangan pembaca dengan sangat lambat.

Ketegangan dibangun secara perlahan. Melalui pengenalan tokoh, pembaca dijalin kedekatan dengan tokoh. Seakan pembaca diminta simpatinya terhadap Oh Gi, tokoh utama novel ini. Adegan menegangkan justru tidak muncul diawal hingga tengah. Nuansa thriller dibangun ketiga Oh Gi mulai curiga dengan mertua yang merawatnya. Bahkan karakter mertuanya tidak digambarkan sebagai seorang yang brutal atau dendam.

Mertua Oh Gi dijelaskan dengan gamblang jika dia merupakan orang yang elegan. Tidak banyak berbicara dan cenderung bertindak dengan cerdas. Oh Gi juga tidak dekat dengan mertuanya. Dari sinilah pembaca dapat mulai kecurigaan terhadap pelaku adegan yang menegangkan.

Menjelang adegan yang menegangkan, pembaca akan dialihkan secara mulus kedalam peristiwa masa lalu. Kehidupan Oh Gi sebelumnya memang biasa saja. meskipun seorang yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, Oh Gi tidak memiliki trauma khusus yang menyebabkan hidupnya anti sosial atau semacamnya. Bahkan diujung kehidupan ayahnya, Oh Gi menyesali dirinya tidak menyadari akan sakit yang diterita ayahnya. Padahal ayahnya sangat tidak peduli dengan dirinya dimasa lalu.

Memasuki bagaian akhir novel ini, gelagat mertua Oh Gi mulai aneh. Mendengar dari dalam kamar, sepertinya ibu mertua Oh Gi sedang mengerjakan sesuatu di taman. Orang=orang yang datang menengok Oh Gi berkata bahwa ibu mertuanya sedang membuat kolam. Kemudian hidup Oh Gi terancam ketika ibu mertuanya sering mengurus taman.

Entah ini sebuah strategi atau inilah yang mebawa novel ini menjadi yang terbaik. Akhir dari novel ini memang menegangkan. Jantung novel ini ada di akhir bagian. Namun, tidak ada kejelasan di akhir novel mengenai nasib Oh Gi.





Judul : FATMAWATI Catatan Kecil Bersama Bung Karno
Penulis : Fatmawati Soekarno
Penerbit : Media Pressindo dan Yayasan Bung Karno
Tahun Tebit : 2016
Kota Penerbit : Yogyakarta
No ISBN : (10) 979-911-600-7
Tebal Halaman : xxii + 274 hlm
Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Buku yang berjudul Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno ini merupakan buku yang ditulis oleh Ibu Fatmawati sendiri. Tahun 2016 adalah cetakan keempat buku yang diterbitkan di Yogyakarta. Dalam buku ini Ibu Fatmawati menceritakan segala suatu hal apapun yang beliau alami dan dilengkapi dengan foto-foto pada saat itu. Pada halaman awal, Ibu Fatmawati menuliskan beberapa sajak “ PETA PERJALANAN “ tahun 1977. Lalu halaman selanjutnya terdapat prakata dari Ibu Fatmawati dan juga pengantar dari Guruh Sukarno Putra yang merupakan anak terakhir Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Kemudian terdapat juga prakata dari penerbit yang merupakan terbitan keempat setelah terbitan ketiga 33 tahun yang lalu. Dalam buku ini akan membahas beberapa pokok pembahasan yaitu periode Bengkulu, periode zaman Jepang dan kemerdekaan, periode Yogyakarta, periode Istana Merdeka, dan periode Sriwijaya. 

Kemudian pada periode Bengkulu, Ibu Fatmawati menceritakan tentang kelahiran Ibu Fatmawati dan juga masa kecil beliau. Ibu Ftamawati lahir di Bengkulu pada tanggal 5 Februari 1923. Ayah dan ibu dari Ibu Fatmawati adalah Hassan Din dan Siti Chadijah. Bengkulu menurut Ibu Fatmawawi adalah pelabuhan tempat eksport hasil hutan dan hasil perkebunan. Ayah dari Ibu Fatmawati adalah seorang pegawai Borsumy dengan pangkat klerk dan gaji yang cukup baik. Pada tahun 20-an ayah Ibu Fatmawati melepas pekerjaannya karena panggilan perjuangan yaitu diorganisasi Muhammadiyah. Masa kecil Ibu Fatmawati tidak seperti anak-anak zaman sekarang. Beliau mengaalami banyak permasalahan karena pada masa itu Indonesia masih dikuasai pleh Belanda. Ibu Fatmawati tinggal di kota kecil tidak jarang keluarganya mengalami krisis rumah tangga. Ibu Fatmawati juga seorang putri yang mandiri, beliau mau meringankan beban orangtuanya dengan berjualan. Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa Ibu Fatmawati berkali-kali pindah rumah.

Selanjutnya masih periode Bengkulu dimana pertama kali Ibu Fatmawati bertemu dengan Bung Karno. Pada saat itu Bung Karno memiliki seorang istri yang bernama Ibu Inggit. Ibu Fatmawati juga sempat melanjutkan sekolah bersama Ratna yang merupakan anak angkat Bung Karno dan tinggal di rumah Bung Karno. Namun, terjadi permasalahan yang disebabkan Ratna yang mengharuskanku pulang dan meninggalakan rumah Bung Karno. Setelah kejadian itu, pada suatu waktu Bung Karno mendatangi rumahku. Tak disangka saat itu Bung Karno menyatakan cinta pada Ibu Fatmawati. Namun, Ibu Fatmwati merasa bingung karena Bung Karno sudah memeliki istri. Sehingga ayah menyuruh Ibu Fatmawati untuk menanyakan hal tersebut kepada para tetua. Setelah Ibu Fatmawati bertanya kesana kemari akhirnya beliau mengiyakan Bung Karno namun dengan syarat harus menjadi istri satu-satunya. Setelah Ibu Fatmawati memberi jawaban Bung Karno pergi ke Jawa. Ibu Fatmawati harus menunggu Bung Karno mengikuti perjuangan selama empat tahun dan melakukan pernikahan. 

Setelah menikah Ibu Fatmwati dibawa ke Jawa untuk bertemu dengan orangtua Bung Karno dan juga menetap di Jakarta. Perjalanan ke Jawapun merupakan perjalanan yang tidak mudah. Sepanjang perjalanan rombongan Ibu Fatmawati haru was-was terhadap Belanda. Periode Bengkulu berakhir dengan dibawanya Ibu Fatmawati ke Jakarta. Pembahasan yang kedua yaitu mengenai periode zaman Jepang dan kemerdekaan. Periode ini diawali dengan tempat tinggal Ibu Fatmawati di Jakarta yaitu di Pegangsaan Timur 56. Di rumah inilah Ibu Fatmawati melahirkan putra pertama yang bernama Muhammad Guntur Sukarno Putra. Rumah ini juga menjadi saksi kemerdekaan dengan dibacakan teks proklamasi, pengumungan kemerdekaan juga pengibsran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya. Saat ini juga menceritakan lahirnya pancasila di gedung Tjo Sangi In dengan pidato Bung Karno yang membara. Selain itu juga tak lupa Ibu Fatmawati menceritakan kejadian di Rengasdengklok. Periode ini merupakan periode yang sangat menegangkan.

Setelah zaman Jepang dan Kemerdekaan kita akan disuguhkan dengan periode Yogyakarta. Pada masa ini Ibu Fatmawati menceritakan hijrahnya ke Yogyakarta dikarenakan Jakarta sudah tidak aman lagi. Di Yogyakarta, Bung Krano dan Ibu Fatmawati tinggal di Gedung Agung. Hijrahnya Bung Karno beserta keluarga menjadikan Yogyakarta sebagai pusat perjuangan. Segala sesuatu mulai pemerintahan dan juga sebagai markas dilakukan di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono juga memberi bantuan yang sangat mencukupi kebutuhan selama di Yogyakarta. Pergolakan juga tidak henti-hentinya terjadi, dan saat iitu pula lahir putri Ibu Fatmawati yang bernama Megawati. Ibu Fatmawati juga selalu mendampingi Bung Karno disetiap kunjungannya. Pada periode ini juga diceritakan mengenai Agresi Militer Belanda satu dan dua. Hal tersebut mengharuskan keluarga Bung Karno untuk berpindah tempat karena Belanda sudah mengetahui keberadaan Bung Karno. Saat itu juga Bung Karno dan Bung Hatta di bawa ke pulau Bangka dan kami yang berada di Yogyakarya menjadi tahanan Belanda. Hingga Ibu Fatmawati dan yang lainnya juga harus keluar dari Gedung Agung.

Selanjutnya pada saat masa di Istana Merdeka dimana Bung Karno dan keluarga kembali ke Jakarta. Namun, sebelum Bung Karno dan keluarga kembali ke Jakarta keadaan sudah membaik sehingga Bung Karno dan Bung Hatta dilantik sebagai Presiden dan Wakil presiden RIS (Republik Indonesia Serikat). Dalam periode ini Ibu Famawati menceritakan saat dirinya kembali ke Jakarta dan dijemput para kerabatanya. Ibu Fatmawati juga membahas mengenai gedung Istana Merdeka dan Istana Negara di sebelah utaranya. Ibu Fatmawati mendampingi Bung Karno ke berbagai negara untuk kunjungan. Kelahiran putra putri Bung Karno dan Ibu Fatmawati juga diceritakan pada periode ini. Pada tahun 1951 lahir seorang putri yang bernama Dyah Permana Rachmawati Sukarno Putri. Tahun 1952 lahir putri ketiga yang bernama Dyah Mutiara Sukmawati. Terakhir pada tahun 1953 lahir seorah putra yang diberi nama Mohammad Guruh Irianto Sukarno. Kelahiran Guruh merupakan anak terakhir dari Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

Kemudian yang terakhir adalah periode Sriwijaya yang dalam buku ini diceritakan sangat singkat. Periode ini menceritakan kepergian Ibu Fatmawati dari Istana Merdeka dikarenakan hubungan beliau dengan Bung Karno yang kian memburuk. Bahkan Ibu Fatmwati juga meninggalkan kelima anaknya di Istana Merdeka. Ibu Fatmawati merasa sedih dan terpukul sekali atas apa yang diperbuat Bung Karno. Dalam periode sebelumnya Bung Karno pernah meminta izin pada Ibu Fatmawati untuk menikah lagi. Namun, Ibu Fatmawati tidak mengizinkannya dan bertahan hingga Guruh lahir. Ibu Fatmawati tetap tegar dan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Sehingga buku ini sangat menarik dan seakan-akan membawa para pembacanya terlibat dalam segala peristiwa. Buku ini juga sangat cocok dibaca untuk yang menyukai sosok ibu Fatmawati. Bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti. Sehingga para pembaca mudah untuk memahami isi dari buku ini. 










Judul                              : Filosofi Teras
Pengarang                     : Henry Manampiring
Penerbit                         : Buku Kompas
Tempat Terbit                 : Jakarta
Tahun Terbit                   : 2019
Jumlah Halaman            : 320 Halaman
ISBN                               : 978-602-412-518-9
Harga                             : Rp.98.000,00


Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal? Baperan?susah move on? mudah tersinggung dan marah-marah di sosial media maupun dunia nyata? 
Filosofi teras solusinya.

Generasi milenial merupakan generasi yang akrab dengan dunia digital. Di lain sisi adanya kedekatan mereka dengan dunia digital, pola interaksi pun semakin tidak bersekat. Adanya keleluasaan dalam melakukan interaksi yang tak bersekat tersebut memunculkan permasalahan-permasalahan di berbagai sisi, yang kian  mewarnai kehidupan di era yang serba digital saat ini.

Misalnya saat pagi hari ketika keluar rumah menuju tempat bekerja, kampus ataupun  saat ke sekolah kita harus berperang menembus kemacetan jalanan. Belum lagi konten yang ditampilkan di berbagai platform media saat ini, yang isinya perbedaan opini, perbedaan pandangan politik hingga iklan-iklan yang membombardir diri kita dan masih banyak keributan lainnya. Begitu banyak konten yang memicu adanya depresi dan tekanan dalam diri kita.

Filosofi teras disebut sebagai salah satu solusi yang relevan dengan kehidupan dan permasalahan era milenial. Lalu apakah yang dimaksud dengan stoisisme atau filosofi teras ini? Kenapa bisa dianggap sebagai salah satu cara yang relevan dalam menyembuhkan depresi, mudah stres, dan gampang marah di era milenial ini?

Asal muasal filsafat ini di Athena masa Yunani kuno 300 tahun sebelum Masehi  atau 2300 tahun yang lalu, Zeno seorang pelopor filsafat stoa  yang kerap mengajar filsafat di teras berpilar yang dalam bahasa Yunani disebut dengan stoa.  Sedangkan dalam versi indonesia  stoa menjadi filosofi teras. Ketika menyebut filsafat Yunani Kuno mungkin akan timbul di benak kita nama-nama Aristoteles, Sokrates, dan Plato. Zeno mungkin  termasuk daftar nama yang cukup asing. Selain itu filsafat  yang terkesan sebagai ilmu yang abstrak, rumit dan mengawang-awang, seringkali memicu pertanyaan apakah cocok untuk menjawab penyakit akut di era milenial saat ini?

Perbedaan mendasar filsafat stoa dengan cabang filsafat lain justru pada sifat praktisnya. Di Yunani Kuno filsafat ini lahir di masa peperangan dan krisis. Meskipun kita tidak sedang mengalami perang fisik  dengan bangsa manapun, namun saat ini banyak dari kita yang sedang berperang di media sosial. Berdebat, saling beda pendapat, menyebar Hoax bahkan bullying sudah menjadi kerjaan sehari-hari.

Tidak berhenti sampai disitu, seringkali kita dilanda stres akibat menemui kemacetan jalanan, istirahat kurang, quality time dengan keluarga kurang. Belum lagi menghadapi permasalahan ekonomi akibat naiknya harga kebutuhan pokok, sementara gaji tidak ikut naik. Lain cerita dari sisi mahasiswa keadaannya tak lebih baik. Stres mengerjakan skripsi, tekanan orangtua untuk mengejar nilai, sampai persoalan pribadi dengan teman atau pacar. Di dunia maya masalahnya juga tak kalah pelik. Melihat media sosial teman yang isinya makan enak,liburan kemana-mana, punya barang baru dan lain sebagainya juga dapat memicu  depresi. Hingga membandingkan hidupnya dengan orang lain, sampai merasa bahwa hidupnya tak lebih bahagia dari orang lain.  

Dalam buku ini diutarakan solusi pada semua permasalahan tersebut.  Epictetus, salah satu pelopor stoisisme mengatakan bahwa : “Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung) kita.” Maksudnya apabila kita fokus pada apa saja yang dapat kita kendalikan maka kita akan merasa bahagia, sedangkan asal rasa tidak bahagia justru muncul dari hal-hal yang kita rasa bisa (di bawah kendali) kita, padahal tidak.

Istilah sekarang mungkin yang disebut dengan ekspektasi tak sesuai realita. Kalau kita mengharapkan sesuatu  yang tidak berada  di bawah kendali kita secara berlebihan,  berarti siaplah untuk  menghadapi kekecewaan.

Selain itu di dalam buku ini juga dijabarkan tentang apa saja yang berada di bawah kendali kita dan apa yang tidak berada di bawah kendali kita. Hal yang tidak berada di bawah kendali kita seperti kondisi saat kita lahir, etnis, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Lalu ada pula yang kita pikir ada di bawah kendali kita ternyata bukan. Seperti reputasi, kekayaan, kesehatan daan lain sebagainya. Kita dapat berupaya untuk hidup sehat ataupun kaya raya namun tak dapat menjamin kita bisa sehat dan kaya raya selamanya.Karena hal tersebut bukan berada di bawah kendali kita.

Sedangkan untuk hal yang berada di bawah kendali kita ialah pemikiran,opini kita, interpretasi, tindakan dan perkataan. Hal-hal yang berada di bawah kendali kita itulah yang seharusnya kita kendalikan untuk hal yang lebih baik dalam kehidupan kita. Dalam stoa, menggantungkan kebahagiaan pada  hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan tidak rasional.
Seperti contohnya ketika terjebak kemacetan di jalanan, marah-marah tidak ada gunanya. Karena kemarahan tidak membuat kita keluar dari kemacetan. Sebelum mengenal Stoa Henry Manapiring sering kali merasa kesal dan marah setiap terjebak kemacetan. Namun kini  di tengah kemacetan ia bisa mengisi waktu dengan membaca e-book ataupun sedikit membereskan pekerjaan kantor.

Meskipun Stoisisme sering disalah artikan dengan pasrah pada keadaan. Pembahasan mengenai hal-hal yang berada di bawah kendali kita dan hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita bukan berarti pasrah menerima keadaan. Menerima keadaan atas apa-apa yang tidak bisa kita kendalikan tidak sama dengan bersikap pasrah.  Karena dengan mengetahui poin penting yang memang seharusnya kita kendalikan justru membuat kita fokus pada hal yang seharusnya di lakukan.

Pada akhirnya, buku ini ialah salah satu cara untuk mengenal dan mempraktekkan langsung Stoisisme alias filosofi teras. Tidak hanya membahas tentang ajaran filsafatnya dengan kehidupan sekarang, Henry Manampiring juga menyajikan wawancara dengan psikiater, psikolog anak dan beberapa orang yang telah mempraktekkan stoisisme. Pembahasan yang di sampaikan oleh para tokoh memperkaya bahasan dalam buku ini.
Sayangnya ada beberapa istilah yang kurang dijelaskan secara detail sehingga pembaca harus mencari sendiri untuk mengetahui arti dari istilah yang digunakan. Namun adanya kekurangan tersebut tertutupi oleh gaya bertutur Henry yang mudah dipahami, akan membuat pembaca enggan meletakkan buku sebelum menyelesaikannya.

Pembahasan tentang stoisisme yang dikupas secara bertahap juga menjadi salah satu hal yang mempermudah pemahaman pembaca, dari pembahasan dari yang sederhana hingga yang rumit. Mulai dari media sosial hingga masalah kematian.Terdapat pula ilustrasi menarik yang mengambarkan pembahasan dan pemberian warna pada setiap kutipan membuat buku ini terhindar dari beban buku filsafat yang seringkali terkesan sebagai bacaan yang berat. Poin  tambahan lainnya di setiap ulasan dibahas pula intisari dari setiap babnya.

Oleh: Dewi Ambarwati/16419141038
Ilmu Komunikasi