Mengejar Kebenaran

"Truth is the only thing that defines life"

Kalimat diatas adalah salah satu motivasi makhluk ini dalam menjalani kehidupan. Makhluk ini percaya bahwa kebenaran adalah hal yang mendefinisikan kehidupan. Makhluk itu bernama Muhammad Alberian Reformansyah.

Orang yang akrab disapa Alber ini lahir sewaktu peristiwa Reformasi terjadi di Indonesia dan menjadi nama belakangnya, tepatnya pada hari Selasa, tanggal 19 Mei 1998 di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Ia menjadi anak terakhir dari keluarga yang dibina Dhara Maria bersama Huseinsyah Tuahuns, dan menjadi adik dari Dossy Candylia Irani.
Pada saat itu, kericuhan masih terjadi, sehingga ketika ibunya telah membawanya ke dunia ini, suasananya tidak harmonis seperti yang digambarkan film atau sinetron dalam adegan melahirkan bayi-bayi yang identik dengan suasa damai nan tentram.

Masa kecilnya bisa dibilang cukup tragis. Manusia yang mempunyai nama kecil Refo ini tumbuh di keluarga broken home. Ayahnya meninggalkannya disaat umurnya 2 tahun, dan Ibunya terpaksa menafkahi dia dan kakaknya dari kebutuhan sandang, pangan, papan, hingga pendidikan. Selama ia tumbuh, ia kerap menyaksikan kepahitan hidup dari bapak tiri abusive hingga pertikaian keluarga besar yang turut berdampak pada keluarga kecilnya itu. Pada masa itu, keluarganya kerap berpindah-pindah rumah karena belum mempunyai rumah tetap. Sehingga mereka terpaksa bergonta-ganti kontrak rumah di Jakarta.

Pada masa Sekolah Dasar, ia diterima di SDIT Abata, sebuah sekolah dasar berbasis Islam di daerah Srengseng, Jakarta Barat. Disana ia diajari untuk mengaji dan menghapal ayat Alquran, dan berhasil menghapal hampir juz 30. Namun, ia terpaksa pindah pada tingkat kelas 3 dikarenakan sekolah tersebut dijadikan tempat berpolitik partai PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Hingga ia diterima di SDN Gunung 03 Pagi, Jakarta Selatan hingga tamat pendidikan dasar.

Tingkat Sekolah Menengah Pertama, ia dimasukan ke SMPI Al-Azhar 10 Kembangan, Jakarta Barat. Ibunya ingin dia kuat dalam fondasi agama, namun nampaknya SMP tersebut tidak memenuhi ekspektasinya, walau ia tidak mengetahui. Pergaulan disana cukup keras. Tentunya senioritas berlaku dan terbukti pada saat Masa Orientasi Siswa yang dikenal sebagai "ajang menyiksa (psikologis bahkan fisik) anak baru oleh seniornya", walaupun ia tidak mendapat "siksaan fisik". Konstelasi pergaulan di angkatannya pun cukup kompleks dan bersifat hierarkis, walau tak ditegakkan secara tegas.

 Di kelas sosial pertama adalah mereka yang gaul nan pintar, biasanya bandel. Kebanyakan dari mereka adalah siswa RSBI. Kelas sosial kedua diduduki oleh mereka yang tidak terlalu pintar, namun menonjol dalam pergaulan, biasanya lebih bandel dari kelas sosial pertama. Mereka mempunyai hubungan baik dengan kelas sosial pertama. Kelas sosial ketiga adalah dimana Alber dan teman-temannya yang menyukai video games, anime, dan hal-hal yang dikategorikan aneh dan tidak gaul oleh kelas pertama dan kedua. Sedangkan kelas paling bawah adalah mereka yang selalu dikucilkan, bahkan oleh kelas ketiga. Namun terdapat kesamaan pada tiap kelas sosial, yakni mereka adalah anak dari keluarga menengah ke atas atau mampu. Walaupun pada masa itu, keluarga Alber tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebanyakan anak-anak disana secara ekonomis.

Pada masa itu, ia menghabiskan waktunya dengan bermain video games dengan atau tidak bersama teman satu nasibnya. Ia dikenal apatis dengan segala hal yang diistimewakan oleh kelas pertama dan kedua, seperti program-program "solidaritas angkatan" seperti berkumpul bersama, SOTR (Sahur on The Road), bahkan Farewell Party oleh siswa. Disaat itu ia mulai kenal dengan isu-isu sosial, seperti ketimpangan pendapatan yang ia rasakan dari perbandingan uang sakunya dan uang saku kebanyakan siswa disana dan tentunya fenomena kelas sosial hingga ia lulus pada tahun 2013.

Alber melanjutkan pendidikan menengah atasnya di Sampoerna Academy Boarding School yang pada saat itu bertempat di Caringin, Jawa Barat. Ia dimasukan disana dengan dasar keinginan ibunya untuk menjadi pribadi yang cerdas dan mandiri. Ia pun akhirnya diterima sebagai angkatan ketiga, walaupun ia menjalankan tes masuknya secara asal-asalan. Pada saat  itu ia mulai memperdalam isu sosial dan agama. Tentunya, masa itu merupakan "masa renaisans" untuknya, karena guru-guru di sekolah tersebut memang mempunyai wawasan luas dan mempunyai metode yang efektif dalam mengajarkan ilmu-ilmu mereka.

Masa SMA merupakan titik balik dari pribadi Alber. Suatu malam ia melamun memikirkan Tuhan, Agama, dan isu sosial dari kepercayaan yang dia anut, yaitu Islam. Ia terus mempelajari hal tersebut dengan temannya, Alawi. Mereka kerap berdiskusi dan berfilsafat mengenai hal tersebut. Pada saat itu, Alber merupakan orang yang mempunyai Empati besar pada masyarakat Islam Timur Tengah yang sedang mengalami konflik, seorang pemikir bebas, dan seorang budak cinta dengan tujuan hidup mencari dan menegakan kebenaran, sekecil apapun itu.

Pada tahun 2016 setelah ia lulus, ia melanjutkan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta dan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dengan jalur yang ia percaya sebagai jalur Mandiri. Disana ia dipertemukan oleh mahasiswa dengan berbagai latar belakang dan ideologi. Hingga sekarang, ia masih mencari kebenaran dan berusaha menegakkannya.

0 comments:

Post a Comment