Yogyakarta adalah salah satu kota
tujuan wisata terpopuler di Indonesia saat ini. Selain memiliki keunikan dan
keberagaman budaya, Jogja juga dikenal sebagai salah satu kota terbaik yang
mencetuskan banyak lulusan muda yang berprestasi melalui bangku kuliah. Salah
satu tempat favorit para wisatawan lokal dan Luar ketika berada di Jogja, yaitu
Malioboro.
Malioboro merupakan semacam lokasi
yang sangat populer sekali. Populer buat mencari aksesoris, foto selfi, dan
masih banyak kegiatan positif yang bisa anda lakukan disini. Tentu saja,
dibalik keramaian malioboro setiap malam ada hal yang menarik untuk kita
perhatikan.
Kawasan
Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja, ini
didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak
ketinggalan para pedagang kaki limanya. Untuk pertokoan, pusat perbelanjaan dan
rumah makan yang ada sebenarnya sama seperti pusat bisnis dan belanja di
kota-kota besar lainnya, yang disemarakan dengan nama merk besar dan ada juga
nama-nama lokal. Barang yang diperdagangkan dari barang import maupun lokal,
dari kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang elektronika, mebel dan lain
sebagainya. Juga menyediakan aneka kerajinan, misal batik, wayang, anyaman, tas dan lain
sebagainya.
Bagi penggemar cinderamata,
Malioboro menjadi surga perburuan yang asyik. Berjalan kaki di bahu jalan
sambil menawar aneka barang yang dijual oleh pedagang kaki lima akan menjadi
pengalaman tersendiri. Aneka cinderamata buatan lokal seperti batik, hiasan
rotan, perak, kerajinan bambu, blangkon, miniatur kendaraan tradisional,
aksesoris, hingga gantungan kunci semua bisa ditemukan dengan mudah. Jika
pandai menawar, barang-barang tersebut bisa dibawa pulang dengan harga yang
murah.
Saat aku berkunjung ke Malioboro,
aku berbincang-bincang dengan salah satu penjual cinderamata atau aksesoris
yaitu Ibu Kartija. Ibu Kartija merupakan salah satu pedagang yang cukup lama
bertahan di Malioboro, ia berasal dari Sleman. Ia memilih untuk berjualan
aksesoris seperti gelang, kalung, gantungan kunci dan lainnya, karena iya merasa
berjualan di Malioboro itu adalah suatu kesempatan yang sangat baik dan sangat
menguntungkan.
Ibu Kartija sudah berjualan di
Malioboro sejak 20 tahun lalu. Ia mulai berjualan aksesoris di bahu jalan
Malioboro pada tahun 1997 sampai sekarang. Penghasilan ibu Kartija tidaklah
menentu. Ramai nya pengunjung apabila saat hari-hari besar saja, seperti saat
Lebaran Idul Fitri, tahun baru, dan hari-hari lainnya. Selain daripada itu,
ramainya pembeli saat anak-anak sekolah atau liburan kuliah. Jika ramai
pengunjung, penghasilan perhari Ibu Kartija bisa sampai Rp. 400.000,00 atau
bahkan lebih.
Selama
berjualan di Malioboro, tidak ada persaingan antara sesama penjual, dan tidak
pernah terjadi konflik. Menurut ibu Kartija, setiap orang atau setiap pedagang
sudah memiliki garis rezeki nya masing-masing. Ia tidak pernah merasa khawatir
atau merasa tersaingi dengan penjual lainnya. Setiap orang berhak untuk mencari
nafkah dengan cara apapun asalkan halal. Ia tidak pernah merasa rugi karena
jualannya tidak laku seperti penjual lainnya. Ia mengikhlaskan segalanya kepada
Allah SWT, karena setiap rezeki sudah diatur-Nya.
Berjualan
di jalan Malioboro tidak ada sistem beli lahan atau menyewa lahan. Semua orang
bisa berjualan disana asalkan ada tempat yang kosong dan tidak mengambil lahan
oang lain. Untungnya bagi ibu Kartija, Ia mudah berbaur dan memiliki teman-teman
sesama penjual. Penjual disana sangat ramah dan tidak merasa bersaing dengan
ibu Kartija. Bagi ibu Kartija, kunci dari keberhasilannya dan bertahan lama
berjualan di bahu jalan Malioboro adalah saling berkomunikasi. Tidak hanya
dengan sesama penjual, tetapi juga dengan pembeli.
Ibu
Kartija sudah memiliki keluarga. Bahkan sudah memiliki 2 cucu dari anak
pertamanya. Dan anak keduanya masih menempuh pendidikan di SMK Brebah. Saat
ditanya mengapa ia masih berjualan disaat umurnya yang sudah cukup tua padahal
ada anaknya siap untuk merawatnya. Ia menjawab dengan sangat lembut dan dengan
senyuman, “saya memang sudah tua mbak, tetapi saya masih tetap kuat mencari
nafkah untuk anak bungsu saya yang masih bersekolah. Bukan saya tidak ingin
dirawat oleh anak saya sendiri, tetapi saya tidak ingin menambah beban nya. Dia
memiliki tanggung jawab yang besar kepada istri dan anak-anaknya. Jika kedua
anak saya sudah sukses, mungkin itu waktunya saya istirahat mbak (sambil
tertawa kecil). Untuk saat ini, saya masih merasa nyaman dengan keadaan saya
sekarang.”
Tidak
hanya berjualan aksesoris, ibu Kartija memiliki pekerjaan sampingan yaitu
menjahit sepatu. Pekerjaan ini juga sudah lama dia lakukan. Ia menjahit sepatu
tepat disebelah lapak aksesorisnya. Ibu Kartija menjahit sepatu disaat waktu
senggangnya. Jika tidak saat hari besar atau tidak saat liburan, ibu Kartija
menjahit sepatu bersamaan dengan menjual aksesorisnya. Apabila hari besar, ibu
Kartija menjual aksesorisnya saja karena wisatawan lebih memilih membeli macam-macam
aksesorisnya. Harga dari aksesoris yang dijual ibu Kartija terbilang murah.
Gelang-gelang yang dijualnya dihargai dengan seribuan saja. Banyak pilihan
warna, motif dan bentuk gelang. Tak hanya gelang, kalung yang di jual ibu
Kartija sangat unik dan tak kalah modern. Ada yang berbentuk kepala burung
hantu, orang-orangan, berbentuk hati, dan masih banyak lainnya.
Pelajaran yang dapat ku ambil adalah
menghargai kehidupan. Dengan selalu mensyukuri segala yang ada dan tidak
mengeluh, kita dapat menikmati kehidupan dalam keadaan apapun. Selalu bersikap
optimis, percaya diri dan ikhlas dalam setiap hal. Kejujuran sangat diperlukan
bagi setiap pedagang/penjual. Dengan komunikasi yang baik antar sesama, akan
mengantar kita kepada keberhasilan. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan
melestarikan budaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah seperti
Malioboro sebagai peninggalan nenek moyang kita.

0 comments:
Post a Comment