Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Jujur awalnya agak ngebosenin. atau mungkin karena udah nonton trailernya jadi ke spoiler dikit membuat ketebak plot awalnya. timeline nya juga terasa dipaksa dibuat cepat. Jadi agak sulit dipahami kalo benar-benar tidak memperhatikan filmnya. Ada battle pokemon juga, namun battlenya ala-ala film action holywood, bukan poke battle seperti di animenya. intinya awalnya tidak begitu menarik. Serasa cuma seperti filler saja

Spoiler alert untuk kebawah ini

Menengahnya mulai menarik. disinilah kesan detektif mereka sangat kerasa. Lumayan intens tidak seperti awalnya yang cuma alakadarnya atau seperti hanya pura-pura detektif saja. Mulai disini juga cerita nya tiba-tiba jadi sangat serius. Bisa dibilang plot twist dari awalannya. Sisi  baiknya walaupun serius namun justru lebih mudah dipahami. Actionnya pun lebih seru dari awalnya. disini plotnya lebih sulit ditebak dibanding yang awal.
Menuju akhirnya jauh lebih intens lagi. Disini jadi tau siapa antagonisnya. Tidak hanya itu, setelah di tengah ada plot twist, disini ada plot twist lagi yg benar-benar diluar dugaan... You better watch it to know the twist, its really interesting. Seraya ditengah udah ada antiklimaks tapi masih ada klimaks selanjutnya. actionnya lumaya epic, tapi jujur ga se epic ditengahnya. Joke-jokenya lumayan lucu walaupun tidak terlalu banyak

Overall great movie to watch
Rate it 7.5/10



Perjalanan panjang Marvel Cinematic Universe
Kalau kamu sebelumnya udah nonton Avengers: Infinity War, pasti masih enggak bisa ngelupain kesedihan yang enggak hilang-hilang gara-gara ending-nya. Tapi kalau kamu fans Marvel “kemarin sore”, sangat disarankan untuk nonton ulang film Marvel Cinematic Universe (MCU) dari yang paling pertama yaitu Iron Man (2008). Karena kalau baru ikutin dunia MCU sejak Infinity War aja pasti banyak yang kelewat dan bikin bingung. Karena pada dasarnya Avengers: Endgame nanti merupakan lanjutan dari Avengers: Infinity War dan puncak dari phase 3 MCU. Avengers: Endgame juga nantinya merupakan perayaan 11 tahun dari MCU itu sendiri. Berarti, kalau kamu sudah ngikutin dari film Iron Man yang pertama, kamu sudah jadi fans MCU selama 11 tahun. Wow!

The Infinity Saga
Jika kamu masih baru di dunia MCU, maka kamu perlu tahu beberapa basic dari fandom ini. Satu hal yang perlu kamu ketahui, menjadi fans MCU bukan berarti kamu adalah fans Marvel. Karena banyak dari fans Marvel menganggap fans MCU itu sebagai “anak bawang”. Lanjut lagi ke dunia MCU, semua film semenjak Iron Man (2008) hingga Avengers: Endgame (2019) berjumlah 22 film superhero. Dari 22 film ini, MCU membaginya ke beberapa phase. Masing-masing Phase menandakan beberapa poin atau peristiwa penting yang terjadi di MCU. Contoh pemisah Phase yang paling sederhana adalah setiap kali Avengers tayang. Jadi film The Avengers yang pertama adalah phase 1, Avengers: Age of Ultron adalah phase 2, dan Avengers: Infinity War & Endgame adalah phase 3.

Ketiga phase tersebut sebenarnya termasuk ke dalam satu Saga, yaitu Infinity Saga. Mengapa dinamai demikian? Karena pada dasarnya MCU dari phase 1 sampai 3 membahas sesuatu yang disebut Infinity Stones. Sekumpulan batu yang tercipta bersamaan dengan terciptanya alam semesta (di Marvel). Apabila batu yang berjumlah enam itu bisa dimiliki oleh seseorang, maka orang tersebut bisa mengubah sesuatu dalam skala universal. Dan dalam Infinity Saga, Big Bad Villain-nya adalah seorang Mad Titan bernama Thanos. Thanos ini kemudian menjadi lawan langsung para Avengers di Infinity War dan juga Endgame.

Infinity War & Endgame
Oke, cukup sampai situ pembahasan ulang mengenai MCU dan Infinity Saga. Kalau kita membahas Endgame, pasti tidak akan lengkap tanpa membahas Infinity War. Ibaratnya sih makan nasi goreng tanpa kerupuk, enggak lengkap rasanya. Nah balik lagi, jadi Avengers: Endgame adalah part 2 dari Avengers: Infinity War. Atau mungkin bisa dibilang Infinity War dan Endgame ini masih satu film tapi terpaut jarak 1 tahun. Perlu diingat juga kalau di sini hanya akan me-review Avengers: Endgame dengan sedikit bumbu Infinity War, tapi kalau kami mau tahu review Avengers: Infinity War yang lebih detail silakan cari sendiri ya…

Pengembangan Karakter Setiap Anggota Avengers
Awal dari Avengers: Endgame dimulai dari perasaan kehilangan, tidak hanya para Avengers tapi juga semua orang di bumi dan alam semesta. Hilangnya setengah dari populasi di alam semesta akibat jentikan jari Thanos membuat semuanya merasakan kesedihan dan duka yang mendalam. Banyak dari mereka berusaha mengatasinya dengan mencoba untuk move on dan meneruskan hidup mereka yang sekarang. Ada sebagian yang masih terjebak di masa lalu, sehingga mereka merasakan amarah, dendam, dan keputusasaan yang teramat sangat. Salah satu yang merasakan rasa bersalah paling besar adalah Thor, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat mencegah Thanos menjentikkan jarinya dan gagal menyelamatkan setengah dari rakyatnya sendiri yaitu para Asgardians di awal Infinity War.

Markas Avengers pun terasa sepi, bukan hanya karena setengah dari para superhero menghilang karena jentikan jari Thanos, tapi ada juga yang memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri. Berbeda dengan Steve Rogers alias Captain America, meskipun ia terlihat begitu tegar menghadapi kenyataan, di dalam lubuk hatinya ia masih tidak bisa move on atas peristiwa Infinity War. Di lain sisi, Captain Marvel yang baru muncul setelah peristiwa Infinity War membawa angin baru di pihak Avengers. Superhero dengan kekuatan photon blast-nya menjadikan Captain Marvel senjata baru di arsenal Avengers.

Semua Avengers yang tersisa mengalami character development yang cukup signifikan, didasari oleh emosi mereka masing-masing. Hal ini juga membuat para penonton merasakan kembali rasa sedih dan depresi ketika menonton Infinity War tahun sebelumnya, kemudian memunculkan perasaan bahwa mereka semua ingin para superhero favorit yang menghilang untuk kembali lagi. Tapi semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penonton pun diajak mengikuti perjalanan character development tiap-tiap anggota Avengers yang tersisa.

Setiap Hero Punya Peran Penting
Kalau kamu sering nontonin trailer dari Avengers: Endgame, kamu pasti bertanya-tanya peran besar apa sih dari hero-hero yang enggak punya superpower kayak Black Widow misalnya. Natasha Romanoff alias Black Widow ini kan Cuma manusia biasa yang jadi special agent di S.H.I.E.L.D. dulunya. Atau mungkin Rocket Racoon yang jelas-jelas hanyalah seekor rakun. Dan juga Nebula yang notabenenya cuma seorang Android dan anak angkatnya Thanos. Tapi dengan menonton Avengers: Endgame kamu bisa lihat sendiri peran-peran penting dari tiap-tiap anggota Avengers, setiap karakter memegang kunci penting untuk puncak dari Endgame nantinya.

Peran penting masing-masing anggota Avengers juga tidak lepas dari character development yang terjadi selama Endgame berlangsung. Dan kamu juga bisa merasakan langsung emosi setiap Avengers kalau kamu tahu backstory mereka masing-masing. Jadi untuk menonton Avengers: Endgame kamu enggak cuma harus nahan buang air kecil selama tiga jam, tapi juga persiapan mental untuk menghadapi luapan emosi di tiap adegan yang ada di Endgame. “Whatever it takes” ya guys hehe…

Roller Coaster Emosi Para Penontonnya
Buat kamu yang sudah sering nonton film-film MCU, pasti sudah tidak terlalu asing dengan komedi-komedi yang diselipkan di dalamnya. Ya, meskipun di Endgame diawali dan didominasi oleh momen-momen dramatis, kamu pasti akan melihat beberapa komedi di dalamnya. Bahkan, ada beberapa adegan yang membuat kamu menangis atau terharu dan beberapa detik kemudian kamu dibuat tertawa. Ada juga momen-momen epic yang membuat jiwa anak-anakmu yang masih mengagumi superhero bangkit kembali. Dan kalau kamu beruntung, seisi ruang bioskop ada yang bersorak sorai dan bertepuk tangan pada saat momen-momen epic tersebut (tapi kalau berlebihan jadi bisa mengurangi sensasi menontonnya sih, ya kan guys?).

Jadi pada dasarnya Avengers: Endgame ini akan berisi “roller coaster of feelings” di mana perasaanmu saat menonton akan dibuat naik turun mengikuti alur cerita dan adegan-adegan di dalamnya. Tapi kalau kamu baru masuk fandom MCU baru-baru ini hanya karena terkena hype-train-nya Avengers: Endgame, pasti ada beberapa momen yang kamu bahkan enggak terlalu ngena karena banyak dari peristiwa yang terjadi nantinya perlu konteks dari film-film sebelumnya.

Wajib Nonton Untuk Penggemar Marvel & Upcoming Phase 3 Movie
Kesimpulannya, Avengers: Endgame sangat recommended buat kamu yang udah ngikutin MCU selama bertahun-tahun dan juga lumayan buat jadi tontonan kamu yang cuma ikut-ikutan hype aja karena bisa dinikmati filmnya secara keseluruhan meski nanti ada konteks yang enggak kamu pahami. Dan kalau kamu seorang fans Marvel yang udah ngikutin komik-komiknya, enggak usah khawatir karena ceritanya masih bisa kamu nikmati walau udah tahu beberapa alur cerita yang ada di komiknya. Karena Russo Brothers sangat tahu bagaimana cara mengemas MCU dari awal sampai sekarang ini supaya bisa dinikmati semua kalangan.

Dan satu lagi, Avengers: Endgame ini katanya bukan akhir dari phase 3 Marvel Cinematic Universe karena nanti akan ada satu film lagi yaitu Spider-Man: Far From Home yang bakalan menutup phase 3 MCU. Jadi jangan lupa untuk nonton film ini juga ya. Selamat menonton…

“I keep telling everybody they should move on… Some do, but not us.”





HAPPY DEATH DAY 2U!

Bagaimana pada hari ulang tahunmu, hidupmu berakhir? Dan dengan anehnya saat kamu mati, waktu kembali terulang lagi saat kamu bangun di pagi hari, di hari ulang tahun yang sama?

          Sudahkah anda menonton film Happy Death Day yang dirilis pada Oktober 2017 lalu? Film dari Blumhouse Productions yang telah mengantongi keuntungan lebih dari 125 juta dollar tersebut, dengan tidak ragu membuat sekuel dari Happy Death Day, yang adalah Happy Death Day 2U.

          Para penonton dibuat terpesona kepada seorang wanita yang bernama Tree Gelbman (Jessica Rothe), yang memiliki banyak kesempatan untuk memanfaatkan hari terakhir hidupnya. Berkat antusias penonton inilah yang membuat sutradara Christopher Landon meluncurkan sekuel dari film pertama. Setelah Tree Gelbman berhasil lolos dari pembunuh yang mengincar dirinya pada film pertama, di film Happy Death Day 2U yang dirilis Februari 2019 inilah merupakan kembalinya sang pembunuh bertopeng BabyFace. Bukan dirinya saja yang terancam, namun teman-teman Tree juga bernasib sama.

          Di Happy Death Day 2U, Tree Gelbman kembali ke mimpi buruknya, terperangkap di mimpinya kembali dan harus bertemu dengan kematiannya. Tree harus merelakan dirinya terbunuh berkali-kali dan setiap kali terbunuh, ia terbangun dikamar Carter (Israel Broussard). Awalnya Carter dan teman-temannya tidak mengerti apa yang terjadi kepada Tree. Lalu Tree menjelaskan kepada mereka dan akhirnya mereka mengerti, memutuskan untuk membantu Tree kembali ke dimensi yang sesungguhnya.

          Tree harus mempelajari dan mengingat tentang algoritma pada mesin yang dirakit oleh teman-temannya. Karena peraturan dari “time loop”, mereka harus mengulangi hari yang sama agar dapat merakit ulang mesin tersebut. Sialnya, disaat mesin tersebut ready, terdapat malfungsi yang harus membawa Tree kembali ke dimensi lain lagi.

          Pengalaman dibunuh berkali-kali membuatnya lelah. Ia lebih memilih membunuh dirinya sendiri ketimbang dibunuh oleh BabyFace. Caranya untuk bunuh diri terbilang konyol dan kocak, sesuai dengan genre film ini yaitu, horror, thriller dan komedi.

          Selain lari dari kejaran si Pembunuh, Tree juga terjebak dalam pilihan yang mana ia akan tinggal. Tree juga dihadapkan pada keputusan untuk tinggal di masa lalu, atau di dunia yang dimana harus ia jalani saat ini. Lalu keputusan apa yang akan dipilih Tree? Berhasilkah Tree lepas dari kejaran si Pembunuh? Saksikan film ini untuk mengetahui kelanjutannya, ya!

          Sama dengan film pertamanya, Happy Death Day 2U sangat menghibur dan cocok untuk ditonton saat santai setelah seharian beraktivitas. Dengan banyaknya humor ringan yang membuat kita tertawa. Film ini tentunya bisa dimasukkan list aktivitas di akhir pekan, loh!



 Film Sexy Killers menjadi film yang paling banyak mencari perhatian di pemilu kali ini. Dipasarkan dengan nonbar dan diskusi, film ini tidak mencari untung dari publikasinya. Meski begitu, film ini mendapat beragam apresiasi dari berbagai kalangan.

Dibuka dengan adegan sepasang kekasih yang bermesraan, penonton dibuat tertawa. “Kita tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari-hari adalah bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini.” Setelahnya, kita tidak akan menemukan kelucuan lagi.

Film ini mengangkat keresahan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat sekitar tambang batubara. Beberapa kawasan di Kalimantan rusak akibat galian tambang yang berlebih, serta lubang bekas galian yang tidak diurug. Kerusakan lingkungan akibat tambang batubara di Kalimantan menyebabkkan masyarakat sekitar lokasi tambang kehilangan lahan untuk bekerja. Ratusan hektar sawah mereka terpaksa dijual untuk digunakan sebagai lokasi tambang. Hasilnya, mereka harus mencari matapencaharian baru.

Menurut film ini, batubara akan terus ditambang selama masyarakat masih menggunakan listrik konvensional. Pembangkit-pembangkit listrik menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama. Rencana pembangunan infrastruktur pemerintah Jokowi juga turut membuat batubara semakin banyak dicari. Direncanakan tahun ini, 35.000 Megawatt listrik akan disediakan untuk mencukupi kebutuhan listrik nasional.

Peluang tambang batubara yang begitu besar membuat perusahaan berbondong-bondong melakukan eksploitasi terhadap alam, dan sialnya, dengan tidak bertanggungjawab.

Film ini turut mengungkap keikutsertaan lingkaran calon presiden yang ikut pemilu tahun ini. Di belakang Jokowi maupun Prabowo, berjejer orang-orang yang ternyata selama ini turut andil dalam mengeksploitasi alam di Kalimantan. Nama seperti Erick Thohir dan Luhut Binsar Pandjaitan di kubu Jokowi, sedangkan Sandiaga Uno dan Hashim Djojohadikusumo di kubu Prabowo.

Film ini seakan membuka mata kita akan omong kosong Pemilu. Apalagi bila dikaitkan dengan fenomena fanatisme pendukung masing-masing kubu. Terbukalah pikiran kita, bahwa selama ini masyarakat hanya diperdaya untuk dijadikan sapi perah perolehan suara. Semuanya hanya untuk melanggengkan usaha eksploitasi tambang yang memang benar-benar “sexy” prospeknya.


Pika-pika! Siapa sih yang tidak kenal dengan karakter lucu yang satu ini? Buat temen-temen angkatan 90an pasti tahu banget deh film kartun ini. Kartun yang dulu (kalau tidak salah) sering diputar di kanal Indosiar setiap minggu pagi. Salah satu acara yang bisa memotivasi anak-anak buat bangun pagi. Pada tahun 2019 ini, Nintendo bekerja sama dengan Warner Bros memproduksi sebuah film layar lebar dengan judul Pokemon: Detective Pikachu.

Cerita film ini berawal dari seorang detektif yang tiba-tiba menghilang. Anaknya, Tim, yang berumur 21 tahun ini kemudian penasaran dan ingin mencari tahu. Dalam penyelidikannya, dia dibantu oleh partner detektif tersebut, yaitu pikachu. Namun ada sesuatu yang berbeda dari pokemon ini. Dia bisa berbicara dengan manusia! Akhrinya mereka berdua menyelidiki kasus ini. Tim dan Pika hijrah ke kota Ryme. Kota dimana manusia dan pokemon bekerja sama hidup berdampingan dalam dunia hiper-realistis. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan berbagai macam pokemon dan mengungkap fakta mengejutkan terkait ayahnya.

Rabu lalu, tepatnya pada tanggal 8 Mei 2019 aku menyempatkan untuk menonton film ini bersama Lisa jam empat sore. Hitung-hitung sekalian kita ngabuburit menunggu buka puasa. Kita menonton film ini di CGV J-Walk. Untuk tiketnya sendiri, dijual dengan harga Rp30.000 pada hari kerja, dan Rp35.000 pada hari libur.

Film ini cocok banget buat temen-temen yang memang sebelumnya sudah kenal dengan pokemon, maupun yang baru tahu tentang pokemon. Jadi, buat kamu yang sebelumnya tidak pernah nonton kartunnya, tidak perlu takut karena kalian tetap akan disajikan cerita pengenalan yang asik Pada awal film ini juga diceritakan tentang latar belakang lakon utamanya. Tim.


Animasinya juga asik. Lucu gitu pokemon-pokmonnya. Seperti yang bisa kita liat dari trailer, si pikachu sangat gemuk sekali. Gemas berbulu. Pokemon-pokemon lain juga tidak kalah lucunya. Disini tim animasi sangat baik dalam menginterpretasikan makhluk ini. Dari yang sebelumnya animasi 2D, menjadi animasi 3D. salah satu pokemon yang aku suka dari film ini adalah Squirtle. Buat kamu yang belum nonton, peringatan ya. Habis ini ada sedikit banyak spoiler.

Warning! Spoiler ahead!

Cerita dalam film ini menurutku keren sih. Banyak plot-twitst. Namun, kurasa saking banyaknya plot-twist jadi kurang begitu suka sayanya. Awalnya Tim dapat kabar kalau bapaknya meninggal, kemudian mencari tahu penyebabnya. Pergi ke kota Ryme, sampai sana ketemu pikachu. Ternyata pikachu bisa bicara. Ternyata bapaknya belum mati. Ternyata pelopor kota Ryme adalah penjahatnya. Ternyata Mewtwo adalah pokemon baik. Ternyata bapaknya Tim itu ada di Pikachu. Banyak banget ternyata-ternyata jadi keseringan kaget.

Dalam petualangannya, Tim ditemani oleh wartawan magang dari CNM. Namanya Lucy, bersama partner pokemonnya Psyduck. Menuutku mbaknya ini tidak berguna-berguna banget. Kerasa banget kalo dia hanya karakter sampingan yang andilnya tidak begitu terasa dalam alur cerita ini. Tapi, Psyduck nya itu lucu banget. Apalagi ketika Psyduck menjahili Pikachu. Dia minta Pikachu memijat kakinya. Kalau tidak, Psyduck akan meledak.

Secara keseluruhan, film ini sangat mantab. Film Detective Pikachu mendapat rating 7.2/10 di IMDB, 64% di Rotten Tomatoes, dan 52% Metacritic. Dari aku sendiri sih ngasihnya tujuh dari sepuluh. Untuk film selingan diantara hiruk pikuk kloter perfilman marvel, boleh banget ditonton. Apalagi buat refreshing setelah kehilangan manusia besi.


Gambar dari IMDb



Film ini sudah menarik dari judulnya. Saya mengira akan diceritakan bagaimana orang kulit hitam menuju kemerdekaan yang haqiqi. Saya cukup antusias, berharap akan banyak tokoh dan sejarah baru tentang kulit hitam di seluruh dunia yang belum pernah diceritakan di sekolah dulu.

Perkiraan saya salah besar. Film ini sama sekali bukan film tentang sejarah orang kulit hitam. Film ini hanya mengangkat ras Afro-Amerika, warga Amerika serikat imigran dari/keturunan imigran benua afrika. Pemilihan judul tidak tepat. Seharusnya diambil judul demikian: “Kevin Hart’s Guide to African-American History” atau "Kevin Hart's Guide to American Black History". Tentu kekecewaan saya tidak akan cepat-cepat muncul.

Selama satu jam tiga menit, penonton akan disuguhi dialog antara Kevin Hart, komedian ternama AS, dengan Saniyya Sidney yang berperan sebagai anaknya (Riley). Akting mereka berdua—bisa dibilang—kaku dan kagok. Kevin dan Sidney seperti bukan berakting sebagai ayah dan anak, namun guru dan murid.

Adegan Kevin dan Riley (sumber: timeoutmexico.mx)

Saya akui, saya suka pada guyonan receh Kevin Hart dalam film ini. Beberapa kali saya dibuat tersenyum dengan dialog Kevin dengan aktor yang lain. Hanya tersenyum. Saya malah tertawa saat melihat scene pemeran Matthew Henson dan Robert Peary tentang klaim atas orang yang pertama kali tiba di kutub utara. Sangat dianjurkan untuk tidak melewatkan scene ini.

Ada pula komedi lain yang membuat saya tertawa. Terjadi plot twist saat muncul tokoh Robert Johnson, musisi blues ternama yang merupakan kulit hitam. Ia diceritakan meraih kesuksesan karena telah menjual jiwanya pada iblis. Maka dimunculkan momen tatkala Johnson bertemu dengan Iblis dan hendak melakukan transaksi.  

Pada scene ini, iblis yang seharusnya memberikan petuah kesuksesan kepada Robert malah diajarinya bermain gitar. Ternyata iblis ini bukan benar-benar seekor iblis, namun manusia guru les gitar yang sedang melakukan promosi. Menurut saya ini lucu, selain antara keduanya yang mengundang tawa saya.

Film ini menawarkan gaya baru dalam mengejawantahkan sejarah. Konsep “wayang orang” dalam pewayangan jawa diadaptasi oleh Tom Stern, sang sutradara. Ia memakai aktor untuk memeragakan jalan cerita secara jenaka. Selain wayang, sejarah tokoh dituangkan pula lewat boneka jari, atau animasi sederhana. Konsep edukasi sejarah ini unik di tengah arus utama deskripsi sejarah lewat film drama—yang kerap kali—tidak ramah anak.

Yang jadi perhatian saya adalah adegan pembuka film. Riley, anak Kevin yang masih kecil, dan kawannya menonton sebuah film dewasa. Film “12 Years A Slavery” yang mereka berdua tonton mendapat rating “R” oleh lembaga sensor film AS. Ini mengusik benak saya. Bagaimana bisa anak kecil mendapat akses terhadap film dewasa? Pun latar waktu pada scene ini adalah siang hari. Sehingga, kecil kemungkinan bagi stasiun tv untuk menayangkan konten dewasa.

Atau, Riley mendapat kaset yang berisi film ini dari lemari Kevin. Bila demikian, keteledoran orangtua dalam memfilter tontonan anak dalam film ini patut dikritisi. Bukan sebuah teladan yang baik bagi anak maupun bagi orang tua yang menonton.

Salut untuk Tom Stern, karena bisa menyampaikan fakta sejarah dari sisi kulit hitam. Apalagi, banyak tokoh yang sebelumnya jarang/tidak pernah ditampilkan di media massa namun diekspose dalam film ini. Saya pun baru tahu bila ada orang yang bisa bepergian dalam kotak kayu—tanpa sepengetahuan keamanan. Setahu saya hal semacam itu hanya terjadi di film kartun.

Legenda Henry "Box" Brown 
Keberimbangan gender yang ditokohkan juga perlu untuk diapresiasi. Sutradara tidak hanya menayangkan tokoh laki-laki, tapi juga perempuan, pun dengan porsi yang sama. Terlebih lagi, Tom menyajikan fakta sejarah tanpa diglorifikasi secara berlebih.

Misalnya pada scene ketika Mae Jamison, antariksawati kulit hitam pertama mendaftarkan diri ke NASA. Diceritakan bahwa Jamison menelepon NASA berulang kali sampai mereka lelah menolaknya melulu. Akhirnya, Jamison berhasil mengikuti seleksi, dan mampu menjelajah luar angkasa lewat pesawat ulang-alik “Endeavour” pada 1992.

Tidak ada usaha yang spesial dari Jamison, dan hanya itu yang ditampilkan oleh Stern. Cukup baik bila dibandingkan dengan film Rambo, seorang prajurit AS yang digambarkan tidak bisa mati meski digempur artileri tentara Vietnam. Terkesan dibuat-buat.

Selebihnya, film ini sukses menawarkan gaya baru dalam menceritakan sejarah, meskipun eksekusinya belum maksimal.




Disney kembali merilis film yang diangkat dari kartun. Dumbo merupakan film real action dari karakter kartun dengan nama yang sama. Dumbo berkisah mengenai gajah kecil yang memiliki kelainan. Telinganya yang sangat besar dan tidak biasa menarik perhatian rombongan sirkus Max Medici yang mengurusnya. Dianggap tidak menarik dan menakutkan, Dumbo akan dikembalikan kepada pemilik sebelumnya. Namun, sebelum dikembalikan, sepasang anak rombongan bernama Milly dan Joe menemukan keajaiban dari telinga besar Dumbo. Ternyata telinga besar itu bisa membuat Dumbo terbang.

Dengan keajaiban itulah Dumbo mampu memperkuat eksistensi rombongan sirkus Max Medici. Disamping kisah gajah kecil yang tidak normal, banyak sekali pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara mengenai ketamakan. Tim Burton, sebagai sutradara menampilkan juga pemilik taman hiburan besar, Dreamland.

Sebagai pemilik taman hiburan terbesar kala itu, Vandevere ingin mengambil semua antusias masyarakat mengenai sirkus dan taman hiburan. Mulanya Vandevere hanya menginginkan Dumbo menjadi miliknya di taman hiburan. namun, pemilik rombongan sirkus Max Medici tidak mau. tidak kehilangan akal Vandevere mengajak rombongan sirkus Max Medici untuk menjadi bagian dari Dreamland. 

Ketamakan Vandevere muncul dengan memberikan janji jika Dumbo akan tampil lebih dahulu, sedangkan rombongan Max Medici lain tampil dalam beberapa hari ke depan. TIdak kunjung tampil, rombongan Max Medici justru iba melihat Dumbo dipaksa tampil tanpa ada alat pengaman. ketakutan Dumbo akan ketinggian sempat mengganggu pertunjukan. Ketamakan Vandevere yang ingon menjadikan Dumbo sebagai aktor utama, bahkan ingin membunuh Ibu Dombo.

Taman hiburan itu akhirnya hancur atas ketamakan sang pemilik, yaitu Vamdevere. Bagimanapun harta tidak akan berarti tanpa rasa kasih dan sayang. Untuk menangkap Dumbo yang kabur dari Dreamland. Vandevere merusak pemancar yang ada di taman hiburan dan membakar semua bagian Dreamland.

Pesan mengenai akibat dari keteamakan itu diperkuat dengan akhir yang sangat mengejutkan. Max Medici kembali eksis setelah Dreamland hancur. Tidak lagi menggunakan Dumbo sebagai aktor utama sirkus, film ini juga memberikan pesan tentang bagaimana sebuah sirkus dapat sukses tanpa eksploitasi hewan. Dumbo dan ibunya kembali ke habitat setelah dikirm menggunakan kapal oleh rombongan sirkus Max Medici.









Seorang ibu muncul sebuah layar rekaman menggendong anaknya yang masih bayi, dilanjutkan dengan kebahagiaan seorang anak bersama keluarganya dan berganti menjadi kumpulan remaja perempuan yang merekam kegiatan mereka saat berada di suatu ruangan penuh lukisan. Hingga temannya berlalu pergi salah seorang dari ketiga perempuan tersebut memasang selang bantu pernafasan. Itulah adegan awal pembuka film five feet apart.

Five Feet Aparts adalah  Film drama romantis yang dirilis di Amerika pada bulan Maret 2019 merupakan hasil adaptasi dari novel yang ditulis oleh Rachel Lippincont yang terbit pada tahun 2018 dengan judul yang sama, yang kemudian difilmkan dan disutradarai oleh Justin Baldoni.

Film yang di bintangi oleh Haley Lu Richardson (Stella  Grant),  Moises Arias ( Poe) dan Cole Sprouse (Will Newman) ini berkisah tentang  remaja penderita penyakit langka yaitu Cystic Fibrosis (CF). Penyakit ini membuat Stella harus menjaga jarak kontak fisik dengan sesama pasien lainnya. Penderita penyakit CF diharuskan menjaga jarak sekitar lima kaki atau dua meter dalam melakukan interaksi. Agar tidak semakin menularkan kuman yang akan semakin memperparah penyakit mereka. Penurunan fungsi pada paru-paru penderita penyakit CF mengharuskan mereka membawa selang oksigen sebagai alat bantu pernapasan dan masker khusus.

Akan tetapi Stella tidak putus asa dengan hal ini. Ia tetap melakukan aktivitas layaknya remaja pada umumnya. Selain melakukan pengobatan dan terapi secara rutin dari rumah sakit, ia juga mencatat kegiatan kesehariannya dalam jurnal hariannya, membaca buku, dan membuat vlog tentang aktivitasnya di rumah sakit di Youtube. Berbeda halnya dengan Stella, Will  penderita CF yang baru divonis penyakit ini sekitar delapan bulan kehilangan semangat hidupnya dan cenderung tidak mau mengikuti prosedur pengobatan dari rumah sakit. Pertemuan pertamanya dengan Stella di awali dengan sikap putus asa yang diawalinya dengan perkataan untuk apa mengikuti prosedur pengobatan kalau ujung-ujungnya dipertemukan pada kematian dalam waktu dekat.

Karakter Will yang cenderung sembrono dan mengabaikan prosedur dan kehadiran Will yang seringkali muncul secara tiba-tiba di hadapan Stella merasa terganggu.  Stella yang cenderung mematuhi prosedur ketat yang diberikan rumah sakit akhirnya lebih memilih menghindar setiap Will mendekat. Resiko akan adanya silang penyakit akan semakin besar, jika mereka saling berdekatan. Namun Will justru melakukan hal sebaliknya, ia semakin penasaran dengan kehidupan Stella melalui hingga akhirnya menemukan bahwa kakak Stella yang sering memberikan semangat meninggal akibat kecelakaan yang tidak di jelaskan.

Ia semakin mendekati Stella dengan maksud memberikan semangat kepada Stella. Stella yang terus menghindar tidak berhasil membuat Will jera, dan menuruti prosedur medis.  Hingga akhirnya Stella mengetahui bahwa Will adalah salah satu pasien yang tidak mau mengikuti prosedur pengobatan pasien CF oleh rumah sakit. Stella memutuskan melakukan kesepakatan bahwa Will bisa berinteraksi  Stella dengan syarat  jarak interaksi sejauh tongkat biliar yang di bentangkan diantara keduanya  atau sekitar lima kaki.

Kisah romansa klasik yang remaja yang memiliki persamaan mengidap penyakit kronis, berujung pada narasi cinta mengalahkan segalanya. Tidak terkecuali dalam cerita dua sejoli yang terkena  penyakit mematikan satu ini. Interaksi antara Stella dan Will pada akhirnya berujung pada kedekatan diantara keduanya, didukung oleh Poe sebagai sahabat dekat Stella. Kedekatan keduanya menimbulkana rasa saling menyemangati  satu sama lain dan saling memberikan dorongan untuk keluar dari keterbatasan-keterbatasan yang ada. Akibat kedekatannya dengan Stella, Will pun akhirnya mengikuti prosedur pengobatan yang ada.

Namun karakter Will yang awalnya tidak disukai oleh Stella ini, kurang tereksplorasi latar belakangnya kecuali dari tuturan will dan kepiawaian melukis yang ditunjukkan oleh Will. Momentum manic pixie dream boy  muncul ketika Will merelakan donor paru-paru untuk menyelamatkan hidup kekasihnya Stella. Padahal ia bisa saja menggunakan donor paru-paru tersebut untuk memperpanjang usianya sendiri.

Meskipun tahapan  romantisme remaja tak banyak berubah dimulai dari pertemuan pertama, masa pendekatan, kontak fisik hingga pacaran. Akan tetapi ada variasi alur cerita dimana tahapan umum itu tak berlaku untuk Stella dan Will. Termasuk pola persahabatan mereka bersama Poe. Mereka berinterasi namun dengan jarak yang telah ditentukan.  Kesan yang tertulis dari film ini selain mengulik perjuangan para penderita CF juga tentang cara memaknai kehidupan yang ada saat ini. Meski dipenuhi dengan keterbatasan dalam berinteraksi hingga pertimbangan yang membawa pada ambang kematian. Semua itu kembali kepada pilihan manusia dalam menikmati dan memaknai kehidupan yang ia miliki.

 Dewi Ambarwati/16419141038



Adaptasi dari sebuah novel yang diangkat menjadi film.





Sebuah film garapan sutradara Justin Baldoni yang diadaptasi dari sebuah novel karya Mikki Daughtry yang rilis pada 20 november 2018 lalu. Five Feet Apart, bercerita tentang dua remaja yaitu Will yang diperankan oleh Cole Sprouse dan Stella yang diperankan oleh Haley Lu Richardson dipertemukan oleh penyakit mereka. Keduanya bertemu di sebuah rumah sakit dan jatuh cinta. Stella sangat senang berbagi cerita tentang kehidupannya dimedia sosial terutama youtube. Ia sangat senang membuat vlog tentang kesehariannya dirumah sakit. Stella merupakan gadis yang periang dan penuh semangat, ia juga dikenal sebagai gadis yang rapi dan teratur hingga pada suatu ketika ia dipertemukan oleh sesosok pria bernama Will, yang memiliki penyakit yang sama dengannya.




Keduanya memiliki penyakit yang sama yaitu Cystic fibrosis yaitu sebuah gangguan kesehatan, dimana tubuh memproduksi lendir dalam jumlah lebih banyak daripada orang normal. Penyakit ini lantas menyumbat berbagai saluran yang ada di tubuh. Will dan Stella kemudian saling jatuh cinta namun sayang, penyakit yang mereka derita membuat mereka tak bisa bersatu dengan utuh. Sebab sesama penderita Cystic fibrosis tidak boleh berdekatan. Jarak terdekat hanya 1,8 meter alias hanya 6 kaki dari mereka berdiri.

Namun seiring berjalanya waktu keduanya tak dapat lagi membendung perasaan cintanya, rasa ingin mendekat sangat menggebu - gebu, hingga pada akhirnya stella yang dikenal sebagai seorang gadis yang sangat patuh tehadap aturan pun menyerah dan membuat jarak antara dirinya dan Will berjarak 5 kaki menggunakan ceu billiard. Film ini bergenre Romance, yang membuat kita haru saat an menguras air mata menontonnya sebab alur cerita dalam film tersebut sangat menyentuh namun juga tidak membosankan.
Dalam film ini Cole dan Haley sukses memerankan tokoh Will dan Stella. Keduanya nampak memiliki kemistri yang sama.

Untuk anda penikmat film bergenre romance, film FIVE FEET APART sangat recomended untuk anda tonton bersama pasangan.


Penulis : Jihan Arrifa





Film Yowes Ben 2 tayang perdana pada Kamis, 14 Maret 2019. Film ini merupakan kelanjutan dari Film Yowes Ben pertama yang rilis pada tanggal 22 Februari 2018. Di film Yowes Ben 2 melanjutkan cerita tentang Bayu yang diperankan oleh Bayu Skak untuk meneruskan karir band music nya agar bisa sukses di industri music Indonesia.

Cerita di Yowes Ben 2 tidak jauh beda dengan film yang pertama. Film ini masih mengisahkan bagaimana perjuangan Bayu, Doni, Nando dan Yayan dalam membangun kesuksesan Yowes Ben. Dengan membawakan karakter sebagai anak muda yang memiliki semangat yang membara mereka bertekad untuk berusaha dan bekerja keras demi Yowes Ben.

Film yang bergenre family dan komedi ini mengemas apik bagaimana lika-liku kehidupan mereka dalam membangun perjalanan karir dalam industri music Indonesia. Dengan gaya komedi  anak jawa timuran film ini menjadi film yang sangat kental akan nuansa local Jawa Timur ditandai dengan logat dan bahasa yang digunakan adalah bahasa jawa timur yang sedikit kasar dan keras.

Di tengah kebingungan Bayu, Doni Nando dan Yayan dalam meneruskan karir Yowes Ben, tiba-tiba Bayu dan Doni ditawarin kontrak untuk menjadi grup band dan menjadi musisi terkenal di Bandung. Tanpa berfikir panjang Bayu dan teman-teman nya menyetujui dan berangkat ke Bandung. Namun pada saat mereka sampai di Bandung ternyata tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Konflik pada film ini terjadi saat Bayu masih tetap ingin melanjutkan kontrak namun Nando dan Yayan memutuskan untuk pergi dan pulang ke Malang.

Kepulangan Nando dan Yayan membuat Bayu berfikir bahwa ia tidak bisa egois dan harus mengutamakan kebersamaan mereka sebagai keluarga.



Pic from Pinterest

     Setelah Captain Marvel dari Marvel Cinematic Universe dirilis ke layar lebar awal Maret lalu sekarang saatnya Captain Marvel dari DC Extended Universe atau yang lebih dikenal dengan nama Shazam memulai debutnya di layar lebar. Tenang saja anda tidak salah baca, dahulu DC memang menggunakan nama Captain Marvel pada karakter ini namun dituntut oleh Marvel dan akhirnya diganti menjadi Shazam. Namun apakah film ini dapat memberikan warna segar pada DC berikut membahasannya.

      Dalam film kali ini DC semakin meninggalkan image dark dalam ceritanya. Film DC kali ini lebih banyak mengandung unsur humor didalamnya dan kurang menonjolkan tragedi yang berlebihan. Seperti contoh tragedi dalam film Batman yang sangat dark.

     Uniknya Shazam yang dalam film ini yaitu Billy Batson diperankan oleh 2 orang  yaitu anak kecil (Asher Angel) dan orang dewasa (Zachary Levi). Zachary Levi sendiri cukup baik dalam memerankan sifat Shazam yang kekanak-kanakan dan tidak kelihatan lebay ataupun berlebihan. 

Pic from Pinterest

      Tidak seperti film superhero lainnya film Shazam tidak buang-buang waktu dengan prolog remeh yang mengada-ngada. Pembangunan set up cerita latar belakang karakter pahlawan dan villainpun cukup kuat dan rapih. Pembangunan karakter antagonis sangat baik dibuat sangat cerdik dan pendendam bernama Dr. Thaddeus Sivana (Mark Strong) seolah tidak pernah kehilangan pesonanya untuk tampil kuat dan berwibawa. Sangat berlawanan sekali dengan karakter Shazam yang terlalu kekanak-kanakan. Kelebihan dalam film ini terletak dalam hal tersebut, membangun pondasi kuat dalam jajaran karakternya. 

     Walaupun tidak sefrontal Deadpool dari Marvel, komedi Shazam memiliki timing yang tepat dan tak kalah lucu. Jika di Deadpool memiliki komedi yang menyinggung hal aneh dan kebiasaan para superhero contoh seperti superhero landing, Shazam juga memiliki komedi sekelas seperti itu contoh pada scene Shazam dan Dr. Thaddeus sedang melayang dan saling berbicara diketinggian gedung(cukup sampai sini penjelasan scenenya takutnya malah spoiler). Film ini pun dapat dinobatkan sebagai film terlucu dari DC Extended Universe.

Pic from Google
      Salah satu fakta selain Shazam dulunya bernama Captain Marvel ternyata pemeran Shazam Dewasa yaitu Zachary Levi dulunya telah bermain di dalam dua Film Thor karya MCU. Dalam film Thor, Levi berperan sebagai Fandral yang nyaris luput dari perhatian. Namun dalam film Shazam Levi dengan sangat ciamik berhasil memerankan karakter pahlawan ini.

     Terakhir, Shazam merupakan kombinasi yang berhasil menggabungkan komedi, drama, dan action yang dikemas dengan sangat terampil. Pada satu sisi film ini berhasil membangun kembali semangat jiwa anak-anak dalam diri setiap penonton dewasa. Sentuhan pada film ini juga sangat emosional dan membuat film ini sangat istimewa.
rate: 9/10

Judul Film: Shazam
Durasi: 132 menit
Sutradara: David F. Sandberg
Produser: Peter Safran
Penulis naskah: Henry Gayden, Darren Lemke
Pemeran: Zachary Levi, Asher Angel, Mark Strong, Jack Dylan Grazer, Djimon Honsou, Grace Fulton
Tanggal rilis: 3 April 2019 (Indonesia)
Spoiler : Hadouken!!! - Eugene Choi




Setelah kesuksesan besar di film Get Out dua tahun lalu, Jordan Peele kembali menyajikan ketegangan dan kengerian luar biasa dengan film horror thriller terbarunya yang berjudul Us. Sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Jordan Peele berhasil memikat para penonton di berbagai belahan dunia yang menyaksikan filmnya.


Us berkisah tentang sebuah keluarga yang sedang berlibur di sebuah rumah dan diteror oleh orang berwajah serupa atau disebut Doppelgnger. Keluarga ini terdiri dari empat orang; Adelaide (Lupita Nyong’o), Gabe (Winston Duke), Zora (Shahadi Wright Joseph), dan Jordan (Evan Alex). Rumah yang di tempati mereka ternyata merupakan rumah masa kecil Adelaide dimana terjadi peristiwa yang masih menyisakan trauma bagi hidupnya sampai saat ini.

Dengan bersenjata gunting, Para “kembaran” yang dinamakan sebagai Tethered ini mulai meneror satu per satu keluarga Adelaide. Kengerian pun mulai terasa hingga berakhirnya film. Para Tethered ini rupanya tak hanya meneror keluarga Adelaide namun meneror seluruh penduduk kota. Setelah membunuh kembaran aslinya, Tethered membentuk sebuah barisan panjang di sepanjang jalan yang merupakan sebuah gerakan Hand Across America yang populer pada 1986.

Sejak rilisnya pada 20 Maret 2019, keuntungan film Us telah mengejutkan banyak pihak karena melebihi target yang ditentukan. Hal ini tentunya dikarenakan pesona Us yang menyajikan tayangan thriller penuh ketegangan maupun pesan terselubung dibaliknya. Film yang berdurasi 116 menit ini memang menarik untuk dinikmati dari segi alur maupun visualnya sehingga rasanya begitu cepat usai.

Pemilihan musik latar di film ini sangat tepat dalam membangun suasana menegangkan selama film berlangsung. Penonton terus diajak untuk berpacu adrenalin dan menanti rangkaian kejutan yang muncul. Namun tak hanya suasana kengerian saja yang dibangun, Jordan Peele juga menyelipkan beberapa soundtrack musik yang lucu dan menghibur penonton agar mencairkan suasana.

Us juga mengemas kritik sosial dengan menarik. Salah satu kritik sosial yang coba diangkat oleh Jordan Peele yaitu melalui penggambaran dunia bawah–dimana manusia bayangan tinggal–dan dunia atas–dimana manusia di kehidupan nyata tinggal. Dalam film ini, Jordan Peele mencoba mengibaratkan hal tersebut dengan kondisi Amerika Serikat dimana terdapat lorong bawah tanah atau sejenisnya yang digunakan sebagai tempat hidup para kaum minoritas yang terabaikan. Keberadaan kaum minoritas sebenarnya tetap ada dan harus dianggap sebagai bagian dari warga Amerika Serikat pula.

Film Us berhasil masuk ke dalam peringkat teratas Box Office pada pekan pertamanya. Us juga menyajikan plot twist yang memikat sehingga penonton tak habis pikir dengan endingnya. Dengan membawa kengerian luar biasa, Us sangat layak dijadikan pilihan film ketika di bioskop. Ada berbagai pesan yang terselip dalam Us sehingga menjadikan film ini layak disaksikan, khususnya secara saksama.