Karena Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan


               “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” Penggalan ayat suci itulah yang menjadi motivasi dari Anggitya Khalifa Bumi, seorang wanita kuliahan biasa yang lahir di Jakarta, 8 September 1998, dalam menjalani hidup hingga ia dapat tetap berdiri tegap dan menikmati hidup hingga sekarang. Ya, penggalan ayat suci. Karena orang tuanya selalu berpesan untuk mengutamakan agama dalam kehidupan sehari – hari agar hidup menjadi lebih positif.

               Namun, nyatanya ada hal besar dalam hidupnya yang menjadikan penggalan ayat sucinya tersebut menjadi motivasinya terus menerus. Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dengan kakak perempuan serta adik laki laki membuatnya menjadi anak perempuan yang aktif, ekspresif, kuat dan penuh kasih sayang kepada sesamanya. Hidup masa kecilnya sangat membahagiakan, punya banyak teman dan tidak ada berani bermusuhan dengannya. Karena ketika anak laki – laki nakal membuatnya menangis hingga pulang kerumah, ibunya memarahinya dan berkata “kalau main cuma untuk nangis, tidak usah keluar dan pergi bermain!” Jadi ketika ia pergi bermain dan anak laki – laki tersebut mulai memukulnya lagi, ia tidak lagi menangis, melainkan balas memukulnya berkali – kali hingga menangis. Jujur, ada perasaan bangga di dalam hati anak perempuan yang dapat mengalahkan laki – laki nakal tersebut. Meskipun Anggit kecil belum menyadarinya, namun sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.

Ibunya, Martiani, merupakan seorang guru bahkan dari sebelum ia menikah hingga waktu yang tidak ditentukan, menjadikannya sebagai anak perempuan yang pastinya berpendidikan, beretika baik, dan patuh terhadap orang tua. Baginya, ibunya tersebut benar – benar guru terbaik yang ada di hidupnya. Semasa kecil, ia sangat menyukai berada di sekitar ayahnya, Aristo Rahadi karena ayahnya selalu bermain dengannya serta menjawab pertanyaan – pertanyaan yang selalu keluar dari mulut kecilnya. Mungkin karena jawabannya selalu memuaskan dan ayahnya sangat menyayanginya, Anggit kecil selalu melontarkan berbagai macam pertanyaan tanpa henti dan ayahnya dengan senang hati selalu menjawab.

Permasalahan yang lebih beragam dan kompleks muncul ketika ia beranjak dewasa. Postur tubuhnya yang gemuk dan penampilannya yang kurang menarik menjadikannya tidak percaya diri di masa remaja. Ia yang remaja selalu menyesali keputusannya untuk memakan nasi padang seporsi sendirian di masa SD, ataupun keputusannya untuk bermain diluar di waktu panas terik ketika ibunya sudah berusaha untuk membujuknya agar tidur siang bersama. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Sebagai gadis remaja yang dikelilingi dengan teman – teman wanita yang berparas cantik, teman – teman lelaki yang menarik, kepercayaan diri dari Anggit remaja semakin mengalami keterpurukan. Namun sekali lagi, kalimat dari Tuhan yang berbunyi “maka sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan” membuktikan kekuatannya. Ia merawat diri dan mengurangi berat badannya. Tidak mudah karena ia memulai segalanya dari awal, namun ia berhasil.

Sebagai remaja yang dikelilingi orang – orang yang mementingkan penampilan, tentu saja hidupnya kembali menyenangkan, kira – kira selama setahun. Ia dikelilingi banyak perempuan dan laki – laki yang iri dan terheran heran dengan perubahannya.  Hanya selama setahun, karena setelah setahun berlalu ia kembali lagi ke bentuk badannya yang semula. Sedih jika diceritakan. Hal tersebut bukanlah apa yang ia inginkan. Ia ingin selalu terlihat cantik, langsing, punya banyak teman, dan mendengarkan komentar positif tentang dirinya. Namun tentu saja, sebagai anak remaja yang hidup di negara berkembang, ia mendapat banyak komentar tentang kembalinya berat dan bentuk badannya tersebut. Dan sebagai remaja yang kehilangan kepercayaan dirinya, hal tersebut membuatnya semakin tidak percaya diri. Ia merasa kehilangan teman – temannya yang dulu mengelilingi dan memujinya, dan ia kembali ke masa – masa sulit hidupnya.

Masa – masa SMA nya ia jalani dengan penuh tekanan. Entah karena jurusan pilihan orangtuanya yang tidak cocok untuknya, atau karena lingkungannya yang menurutnya kurang baik terhadapnya, atau mungkin hanya ketakutan dan ketidakpercayadiriannya yang berlebihan dan mengganggunya. Terlebih perihal masalah perkuliahan yang orang – orang bilang sulit untuk dihadapi, membuatnya merasakan ia sedang berada di titik terendahnya. Puncaknya adalah ketika ia benar – benar harus mencari kuliah dan membuktikan betapa sulitnya mencari kuliah. Ia tidak memiliki masalah dalam biaya, transportasi kuliah, ataupun hal lain, namun ia tetap mendapat penolakan dari berbagai kampus yang ia daftari.

Bayangan wajah kecewa kedua orang tuanya ketika ia menyatakan bahwa ia tidak diterima, selalu terngiang – ngiang dikepalanya. Apakah ia akan diterima tahun ini? Mungkinkah akan lebih baik jika mengulang tahun depan? Ia mendapatkan banyak beban pikiran yang bertubi – tubi. Untuk pertama kalinya, bahkan ketika ia sedang beribadah ia tidak mendapatkan rasa ketenangan seperti yang biasa ia dapatkan.  Meskipun begitu, ia tidak pernah berhenti untuk terus beribadah. Karena ia yakin, ia telah berusaha sekuat tenaga dan Tuhan akan membantunya lewat orang – orang yang berada disekitarnya. Doa memohon kepada Tuhan terus ia panjatkan. Ia bercerita bagaimana ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, bagaimana ia akan sangat menghargai jurusan dan universitas apapun yang nantinya akan ia terima, dan ia akan bersungguh – sungguh dalam menuntut ilmu untuk membanggakan orang tuanya. Disaat inilah, tidak ada apapun selain Firman Tuhan yang  dapat menguatkannya ketika ia melemah dan hampir putus asa.

Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tidak pernah untuk tidak mengabulkan doa umatnya. Pada akhirnya, kabar yang baik datang untuk Anggit dan keluarga. Disinilah ia sekarang, sedang menghargai jurusan dan universitas yang Tuhan berikan dan rencanakan untuknya. Belajar dengan sungguh – sungguh, terus memberikan kabar baik seputar perkuliahannya kepada orang tuanya, dan yang tentunya terus mencoba untuk membanggakan orang tuanya. Selain itu, Anggit sudah semakin dewasa, mungkin semua cobaan itulah yang mendewasakannya. Karena apa yang tidak dapat membunuh dan mematahkanmu, itulah hal yang menguatkanmu lebih dari sebelumnya. Ia telah mengalami permasalahan yang cukup besar, dan telah melewatinya pula.

Permasalahan – permasalahan kecil yang sebelumnya terjadi kepadanya, seperti bagaimana bentuk fisiknya, atau hilangnya teman – teman, tidak pernah menjadi beban pikirannya lagi. Ia mulai mencintai dirinya sendiri lebih dari ia mencintai siapapun, karena ia merasa ia berhak bahagia ditengah – tengah omongan negatif dari orang tentangnya maupun tanpa omongan positif dari orang lain. Ia tidak merasa sedih dengan sedikitnya orang – orang yang berada disekitarnya. Karena ia percaya, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas, orang – orang inilah yang memang sebaiknya selalu ada disekitarnya, tidak perlu orang – orang lain lagi yang belum tentu akan membahagiakannya. Dari situ ia belajar, bahwa Tuhan tega mematahkan hatinya, demi menjauhkannya dari orang yang salah. Ia memahami bahwa meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal yang wajar dan ia berharap, orang – orang yang meninggalkannya akan terus berbahagia, sama halnya seperti dirinya yang selalu berbahagia dan berlapang dada dalam menghadapi segala permasalahan. Karena, sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. sungguh, bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. J

0 comments:

Post a Comment