Ayu terus bergerak
tak nyaman di kasurnya. Membenarkan tinggi bantalnya, memutar posisi badannya, mengeluar-masukkan
kaki dari selimut hangatnya, hingga hal yang sebenarnya tidak penting karena
tidak ada bedanya, yaitu membalikkan guling yang dipeluknya. Namun, semuanya
sia-sia. Perempuan manis itu masih kesulitan untuk tidur selama beberapa hari
terakhir. Sosok lelaki yang sangat ia kenal dengan sangat baik, terus muncul di
pikirannya yang seharusnya sudah diistirahatkan sedari tadi.
“Ah, haruskah aku katakan
kepadanya?” Ayu bergumam sendirian di kamar tidurnya yang kecil dan nyaman.
“Ah, tidak perlu, lah! Untuk apa dia mengetahui perasaanku? Dasar, laki-laki
jahat! Pergilah saja dan biarkan aku tidur!” Selimut yang memberikannya
kehangatan itu justru ditendangnya kesal. Diacak-acaknya rambut pendek yang
sudah berantakan sedari tadi itu. “Apa dia tahu betapa mahalnya harga eye cream ku!? Akan aku hukum orang itu
bagaimanapun caranya!”
Namun, ucapan laki-laki
itu justru muncul di pikirannya, tentang bagaimana rambut yang baru dipotong
pendek sebahu terlihat cocok dan makin menambah kesan imut di wajah Ayu. Pipi Ayu memerah padam mengingatnya, matanya yang sudah mengantuk itu semakin berair
saja. Ditatapnya jam dinding yang berdetak pelan menunjukkan waktu yang sudah
larut malam. Ia terdiam dan berpikir keras. “Tidak bisa seperti ini. Ayo kita
selesaikan!”
~~~
Ayu berdiri tepat di
hadapan pujaan hatinya yang selalu menghantui pikirannya itu. Ia memutuskan
untuk bertemu dan mengahiri segala kegundahan dalam hati dan pikirannya. Karena
ini terjadi tidak hanya sekali, namun berkali kali dan itu sangat
mengganggunya. Ayu menghela napas seakan semua beban yang ada didalam dirinya turut
keluar bersama helaan nafasnya.
“Kau benar, aku
menyukaimu. Maka berhentilah berlari-lari di pikiranku dan biarkan aku tidur
dengan tenang,” Ayu memeluk nisan bertuliskan nama pujaan hatinya yang terus
mengganggu pikirannya tersebut sambil berbisik lirih, “Seperti kau yang telah
tidur dengan tenang sekarang.”
Seketika angin berhembus
dengan lembut menerpa pipi lembabnya. Ayu tersenyum, ia yakin ia tidak
sendirian. Entah siapa yang memperhatikannya selain burung hantu yang bertengger
di pepohonan atau kelelawar yang beterbangan di langit malam, tetapi ia merasa aman seakan ada
yang sedang melindunginya dari segala hal buruk yang mungkin akan menyakitinya di malam itu. “Amat sangat
tenang.”

0 comments:
Post a Comment