Showing posts with label Review Patjar Merah. Show all posts
Showing posts with label Review Patjar Merah. Show all posts


Rabu (1/5) kampung Gedongkuning RW 01 Kelurahan Rejowinangun Yogyakarta merayakan datangnya bulan suci Ramadan. Warga RW01 sepakat untuk membuat gunungan yang nantinya akan di arak keliling kampong, lalu dirayah bersama-sama oleh warga sekitar. Setiap RT membuat satu gunungan yang mewakili RT tersebut. Moh. Sajad selaku ketua RW01 mengatakan “gunungan ini ada enam jumlahnya. Empat perwakilan dari tiap RT, satu perwakilan dari Masjid Yaumig. Dan satu gunungan perwakilan dari RW01. Tiap perwakilan dibebaskan untuk membuat tema gunungan, ya supaya lebih meriah”.
Gunungan dikumpulkan di Balai Panca RW01 terlebih dahulu sebelum diarak keliling kampung. Beberapa penampilan juga memeriahkan acara tersebut. Mulai dari penampilan anak-anak TPA Yaumig, Hadroh Yaumig, anak-anak TK RK Gedongkuning, dan acara ini ditutup dengan dangdut syari dari Septi Lolita setelah gunungan selesai dirayah.  Satu persatu penampilan disambut dengan meriah oleh warga sekitar.
Uniknya, kegiatan ini diselenggarakan dengan pakaian adat jawa. Mulai dari MC acara, pengusung gunungan, hingga para warga yang ikut memeriahkan acara tersebut. Ibu-ibu PKK dari tiap RT tak lupa untuk menyiapkan cemilan seperti  gorengan, jajanan pasar, teh panas dan nasi kucing untuk menjamu para warga yang memeriahkan kegiatan ini.
“saya senang, kegiatan ini terus dilaksanakan dari tahun ke tahun. Walaupun saya tidak menjalankan ibadah puasa, tapi saya ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ya saya bantu-bantu bikin gunungan, masak juga. Wong ini aja bikin gunungannya dirumah saya. Saya senang, malah rame jadinya” ungkap Ibu Aris selaku anggota PKK RW01.
Setelah gunungan diarak keliling kampong, gunungan langsung dirayah oleh seluruh warga. Walaupun berdesak-desakan tapi seluruh warga sangat antusias dengan kegiatan ini. Moh. Sajad mengungkapkan harapan dari kegiatan ini “supaya kita tetap nguri-uri kebudayaan jawa, meningkatkan swadaya masyarakat sehingga mampu saling menunjukkan potensinya maisng-masing. Berharap Ramadan tahun ini warga RW01 mendapatkan berkah, seperti yang digambarkan dari adanya gunungan ini.”

Event ini merupakan salah satu event jejepangan yang populer di Jogja. Pada tahun ini, event ini berkolaborasi dengan event Jogja Idol Festival (JIF) dimana JIF ini merupakan event terbesar di jogja untuk kategori idol group. Kemudian event ini juga berkolaborasi dengan Indonesia Cosplay Grandpriz 2019 (ICGP) yang juga merupakan event cosplay terbesar untuk wilayah jogja. Khusus untuk ICGP ini, puncaknya adalah Ennichisai Blok M yang merupakan agenda event tahunan dan merupakan event jejepangan terbesar di Indonesia. Lokasi event ini bertempat di gedung PKKH UGM Yogyakarta pada tanggal 24 Maret 2019 dari jam 10.00 pagi hingga 21.00 malam.

Dari pintu masuk,terdapat loket karcis bagi yang belum memiliki tiket. Karena tiket ini juga bisa dibeli sebelum event atau biasa disebut presale. Setelah loket tiket ada stand-stand makanan. Disini banyak stand-stand makanan khas jepang. Mulai dari jajanan, es, minuman hingga makanan berat. Untuk tempat stand makanannya cukup baik karena ditempatkan di tempat outdoor yang lumayan luas. Sayangnya akses jalan disini agak sempit jadi agak susah untuk membeli jajanannya. Disamping stand-stand makanan, ada komunitas Itasha yaitu komunitas yang mengubah striping atau menambah sticker dan mengecat motor pemilik sesuai dengan karakter anime favorit pemilik. Setelah itu ada pintu masuk dan tempat pengecekan barang-barang serta loket pemasangan gelang tiket. Gelangnya sendiri merupakan gelang yang terbuat dari kertas namun sangat kuat dan anti air. Setelah pintu masuk, kita disambut oleh booth-booth merchendaise dari grup-grup idol yang lomba dan tampil pada event ini. Kemudian ditengah-tengah gedung ada panggung  dan tempat menonton panggung tersebut serta tempat juri untuk menilai lomba grup idol dan cosplay. Naik ke lantai dua, ada booth-booth komunitas yang kebanyakan berisi komunitas game-game jepang dan lainnya. Lagi-lagi sayang akses jalannya cukup sempit dan sedikit becek akibat hujan yang terjadi sebelum acara mulai. Di gedung ini sebenarnya memiliki kamar mandi yang banyak. Namun sayang hampir semua kamar mandi penuh oleh orang-orang yang dandan sebagai cosplayer. Jadi sedikit menganggu apabila ingin ke kamar mandi.

Overall acara ini bisa dibilang sukses karena antusias pengunjung yang sangat ramai dan cosplayer yang sangat banyak. Bahkan ada seorang bule yang ikut datang juga menjadi cosplaye salah satu karakter anime. Tata letak penempatan booth sampai stand makanan cukup baik. Hanya saja akses jalannya yang sempit membuat sulit untuk bergerak dikeramaian. Tempat sampah sangat memadai dan dibanyak titik sehingga meminimalisir adanya sampah yang dibuang sembarangan.



Senin, 4 Maret lalu pada saat berkunjung ke Patjar Merah, diantara ratusan buku yang tertata rapi dan diantara orang-orang yang berlalu-lalang, ada satu hal yang menarik perhatian namun diabaikan.

Sebuah pesan kecil di sudut ruangan yang entah kenapa mampu mengalihkan fokus pandangan. Di saat orang-orang berfokus pada pembicara dan narasumber serta tumpukan buku yang menarik perhatian. pandangan ini  tidak pernah lepas dari barisan pesan singkat yang tertulis di sudut ruangan.

Sebuah pesan dari beberapa tokoh terkenal seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Syaikh Fuad Shahih, dan masih banyak lagi. salah satu pesan yang menarik perhatian adalah pesan dari Syaikh Fuad Shahih yang berbunyi "Sangat aneh jika umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam tidak rajin membaca, padahal wahyu pertama yang diterima beliau adalah perintah: IQRA', "BACALAH". Sebuah pesan sederhana yang bermakna dalam. Dan masih banyak pesan lainnya yang tidak jauh bermakna namun kebanyakan diabaikan dan hanya menjadi hiasan yang bahkan dilihat saja tidak oleh kebanyakan pemgunjung karena terfokus pada buku-buku dan serunya acara.


Sebuah pesan kecil disudut ruangan yang mungkin saja mampu menggugah semangat pemuda dan pemudi masa kini.


(Review Patjar Merah )
jurniva Ananda 16419149001

Belakangan ini Yogyakarta lagi sendu sendunya, hujan terus. Bikin menggigil kedinginan sambil meratapi nasib melihat kenyataan, mengeluh banyaknya tumpukan tugas, tapi ngeluhnya sambil scroll Instagram tidak jelas didalam selimut. Tadinya saya khawatir akan ikutan sendu sampai malam minggu. Ternyata, Tuhan berkata lain, yeah!

Syukurnya, suasana malam minggu kemarin cukup mengundang bagi bongkahan pemalas ini untuk mengangkat dirinya dari dalam selimut dan segera pergi keluar. Bahkan, senja yang biasanya gelap hingga malamnya hujan deras, tidak terlihat pada Sabtu itu. Sore hingga senjanya cukup terang, bikin saya semangat bersiap segera malam mingguan. Dandan yang cantik, pakai baju bagus, bawa totebag untuk menyimpan calon pacar. Iya, calon pacar.

Jadi, kita sedikit balik ke waktu saya scroll Instagram tidak jelas, ya. Ternyata scrolling tidak berfaedah itu ada manfaatnya juga, saya ketemu info dimana lokasi calon pacar bahkan bisa berkunjung dengan waktu yang tidak sebentar, bisa patjaran sampai malam.

Singkat cerita, kebetulan saya memang ingin meningkatkan minat membaca lagi sama seperti saya waktu kecil. Masih jelas di ingatan saya di masa kecil, saya selalu menunggu hari libur untuk mengajak Ayah saya ke toko buku bekas dan beli berbagai jenis buku. Entah kenapa minat membaca saya malah menurun jika dibandingkan dengan dahulu, disaat seharusnya saya membaca lebih giat lagi.

Adanya Festival Literasi dan Pasar Buku ini menarik perhatian saya selama beberapa hari. Instagramnya (patjarmerah_id) selalu update keadaan di lokasi setiap harinya. Setelah berhari-hari ingin pergi kesana namun hanya berakhir di niat, akhirnya saya berkesempatan mendatangi Festival Buku dengan harga-harga yang murah ini di malam minggu. Tidak tahu kenapa, rasanya senang. Senang karena akhirnya bisa keluar sampai malam dan melupakan tumpukan tugas untuk sementara waktu. Di malam minggu pula, mirip anak perempuan mau pergi malmingan sama pacar. Bedanya yang ini pacarnya bisa dimasukin ke totebag, patjarnya buku.

Apakah kata-kata diatas ada rasa rasa ngenesnya? Hmm

Sesampainya di Patjar Merah, ternyata makin bikin senang karena lebih dari yang saya bayangkan. Aesthetically pleasing, bahasa kekiniannya.




Tanpa pikir panjang, saya segera masuk untuk langsung ngepoin gedung yang penuh dengan tumpukan buku ini sampai ke belakang-belakangnya. tapi sebelum itu, kita harus titip tas dan barang-barang yang bisa ditinggalkan di tempat penitipan untuk sementara waktu.


Setelah itu, mulailah saya berkeliling. Di bagian paling depan, saya sudah disuguhi tulisan "serba 10 ribu" yang membuat jiwa kemiskinan saya berteriak kesenangan


Satu kata yang bisa menjelaskan apa yang saya lihat. Menakjubkan. Buku jenis apapun, topik apapun, setebal maupun setipis apapun, sekecil maupun sebesar apapun, semuanya ada disana. Banyak orang dewasa yang sedang memilih-milih buku tentang komputer, pertanian, kesehatan, yang sepertinya merupakan profesinya. Ada juga remaja usia sekolah di kumpulan buku-buku soal UN dan SBMPTN, membuat saya refleks menyemangatinya dalam hati. Anak-anak kecil pun tidak kalah banyaknya, fokus membaca buku di bagian buku anak-anak, mencari-cari mana buku yang sesuai seleranya. Lucu melihatnya, mungkin dulu saya selucu itu, ya?

Dan tentunya ada lebih banyak lagi laki-laki dan perempuan yang umurnya kurang lebih sepantaran dengan saya di bagian novel, fiksi, dan buku indie. Sudah kuduga. Pasti mereka sedang mencari-cari buku yang cocok dibaca sembari ngopi di waktu senja.


Ada juga pojok khusus yang tak kalah ramainya, yaitu pojok buku pahe (paket hemat) yang merupakan paketan berisi berbagai buku dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli secara terpisah. Sungguh menggiurkan. Yang berada di bawah ini merupakan contoh buku pahe yang berisi 5 buah buku dan bisa kita dapatkan dengan harga 40ribu rupiah saja. Emejing!


Tidak hanya buku pake yang memiliki harga murah, jika kita mencari cari dengan teliti, kita bisa menemukan buku dengan harga yang luar biasa murah! Untuk para penggemar buku fiksi, buku ini merupakan harta karun yang sangat berharga loh!


Disini kita tidak hanya bisa membeli buku, tapi kita juga dapat membeli merchandise dari patjarmerah berupa t-shirt dan totebag.


Akhirnya saya memutuskan pulang karena tidak sabar untuk segera unboxing patjar baru yang baru saja saya beli. Dengan harga yang murah, saya sudah mendapatkan beberapa buku yang memang ingin saya beli.





Sumber: Facebook Si Juki

Pembajakan tidak akan pernah bisa terbendung. Tumpas satu, ratusan berikutnya akan muncul. Hal ini diamini oleh Bagus, managing director Pionicon World dalam diskusi berjudul “Komik dan Literasi Grafis Masa Kini” di Gedongkuning, Minggu (10/03/2018).

Tidak ada penulis yang mau karyanya dibajak, tak terkecuali komikus. Layaknya memahat patung, membuat komik membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak sebentar. Sungguh menyebalkan apabila karya yang telah dibuat dengan segala jerih payah “dicuri” dengan semena-mena.

Pionicon selaku penerbit khusus komik mengaku prihatin dengan pembajakan yang terjadi di Indonesia. “Siapa, sih yang mau karyanya dibajak?”, tegas Bagus. Selama ini, Pionicon aktif memantau karya yang mereka terbitkan lewat media sosial seperti Twitter maupun Instagram. “Kami tentu aware dengan pembajakan. Kami juga melaporkan segala bentuk pembajakan kepada pihak yang berwajib”, ujar Bagus.

Senada dengan Bagus, Bayu, penggerak tim komik “Si Juki” turut mengecam pembajakan. Ia pun mengaku bahwa pembajakan tidak dapat benar-benar hilang.
   
Sayangnya, pembajakan di negeri 250 juta penduduk ini sudah akut. “Lihat saja, kini perusahaan CD sudah banyak yang gulung tikar gara-gara masifnya pembajakan. Selain karena adanya musik online”, tambah Bagus. Analogi yang diutarakan oleh mas Bagus cukup tepat dan berdasar. Tak hanya CD, karya berbentuk buku, komik, bahkan perangkat lunak komputer pun tak luput dari tindakan pembajakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pembajakan merupakan salah satu tindak pidana yang sudah menjamur. Saking menjamurnya, sampai dibuat peraturan tersendiri, yaitu UU Hak Cipta. Pada UU ini ciptaan merupakan salah satu kekayaan intelektual yang hak penyebarannya berada pada sang produsen. Kekayaan intelektual ini dilindungi oleh negara. Tidak main-main, siapapun yang melanggar UU ini dapat dipidana penjara selama satu tahun dan denda 100 juta rupiah.


Melawan Pembajakan dengan Edukasi

Melihat fenomena pembajakan yang begitu masif, Pionicon mengaku tidak memiliki strategi khusus untuk mengantisipasi hal tersebut. “Yang paling penting itu kita edukasi pembacanya”, ungkap Bagus. Ia juga mengajak para pembaca untuk menghargai karya pencipta dengan membeli barang orisinil.

Tak jauh beda, Bayu juga memerangi pembajakan dengan edukasi. “Pembajakan, kan subur karena ada yang beli. Jadi, salah satu cara yang ampuh, ya kita edukasi pembaca biar nggak beli barang bajakan, supaya penjualnya bangkrut”, ujarnya.

Konsumen merupakan salah satu instrumen penting dalam kegiatan perekonomian. Tanpa ada yang mengonsumsi, ciptaan secantik apapun tak akan ada nilainya. Kegiatan perekonomian juga tak akan berjalan tanpa konsumen. Maka tepat bila Pionicon dan yang lain fokus pada edukasi konsumen.

Masih dalam konteks pembajakan, dilansir Kompas.com, Indonesia berada di peringkat ke-11 negara negara pembajak software di dunia. Belum ada data yang konkret mengenai jumlah pembajakan buku di Indonesia. Namun, kita bisa melihatnya peredarannya di masyarakat. Gengsi untuk memiliki barang dengan merk tertentu membuat masyarakat lebih memilih membeli barang KW. “Mental seperti inilah yang harus dihilangkan dari masyarakat kita”, kata Bagus.

Topik lain yang dibicarakan adalah geliat penerbitan komik tanah air. Bayu selaku penggerak tim buku “Si Juki” prihatin dengan minimnya buku komik ciptaan putra bangsa. Selama ini, para pencipta komik banyak yang kurang berani mengekspos karya mereka, tidak seperti penulis cerpen/novel. Padahal, kata Bayu, menyampaikan gagasan lewat komik jauh lebih dapat diterima masyarakat. Tentu, dengan pembawaan yang menarik pula.

Bagus menambahkan, kebanyakan komikus tanah air kini hanya berfokus mengekspos karya ke media sosial Instagram. “Banyak para komikus yang enggak ngerti karyanya harus diterbitkan ke mana. Jadi, ya industri komik tanah air kurang begitu populer”, sebutnya. Padahal di luar negeri, karakter komik tidak hanya muncul dalam cetakannya.

Bagus memberi contoh di Jepang, karakter komik dijadikan figur layanan masyarakat oleh pemerintah. Nobita dan Shizuka, dua karakter dalam serial komik Doraemon itu dijadikan pembawa pesan tentang berkendara yang baik. “Di bandara-bandara juga, karakter banyak dijadiin poster layanan masyarakat”, tandasnya.

Diskusi ini sendiri terselenggara dalam program bazaar buku diskon “Patjar Merah”. Patjar Merah adalah bazar buku diskon tahunan yang bekerja sama dengan berbagai penerbit di Yogyakarta. Tahun ini, Patjar Merah diadakan pada 02-10 Maret 2019 di Gedongkuning, Yogyakarta. 

Di samping bazaar, berbagai diskusi tentang dunia literasi turut dihadirkan. Salah satunya adalah diskusi yang bertajuk “Komik dan Literasi Grafis Masa Kini” di atas. Selain itu, diadakan pula malam pembacaan puisi yang mengundang berbagai sastrawan puisi ternama untuk menarik pengunjung. 
pic from pinterest

Patjar Merah adalah bazar buku yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 2-10 Maret 2019. Mungkin jika ingin lebih mengetahui tentang acara ini bisa cek di artikel-artikel lain di blog ini. Jika anda ingin membaca tulisan yang lebih berkualitas bisa baca artikel lainnya tapi jika ingin membaca sudut pandang yang berbeda boleh baca lebih lanjut.

Bagi penggemar dan pecinta buku di Yogyakarta mungkin festival Patjar Merah ini bagaikan surga. Dimana pada festival Patjar Merah ini tersedia sejuta buku dengan lebih dari delapan ribu judul dengan harga cukup murah, bukan hanya itu saja festival ini juga diramaikan dengan berbagai talkshow dan workshop yang dimeriahkan oleh penulis-penulis dan kreator handal Indonesia. Namun acara ini kurang menarik bagi saya yang merupakan orang yang jarang membaca. Walaupun begitu saya tetap pergi ke acara ini dengan harapan mungkin ada buku yang menarik atau membahas sesuai dengan hobi saya.

Saya pergi ke festival Patjar Merah pada hari Sabtu malam tanggal 9 Maret. Cukup ramai disana, mungkin sekitar lebih dari tiga ratus orang berada disana. Tersedia banyak sekali buku namun saya tidak menemukan buku yang sesuai dengan ketertarikan saya seperti kajian-kajian filmologi. Ada buku lain yang saya cari dan saya dapat di rak buku rekomendasi yaitu buku tentang fashion Pria cukup murah memang tetapi buku tersebut adalah cetakan tahun 2014 dimana jika diaplikasikan di Tahun 2019 ini sangat ketinggalan.

Karena tidak menemukan buku yang menarik saya memutuskan untuk pergi ke rak buku Agama ada sekitar empat rak dengan tumpukan yang cukup tinggi. Disini saya melihat hal yang menarik yaitu Sebagian besar buku yang tersedia adalah buku Agama Islam mungkin kurang dari 5% buku Agama selain Agama Islam. Memang Indonesia mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk Agama Islam dan sangat baik juga diterapkan sampai ke rak buku diisi buku Agama mayoritas. Adapun beberapa buku Agama Kristen salah satunya yang berisi tentang Yesus memiliki anak kandung. wow..

Selanjutnya saya ingin membahas tentang toilet di Patjar Merah. Pada acara ini saya hanya menemukan satu toilet yaitu disebelah selatan gedung atau setelah pintu masuk jalan lurus sedikit lalu belok kiri. Awalnya saya mengira dengan jumlah pengunjung yang sangat banyak dan hanya toilet ini yang saya temukan kondisi toiletnya bakal jelek. Namun ternyata ekspetasi saya terlalu buruk. Tidak sesuai antara ekspetasi dan kenyataannya. Tolietnya tidak terlalu buruk, mungkin karena para pengunjung adalah orang-orang terliterasi baik dan jarang ada antrian di toilet ini mungkin juga karena pengunjung terlalu asik dengan acara dan mencari buku. 

Pengairan toilet ini lancar juga tersedia satu bak dan satu buah gayung warna hijau. Toiletnya juga menggunakan wc jongkok yang menurut penelitian lebih sehat dibandingkan toilet duduk. Toiletnya tidak banjir seperti toilet-toilet umum Indonesia lainnya. Didalamnya juga tercium bau kapur barus yang untuk mengurangi bau pesing. Namun ada satu hal yang kurang yaitu tidak adanya gantungan di dalam toilet. Ini tentu saja akan mempersulit orang yang membutuhkan gantungan di dalam toilet dan hanya bisa mengantisipasi dengan menggantung di gagang pintu. Walaupun begitu toilet ini sudah cukup layak untuk digunakan.

Beginilah salah satu contoh tulisan orang yang jarang membaca dan kepepet tenggat waktu. Sekian, terima kasih telah membaca sampai selesai.

Sedikit lebih beda lebih baik dari pada sedikit lebih baik -Pandji Pragiwaksono


Patjar merah merupakan rangkaian acara festival literasi dan pasar buku yang berlangsung dari tanggal 2 - 10 maret 2019 di Yogyakarta, tepatnya di Jl. Gedongkuning No.118, Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55171 (sebenernya anda bisa langsung cek lokasinya di google map, saya cantumin biar paragraf ini keliatan panjang aja). Festifal patjar merah sangat menarik untuk dikunjungi, terbukti dengan banyaknya jumlah pengunjung. sayangnya, festival patjar merah sudah berakhir tanggal 10 maret kemarin. Lalu, apa istimewanya acara tersebut? dan mengapa patjar merah harus tetap ada?


Tempat mana lagi yang menyediakan buku dengan harga yang sangat murah?
Selain copy punya temen, di mana lagi anda bisa mendapat buku dengan harga yang murah? mungkin di toko daring bisa, ...tapi gimana jika anda tidak punya internet? yup, yaa beli bajakan di patjar merah tentunya. Festival literasi dan pasar buku patjar merah menyediakan berbagai buku mulai di harga Rp5000-an sampai buku yang tidak mungkin saya beli dengan harga diatas Rp200.000. 

Selain harganya yang murah, festival patjar merah juga menyediakan banyak varian buku. Dengan banyaknya varian buku tersebut, anda tidak perlu bingung mencari jenis buku yang anda suka. Buku - buku tersebut ditaruh di stand - stand yang dikategorikan berdasarkan jenis atau genre masing - masing buku. Seperti stand buku anak menyediakan berbagai macam buku untuk anak yang bisa menjadikan anak gemar membaca, stand buku hobi bagi anda yang ingin mendalami dan menambah pengetahuan tentang hobi anda, stand buku agama yang hanya didominasi satu agama, stand buku parenting bagi anda yang tidak pede menjadi orang tua atau tidak tau cara mengurus anak, dan stand-stand lainnya


Dapat ilmu baru lewat Obrolan dan Lokakarya setiap harinya
Walaupun anda tidak mendapatkan seminar kit atau teman baru, anda bisa mendapatkan ilmu baru yang benar-benar menarik dan bermanfaat. sejumlah kreator dan nama besar di bidang literasi hadir sebagai narasumber untuk membagi ilmu mereka dan berdiskusi bersama para pengunjung. Beberapa narasumber yang hadir diantaranya adalah Joko Pinurbo, Ria Papermoon, Max Lane, Ivan Lanin dan masih banyak lagi.

Obrolan dan lokakarya tersebut diadakan setiap hari dengan tema yang berbeda sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Tema - tema yang dihadirkan pun menarik, seperti literasi anak, puisi, fotografi sampai korean waves. Menariknya lagi Anda bisa mengikuti diskusi - diskusi tersebut secara gratis. 


patjar merah lewat pasar buku, obrolan, dan lokakaryanya sudah meningkatkan minat literasi di masyarakat. Untuk itu patjar merah dan gerakan - gerakan serupa harus tetap ada. 

"selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. kalau perlu dan memang perlu, makanan dan pakaian dikurangi" -Tan Malaka
 
 
Dari sebuah sudut kecil di Jogja hadir festival kecil yang dinamai Patjar Merah "Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku". Ya, harusnya sudah jelas apa yang bisa kita ekspektasikan dari keberadaan festival ini. Jujur ini adalah pengalaman pertama saya (orang yang rada kuper ini) datang ke acara sejenis ini.  Ketika saya mendapati harus menulis review yang sedang kalian baca sekarang ini saya langsung cek jadwal kapan sebaiknya datang ke Patjar Merah. Melalui akun instagram Patjar Merah akhirnya saya mengetahui bahwa mereka bukan hanya menawarkan buku-buku dengan harga terjangkau tapi juga ada semacam talkshow. Jujur ini membuat saya semakin tertarik untuk datang dan melihat sendiri seperti apa rupa dari festival ini.

Talkshow yang mereka namai "Obrolan Patjar" ini dari hari pertama hingga terakhir selalu diisi dengan para pembicara yang berwawasan dan juga menginspirasi. Setelah memastikan jadwal saya memutuskan untuk datang ke Patjar Merah pada hari Sabtu malam tanggal 9 Maret 2019, tepat satu hari sebelum hari terakhir festival ini. Tiba disana ternyata saya sudah terlambat 30 menit untuk menyaksikan Obrolan Patjar yang saat itu diisi oleh Mbak Ria dari Papermoon Puppet Theatre dan juga si cilik Naura Quinta si pendongeng cilik. Ya, saya yang merasa tidak terlalu bisa menikmati jalannya talkshow karena terlalu banyak orang yang berlalulalang dan berisik juga tentunya akhirnya memilih untuk berkeliling saja dan melihat-lihat koleksi yang mereka miliki.

Awalnya saya memang tidak berniat untuk menambah koleksi buku saya mengingat sebenarnya ada beberapa buku yang saya beli beberapa bulan lalu namun belum selesai terbaca. Eits, tiba-tiba di tengah banyaknya buku-buku ini saya melihat sebuah buku berjudul "Step by Step to Stand up Comedy" yang ditulis oleh Greg Dean dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ernest Prakasa. Ini adalah emas! Sudah sulit menemukan toko buku yang masih menyimpan koleksi buku ini. Saya tanpa pikir panjang saat itu langsung memasukkannya dalam bucket list buku yang wajib dibeli. Saya memang bukanlah seorang komika tapi saya cukup dekat dengan mereka para komika ini. Saya mengagumi bagaimana mereka bisa membawakan lelucon yang membuat tawa penonton "pecah". Saya yakin buku ini dapat membongkar resep yang mereka gunakan dalam melakukan itu semua. 

Selepas mendapatkan buku menarik itu saya hanya berkeliling melihat-lihat koleksi buku di festival kecil ini yang sejujurnya tidak banyak yang menarik perhatian saya. Terlepas dari itu semua menurut saya yang menjadi "nyawa" dari festival ini sendiri adalah adanya konten Obrolan Patjar. Tanpa Obrolan Patjar mungkin festival buku ini hanya sekedar festival buku biasa. Seperti namanya, Patjar Merah "Festival Kecil Literasi dan Pasar Buku" memang ditujukan bukan hanya sebagai pasar buku tapi juga tempat bagi orang-orang hebat berbagi cerita dan meliterasi masyarakat umum.


Menciptakan sebuah karya tak terasa sulit jika melakukannya dengan perasaan senang hati, begitu kata seorang penulis yang bernama Syahid Muhammad. Bertepatan pada hari Senin tanggal 4 Maret 2019 Saya bersama dua orang teman Saya yang bernama Kelik dan Syafrie mengunjungi salah satu event besar yang ada di kota Yogyakarta, yaitu Patjar Merah. Patjar Merah ini merupakan salah satu event bazar buku yang terkenal dengan murah dan terlengkap koleksi buku-bukunya, pada saat Saya dan bersama dua teman Saya memasuki pintu masuk Patjar Merah Saya dan teman Saya disambut dengan sangat ramah oleh mas-mas dan mbak-mbak yang berjaga, lalu Saya pun membalas dengan senyuman. Rak buku pertama yang Saya lewati yang terletak tepat di sebelah kanan Saya sangat ramai dikerubungi oleh banyak orang mulai dari anak muda hingga orang dewasa. Tak hanya itu saja ternyata di rak buku kedua dan ketiga yang hanya berjarak 5 langkah dari rak buku pertama juga ramai diserbu oleh para pengunjung di acara Patjar Merah ini, Saya sempat penasaran mengapa hal tersebut bisa terjadi, lalu Saya pun mencoba menghampiri rak buku-buku tersebut dan Saya pun terkejut karena harga yang ditawarkan dapat dikatakan murah sekali mulai dari Rp.5000,00 rupiah hingga puluhan ribu rupiah dan buku-bukunya pun menarik-menarik.
Lalu dari situ Saya beranjak menuju panggung yang sedang berlangsung workshop yang diisi oleh para penulis-penulis terkenal seperti Genta Keswara, Syahid Muhammad dan Bernard Batubara. Sebenarnya memang niat Saya bersama dua orang teman Saya datang ke acara Patjar Merah adalah untuk menimba ilmu dari workshop yang diisi oleh para penulis tersebut. Kebetulan pada kesempatan itu Saya duduk di belakang yang jaraknya lumayan jauh dari panggung karena tempat duduk di depan sudah penuh, mungkin karena Saya dan teman Saya datang terlambat. Namun itu bukanlah suatu kendala, pada saat Saya duduk disitu Syahid Muhammad sedang berbicara mengenai karya, kata Syahid Muhammad karya merupakan sesuatu yang dapat kita ciptakan dengan mudah ketika kita melakukannya dengan senang hati. Tak ada satupun karya yang sulit untuk diciptakan selagi kita sendiri membuatnya dengan sungguh-sungguh dari hati, karena karya tercipta bukan untuk menyenangkan orang lain namun menyenangkan diri kita sendiri. Syahid Muhammad mengtakan bahwa dirinya bukan seseorang yang berlatar belakang dari sastra namun Ia berlatar belakang dari psikologi, Ia sempat mengatakan juga bahwa seseorang penulis perlu untuk bisa memfilter apapun yang ada di sosial media, karena kebanyakan saat ini banyak penulis diluar sana yang tidak dapat memfilter di sosial media. Lalu Ia sempat menyinggung tentang seorang konten creator yang membuat konten semaunya yang berdampak negative pada khalayak namun malah terkenal, itu yang dimaksud bahwa seorang konten creator khususnya penulis perlu untuk memfilter segala sesuatu nya di media sosial. Syahid Muhammad memang bisa dikatakan adalah salah satu penulis yang sangat bertanggung jawab karena Ia memikirkan penuh tentang dampak karya yang telah Ia ciptakan bagi para calon pembacanya dan Ia menaruh spirit yang membuat para pembaca nya juga ikut terpacu untuk selalu melakukan hal yang positif dan menciptakan sebuah karya yang berasal dari hati.
Lalu setelah Syahid Muhammad selesai menyampaikan materinya dilanjut dengan Genta Keswara yang sangat memanfaatkanmedia sosial untuk menjadi sebuah platform menulis, Genta mengatakan bahwa membentuk karakter di media sosial itu perlu karena ketika kita tidak memiliki karakter di media sosial maka susah untuk dikenali oleh banyak orang. Kita harus menjadi beda harus menadi the only one, karena dengan demikian kita bisa membawa sesuatu yang fresh yang dapat dihapal oleh banyak orang. Genta mengatakan juga bha=wa media sosial adalah makanan sehari-harinya karena de gan media sosial Ia merasa hidup, dengan media sosial Ia merasa senang Karena dapat merealisasikan sesuatu yang ada dalam isi hatinya, mulai dari kiah hidupnya, kisah hidup rekan-rekannya hingga kisah tentang asmara yang pernah dialaminya. Genta menurut Saya adalah seorang penulis yang bisa dicontoh leh banyak penulis-penulis baru yang lahir di era serba digital ini karena Ia dapat memanfaatkan media sosia dengan sebaik  mungkin tidak malah untuk menyebarkan ujaran kebencian namun memanfaatkan meida sosial untuk berkarya dengan hati.
Tak kalah menariknya dengan Bernard Batubara yang berhasil menembus berbagai macam platform mulai dari era belum digital hingga era digital pada saat ini, Ia mengatakan bahwa Ia dapat menembus banyak platform karena Ia hanyan ingin menulis saja. Menurutnya platform hanyalah sebuah bentuk, menulis sangat asik karena cerita tuturnya. Ia juga memberikan tips bagi para penulis baru agar untuk tetap konsisten dalam menulis karena dengan konsisten maka dengan seiring berjalannya waktu kualitas dalam menulis akan terus meningkat, lalu berkarya lah dengan hati seperti kata Syahid Muhammad juga. Dan yang terakhir yang menurut Saya menarik adalah ketika Bernard mengatakan bahwa cerita membuat orang menjadi berfikir, memberikan sugesti. Itu bagaikan kode yang sangat dalam dari hati seorang Bernard guna memberikan spirit untuk selalu menciptakan karya dari hati terkhusus untuk para penulis baru yang ingin karya nya dikenal oleh banyak orang dan diapresiasi.
Dari acara talkshow tersebut Saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat dari para penulis terkenal tersebut dan menggugah Saya untuk selalu terus berkarya walaupun bukan dalam bentuk karya tulis, karena Saya yakin dengan sesuatu hal yang dikatakan oleh Bernard maupun Syahid bahwa konsisten dan menciptakan sebuah karya dari hati adalah kunci kesuksesan dari seorang seniman. Mungkin itu saja yang dapat Saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga dapat bermanfaat dan dapat menginspirasi untuk bisa menciptakan sebuah karya yang berkualitas.

Halloo teman-teman!! Kali ini saya akan memberikan review tentang si kecil gudang pengetahuan. Menurut kalian apasih yang saya maksud? Nah jadi yang saya maksud adalah festival patjar merah. Patjar merah merupakan sebuah festival kecil literasi dan pasar buku. Patjar merah sendiri dapat ditemukan di Jalan Gedongkuning No 118 Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Masuk ke dalam patjar merah adalah suatu hal yang sangat menakjubkan. Di sana dapat menemui berbagai jenis buku, mulai buku referensi, penunjang pelajaran, agama, politik dan soshum, novel, hingga buku memasak. Sehingga semua kalangan usia dapat memasuki festival kecil nan bermanfaat ini. Untuk masuk ke  dalam ribuan ilmu ini tidak harus merogok uang karena benar-benar geratis. Kemudian setiap harinya di festival ini juga terdapat sarana untuk berdiskusi dengan berbagai tema yang menarik.


Pada saat saya ke sana, saya sigap berburu buku hingga membuat saya kebingungan. Karena banyak buku yang menarik hati saya. Kemudian, saya juga tidak melawatkan diskusi nan asyik. Pembicara yang mengisi diskusi tersebutpun sangat bagus. Mampu menarik perhatian yang datang. Selain itu, yang membuat saya kagum dengan festival ini yaitu sama sekali tidak menggunakan plastik untuk pembeli buku. Karena yang saya ketahui dari awal, festival ini memang mendorong untuk menugari penggunaan plastik yang hingga saat ini masih melimpah. Hal ini merupakan hal yang sangat baik untuk memulai perubahan. Gimana teman-teman? Asyik kan bisa menikmati festifal ini hehe. Saya juga berharap, kedepannya festival seperti ini harus sering diadakan. Sehingga minat membaca anak bangsa akan lebih meningkat. Seperti ini review dari saya. Semoga bermanfaat.



Salah satu kelompok buku di Patjar Merah
Salah satu kota yang selalu hidup dengan kegiatan mahasiswa adalah Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, Yogyakarta menjadi tempat dimana banyak perguruan tinggi berdiri. Mulai dari perguruan tinggi swasta sampai dengan perguruan tinggi negeri juga berdiri di Yogyakarta. Oleh karenanya kegiatan kegiatan yang sering beririsan dengan mahasiswa sering diadakan disini. Salah satunya adalah bazar buku, bazar buku yang diadakan di Yogyakarta selalu ramai dengan hiruk pikuk pengunjung yang mencari buku baik itu fiksi ataupun non fiksi. Bazar buku yang baru saja berakhir pada beberapa hari yang lalu adalah Patjar Merah. Patjar merah mendesain bazar bukunya dengan  menyisipkan beberapa obrolan dengan beberapa penulis buku agar bazar buku tersebut tidak terkesan monoton.

Salah satu yang menarik penulis adalah obrolan dengan penulis Buku Kisah Tanah Jawa yang diadakan pada 7 Maret 2019. Penulis memilih datang pada saat obrolan ini karena berangkat dari asumsi bahwa obrolan ini bakal ramai. Ternyata itu semua diluar bayangan penulis, penulis sengaja datang 30 menit sebelum obrolan tersebut dimulai dengan harapan mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan obrolan tersebut. Tetapi pada saat penulis datang, tempat yang dipilih sebagai vanue obrolan sudah tidak dapat menahan jumlah peserta obrolan yang membludak.
Sebelum Obralan Kisah Tanah Jawa. Febriansyah/KelasKreatif
Alhasil penulis tidak kebagian tempat duduk dan harus berdesak desakan untuk menyaksikan obrolan tersebut. Hal tersebut sungguh tidak nyaman menurut penulis, padahal disekitar tempat bazar ada vanue yang cukup besar disamping food court. Tempat tersebut dapat lebih dimanfaatkan atau seharusnya penyelenggara dapat memprediksi bahkan menyiapkan plan jika hal hal seperti ini terjadi.



Patjar Merah.Febriansyah Kulau/KelasKreatif

Penulis hanya dapat fokus untuk memperhatikan obrolan sekitar 30 menit, dikarenakan kondisi yang tidak nyaman tersebut. Dalam obrolan yang penulis ikuti, penulis dapat menarik sebuah hipotesa bahwa obrolan tersebut dapat dikatakan sebagai interactive marketing. Dalam konsep Integrated Marketing Communication (IMC) kita mengenal beberapa tools yang sering digunakan untuk sebagai alat promosi atau hanya menguatkan sebuah brand saja, salah satunya yang penulis singgung diatas yaitu interactive marketing.
Ciri khas dari interactive marketing adalah adanya keterkaitan antara konsumen/calon konsumen dengan produsen, keterkaitan tersebut dibangun dengan komunikasi. Hal tersebut sangat kental dirasakan oleh penulis dalam menyaksikan obrolan ini. Obrolan antara penulis dan penonton adalah buktinya, disini produsen mencoba membangun keterkaitan dengan konsumen/calon konsumen dengan saling mengobrol secara langsung, yang harapan besarnya adalah penonton akan kembali membeli buku atau akan membeli buku bagi calon konsumen. Hal tersebut wajar saja menurut penulis, karena tentu penyelenggara melihat celah yang dapat dijadikan sebagai ranah promosi sebuah buku agar dapat meningkatkan penjualan.

Karena pada saat itu kondisi sangatlah ramai, penulis mencoba datang lagi pada tanggal 9 Maret 2019 dengan harapan mendapatkan sebuah pembanding jika topik obrolannya berbeda. Penulis datang sekitar 55 menit setelah obrolan dimulai, tetapi kondisi obrolah tidak se hactic obrolan sebelumnya. Hal tersebut membuat harapan penulis datang ke obrolan ini menjadi kenyataan.
Pada saat Obralan tanggal 9 Maret 2019. Febriansyah/KelasKreatif
Terdapat hal menarik pada saat penulis memperhatikan obrolan, yaitu beberapa kali terlihat pembicara yang notabenenya masih anak kecil terlihat mengantuk. Pertama kali penulis melihat anak tersebut mengantuk pada pukul 20.23 dan berulang beberapa kali. Ada baiknya penyelenggara dapat lebih memperhatikan hal seperti ini, terlebih jam tersebut sudah cukup malam bagi seorang anak untuk berkegiatan layaknya orang dewasa. Saran penulis, penyelenggara dapat mengatur waktu obrolan agar jika pembicaranya kelak kembali seorang anak maka dapat tetap memperhatikan hak hak seorang anak.


Secara keseluruhan penulis sangat mengapresiasi kegiatan ini. Pengunjung bagai arus air yang selalu ada disetiap malamnya. Patjar merah juga bagai surga bagi mereka para pemburu buku bacaan. Harapannya kedepan kegiatan ini dapat kembali diadakan di Yogyakarta, tentunya dengan kemasan acara yang lebih ciamik lagi.



Menggawali hari minggu di awal bulan Maret ini saya dan beberapa teman saya mengisi libur kuliah dengan kegiatan yang berfaedah yaitu mengunjungi sebuah event Festival Kecil Literasi & Pasar Buku di Patjar Merah. Event ini sangat menarik dan ramai dihadiri pengunjung, mulai dari anak-anak, mahasiswa, hingga orang dewasa. Selain pasar buku yang sangat murah ada juga kegiatan Lokakarya dan Obrolan Patjar dalam serangkaian kegiatan yang dilakasanakan pada tanggal 2-10 Maret ini. 


Patjar Merah merupakan festival kecil literasi dan juga pasar buku dengan harga yang ramah di kantong mahasiswa maupun orang dewasa. Patjar Merah menghadirkan berbagai macam buku-buku seperti novel, fiksi, sastra, agama, pendidikan, dan masih banyak ribuan buku lainnya dari penerbit di Indonesia. Situsai yang saya lihat saat berada di pasar buku, tidak sedikit tangan yang mebolak-balik tumpukan buku yang tertera rapi dimeja dengan harapan menemukan koleksi buku yang menjadi buruannya.



Pada hari kedua event Patjar Merah ini saya dan beberapa teman saya mengikuti sebuah obrolan yang diadakan oleh Patjar Merah dengan tema “ Korean Waves dan Industri Buku Indonesia”. Pembicara yang dihadirkan sangat menarik ada Cahyo Satria (Pemred “Shira Media), Syafial Rustama (Pemred “Bukune”), Shifra Lushka (Penulis “BTS-Today We Fight!”), dan Asabell Audida (Penulis “Eufloria”).

Dalam obrolannya kali ini keempat pembicara menjelaskan gagasan mereka mengenai Korean Waves dan juga bagaimana industri buku di Indonesia dengan menerbitkan buku-buku yang berbau Korean. Pada obrolannya kedua penulis menceritakan bahwa mulai dari sekedar hobi dan kecintaan mereka bisa menghasilkan sebuah karya yaitu novel yang terinspirasi dari idola mereka, bahkan lagu-lagu yang dibawakan idola mereka banyak memberikan makna tersendiri bagi Shifra Lushka dan Asabell Audida yang akhirnya bisa dituliskan dalam buku, bahkan berhasil diterbitkan merupakan kebanggan bagi mereka sendiri.


Jadi yang saya dapatkan dari obrolan patjar tentang Korean Waves  ini adalah, bahwa apa yang menjadi hobi kalain, dan apa yang kalian sukai jadikanlah hal itu sebuah karya yang bisa bermanfaat untuk kalian sendiri bahkan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Apapun itu harus tetap berkarya, semangatttt :)




Apa itu Patjar Merah?

Patjar Merah adalah suatu event atau festival literasi yang dimana terdapat pasar buku yang banyak jenisnya looh. Tidak hanya buku pengetahuan dalam satu bidang dan tidak hanya berlaku bagi kaula muda, namun di Patjar Merah banyaaaaak sekali terdapat buku-buku yang menginspirasi, mengedukasi, memotivasi, dan memenuhi selebrasi dari hobi menulis dan membaca. Termasuk saya yang hobi membaca. Jadi itulah Patjar Merah, yang dimana kita dapat mencari dan menemukan buku yang kita perlukan, juga dapat mendengar langsung dari narasumber yang berpengalaman dalam bidang menulis dan membuat suatu buku yang menurut saya itu dapat menginspirasi saya khalayak muda ataupun tua untuk semakin mengembangkan kreatifitas yang sangat berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Untuk Patjar Merah semakin solid yaa dan semakin sering diadakan event ini biar makin rajin rakyat membaca.

Dalam Festival Kecil Literasi di Patjar Merah kali ini mereka mendatangkan narasumber yang berpengalaman dalam bidang menulis, dan uniknya narasumber tersebut menulis buku yang dimana idenya itu berasal dari traveling. Yeeess! Berkeliling bisa menghasilkan duit dari tulisan yang kita tuangkan selama perjalanan yang menjadi materi dalam penulisan. Narasumber tersebut yaitu Trinity, yang mendapatkan residensi di Peru dan juga Sunli Thomas Alexander yang mendapatkan residensi di Belanda. Mereka merupakan orang-orang yang beruntung mendapatkan program residensi yang bisa disebut beasiswa bagi para penulis-penulis agar bisa tahu lebih dekat dengan sumber tema yang mereka tuliskan. Sederhananya, dengan bergaul dengan penduduk lokal agar bisa memahami pola pikir dan kebiasaan mereka tentunya. Tak hanya itu, mereka juga meneliti buku-buku tua yang ada di perpustakaan kota tempat mereka bermukim sementara agar tulisan yang ingin mereka buat tampak nyata.

Festival Literasi Patjar Merah ini dilaksanakan pada tanggal 2-10 maret 2019 lalu, lumayan lama bukan. Dengan waktu 9 hari ini kita bisa looh bolak-balik untuk mendalami hobi yang tadinya hanya membaca bisa saja menjadi seseorang yang menyediakan ilmu bagi para pembaca hehehe Aamiin. Patjar merah yang diadakan di Yogyakarta ini tepatnya dijalan Gedong Kuning No.118 Rejowinangun, Kota Gede, Yogyakarta. Suatu event yang sangat cocok dan tepat diadakan di Yogyakarta khususnya, yang dimana Yogyakarta itu sendiri identik dengan mahasiswanya. Namanya juga kota pelajar..hihihi


Mengapa harus ke Patjar Merah? Dapat ilmu gratis, siapa yang kagak mau yaak! Kalau bukunya yaa harus beli hehehe. intinya kalau kamu pergi ke event Patjar merah berarti kamu sudah menjemput ilmu.

Adapun kata-kata narasumber yang paling bagus menurut aku saat Talkshow adalah, ‘Untuk menjadi penulis, usia bukanlah menjadi tolak ukur. Walaupun kita udah tua gak menjadi alasan untuk kita berhenti menulis, dan kalau kita gak bisa traveling lagi untuk mencari materi penulisan, kita dapat menjadikan kehidupan yang kita jalani sebagai materi penulisan kita.’

                                       “Gak ada alasan buat gak nulis”

Festival kecil literasi dan pasar buku Patjar Merah digelar beberapa hari yang lalu di Yogyakarta tepatnya di Jalan Gedong Kuning No. 118, Kotagede, Yogyakarta. Acara tersebut berlangsung sejak 2 Maret 2019 hingga 10 Maret 2019. Berlokasi di bekas gudang tidak terpakai di daerah Gedong Kuning, acara ini tidak lain bertujuan untuk mengembangkan literasi dimana saja termasuk di sebuah gudang.

Patjar Merah menghadirkan sejumlah narasumber ternama untuk meliterasi selama 9 hari dengan beragam tema. Tak hanya kegiatan meliterasi, acara ini pun menggelar lokakarya seperti penulisan kreatif, fotografi, membangun personal branding, menulis dan berbicara, dan penulisan skrip film. Acara yang juga merupakan pasar buku ini menghadirkan buku-buku dari para penerbit mayor maupun indie di Indonesia. Dalam postingan akun instagram @patjarmerah_id, terdapat 8000 judul atau sejuta buku yang dipasarkan dengan potongan harga sebesar 30%-80%. Buku-buku ini pun dikelompokkan ke dalam beberapa kategori diantaranya sosial politik, buku anak, bahasa, kesehatan, keterampilan, motivasi dan bisnis, novel, masakan, dan parenting.

Kamis, 7 Maret 2019 lalu, saya berkunjung ke Patjar Merah untuk mengikuti salah satu pembahasan menarik di gudang mati tersebut. Patjar Merah mengundang 3 narasumber dalam sesi Obrolan Patjar yang bercerita tentang Kisah Tanah Jawa. Ketiganya merupakan tim penulis buku Kisah Tanah Jawa terbitan Gagas Media, yaitu Hari Hao, Bonaventura Genta, dan Mada Zidan. Selama Obrolan Patjar berlangsung, pengunjung terlihat sangat ramai berkerumun sehingga menutupi ketiga narasumber. Ketiga narasumber berbagi kisah mengenai fenomena kesurupan, stigma benda-benda kramat atau magis, dan filosofi sesaji. Tak hanya bercerita, mereka pun memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk bertanya. Banyak dari pengunjung yang tertarik untuk bertanya dan diantaranya mengajukan pertanyaan seputar keganjilan-keganjilan yang pernah mereka alami untuk ditelaah oleh tim Kisah Tanah Jawa. Obrolan berlangsung cukup seru dan menarik pengunjung untuk ikut mendengarkan dengan seksama dan berinteraksi langsung dengan mengajukan pertanyaan.


Pengunjung memadati area perbincangan yang diisi tim Kisah Tanah Jawa
Sembari mendengarkan obrolan, saya pun berkeliling melihat-lihat buku pameran. Saya tertarik dengan dekorasi yang digunakan di Patjar Merah sejak menginjakkan kaki pertama kali. Seperti namanya, warna dominan yang diaplikasikan di acara ini adalah merah. Dari depan gudang, terpampang papan besar berwarna merah sebagai gerbang Patjar Merah yang megah. Memasuki area gudang, terdapat tempat penitipan barang di sebelah kiri dan kasir di sebelah kanan. Terdapat pajangan merchandise Patjar Merah yang bisa dibeli pengunjung di area depan. Ada pula spot foto yang disediakan backdrop untuk memfasilitasi pengunjung yang ingin mengambil gambar. Terdapat pula kipas angin blower di beberapa titik untuk memberikan kesegaran kepada pengunjung yang kegerahan selama berada di dalam gudang yang cukup pengap tersebut. Meja display buku diletakkan dengan berurutan dan berdekatan dengan sesama kategorinya sehingga memudahkan pengunjung untuk mencari buku.

Di langit-langit tergantung kertas-kertas berbentuk pita besar yang bertuliskan kutipan dari orang-orang ternama. Awalnya saya terkesan dengan pita besar tersebut, namun karena jumlahnya yang begitu banyak bergantungan, lama-kelamaan saya merasa tengah berada di sebuah tempat perbelanjaan diskonan yang menggantungkan informasi potongan-potongan harga. Tempat bisa dikatakan bersih dan tidak terlihat sampah-sampah di dalam gudang sebab pengunjung dilarang membawa makanan beserta minuman. Pengunjung yang membawa tas juga harus menitipkan bawaannya di penitipan barang sebelum memasuki gudang. Sayangnya, area yang digunakan untuk perbincangan malam itu sangat padat dan kurang luas. Kursi yang disediakan untuk pengunjung duduk pun kurang karena banyaknya peserta. Pengunjung yang menonton perbincangan harus berdiri berkerumun melingkari narasumber sampai mengambil area display.

Buku-buku yang dipamerkan sangat beragam dan tidak banyak saya jumpai di toko buku besar di Yogyakarta. Beberapa yang menarik adalah spot-spot buku indie yang memang menjadi bintang utama dalam panggung pasar ini. Ada pula paket buku seharga Rp70.000 yang cukup menggiurkan para Patjarboekoe, sebutan untuk pengunjung Patjar Merah. Harga yang ditawarkan beragam mulai dari Rp10.000, Rp40.000, hingga kisaran ratusan ribu. Buku-buku pameran tersebut terhitung murah karena sudah mendapat potongan yang cukup banyak, contohnya saja pada buku yang saya beli dengan harga Rp15.000. Saya juga menemukan buku terjemahan Dracula karya Bram Stoker seharga Rp40.000 yang biasanya dijual seharga Rp100.000. Di toko buku besar, sulit sekali untuk mendapat buku dengan harga semurah itu. Lain lagi dengan buku-buku indie yang justru harganya bisa dikatakan standar. Pada acara ini, buku indie memang mendapatkan pasarnya sehingga kesempatan tersebut tentunya dimanfaatkan untuk menjual dengan harga yang tidak merugikan.

Tidak hanya orang dewasa yang menjadi pengunjung acara ini, namun juga ada anak-anak. Inilah yang saya sukai dari pameran buku Patjar Merah yakni terdapat spot buku anak. Para orang dewasa yang berkunjung tidak hanya bisa membawa anak ke acara ini untuk sekedar melihat-lihat bahkan bisa mengajak anak untuk mengenalkan buku sejak usia dini.

Keunikan dari acara ini adalah siapa saja bisa mendapatkan ilmu bahkan jika mereka tidak membeli buku pamerannya sekali pun. Pengunjung yang datang tinggal memilih agenda yang ingin mereka ikuti. Cukup dengan membayar tiket parkir, pengunjung bisa ikut mendengarkan narasumber-narasumber berbincang dan berbagi ilmu. Jika ingin ikut menghasilkan karya, pengunjung tinggal mendaftarkan diri terlebih dahulu. Yang ditawarkan oleh Patjar Merah memang sangat menggiurkan dari segi ekonomi, hobi, maupun pengetahuan. Dari segi ekonomi, obrolan yang digelar tidak mematok harga kepada pengunjung sehingga pengunjung tidak berpenghasilan pun masih bisa mengikuti agenda yang ditawarkan. Tema yang diangkat pun beragam dan digemari banyak golongan dengan menghadirkan narasumber ternama yang juga menarik sehingga dapat memenuhi hobi pengunjung. Tak perlu diragukan lagi bahwa acara ini sedikit banyaknya sudah menyebarkan ilmu dan pengetahuan kepada pengunjung lewat perbincangannya yang menarik juga informatif.

Acara ini kurang lebihnya sudah menjadi warna baru bagi festival literasi dan pasar buku di Yogyakarta dengan menggelar kegiatan literasi yang asik lewat perbincangan-perbincangan dengan tema yang mengikuti zaman. Indonesia khususnya Yogyakarta perlu lebih banyak kegiatan bermanfaat seperti ini. Selain memberikan pasar kepada industri penerbitan Indonesia, kehausan masyarakat akan informasi dan pengetahuan pun dapat terpenuhi.  Literasi bagaikan darah yang memberi kehidupan pada gudang mati dan Patjar Merah telah berhasil membuatnya hidup selama 9 hari. (Ayw)