Showing posts with label Travelling dan Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Travelling dan Kuliner. Show all posts
Sumber: objekwisatadieng.com


Dieng menyimpan potensi alam yang melimpah. Salah satunya adalah wisata Golden Sunrise Sikunir. Terletak di desa paling tinggi di Asia Tenggara, Desa Sembungan, Sikunir menawarkan pemandangan alam yang sungguh memanjakan mata. Sikunir memang selama ini kondang dengan sunrise terbaik di Jawa Tengah.

Butuh setidaknya 1 jam perjalanan mobil dari pusat Kota Wonosobo untuk mencapai kawasan Desa Sembungan. Namun, lamanya waktu akan terbayar dengan indahnya  pemandangan sepanjang perjalanan. Hawa pegunungan yang sejuk turut menambah keasyikan berkendara, sehingga lelah tidak akan begitu kentara.

Oiya, untuk memasuki kawasan wisata Dieng, kita perlu merogoh kocek sebesar Rp10.000. Uang ini wajib kita bayarkan di tempat pemungutan retribusi yang akan kita temui di perjalanan setelah melewati pasar Garung. Namun, ini hanya untuk memasuki kawasan Dieng saja. Kita harus membayar bea masuk kembali di objek wisata yang ingin kita masuki. Nah, untuk memasuki objek wisata gunung Sikunir, kita harus merogoh kocek sebesar Rp5.000 saja.

Uniknya, di kaki gunung Sikunir terdapat telaga yang membentang. Telaga ini bernama Telaga Cebong, karena berbentuk seperti kecebong bila dilihat dari puncak gunung Sikunir. Di sekitaran telaga ini biasanya digunakan sebagai tempat camping ground pengunjung, karena dilarang mendirikan tenda di puncak oleh pengelola.

Untuk mencapai puncak Sikunir, kita harus mendaki selama 30 menit. Tapi, kita tidak perlu takut akan tersesat. Di Sikunir telah dibuat tangga-tangga sebagai jalur pendakian beserta pagar pengaman di pinggir tebing. Jadi, pengunjung tidak perlu repot-repot membawa parang untuk membuka jalur baru. Namun, yang kurang adalah pencahayaan. Maka, sangat disarankan bagi pengunjung untuk membawa lampu sorot sendiri-sendiri agar tidak tersandung anak tangga, atau salah menggandeng pasangan orang lain.

Di puncak, segala kelelahan selama pendakian terbayar lunas. Gunung Sumbing, Ungaran, dan Prau akan terlihat begitu cantik disinari mentari pagi. Pun dengan hutan dan pemukiman yang masih diterangi bola lampu namun berpotongan dengan matahari yang mulai muncul dari balik cakrawala. Bukan salah bila Sikunir memang disebut sebagai tempat hunting sunrise tebaik se Jawa Tengah.

Akan tetapi, alangkah baiknya bila berkunjung ke Sikunir pada musim kemarau. Selain kemungkinan turun hujan kecil, awan di langit akan lebih sedikit. Sehingga, kita bisa menikmati Golden Sunrise secara optimal.

Oiya, satu lagi, jangan lupa bawa sampahmu turun ya!


Sebagai orang yang lahir dan besar di Bali, namun sekarang tinggal di Jogja selama 5 tahun, saya kangen dengan masakan-masakan khas Bali. Untungnya tinggal di kota besar seperti Jogja, saya bisa mencari restoran dengan makanan khas Bali disini. Setelah saya cari-cari di forum dan review Google Maps, akhirnya saya menemukan salah satu restoran yang menjadi rekomendasi. yaitu : Warung Makan Khas Bali Putra.

Restoran ini berlokasi tidak jauh dari alun-alun kidul Yogyakarta. Tepatnya di Jalan Namburan Kidul No.10. Tinggal jalan kaki ke timur dari alun-alun kidul Yogyakarta sejauh kurang lebih 300 meter. Atau naik Ojol dengan tarif sekitar Rp.30.000 dengan mobil dan Rp.15.000 dengan motor apabila anda berada di sekitaran UGM-UNY. Walaupun makanan khas Bali, semua makanan disini halal karena tidak mengandung Babi. Jika Anda masih ragu, ada juga bakmi jawa dan soto di sebelah warungnya.

Yang menjadi Top Picks saya adalah Nasi Jinggo. Ada 2 porsi yaitu jumbo dan biasa. Nasi Jinggo ini terdiri dari ayam sisit, oseng kacang, sambal dan mie keriting. Ayam sisit ini yang menjadi primadona lauk dari menu ini. Ayam sisit ini adalah ayam yang sudah disuir-suir dengan bumbu khas Bali. Rasanya asin dan gurih yang lezat. Bayangkan ayam suiran soto namun ada bumbu yang membuatnya asin, gurih dan pedas. Kemudian oseng kacangnya mirip dengan kacang yang ada di nasi bungkus tetapi kali ini rasanya asin dan gurih dengan sedikit rasa pedas. Mirip dengan rasa ayam sisitnya. Sambalnya juga terasa asin dan gurih. Berbeda dengan sambal khas jogja yang manis. Selain itu anda juga harus mencoba sate lilitnya. Sate yang berbahan ikan ini sangatlah lezat. Lagi-lagi bumbunya serasi dengan ayam sisitnya. Menu lainnya ada ayam taliwang, ayam betutu,sambal kepala ikan tuna. Nasi campur dan snack-snack lainnya. Harga perporsinya untuk nasi jinggonya adalah 10.000 rupiah.

Selain itu warung ini juga bisa dipesan melalui Gofood atau Grabfood dengan nama restoran yang sama. Disini juga menerima pembayaran dengan Gopay atau OVO untuk pmebayaran cashless. Juga tersedia EDC untuk pembayaran dengan kartu debit/kredit. Akhirnya saya bisa makan-makan dan juga nostalgia dengan masakan Bali.

Hei! Sudah lama rasanya tidak berjumpa dengan kalian para pembaca. Saya memang belakangan ini menjadi sedikit mager untuk menulis, but i'm back! Maaf ya, saya nulis bahasanya kecampur-campur, biar keren aja, hehe. Baiklah saya akan memulai dengan membahas kenapa saya memberi judul demikian untuk tulisan kali ini. "Sedikit repot demi harga terjangkau" adalah judul tulisan yang terinspirasi dari fenomena orang-orang yang memaknai travelling dengan tujuan atau destinasi semata. Bagi saya seharusnya travelling bisa menjadi sesuatu yang lebih luas, bukan hanya sekedar tentang destinasi. "Yaelah ngaku aja kau tidak punya uang untuk jalan-jalan kan?". Oh, jelas. Benar sekali. Saya memang tidak punya uang, materi, atau bahkan waktu yang cukup bagi saya sendiri untuk travelling yang jelas-jelas untuk maksud bersenang-senang. Dan dengan dalih itu pula saya berusaha memperkuat perspektif saya melalui pernyataan salah seorang travel blogger yang sudah terkenal bernama Marischka Prudence. Dalam wawancaranya dengan media massa Asumsi di program "Pangeran, Mingguan" kak Pru menyatakan dengan terang bahwa dia tidak membeda-bedakan beberapa sebutan untuk traveller atau pun turis. Baginya ketika kamu melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Bekasi pun bisa disebut travelling meski itu adalah perjalanan dinas.

Berlandaskan itu semua maka saya menyatakan diri bahwa perjalanan yang saya lakukan dari Jogja menuju Bandung dalam rangka mengikuti acara Bandung Hockey Festival adalah sebuah travelling. Kendati pun begitu saya tidak semata-mata ingin membahas tentang acara tahunan yang melibatkan beberapa negara tetangga kita tersebut mengingat ini festival internasional. Hal yang benar-benar ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah bagaimana saya memaknai travel sebagai sebuah "perjalanan" dan bukan hanya sekadar berkunjung ke destinasi wisata atau kuliner. Memang tujuan utama saya ke Bandung saat itu adalah mengikuti kompetisi yang diselenggarakan dalam festival tersebut namun dalam "perjalanan" untuk sampai disana banyak hal yang bisa jadi menarik untuk dikisahkan.

7 Maret 2019 saya bersama teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Hockey UNY berkumpul di ruang sekretariat kami demi membahas perjalanan yang akan kami lakukan ke Bandung. Ya, sebagai bagian dari perencanaan supaya uang yang di amanahkan kepada kami dapat dipergunakan dengan efesien maka berkumpul dan membahas hal seperti ini menjadi penting. Pada momen itu salah seorang teman saya yang juga ketua UKM Hockey mengatakan bahwa ia sudah cek jadwal kereta untuk keberangkatan kita tapi harga yang tersedia cukup mahal. Bukan kami tidak mampu tapi kalau ada yang lebih murah kenapa tidak? Seketika itu juga teman saya yang lain namanya Reza langsung menyambar dengan pertanyaan kepada forum "gimana kalau kita berangkat dari Kutoarjo?". Ada jeda hening sejenak sebelum kami bertanya kepada Reza "kepada harus begitu?

Ternyata Reza menemukan harga yang jauh lebih terjangkau jika kita melakukan perjalanan dari Kutoarjo ke Kiaracondong (stasiun di Bandung) ketimbang dari Lempuyangan ke Kiaracondong. Untuk momen itu saya bersyukur karena tidak menyerah terlalu cepat tapi kemudian muncul pertanyaan "Kutoarjo kan di Purworejo, jadi bagaimana kita kesana?". Ya, dengan tenang Reza menjawab kalau kita akan menggunakan kereta Pramek dari Lempuyangan jam setengah 6 pagi hari jum'at. Well, bukan hal yang sulit meskipun tidak bisa diremehkan. Malam sebelum hari keberangkatan kami berkumpul di kosku dan sama-sama bergadang karena esoknya jam 4 pagi kami harus sudah stand by Lempuyangan.

Singkat cerita semua rencana berjalan lancar. Kami pun senang dapat menghemat uang cukup banyak dengan rencana ini. Sebagai gambaran, jika kami menyerah dengan keputusan Lempuyangan langsung ke Kiaracondong kami akan menghabiskan uang sejumlah 150.000 rupiah untuk sekali jalan. Dengan keberangkatan dari Kutoarjo kami hanya menghabiskan uang sejumlah 70.000 rupiah, 8.000 rupiah untuk Pramek dari Lempuyangan ke Kutoarjo dan 62.000 rupiah dari Kutoarjo ke Kiaracondong. Ya, sudah itu saja yang ingin saya ceritakan kepada kalian. "Hei, mana kisah travelling-nya?". Oh, kamu baru saja membacanya, terima kasih.


Adzan zuhur menyambut kami saat pertama kali kami memasuki daerah Kotagede. Segera, kami menuju Masjid Gede untuk menunaikan ibadah sekaligus bertamasya ke tempat bersejarah itu.


Kotagede adalah sebuah kecamatan yang terletak di Yogyakarta. Dikenal sebagai "Kota Perak", Kotagede adalah sentra kerajinan perak terbesar di Yogyakarta. Tidak hanya itu, Kotagede juga menjadi saksi bisu berdirinya Kearajaan Mataram Islam. Alhasil banyak peninggalan kerajaan tersebut yang masih bisa kita nikmati hingga kini.

Beberapa diantaranya menawarkan nilai historis dan estetis yang potensial sebagai destinasi wisata. Masjid Gede adalah salah satu yang wajib untuk dikunjungi. Dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Masjid Gede sudah berusia ratusan tahun sekaligus menjadi masjid tertua di Yogyakarta. Meskipun masjid ini pernah terbakar dan pernah direnovasi besar-besaran.Namun, ciri khas bangunan itu masih bisa kita saksikan hingga kini yaitu arsitektur bangunan inti masjid yang berbentuk limasan. Konon, inti masjid ini adalah bangunan yang asli sebelum akhirnya majisd Gede diperluas dan direnovasi. 


Secara umum, Masjid Gede, Kotagede memiliki banyak kemiripan dengan masjid-masjid agung peninggalan kerajaan islam di Jawa. Seperti adanya bedug besar, mimbar terbuat dari kayu yang dihiasi ukiran-ukiran, dan halaman yang luas. Uniknya, gapura Masjid Gede, Kotagede berbentuk Paduraksa. Gapura ini menjadi bukti akulturasi budaya Islam dan Hindu di Kotagede pada masa itu.

Masjid Gede dikelilingi oleh parit dan pohon-pohon. Oleh karenanya, suasana Masjid Gede cukup tenang dan sejuk. Tak Jauh dari Masjid Gede, kami menuju makam raja-raja yang masih satu kompleks dengan masjid tersebut. Sayang sekali, saat kami datangi makam raja-raja sedang tutup. Meski sedikit kecewa kami pun segera melanjutkan perjalanan kami menuju Sendang Seliran yang juga berada di wilayah kompleks yang sama. 



Memasuki area Sendang Seliran, aroma dupa yang kuat menemani perjalanan kami. Sendang seliran adalah sebuah kolam permandian yang tersiri dari dua bagian, yaitu Sendang Kakung dan Sendang Putri. Masing-masing sendang terdapat kolam yang di dalamnya bisa kita lihat ikan-ikan dari yang ukurannya kecil hingga besar sekali. Menariknya, di area ini juga terdapat sebuah makam yong konon empunya adalah seseorang yang amat diagungkan di Kotagede. 

Sendang Seliran menutup kunjungan kami di kompleks masjid-makam-sendang ini. Sebagai warga Yogyakarya, sebenarnya kompleks ini tidak begitu familiar bagi kami. Hanya bermodal browsing, bensin dan uang pas-pasan, akhirnya sampai juga kami ke tempat ini. Padahal jaraknya ya, gak jauh -jauh amat. Oiya, selain nilai sejarahnya, Kotagede juga memeiliki sosio-antropologi yang unik lho.



Kotagede adalah daerah enklave Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyalarya lho. Sehingga pergesekkann budaya Solo dan Yogya bisa kita temui di sini. Bila kalian datang ke tempat ini kalian akan mendapati abdi dalem khas Yogya dan solo sekaligus. Meski begitu, harmonisasi budaya Yogya dan Solo masih terjaga dan terawat baik dan tidak mengalahkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan budaya Yogya dan Solo yang berkembang di sini berasal dari asal yang sama: Mataram Islam. Tunggu apalagi, ayo berkunjung ke Kotagede!

 Assalamualaikum, Hallo teman – teman !!!
Bagimana kabar kalian? Semoga baik – baik saja ya. Oiya kali ini saya akan memberikan suatu informasi tentang lokasi wisata yang sangat cocok untuk bersantai. Kalian mau tau? Yuk simak terus tulisan ini. Nah jadi tempat wisata tersebut adalah Telaga Desa Baturetno. Ada yang sudah tau tentang Telaga Desa Baturetno? Dimanasih letaknya? Nah Telaga Desa Baturetno ini merupakan Telaga atau masyarakat menyebutnya dnegan embung yang berada di Kelurahan Baturetno. Untuk letak pastinya berada di Jl Wiyoro Kidul, Wirono, Baturetno, Banguntapan, Bantul. 
Berada di Telaga Desa Baturetno kita bisa menikmati pemandangan air yang tenang dibumbui suara kendaraan yang bersautan. Jadi pada saat saya kesana, saya dapat merasakan hal itu. Karena lokasi dari Telaga Desa Baturetno ini berada di pinggir jalan raya yang biasa disebut dengan ring road tiimur. Sensasi itulah yang membuat Telaga Desa Baturetno berbeda. Kemudian selain itu ada pula pemandangan dari alat – alat untuk membuat semen milik PT Suradi yang menjadi pemandangan indah tersendiri. Nah, temen – temen tertarik kan untuk datang ke Telaga Desa Baturetno? Oiya untuk maasuk ke sana juga tidak dipungut biaya loh, alias geratisss hehe. Tapi satu yang belum ada di Telaga Desa Baturetno adalah tidak adanya poenjual makanan di sana. Aku tau kalau kalian pergi pasti butuh cemilan sebagai teman untuk menikmati keindahan hehe. Jadi saranku kalian bawa makanan dari rumah hehe.
Kalau kalian sudah bawa makanan kalian juga harus ingat untuk  membuang sampah pada tempatnya ya. Jangan sampai tempat yang indah menjadi tercemar dengan sampah – sampah kalian. Dimanapun kita menginjakan kaki, kita harus selalu menjaga kelestariaanya ya. Nah itu tadi informasi tentang tempat wisata yang sudah saya kunjungi beberapa hari yang lalu. Jika kalian tertarik cus langsung datang yaa dan nikmati keindahannya hehe.
Terimakasih sudah membaca, Wassalamualaikum.


Buat kamu yang bosan bermain ke alam, pantai, hutan, mall, atau wahana hura-hura lainnya, aku ada alternatif lain nih. Cocok banget buat yang suka kesenian. Kamu bisa mampir berkunjung ke Kedai Kebun Forum (KKF). Jadi, Kedai Kebun Forum ini merupakan wadah seni alternatif yang dikelola secara independen oleh seniman. Di Kedai Kebun Forum ini tersedia Galeri, Ruang Pertunjukan, Bookstore, dan Restoran. Merupakan sebuah komunitas kecil yang bertujuan untuk belajar dan pengkajian terhadap setiap gejala perubahan sosial, melalui kesenian. Kegiatan dan aktivitas yang ada, dibiayai melalui restorannya.

Pada tanggal 17 Maret 2019, iseng-iseng aku berkunjung ke Kedai Kebun Forum. Kala itu sedang ada pameran seni yang diisi oleh seniman Klub Remaja “OPEN CALL FOR ARTISTS:Bertamasya”. Apa sih klub remaja ini? Klub remaja merupakan sebuah kolektif seniman dari Bandung yang berlatar belakang seni. “OPEN CALL FOR ARTISTS:Bertamasya” menjadi judul yang diambil, karena mereka bertamasya ke Yogyakarta pada bulan maret ini. Klub Remaja membuka pamerannya di Kedai Kebun Forum mulai dari tanggal 9 hingga 29 Maret 2019. 

Pada tahun 2017, Klub Remaja juga pernah bikin pameran dengan format yang sama di Kolekt, Bandung. Pameran ini memiliki proyeksi berlanjut dari karya Klub Remaja, layaknya sebuah sekuel. Pada pameran kali ini, Klub Remaja ingin memperkenalkan bahwa diskusi dan bertukar pikiran juga merupakan sebuah karya.

Dari beberapa karya yang dipamerkan, ada satu yang kurasa menarik. Karya tersebut memprediksi bagaimana dunia ini akan berjalan kedepannya. Bagaimana sistem alfabet akan hilang, dan akan muncul sistem baru yang universal. Suhu bumi meningkat hingga 4 derajat celcius, dan lain sebagainya. Membuatku agak merinding juga, karena sadar bagaimana dunia ini semakin lama semakin terpuruk.

Buat kamu yang ingin berkunjung ke pameran ini, buruan ya! Hingga tanggal 29 maret aja lho. Terbuka untuk umum dan GRATIS. Setiap hari jam 11:00 WIB – 21:00 WIB (KKF tutup setiap hari Selasa).


Lapak Tahu Tek Cak Purwo di Sunmor UGM. Riri/Kelas Kreatif

Setiap mendengar kata Surabaya, telinga saya rasanya selalu sumringah. Tak bisa dimungkiri, saya memang jatuh cinta pada kota itu. Bukan karena saya lahir di sana, tetapi karena ada begitu banyak hal yang dimiliki Surabaya dan menurut saya istimewa.

Sebaga Kota Pahlawan, Surabaya seolah melahirkan masyarakat yang memiliki semangat perjuangan yang tinggi. Salah satu hal yang saya ketahui datang dari dunia sepak bola Surabaya. Terlebih dari kelompok suporter Persebaya Surabaya, yaitu Bonek.

Saya ingat bagaimana Bonek memperjuangkan Persebaya yang  saat itu hampir dibuang PSSI dan diganti dengan Persebaya palsu. Bonek tak diam saja. Mereka berjuang sampa akhirnya Persebaya bisa kembali meramaikan dunia persepak bolaan Indonesia. Tak hanya itu, Bonek juga berjuang keras melawan stigma buruk yang selama ini menempel pada dirinya karena ulah media.

Ternyata, tak hanya sepak bolanya saja yang bisa membuat saya jatuh cinta. Kuliner khas Surabaya juga pandai memikat lidah. Salah satu yang paling terkenal ialah rawon. Selain itu, ada juga tahu tek.

Saya baru menikmati tahu tek sekali. Tepat pada hari Minggu kemarin. Hal itu juga bermula dari ketidaksengajaan saya ketika jalan-jalan dan mencari sarapan pagi di Sunday Morning UGM. Ketika sampai di depan Wisdom Park UGM, ada pedagang tahu tek yang melapakkan gerobaknya di trotoar.

Awalnya saya cuek dan tetap berjalan ke selatan. Berharap menemukan makanan lain yang bisa dijadikan santap pagi. Namun, saya tak menemukan makanan yang menarik hati. Akhirnya saya memutuskan untuk putar balik dan mampir ke sana. Tahu Tek Cak Purwo, namanya.

Rupanya, Cak Purwo memang asli Surabaya. Pagi itu ia mengenakan kaus polo berwarna hijau dengan logo Persebaya di dada kirinya. “Wah, Bonek ini,” batin saya.

Cak Purwo menawarkan tahu tek dalam dua varian. Tahu tek standar dan tahu tek istimewa. Tahu tek standar komposisinya terdiri dari ketupat , tahu, dan kerupuk. Sementara tahu tek istimewa berisi ketupat, telur, kentang, kripik, dan melinjo.

Saya memesan tahu tek standar. Semula saya ingin makan di tempat karena nuansa jajan di kaki lima menurut saya selalu menyenangkan. Namun, cuaca tak mendukung. Mendung memamng menggantung di langit Jogja pagi itu. Hujan juga beberapa kali turun dan berhenti.Akhirnya saya meminta Cak Purwo untuk membungkus pesanan saya. Saya hendak memakannya di kos saja.

Meski memesan tahu tek standar, ternyata seporsitahu tek saya dikasih telur juga. Bukan telur rebus ya, melainkan telur dadar yang disuwir. Rasanya enak. Seporsi tahu tek standar Cak Purwo dibanderol Rp13.000,00. Masih terjangkau dompet mahasiswa, bukan?


Tahu tek standar Cak Purwo. Riri/Kelas Kreatif.


Sebenarnya, tahu tek ini masih bersaudara dengan ketoprak atau kupat tahu. Selain komposisinya makanannya yang berbeda, bumbunya juga berbeda. Tahu tek diguyur bumbu kacang dengan campuran sambal petis. Dan menurut saya itulah yang membuat tahu tek menjadi istimewa dibanding kupat tahu atau ketoprak.

Pokoknya, tahu tek menjadi kuliner daerah yang patut dicoba.





Review Kuliner
Legondo Makanan Legendaris yang Mulai Sulit Ditemui
Oleh: Dewi Ambarwati/164191410

 
Saat berkunjung ke kampung halaman di kawasan kota Wonogiri,  selain rindu keluarga,  mengobati  kerinduan akan makanan khas juga menjadi salah satu tujuan saya. Untuk mengobati kerinduan pada jajanan klasik biasanya saya sengaja berkunjung ke salah satu pasar tradisional. Kue Legondo merupakan salah satu makanan khas yang seringkali menjadi oleh-oleh nenek saya setiap pulang dari pasar. Kue ini merupakan makanan ringan terbuat dari beras ketan, dibungkus dengan daun kelapa muda. Sejauh ini ada dua jenis kue legondo yang saya ketahui, di sekitar wilayah Wonogiri, Sukoharjo dan kawasan Solo kue legondo di masak tanpa isian. Sedangkan di kota Yogyakarta terdapat kue legondo yang sama-sama berbahan dasar beras ketan namun terdapat tambahan isian berupa pisang raja.



Nah kali ini saya mencoba mencicipi kue legondo yang khas dari wilayah Jawa tengah. Untuk membuat kue satu ini bahan yang dibutuhkan berupa beras ketan sebagai bahan utama, santan kelapa, dan garam.  Ketan biasanya akan direndam kurang lebih selama satu jam, baru kemudian dikemas dalam kemasan yang terbuat dari daun kelapa muda ( Janur) kemudian langkah akhirnya diikat dengan tali yang terbuat dari bambu.  Tujuan adanya tali ini agar kue tidak terlepas dari kemasan saat proses perebusan.

Setelah pengemasan selesai langkah selanjutnya kue kemudian direbus sekitar 3 jam agar ketan matang dan memiliki tekstur yang pulen. Beberapa kue legondo biasanya di tambahi parutan kelapa atau potongan kelapa muda.  Proses pembuatannya memakan waktu cukup lama dan model pengemasan yang memerlukan ketelatenan lebih, membuat beberapa orang tak banyak yang membuat olahan berbahan dasar ketan ini. Untuk rasa dari kue legondo dari Jawa Tengah  ini cenderung gurih karena adanya perpaduan santan dan garam di dalam ketannya. Makanan ini biasanya hanya bisa bertahan selama 2 hari karena dibuat tanpa bahan pengawet. Jadi sebaiknya setelah membeli langsung dimakan.


Selain dapat di jumpai di beberapa pasar tradisonal dan beberapa perayaan adat seperti kirab di malam satu suro. Kue ini biasanya juga menjadi makanan khas di hari raya Idhul Fitri. Tertarik untuk mencoba?  Kalian bisa membuat sendiri lho,  dengan bahan yang mudah didapat kalian bisa bereksperimen dengan membuat kue tradisional satu ini, tapi dengan kesabaran ekstra yaa. Karena butuh waktu lama untuk menikmati kue klasik satu ini. Selamat mencobaa...


Siapa sih yang tidak suka bermain air? Hampir setiap orang pasti suka bermain air, apalagi sumber air tersebut terdapat di tempat alami, dikelilingi oleh perbukitan asri, dan siap membuat setiap mata yang memandang akan jatuh hati.

Tempat yang saya maksud bisa membuat setiap mata memandang akan jatuh hati adalah kampong wisata selopamioro yang menyediakan wahana wisata air yang siap untuk memanjakan wisatawan bermain dengan dengan perahu karet untuk menyisiri sungai oya.
Kampung wisata selopamioro itu diberi nama Selopamioro Adventure Park (SPAK). Objek Wisata Selopamioro Adventure berlokasi di Jetis, RT 04, Selopamioro, Daerah Istimewa Yogyakarta. Objek wisata ini menyediakan sarana perahu karet dan perahu kano yang disediakan untuk wisatawan yang ingin menikmati aliran air sungai oya yang tenang dan begitu jernih.

Tempat ini masih termasuk objek wisata baru dan belum banyak pengunjung yang datang. Masih sangat asri dengan perpaduan warna hijau bukit di kanan kiri dan air yang begitu jernih dengan warna biru terkadang juga terlihat hijau tosca.
Saya mengunjungi tempat ini di awal bulan Februari dimana cuaca pada saat itu sangat cerah dan air sungai nya begitu jernih. Untuk yang pertama saya mencoba untuk naik perahu karet dengan didampingin oleh petugas dari Selopamioro Adventure Park. Sebelum naik perahu tersebut wajib bagi para pengunjung untuk menggunakan pelampung dan helm demi keamanan selama berada di atas perahu.


Satu perahu bisa muat maksimal 5 orang. Pada kesempatan itu saya mengajak kakak-kakak saya untuk berlibur dan merasakan wisata air yang ada di Selopamioro. Melihat foto diatas orang pasti akan langsung jatuh hati dengan gradasi warna hijau tosca yang mewarnai sungai oya ini. Arus nya sangat tenang sehingga buat kamu yang mungkin sedikit takut dengan wahana air seperti ini tetap bisa menikmati dan pastinya tetap aman




Wahana selanjutnya saya mencoba untuk menaiki perahu kano. Berbeda dengan perahu karet, perahu ini hanya mampu menampung 3 orang saja, dan tenaga yang digunakan untuk mendayung juga lebih besar. Perahu kano juga memiliki space yang lebih sempit, sehingga membuat kaki terasa pegal. Setelah mencoba pakai kano saya lebih memilih perahu karet saja untuk menikmati wisata air di Selopamioro Adventure Park.

Untuk menikmati keindahan alam di Selopamioro Adventure Park kamu cukup mengeluarkan uang 5000 rupiah perorang untuk menaikki perahu karet maupun perahu kano yang sudah disediakan. Sangat murah kan? Liburan bulan ini jangan lupa untuk mampir ke Selopamioro Adventure Park, mumpung masi musim hujan jika aliran sungai oya nya deras dan lancer bisa untuk wahana rafting! Pasti akan lebih seru. So jangan lupa piknik supaya hidup tidak panic. Byeee~~

Siapa sangka kalau pelantun lagu Versace on The Floor tengah membuka usaha dagang di Indonesia tepatnya di Yogyakarta? Yup, Bruno Mars, musisi kenamaan Amrik tersebut selalu saya jumpai tiap petang menjelang malam di persimpangan Jalan Glagahsari, Umbulharjo, Yogyakarta. Ah yang benul? Gak ding, bukan Bruno Mars beneran kok, tapi imitasinya hehe. Tepatnya lagi, mirip dengan Bruno Mars sebab muka keduanya kalo dijejerin yaaa 11 12 lah.... Saya sebenarnya kurang tau nama asli dari mas-mas yang selalu saya panggil “Kak Bruno” ini. Nggak ada keinginan buat kenalan juga sih (mungkin habis menulis ini deh saya kenalan sama keluarga besarnya masnya).

Gerobak Kak Bruno
(sumber: google maps)
Nah, singkatnya, Kak Bruno ini jualan berbagai macam makanan di depan Rumah Makan Bu Sri (RMBS) 3, Jalan Glagahsari No. 146. Orang-orang sekitaran Glagahsari saya jamin pasti tau sama rumah makan yang bercabang dan cukup gede ini. Kak Bruno ini jualan pake gerobak yang tiap hari selalu nangkring di depan RMBS 3. Ada menu nasi goreng, nasi rebus, mie goreng, mie godog (rebus), dan magelangan. Mienya bukan mie instan melainkan mie telur gitu.

Rabu (19/3) lalu, saya pergi makan berdua dengan kolega ke Kak Bruno. Setelah memarkir motor di depan rumah makan, kami pun melihat sosok sang master dalam gosrek-menggosrek wajan, Kak Bruno. Saya pesan menu favorit saya yaitu mie goreng, sedangkan kolega saya memesan magelangan (yeay ternyata gerobak favorit saya ini jualan magelangan juga). Kak Bruno jualan ngga sendirian melainkan bersama istri tercintanya. Kak Bruno selalu masak di wajan yang nempel dengan gerobaknya sedangkan sang istri melayani pembeli dengan mengantarkan pesanan baik dari gerobak maupun dari rumah makan. Kami pelanggan pertama waktu itu dan pesanan diantar kira-kira 10 menit kemudian, fresh from gerobak. Saya sempat mencicipi magelangan yang tersaji di hadapan saya. Dan rasanya gak kalah nikmat, perfecto bruno! Selama makan di sini, saya tidak pernah sama sekali menjumpai pengamen dan itu sangat menghibur. Parkir pun tidak perlu membayar alias gratis.

Gosrek-gosrek masakannya Kak Bruno ini enak bangett. Selain bumbu yang dipakai ngga sekedar micin tapi emang pake bumbu dapur, daging suwiran ayamnya juga ngga cuma seibrit dan sudah dilengkapi sayuran juga seperti kobis dan sawi. Saya paling suka pesan mie gorengnya. Porsinya banyak, kalo kelaperan cocok banget emang makan di sini. Selain itu, udah ada kerupuk kriuk dan mentimun juga. Tempat makannya juga bersih dan lumayan luas karena gabung dengan rumah makannya. Harga berkisar antara Rp10.000-an yang tentunya pas di kantong dan di perut yang kemrucuk.

Kalau kalian mau ketemu langsung sama Kak Bruno dan mencicipi hidangan yang disajikan dengan tangan dinginnya, kalian bisa datang pada saat sore sampai malam mulai 17.00-21.00 WIB. Sangat disarankan untuk datang lebih awal dikarenakan antrean yang panjang dan lama kalo sudah malam dan kadang belum sampai 20.00 WIB aja dagangannya udah abis huhu padahal udah membayangkan kemebul asap hangat masakannya.

Malam yang pekat dengan ditemani hidangan lezat adalah sebuah nikmat. Hati-hati tertambat dengan Kak Bruno dan hidangannya yang memikat!1!1!
Sop Swike

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang memilki kuliner yang unik dan beragam. Penulis mendapat rekomendasi kuliner dari teman, katanya di Yogyakarta terdapat kuliner yang bisa dibilang cukup ekstrem yaitu kuliner dari olahan daging kodok yang enak, sontak penulis agak sedikit geli tetapi juga penasaran karena penulis belum pernah makan olahan daging kodok sebelumnya. Nah, minggu lalu kami berkunjung ke salah satu warung di Jalan Diponegoro, sebelah barat tugu Jogja kira-kira 300 meter yang bernama Warung Swike Purwodadi. Ketika tiba di lokasi, warung ini terlihat tidak begitu ramai. Penulis langsung saja memesan salah satu menu yang direkomendasikan oleh teman penulis, yaitu sop swike.

Tidak perlu menunggu lama, menu yang penulis pesan sudah datang. Awalnya penulis agak ragu ketika akan mencicipinya karena seperti yang dibilang tadi, penulis belum pernah memakan olahan daging kodok sebelumnya. Begitu pertama kali menggigit dagingnya, tekstur lembut yang menyerupai daging ayam langsung terasa. Nasi ditambah kuah yang panas, gurih, pedas, serta rasa manis merasuk hingga ke dalam dagingnya. Masakan ini dihidangkan dengan perasan jeruk nipis, taburan bawang goreng, dan daun seledri yang membuat nafsu makan bertambah.

Sebenarnya swike bukanlah kuliner khas Yogyakarta. Menurut google, Kota Purwodadi merupakan kota yang pertama kali memperkenalkan kuliner ekstrem ini. Ya, nama warungnya saja Swike Purwodadi tentunya kuliner ini berasal dari Kota Purwodadi. Dengan karakteristik rasa Chinese food, masakan ini memiliki wangi yang harum sehingga membuat siapa saja ingin menyantapnya. Masakan ini sangat pas di makan ketika cuaca sedang panas terik maupun ketika musim hujan seperti sekarang ini. Swike bisa dibilang sebagai menu biasa bagi orang asli Purwodadi namun tidak jarang orang-orang merasa bahwa menu ini sebagai menu yang cukup ekstrem untuk disantap, contohnya seperti penulis yang baru pertama kali menyantapnya.

Terdapat beberapa variasi untuk mengolah makanan khas Purwodadi yang satu ini. Semuanya mempunyai rasa yang berbeda namun dengan bahan utama yang sama yaitu daging kodok. Warung makan ini menjual berbagai jenis olahan swike mulai dari Swike Kuah Tauco, Swike Goreng Mentega, Swike Lombok Ijo, Swike Goreng Tepung, Swike Tongseng, dan Pepes Swike. Harganya tidak terlalu mahal, berkisar antara Rp. 9.000 - Rp. 29.000 saja. Warung Swike Purwodadi ini buka setiap hari, mulai dari pukul 18.00 hingga pukul 22.00 WIB.


Sahabat bloggers tertarik untuk mencicipi olahan daging kodok yang satu ini? Tidak ada salahnya jika sahabat bloggers sedang berada di Kota Yogyakarta untuk mampir di Warung Swike Purwodadi ini. Salam.

Tulisan minggu ini mengambil tema traveling atau kuliner. Tema yang cukup membingungkan bagi seorang saya ini yang tidak berduit dan tidak berpenghasilan. Meskipun begitu, sudah menjadi kewajiban saya untuk tetap berusaha menyajikan sebuah konten tulisan yang informatif dan berkualitas. 

Warmindo adalah waralaba yang bergerak dibidang food and beverage. merupakan singakatan dari warung makan indomie. Warmindo biasa disebut dengan nama Warung Burjo, Burjoan, atau Burjo. Sebutan burjo sendiri saya tidak tau pasti dari mana asalnya, tapi konon ada sebuah riwayat mengatakan, warmindo sering disebut burjo karena di warmindo menyidiakan menu bubur kacang ijo. Walaupun sempat membuat saya tercengang, Saya pribadi masih meragukan teori tersebut karena banyak warmindo yang  tidak menyediakan menu bubur kacang ijo tapi tetap disebut burjo. Kenyataanya orang – orang termasuk saya malah sering menyebut warmindo itu burjo meskipun banner nama yang terpajang bertulis warmindo dan tidak ada menu bubur kacang ijo. Atau jangan – jangan burjo sebenarnya adalah bahasa ibrani yang berarti warmindo.

Selain menu bubur kacang ijo dan indomie, terdapat dua makanan yang pasti ada di hampir setiap warmindo di seluruh pelosok nusantara. Dua menu makanan yang dimaksud adalah nasi telor dan nasi orak arik. Berdasarkan pengalaman pribadi, terkadang dua menu makanan tersebut membuat beberapa orang kebingungan untuk memilih apakah akan makan nasi telor atau nasi orak arik. Jangan sampai karena bingung mau makan nasi telor atau nasi orak arik, anda malah memilih untuk memakan harta anak yatim. Atas dasar keresahan itulah, saya akan menulis sebuah konten yang sangat bermanfaat dan bermutu yaitu membandingkan dan mencari mana yang lebih baik antara nasi orak – arik atau nasi telor. 


The Classic dish, Nasi Telor
Makanan pertama, Nasi telor. Nasi Telor atau biasa disingkat nastel merupakan makanan yang cukup standar dan basic. Makanan ini saya katakan standar karena memang teknik memasak dan penyajian yang digunakan cukup sederhana. Meskipun begitu, penikmat nasi telor tidak kalah jumlah dengan penikmat menu lain.

Telor yang digunakan merupakan telor dadar. Di beberapa warmindo, anda bisa mengganti telor dadar dengan telor ceplok atau telor mata sapi setengah matang. Harga rata – rata di semua warmindo untuk nasi telor adalah Rp7.000 – Rp7.500. Dengan harga tersebut, anda sudah nmendapatkan nasi putih, telur dadar, tempe orek, dan sayur sebagai pelengkap. 

The Scrambled, Nasi Orak Arik  
Hidangan kedua, Nasi orak arik. Nasi orak arik berbahan dasar sama seperti nasi telor, yaitu telur ayam. Hanya saja cara memasak telurnya yang berbeda. Telur pada nasi orak arik dimasak dengan cara di orak arik dong tentunya. Hampir mirip seperti menumis. Hal lain yang membedakan adalah telur pada nasi orak arik biasanya ditambah sedikit kecap dan sayuran hijau entah apa namanya(mungkin sawi). Di beberapa warmindo anda bisa menambahkan gorengan seperti tempe atau bakwan ke dalam adonan telur yang akan diorak arik di atas wajan dengan minyak panas. 

     Harga untuk satu porsi nasi orak arik bisanya sama dengan harga nasi telor. Tapi, di beberapa burjoan atau warmindo, nasi orak arik dibandrol harga sedikit lebih mahal dibanding nasi telor. Biasanya dengan selisih Rp500-Rp1000 diatas nasi telor. Walaupun sedikit, dengan selisih tersebut bisa jadi berarti segalanya untuk beberapa manusia, apalagi kalau tanggal tua.



Kesimpulannya, memang bukan perkara yang mudah untuk membandingkan dan mencari mana yang lebih baik. Apakah nasi telor atau nasi orak arik. Keduannya memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Jika anda sudah baca sampai bagian sini, merenunglah, mungkin anda terlalu gabut dan tidak ada kegiatan. Apabila tulisan ini hanya membuang waktu anda dan tidak memiliki manfaat bagi kehidupan anda, saya mohon maaf. Sekian, terimakasih.