Showing posts with label Riri Rahayuningsih. Show all posts
Showing posts with label Riri Rahayuningsih. Show all posts



Ramadan ini rasa malas Rama menjadi berlipat ganda. Kuliah tidak libur, pun tidak ada pengurangan jam. Tugas menumpuk menyusul diselenggarakannya ujian akhir semester.

Semangat Rama sudah jauh merosot. Matanya seperti mata panda karena tidak tidur. Jelaslah ia harus lembur, mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan. Memang, selain kuliah, Rama juga mengambil kerja paruh waktu sebagai desainer grafis di salah satu penerbitan. Ia berjuang mati-matian agar bisa tetap kuliah dan makan. Bagaimanna tidak, uang kiriman dari orang tuanya tidak cukup untuk menyambung hidupnya selama di bulan. Biaya hidup di kota ini tak cukup ramah. Kalaupun menuntut uang kiriman lebih, Rama merasa kasihan pada orang tuanya. Apalagi ia masih memiliki empat adik yang membutuhkan biaya sekolah pula.

Sejak hari ketujuh puasa ini pula Rama melewatkan santap sahur. Ia tak pernah bangun lantaran baru tidur ketika jam di dinding menunjukkan puku 2 dini hari. Berondongan alarm yang sudah ia pasang sore hari tetap membuatnya tak bergeming.

Sejak itu pula Rama tidak lagi menunaikan ibadah puasanya. Terlebih, siang di kota ini selalu lebih panas dari siang di kampung halamannya. Imannya yang lemah membuatnya menjadi mudah lelah, dehidrasi, dan lemas sepanjang hari.

Rama menyadari betapa lemah dirinya. Jauh di dalam hatinya, ia juga merasa berdosa. Apalagi ketika harus berbohong pada ibu dan ayahnya.

“Buka puasa sama apa, nak?” tanya ibunya melalui gagang telepon.
“Anu, Bu... Sup buah,” jawab Rama asal.
“Lancar puasanya? Belum bolong kan?”
“Lancar kok, Bu. Alhamdulillah...”

Rama tidak enak hati berbohong. Rasa bersalah semakin menghantui dirinya. Namun, ia tidak ingin ibu dan ayahnya bersedih atau marah jika mengetahui ia tidak berpuasa sejak hari ketujuh puasa Ramadan. Selain itu ia juga merasa malu pada adik-adiknya.

Rama memang berasal dari keluarga yang agamais. Ayahnya seorang imam masjid di kampungya. Sementara ibunya seorang guru ngaji. Maka, ada kekhawatiran dalam diri Rama jika mereka mengetahui dirinya tidak menjalankan ibadah di bulan suci ini.

“Kamu salat tarawih di mana, nak?” kali ini ayahnya yang bertanya.

Rama menarik nafas panjang, menata jawaban. “Di masjid.... Kampus, Yah,” ia sedikit terbata. Kebohongan memang membuatnya gelagapan.

“Eh sudah ya, Yah... Rama mau siap-siap ke masjid. Assalamualaikum...” ia buru-buru mematikan telepon.

Ia merasa lega obrolan dengan orangtuanya selesai. Namun, hatinya justru semakin resah. Ia lagi-lagi berbohong. Ia tak ke masjid. Ia hanya menghindar dari orang tuanya.

Dilihatnya kalendar di dinding kamarnya. Sudah 10 hari menuju tanggal merah hari raya. Artinya, tak lama lagi ia akan segera pulang. Hatinya semakin gelisah. Ia merasa tak ingin pulang. Namun, ia begitu rindu pada ayah dan ibunya, juga pada adik-adiknya di rumah. Lagipula, kalau tidak pulang, ia akan kesepian di hari raya.

Rama hampir menangis. Ia sangat menyesal. Ia lantas berpikir untuk kembali berpuasa di 10 hari terakhir ini. Ia juga akan kembali salat tarawih. Namun, hatinya belum begitu siap. Godaan setan masih menghinggapinya.

Akhirnya, Rama baru kembali berpuasa di tujuh hari terakhir. Ia kembali menyantap makan sahur meski dengan mata setengah terbuka. Ia juga kembali menuju masjid kampus, meski dengan langkah kaki yang berat. Keraguan hatinya untuk pulang pun perlahan sirna. Ia justru menjadi sangat merindukan rumah. Ia sangat ingin pulang dan merayakan Idulfitri di rumah.
                                                            ***
“Mohon maaf lahir batin, Bu, Yah.... Maafkan kesalahan Rama. Di Ramadan tahun ini ibadah Rama jauh dari sempurna,” ucap Rama di hadapan ibu dan ayahnya.

“Rama hanya berpuasa dan tarawih di tujuh hari pertama dan tujuh hari terakhir di bulan Ramadah,”
Ayah dan ibunya terdiam. Saling tatap. Mereka terdiam sesaat.

“Ibu sudah tahu.... Sungguh, ibu sudah tahu,” ucap sang ibu sambil tersenyum. “Minta maaflah pada dirimu sendiri karena telah menyia-nyiakan kesempatan,”

Rama masih terdiam. Sepersekian detik kemudian terisak. Tiada amarah yang keluar dari kedua orangtuanya. Ia justru dipeluk erat.




Gugum lantas menangis. Tubuhnya gemetar.

"Sudah ya kau tak usah menggangguku lagi"

"Tapi mana janjimu yang dulu?"

"Ah sudahlah. Lupakan. Aku sudah bahagia dengan laki-laki baruku"

Tangis laki-laki bertubuh kurus itu pun semakin pecah. Tatapan matanya semakin kosong. Ditatapnya perempuan berambut pendek yang kini meninggalkannya di ambang pintu kos warna biru.


 Film Sexy Killers menjadi film yang paling banyak mencari perhatian di pemilu kali ini. Dipasarkan dengan nonbar dan diskusi, film ini tidak mencari untung dari publikasinya. Meski begitu, film ini mendapat beragam apresiasi dari berbagai kalangan.

Dibuka dengan adegan sepasang kekasih yang bermesraan, penonton dibuat tertawa. “Kita tahu adegan selanjutnya, yang tidak kita lihat sehari-hari adalah bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini.” Setelahnya, kita tidak akan menemukan kelucuan lagi.

Film ini mengangkat keresahan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat sekitar tambang batubara. Beberapa kawasan di Kalimantan rusak akibat galian tambang yang berlebih, serta lubang bekas galian yang tidak diurug. Kerusakan lingkungan akibat tambang batubara di Kalimantan menyebabkkan masyarakat sekitar lokasi tambang kehilangan lahan untuk bekerja. Ratusan hektar sawah mereka terpaksa dijual untuk digunakan sebagai lokasi tambang. Hasilnya, mereka harus mencari matapencaharian baru.

Menurut film ini, batubara akan terus ditambang selama masyarakat masih menggunakan listrik konvensional. Pembangkit-pembangkit listrik menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama. Rencana pembangunan infrastruktur pemerintah Jokowi juga turut membuat batubara semakin banyak dicari. Direncanakan tahun ini, 35.000 Megawatt listrik akan disediakan untuk mencukupi kebutuhan listrik nasional.

Peluang tambang batubara yang begitu besar membuat perusahaan berbondong-bondong melakukan eksploitasi terhadap alam, dan sialnya, dengan tidak bertanggungjawab.

Film ini turut mengungkap keikutsertaan lingkaran calon presiden yang ikut pemilu tahun ini. Di belakang Jokowi maupun Prabowo, berjejer orang-orang yang ternyata selama ini turut andil dalam mengeksploitasi alam di Kalimantan. Nama seperti Erick Thohir dan Luhut Binsar Pandjaitan di kubu Jokowi, sedangkan Sandiaga Uno dan Hashim Djojohadikusumo di kubu Prabowo.

Film ini seakan membuka mata kita akan omong kosong Pemilu. Apalagi bila dikaitkan dengan fenomena fanatisme pendukung masing-masing kubu. Terbukalah pikiran kita, bahwa selama ini masyarakat hanya diperdaya untuk dijadikan sapi perah perolehan suara. Semuanya hanya untuk melanggengkan usaha eksploitasi tambang yang memang benar-benar “sexy” prospeknya.



Judul buku   : Pembunuhan di Ladang Tebu
Penulis          : Oryza Ardyansyah Wirawan
Penerbit        :  Gading Publishing dan Kalatida.com
Tahun Terbit : 2016
Cetakan         : Pertama
Tebal buku    : xviiii + 136 halaman
Ukuran buku : 12 x 18 cm
ISBN               : 978-602-0809-30-4
Harga             : Rp40.000,00

Dalam bukunya yang berjudul  “Pembunuhan di Ladang Tebu”, Oryza Ardyansyah Wirawan yang merupakan seorang jurnalis menjelma bak seorang sastrawan ulung. Ia berhasil mengemas hasil kerja jurnalistiknya menjadi sebuah karya yang ringan tetapi tetap berbobot. Dengan gaya penulisan yang luwes, liputan mendalam yang ia lakukan bisa tersaji seperti sebuah novel. Penyampaiann ceritanya tidak kaku.

Hal utama yang Oryza angkat dalam buku ini sebenarnya ialah tentang kematian juragan tebu di tangan perampok pada tahun 2005 silam. Peristiwa itu terjadi di Semboro, Jember, Jawa Timur. Sutrisno meregang  nyawa di tangan perampok yang menyatroni rumahnya. Peristiwa kelam itu berhasil Oryza tampilkan secara detail. Ia benar-benar bisa membangkitkan imaji pembaca.  

Oryza menuliskannya menjadi laporan yang sangat mendalam. Ia menelisik jauh ke belakang, mengangkat bagaimana kisah hidup Sutrisno di masa silam. Dengan gaya bahasa penulisan sastra, Oryza benar-benar menjabarkan bagaimana perjalanan hidup Sutrisno sedari kecil hingga akhir hayatnya. Selain itu, ia juga mengangkat tentang kematian-kematian yang menimpa keluarga Sutrisno di sepanjang hidupnya.

Dalam bab ketiga, Oryza bahkan menuliskan tentang kemaatian Ambar, anak perempuan Sutrisno yang bunuh diri di usia 12 tahun. Dalam bab ini, karakter Sutrisno sebagai sosok laki-laki yang keras benar-benar berhasil ditampilkan Oryza.

Tak berhenti di situ, di bab-bab keempat,  Oryza juga bergerak maju ke tahun 2008. Di sana ia menceritakan ihwal anak Sutrisno, Muhammad Ali Fikri terkait reaksinya atas kematian sang ayah. Oryza menceritakan Fikri yang berusaha mencoba mengungkap kematian Sutrisno yang ia rasa motifnya tidak sekadar kriminal murni.

Saya tidak menemukan kecacatan penulisan dalam buku ini. Oryza melakukannya dengan sangat baik. Tulisannya renyah, datanya juga kuat. Oryza menyajikan laporan jurnalistiknya secara utuh. Tentu saja, karya ini Oryza kerjakan melalui serangkaian proses liputan yang amat panjang. Ditambah kepiawaiannya menyajikan fakta, buku ini menjadi salah satu karya jurnalistik yang patut dibaca, khusunya oleh  mahasiswa ilmu komuniksi atau jurnalistik dan para insan media.




Kubuka twitter
Kulihat tagar politik selalu banter
Ah... Pusing....

Tolong...
Aku apolitis
Melihat politik, otakku meringis

Hingga tiba waktunya
Dosen memintaku mencipta puisi
Tentang politik yang tak kumengerti
Ah... Pusing...
Pusing lagi dan lagi




Gadis berperawakan kurus itu bernama Riri Rahayuningsih. Ia lahir di Kebumen, 28 November 1998 silam. Riri lahir sebagai anak bungsu dari pasangan Sariman dan Sutirah.

Riri kecil tak seperti anak perempuan pada umumnya. Ia tak suka bermain boneka. Terlebih, sang ayah juga tak menuruti stadar umum ihwal memberikan mainan anak. Sang ayah seolah mematahkan stereotip bahwa perempuan bermain boneka dan laki-laki bermain mobil-mobilan. Riri kecil justru disuguhi mainan berupa truk, dan pesawat ataupun helikopter. Riri kecil juga lebih senang bermain sepak bola, kelereng, maupun layangan ketimbang bermain bola bekel seperti kebanyakan anak perempuan.

Karakternya pun sedikit banyak tebentuk dari sana. Ia menjadi perempuan dengan selera yang tak seperti perempuan kebanyakan. Ia lebih senang menonton sepak bola ketimbang drama Korea. Ia lebih percaya diri menggunakan kaos berwarna hitam ketimbang pakaian lucu dengan hiasan renda-renda. Ia tampak berusaha mematahkan standar bahwa perempuan harus “demikian”.

Saat ini Riri menempuh pendidikan di program studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) SMA Negeri 1 Prembun Kebumen. Sedangkan masa sekolah menengah pertama ia lalui di SMP Negeri 1 Prembun dan masa sekolah dasar ia tempuh di SD Negeri Winong. Sementara itu, pendidikan dininya ia awali di TK PGRI Mardisiwi Winong.

Riri kecil bercita-cita menjadi seorang guru. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menemukan apa yang sebenarnya ia mau. Cita-cita menjadi guru hanyalah cita-cita yang ia tuturkan karena minimnya sesuatu yang ia tahu. Lagipula, cita-cita anak SD waktu itu apa lagi jika bukan menjadi guru, dokter, pilot, atau polisi?

Riri remaja lantas bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Bukan hal yang tiba-tiba, tapi karena terpancing oleh kebiasaan di rumah untuk menonton berita televisi. Sang ayah memang selalu menuntun Riri untuk menonton acara berita apabila menyalakan pesawat televisi. Bahkan, sang ayah juga seringkali berucap jika ia menginginkan anak bungsunya itu menjadi seorang reporter.

Semasa SMA ia pun mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik dan memproduksi majalah yang terbit saban semester. Ia merasa benar-benar cocok. Riri pun mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik selama dua tahun.

Di masa itu pula ia mulai mencari tahu jurusan kuliah apa yang  bisa menjembatani cita-citanya menjadi jurnalis. Ternyata, salah satunya jurusan Ilmu Komunikasi. Untuk mengejar cita-citanya kuliah Ilmu Komunikasi, Riri berjuang sekuat tenaga. Terlebih, ia berasal dari jurusan MIPA. Tentu saja, ia harus belajar dari nol untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi program sosial humaniora (soshum). Perjalanannya tak  mudah. Riri baru bisa menembus Ilmu Komunikasi UNY melalui jalur Seleksi Mandiri—semacam jalur terakhir yang jika gagal maka dihadapkan pada dua pilihan: masuk PTS atau menunda waktu kuliah.

Riri sangat bahagia dan bersyukur. Ia merasa seperti bermimpi kala itu. Ia merasa Tuhan begitu menyayanginya dan ia semakin merasa yakin dengan cita-citanya.

Di bangku kuliah, semangat Riri untuk mengejar cita-citanya menjadi jurnalis semakin kencang. Ia pun mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) jurnalistik, ia bergabung bersama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi. Kurang lebih, selama dua tahun ia belajar di sana.

Tak hanya belajar di LPM Ekspresi, Riri juga melebarkan sayap dengan mencoba belajar ke tempat lain. Tentu saja dalam belajar tulis menulis. Riri mulai mencoba mengirim tulisan ke media lain di luar media Ekspresi.

Semangatnya semakin terbakar ketika tulisannya diterbitkan Fandom.id (media sepak bola) pada April 2017 silam. Ia kemudian merasa ketagihan menulis sepak bola—yang merupakan olahraga kegemarannya. Ia menulis lagi dan meninggalkan dua tulisan dan jejak diri sebagai kontributor di Fandom.id.

Tak puas di Fandom, ia kemudian mengajukan diri sebagai penulis magang di sebuah media komunitas suporter Persebaya Surabaya, emosijiwaku.com. Ia diterima dan menulis di sana. Tak banyak, tapi dari sana ia mendapat banyak ilmu, pengalaman, dan teman baru. Salah satu pengalamannya yang tak terlupakan ialah ketika ia mewawancarai Rahmat  Irianto, pemain Persebaya dan Timnas Indonesia.

Riri tak pernah merasa puas dalam menjajal pengalaman. Di waktu yang hampir bersamaan dengan masa menjadi penulis magang di emosijiwaku.com, Riri juga mengajukan lamaran menjadi penulis lepas di media sepak bola Football Tribe Indonesia (football-tribe.com/Indonesia). Ia kembali beruntung. Ia termasuk dalam lima orang terpilih setelah berhasil mengalahkan ratusan pendaftar lainnya. Catatan menariknya, ia menjadi satu-satunya perempuan yang diterima sebagai penulis lepas di Football Tribe Indonesia kala itu.

Berangkat dari pengalaman itu, Riri merasa yakin bahwa ia bercita-cita menjadi jurnalis sepak bola. Baginya, itu merupakan profesi yang menyenangkan karena ia takkan merasa sedang bekerja melainkan menjalankan hobinya. Ia merasa yakin bahwa ia akan bahagia selama berada di dunia jurnalistik dan sepak bola.


Pelan-pelan Riri juga merintis media sepak bola yang ia dirikan bersama dua kawannya pada awal tahunn 2019. Riri ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa terlibat lebih dalam sepak bola. Ia ingin membuktikan bahwa sepak bola bukan olahraga yang hanya digermari kaum adam. Ia juga ingin meyakinkan bahwa perempuan bisa mencintai sepak bola dari dalam hati dan mampu berkontribusi lebih untuknya.

Sekarang, Riri sedang fokus dengan studinya yang sudah sampai pada fase semester 6 yang padat tugas. Di samping itu, ia juga sedang mempersiapkan diri untuk menjadi jurnalis muda di suatu surat kabar harian daerah di Yogyakarta. Harapannya tak banyak, ia hanya ingin semesta mengamini cita-citanya.


Lapak Tahu Tek Cak Purwo di Sunmor UGM. Riri/Kelas Kreatif

Setiap mendengar kata Surabaya, telinga saya rasanya selalu sumringah. Tak bisa dimungkiri, saya memang jatuh cinta pada kota itu. Bukan karena saya lahir di sana, tetapi karena ada begitu banyak hal yang dimiliki Surabaya dan menurut saya istimewa.

Sebaga Kota Pahlawan, Surabaya seolah melahirkan masyarakat yang memiliki semangat perjuangan yang tinggi. Salah satu hal yang saya ketahui datang dari dunia sepak bola Surabaya. Terlebih dari kelompok suporter Persebaya Surabaya, yaitu Bonek.

Saya ingat bagaimana Bonek memperjuangkan Persebaya yang  saat itu hampir dibuang PSSI dan diganti dengan Persebaya palsu. Bonek tak diam saja. Mereka berjuang sampa akhirnya Persebaya bisa kembali meramaikan dunia persepak bolaan Indonesia. Tak hanya itu, Bonek juga berjuang keras melawan stigma buruk yang selama ini menempel pada dirinya karena ulah media.

Ternyata, tak hanya sepak bolanya saja yang bisa membuat saya jatuh cinta. Kuliner khas Surabaya juga pandai memikat lidah. Salah satu yang paling terkenal ialah rawon. Selain itu, ada juga tahu tek.

Saya baru menikmati tahu tek sekali. Tepat pada hari Minggu kemarin. Hal itu juga bermula dari ketidaksengajaan saya ketika jalan-jalan dan mencari sarapan pagi di Sunday Morning UGM. Ketika sampai di depan Wisdom Park UGM, ada pedagang tahu tek yang melapakkan gerobaknya di trotoar.

Awalnya saya cuek dan tetap berjalan ke selatan. Berharap menemukan makanan lain yang bisa dijadikan santap pagi. Namun, saya tak menemukan makanan yang menarik hati. Akhirnya saya memutuskan untuk putar balik dan mampir ke sana. Tahu Tek Cak Purwo, namanya.

Rupanya, Cak Purwo memang asli Surabaya. Pagi itu ia mengenakan kaus polo berwarna hijau dengan logo Persebaya di dada kirinya. “Wah, Bonek ini,” batin saya.

Cak Purwo menawarkan tahu tek dalam dua varian. Tahu tek standar dan tahu tek istimewa. Tahu tek standar komposisinya terdiri dari ketupat , tahu, dan kerupuk. Sementara tahu tek istimewa berisi ketupat, telur, kentang, kripik, dan melinjo.

Saya memesan tahu tek standar. Semula saya ingin makan di tempat karena nuansa jajan di kaki lima menurut saya selalu menyenangkan. Namun, cuaca tak mendukung. Mendung memamng menggantung di langit Jogja pagi itu. Hujan juga beberapa kali turun dan berhenti.Akhirnya saya meminta Cak Purwo untuk membungkus pesanan saya. Saya hendak memakannya di kos saja.

Meski memesan tahu tek standar, ternyata seporsitahu tek saya dikasih telur juga. Bukan telur rebus ya, melainkan telur dadar yang disuwir. Rasanya enak. Seporsi tahu tek standar Cak Purwo dibanderol Rp13.000,00. Masih terjangkau dompet mahasiswa, bukan?


Tahu tek standar Cak Purwo. Riri/Kelas Kreatif.


Sebenarnya, tahu tek ini masih bersaudara dengan ketoprak atau kupat tahu. Selain komposisinya makanannya yang berbeda, bumbunya juga berbeda. Tahu tek diguyur bumbu kacang dengan campuran sambal petis. Dan menurut saya itulah yang membuat tahu tek menjadi istimewa dibanding kupat tahu atau ketoprak.

Pokoknya, tahu tek menjadi kuliner daerah yang patut dicoba.






Patjar Boekoe mencari buku di Patjar Merah. Riri/Kelas Kreatif

Jogja dan literasi adalah dua hal yang menurut saya sulit dipisahkan. Sebab, kota istimewa ini memang tak pernah kehabisan cara untuk merawat literasi. Penerbit buku menjamur di kota ini. Diskusi buku tak pernah surut. Begitu pun dengan acara besar terkait literasi yang tak kalah sering digelar. Benar saja, awal Maret ini Jogja kembali memanjakan warganya dengan acara literasi.

Ialah  festival literasi Patjar Merah. Sebuah festival literasi bertajuk pasar buku berdiskon besar yang dibersamai acara talkshow. Acara ini berlangsung pada tanggal 2 hingga 10 Maret 2019 di Jalan Gedong Kuning No. 118, Rejowinangun, Kotagede.

Tak hanya memberikan literasi melalui buku maupun talkshow, Patjar Merah juga meliterasi pengunjung mengenai kepedulian lingkungan. Langkah nyata yang diambil ialah dengan tidak menyediakan kantong plastik untuk mengemas buku yang dibeli Patjar Boekoe.

Oleh karena itu, Patjar Boeko—sebutan untuk pengunjung Patjar Merah—yang berbelanja buku di Patjar Merah dipersilakan membawa tas terbaik untuk membawa pulang buku yang dibeli. Sementara untuk memudahkan Patjar Boekoe dalam membeli buku, Patjar Merah menyediakan tas yang bisa digunakan Patjar Boekoe untuk mengangkut buku sampai ke meja kasir.

Patjar Merah menawarkan berbagai genre buku kepada Patjar Boekoe. Mulai dari buku indie, novel/fiksi, buku agama, buku ilmu sosial dan hukum, buku anak-anak, buku pertanian, buku kesehatan, hingga buku bahasa dan satra. Buku-buku itu dijual dengan diskon mulai dari 30 persen hingga 80 persen.

talkshow yang diadakan Patjar Merah juga beragam. Mulai dari talkshow seputar literasi digital, komik, kisah tanah jawa, literasi anak, dan masih banyak lagi. Tak hanya diskusi, Patjar Merah juga mengadakan lokakarya. Salah satunya  yaitu lokakarya penulisan kreatif berpuisi. Acara-acara tersebut dilaksanakan sesuai jadwal yang  sudah diatur sepanjang tanggal 2 sampai 10 Maret itu.

Saya sendiri mengikuti talkshow seputar literasi anak yang berlangsung pada Sabtu (9/3) pukul 19.00 sampai 2100 WIB. Diskusi bertajuk “Literasi Anak: Kapan Terakhir Kali Kita Saling Bercerita?” itu dibersamai oleh narasumber Ria Papermoon dan Naura Quinta Revana Gunawan, bersama moderator Theoresia Rumthe.

Hal yang menurut saya menarik dari talkshow tersebut ialah sosok Naura. Gadis kecil berusia 8 tahun itu merupakan pendongeng cilik. Selain pandai mendongeng, Naura juga bisa berpantomim. Memang, berpantomim menjadi salah satu cara ia bercerita.

Selama acara berlangsung, Naura tampa begitu antusias. Raut wajahnya ceria. Kepercayaan dirinya tinggi. Menurut saya, ia adalah gadis kecil yang cerdas.

Naura mengaku bahwa dari membaca cerita, ia jadi memiliki keinginan untuk bercerita lagi ke orang lain. Naura bercerita untuk menginspirasi orang lain, melatih kepercayaan diri. "Untuk have fun bersama," katanya.

Sementara itu, menurut Ria Papermoon, bercerita menjadi hal yang penting. Sebab,  kita semakin kurang imajinasi karena kurangnya jumlah orang yang bercerita. Orang lebih banyak mnonton video. Padahal, mendongeng atau berceritalah yang mampu membuka kanal-kanal imajinasi. Kita bisa membayangkan sesuatu atau menciptakan sesuatu di kepala kita.

Penampilan Naura di ujung acara. Riri/Kelas Kreatif

Setelah obrolan moderator dengan dua narasumber itu selesai, dibukalah sesi tanya jawab dengan peserta. Obrolan tentang literasi anak ini kemudian ditutup oleh penampilan Naura yang mendongeng tentang kisah kupu-kupu dan semut. Penampilan bocah kecil itu pun disambut tepuk tangan riuh para peserta.

Sungguh, acara ini luar biasa. Tak hanya merawat literasi, acara ini juga sangat menginspirasi.