Showing posts with label Maulidya Alhidayah. Show all posts
Showing posts with label Maulidya Alhidayah. Show all posts

Paman Bill datang dengan kereta kudanya beserta sepupu Moori. Ayah menyambut mereka di depan pintu dan Ibu masih menyibukkan diri dengan jamuan makan malamnya. Aku dan adikku, Anna sangat menyukai Paman bill.
"Lihat, bagaimana Paman Bill mengenakan dasi kupu-kupu" Anna mengintip dari balik tirai jendela. Anna memang selalu suka dengan apa yang dikenakan Paman Bill di kerah bajunya.

Aku segera berlari ke dapur untuk menolong Ibu menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama, ramai suara mereka sudah terdengar jelas dari dapur. Aku dan Ibu menghampiri mereka di ruang tengah. Saat itu, Paman Bill memberikan Anna sepatu baru berwarna cokelat. Anna sangat senang sekali.

Sambil menggendong Anna, Ayah mengajak Paman Bill untuk melihat kebun brokoli di belakang rumah. Sepupu Moori tidak ikut. "Aku ingin ikut ke dapur dan membantu bibi membuat sup ikan terenak di dunia" katanya. Aku tahu , Ia tidak akan pernah melakukannya

Ibu menyuruhku untuk memotong roti di ruang tengah. Moori menawarkan diri untuk membantuku. Ibu menyuruh kami untuk memotong roti itu menjadi delapan bagian. Mula-mula aku akan memotongnya menjadi dua lalu potongan itu akan aku potong lagi menjadi dua hingga jumlahnya delapan. 

Aku memperhatikan ukuran roti itu dengan hati-hati. Lalu, aku mulai memotong roti itu menjadi dua. Kata Moori besarnya dua potongan itu tidak sama. Aku mengakui kesalahanku. Kemudian, Moori memotong satu bagian roti itu menjadi dua. Ternyata, Ia tidak lebih baik dariku. Lalu kami memotong salah satu potongan dengan berbarengan. Kegiatan ini sangat menguras tenaga. Aku bisa mendengar napas Moori yang terputus- putus. Untunglah, untuk potongan yang ini kami melakukannya dengan baik.

Tiba-tiba saja Ibu memanggil kami untuk menyimpan potongan-potongan roti itu ke dalam kulkas. Moori menangis tapi suaranya kecil. Aku menuangkannya air dan memberikan potongan roti untuknya. Tersisa satu lagi saat Ibu menghampiri kami di ruang tengah. Kuputuskan untuk ikut menangis saja.

Awalnya Aku dan Berisha memutuskan untuk pergi menonton film kesukaan kami malam ini. akan tetapi seperti yang sudah-sudah sebelumnya,  rencana ini terpaksa gagal.  Aku sedang ibadah saat hp di saku celanaku bergetar berkali-kali. Selesai berdoa aku langsung memeriksa hpku. Sungguh, Tuhan maafkan aku. Seperti biasa setiap omong kosong kami tidak berjalan, kami akan mengumpati rencana itu sendiri seolah eksistensi rencana adalah kesalahan.

Maka Berisha mengirimiku pesan lewat aplikasi WA

"Ngapain sih nonton film maghrib-maghrib coba mending liat senja"

Tempat tinggal Berisha memang jauh dari kampus. Mungkin karena ubun-ubunnya sering terkena angin, neuron-neuron yang Ia miliki gagal snapsis. Sedih

"Iya ih, siapa sih yang bikin jadwal jam segini. Ga pernah solat maghrib pasti" aku terprovokasi. Astaghfirullah

Setelah kami selesai dengan sumpah serapah bab jadwal pemutaran film. Biasanya hati kami kembali senang. Maka aku mulai lagi aktivitasku hari ini. Sebuah grup tentang rencana "revolusi". kok B aja. Grup lain dengan tugas-tugas kuliah, sampai sebuah grup berisi teman-temanku yang ingin segera manikah memenuhi layar hpku. Meski berat, akhirnya kubuka satu per satu. Aku pun tersadar akan tanggung-jawabku. Ku kerjakan semuanya dengan hati yang lapang.

Sampai Yovan, seorang temanku yang suka makan Indomie goreng mengirimiku pesan 
"Satu tambah dua sama dengan tiga. Aku bikin makaorni skutel, mau kaga"

Apakah wabah pantun sedang merebak di kalangan pemuda miskin kota. Sepertinya menyampaikan pesan dengan seserhana mulai ketinggalan zaman. Tak mau ketinggalan aku juga membalasnya dengan pantun terbaikku.

" Satu-dua Marina pergi ke pasar. Pandai-pandailah dalam memilah. Ya maulah."

Di Karimun Jawa ada tambang PLTU
Di Kalimantan juga ada
Ternyata PLTU di Bali Juga ada
Ngapain juga aku aku
Ikutan bikin pantun kaya dia
Yaudah aku jawab biasa aja

Beli kaktus sama ikan cupang di Maulidya. Cepetan woi mumpung masih jam buka puasa" Aku khilaf.

"Ke Abah Somad membeli penghapus. Ia sabar ini mau otw kampus"

"Pak Somat jualan tomat. Ga jadi lah lama amat"

"merah-merah delima pinokio. Bentar lagi sampe keo"

" yang beli harus hormat. Hala prat"
" putih-putih melati. Hili"

"kesana-kemari mencari alamat. Cepetan lama amat"

*setelah berlangsungnya revolusi industri 4.05

" makan sirsak pake bread. Bngstt ga diread."

Kayu jati kayu kusen
Parah malah ke kirim ke dosen.
Matahari telah melewati puncaknya saat Norman, Pemimpin Badan Semi Otonom (BSO) yang rupanya baru saja terpilih bersama "Tuan-Tuan" Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya membentuk setengah lingkaran di salah satu sudut lantai 3 gedung Student Center FIS UNY. Siang itu, tidak pernah dibicarakan sebelumnya bahwa pertemuan yang semula diagendakan untuk membicarakan ihwal jual-beli kaktus berubah menjadi tawar-menawar pengurus BSO. Dalam waktu yang singkat tanpa pertimbangan yang panjang, Maulidya Alhidayah akhirnya menyetujui posisinya sebagai Kepala Divisi Jurnalistik BSO. Tidak banyak yang bisa diketahui dari rasionalisasi peristiwa itu sebetulnya.

Cukup mengejutkan bagi beberapa pihak mengetahui Maul, begitu Ia kerap disapa bergabung dengan organisasi formal dengan berbagai aturan yang mengikat. Maul dikenal sebagai orang yang tidak mudah diatur, Ia seenaknya sendiri. Sekarang, Ia harus mengatur divisi yang dipegangnya. Ia tidak suka dengan tanggung-jawab dan kewajiban-kewajiban yang membuatnya laiknya sapi yang diikat di batang pohon. Ia adalah air yang bebas mengalir kapan saja juga angin yang bisa bertiup kemanapun Ia mau. Tapi Ia juga mencintai jurnalistiik. Bila Ia harus diibaratkan sapi, maka kebenaran seharusnya rumput yang membuatnya selalu hidup dan jurnalistik adalah padang rumput yang luas. Ia hanya mencintai yang benar.

Kebenaran bisa kita akui hanya bila kita memahami. Pemahaman bisa kita dapakan melalui pengetahuan. Dan pengetahuan bisa kita peroleh salah satunya dari bacaan. Begitu pikirnya. Maul kecil sangat suka membaca. Ini berkat ibunya yang sering mengajaknya ke toko buku dan membelikannya buku macam-macam hingga mengajaknya mengunjungi perpustakaan. Ibunya juga sering menceritakannya berbagai hal terkait bacaan kesukaannya. Di umurnya yang ke-sepuluh, Maul telah banyak mendengar dari Sang Ibu ulasan sastra penulis favoritnya,  Sultan Takdir Alisjaahbana (STA). Meskipun sebenarnya Ia tidak pernah membaca karya STA sama sekali.

Maul lahir dari orangtua lintas budaya Jawa-Melayu. Ibunya, Subardilah, adalah Jogja tulen sedangkan ayahnya, Deki Ya'ali, adalah Melayu Asli. Perbedaan budaya kedua orang-tuanya membuat Maul harus belajar menghargai perbedaan sejak dini. Bahkan, setiap lebaran  tiba Ia harus memutuskan dari jauh-jauh hari apakah Ia akan salat Idul Fitri bersama Ibunnya yang Muhamadiyah atau ayahnya yang NU. Maklum, seringkali lebaran mereka berbeda hari.


Maul lahir dan tumbuh di Tangerang, Kota kecil di pinggiran ibukota yang sesak dengan hiruk-pikuk industri. Maul lahir pada 08 Februari 1999 saat kedamaian antar umat berbudaya baru saja dibangun kembali. Tangerang memang pernah mati saat masyarakat yang pluralis mulai menyalahi identitas yang liyan. Seolah-olah lupa bahwa Tangerang sudah tidak lagi homogen.

Perkenalannya dengan jurnalistik bermula ketika Ibunya sering menceritakan pada Maul menegenai kegemarannya mengirim tulisan ke koran lokal. Di waktu yang berbeda, ayahanya mengatakan pada Maul bahwa jurnalis adalah profesi yang keren. Maul tidak serta-merta mengakuinya. Barulah Ia tertarik dengan jurnalistik setelah melihat Geng Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Setelah itu, Ia memutuskan untuk bergabung dengan klub jurnalistik di sekolahnya disamping kegiatannya sebagai pesilat pada saat itu.

Bila buku adalah jendela dunia maka dunia adalah dunia. Jurnalistik membuka pikirannya bahwa dunua lebih luas dari halaman buku. Kecintaannya makin bertambah dengan dunia jurnalistik ketika salah seorang temannya mengajak bergabung dengan komunitas reporter muda bentukkan media lokal. Rahma, yang kini menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Psikomedia Psikologi UGM mengajaknya mengikuti open recruitment komunitas Kaca, Kedaulatan Rakyat. Maul sangat antusias mengikuti kegiatan yang dilakukan di Kaca Kedaulatan Rakyat. Dari kegiatannya di Kaca, Maul belajar memahami orang lain dan suatu peristiwa dengan lebih jujur.

Memasuki bangku perkuliahan, Maul memutuskan untuk memilih jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Keputusannya ini sempat disayangkan banyak orang karena mereka menduga Maul mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang dan terkesan main-main. Memang. Tapi Maul tidak mau mengubah pilihannya. Terlebih orangtuanya tidak mendukung Maul menjadi astronot dan hijrah ke Bandung. Memilih jurusan Ilmu Komunikasi bagi Maul adalah bentuk perlawanan.

Lambat laun, Maul mulai  merasa kerasan di jurusan ilmu komunikasi dan benar-benar bersemangat untuk mendalami ekosistem media. Sebenarnya, Maul juga sudah tergabung dengan pers mahasiswa, Ekspresi pada saat itu. Maul tertarik untuk memahami perilaku dan pola kerja media. Bila di Kampus Ia belajar untuk membangun idealis dan kerangka berpikir yang teoritis, maka di Ekspresi Maul belajar menerapkannya dengan realistis.

Melalui Ekspresi yang disebut Maul sebagai laboratoriumnya itu, Maul menemukan pola yang menarik terhadap mekanisme kerja persma. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa kegiatan pers hanya sebatas menulis dan mencari data. Kekuatan wacana memang sumber penghidupan pers. Meski begitu, penting bagi jurnalis nuntuk dapat membaca ekosistem pers. Agar, wacana tidak hanya berhenti saat tulisan itu diterbitkan. Wacana harus terus berjalan di antara pembicaraan publik.

Membaca ekosistem pers termasuk juga memahami bila persoalan pers bukan hanya "kiri" atau "kanan". Bentuk hegemoni terhadap pers bahkan bisa berupa masalah sesederhana "besok bisa makan atau tidak". Jangan sampai masalah seremeh ini justru bisa menggantikan kepentinan publik dalam praktik representasinya di media itu. Sayangnya, hal ini tidak banyak diperhatikan di Ekspresi sekaligus membuat Maul semakin bersemangat untuk memahami ekosistem media.

Maul  menyadari bila padang rumput kesuakaanya itu gersang. Begitulah ekosistem media massa sekarang menurutnya. Sarat akan kepentingan ekonomi, politik, dan teknologi yang saling tumpang-tindih. Padahal, menurut Maul ketiganya seharusnya saling mendukung untuk menciptakan ekosistem media yang ideal. Media bukan hanya sebagai intitusi bisnis. terpenting adalah media dapat berperan sebagai institusi sosial yang mengedepankan kepentingan publik. Hal ini tentu bisa terwujud bila media menjadi hegemoni dari pusaran kuasa.

Ekosistem yang terlanjur carut-marut itu bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Kita bisa mengurainya dari tatanan yang paling kecil, begitu pikir Maul. Oleh sebab itulah, Maul melibatkan diri di divisi perusahaan Ekspresi. Ia berharap dengan keterlibatannya di situ, Maul bisa memperbaikinya meski hanya sebesar biji zarah. Yang terpenting adalah kemauan itu sudah diusahakan.

Pada saat Ia semester empat, pada tahun 2018, Ilmu Komunikasi sedang bersiap-siap untuk diadakannya perhelatan pesta demokrasi di level jurusan. Tahun itu bisa dibilang tahun yang "ramai" dibanding tahun-tahun sebelumnya. Aris Prasetya adalah orang yang akhirnya terpilih sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himkom) pada saat itu. Tidak berlangsung lama setelah dibentuknya inti Himakom, Norman meminta Maul untuk menjdi Kepala Bidang (Kabid) BSO Jurnalistik. Tawaran yang sebenarnya tidak pernah menarik Maul sama-sekali.

Di jurusan dimana Maul menemukan habitatnya, Maul justru tidak merasa ada ekosistem yang ideal bagi padang-rumputnya itu untuk tumbuh. Ia merasa semangat pers justru tidak ditemukan di situ. 
Perubahan yang Ia bilang bisa dilakukan di level terkecil seharusnya dilakukan sekarang. Perbaikan tidak pernah terjadi bila Maul hanya menyarankan dan menunggu orang lain untuk mengubahnya. Maka, Maul mengiyakan tawaran teman-temannya. 




























Seekor singa tua berkumis tebal berteriak memanggil kita

Di depannya adalah ribuan para rusa
Mereka datang dari balik gunung sebelah sana

Kau mendatanginya sebagai liyan yang tidak bernyawa

Kau hanya gendang yang membunyikan suara-suara ketidaksampaian

Dan Aku hanyalah selendang penari
Yang digerakkan lewat tangan-tangan bimbang

Dan hari-hari berikutnya kita adalah burung-burung kesepian

Bertengger di antara pohon-pohon kehausan



Judul      : Princess of Tales
Penulis   : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Halaman : 259 halaman
ISBN      : 978-602-441-095-7
Edisi Ketiga, Cetakan 1, Februari 2019

Mengapa kita harus mengeluarkan banyak uang untuk cerita-cerita bohong?

Mengapa kita rela menghabiskan banyak waktu untuk membaca kisah-kisah fiktif?
Maka Jostein Gaarder akan menjawabnya, " Karena Peter telah membuatkannya untukmu, mengaturmu untuk membacanya dan membuatmu terkesima" 

Princess of Tales mengisahkan tentang kehidupan Peter " Si Laba-laba", si kesepian dan penyendiri. Peter dibesarkan oleh Ibunya. Sejak kecil, Ia harus tinggal terpisah dengan ayahnya. Meski begitu, Peter tak pernah kurang kasih sayang dari ayah dan ibunya. 

Peter dikenal sebagai "Si laba-laba". Ini disebabkan karena Peter meyampaikan cerita tentang laba-laba dan damar di depan kelas. Juga, ketika Ia dewasa "Si laba-laba" makin melekat pada Peter sebab Peter suka mrmbuat cerita dan cerita-cerita itu membuat jaringan seperti benang laba-laba. Jaringan itu adalah Writer's Aid, jalan keluar bagi penulis-penulis putus asa.

Peter pandai mengarang cerita tapi Ia tidak pernah menyangka jika suatu hari Ia akan terjebak dalam cerita karangannya sendiri. Ia tentu tak pernah mengira Panina Manina, seorang putri sirkus akan keluar dari dunia yang Ia buat dan mengajaknya mandi di air terjun. Sayangnya, Ia terlanjur membiarkan gadis itu membangkitkannya sekaligus membunuhnya di waktu yang sama.

Peter, Dilahirkan oleh Posmodernisme

Princess of Tales berlatar kehidupan Peter dari masa Ia anak-anak hingga lanjut usia. Pada pertengahan hingga akhir abad ke-20. Pada masa itu, di Eropa muncul kritik terhadap modernisme yang dianggap gagal. Di saat yang bersamaan pemikiran posmodern keluar kandang dan menyoraki absolutisme kebenaran khas aliran modernisme.

Peter adalah seorang yang spiritualis. Menurutnya, kehidupan pascamodern tidak lebih dari taman bermain. Tidak menjamin kesenangan apapun setelah taman itu tutup. Pun begitu dengan peradaban pascamodern, menurutnya kehidupan seperti itu akan mengeliminasi kehormatan manusia setelah Ia meninggal. Peter tidak setuju dengan itu. 

Peradaban pascamodern memang rumit. Pascamodern menjadikan manusia sebagai pusat kebenaran. Artinya, kebenaran adalah bagaimana manusia itu memaknainya. Hal ini berarti, kebenaran bernilai relatif, tidak mutlak seperti yang ditawarkan agama dan ilmu pengetahuan pada masa sebelumnya. Tapi Peter juga matrialistis. Dualisme sifat manusia yang mungkin kita dapati dalam satu jiwa. Tentu tidak mustahil bagi Gaardner untui membuat tokoh sekacam itu. Peter tidak liyan, kita bisa menemuinya di rumah, sekolah, gedung pemerintahan, di mana-mana. Menurutnya, di antara bangunan-bangunan itu terdapat jembatan yang menghubungkan. Tidak menyatukan tapi menghubungkan. 

Di awal, alur cerita dibangun dengan berat sehingga sulit untuk diikuti dan sedikit membosankan.  Meskipun begitu, Gardner berhasil membangun cerita dengan renyah. Plot dikembangkan dengan kuat. Seperti biasa, cerita diakhiri dengan memukau. Dengan anggun, Gaarner mampu menyeret pembaca untuk menikmati nestapa Peter. Itulah ciri khas dan kekuatan tulisan-tulisan Gaardner selain nilai-nilai cerita yang kaya.

Princess Of Tales menantang kita untuk menyelami kehidupan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Saya tidak akan katakan novel ini adalah tulisan yang ringan tapi juga bukan cerita yang berat untuk bacaan filsafat. Saya sarankan untuk tidak membaca karya ini bila usia kalian masih dalam kategori anak-anak. Saya tegaskan ini adalah cerita imajinatif untuk orang dewasa. Di dalamnya berisi konten dewasa meskipun dikemas dengan sopan. Selebihnya, siapapun kalian bacalah ini. Tulisan ini sarat akan nilai kehidupan dan penghidupan.

 
 Seorang pria paruh baya sedang bersusah payah menggaruk dataran es yang keras. Suhu udara yang rendah dan sesekali badai salju menerpa membuat tubuhnya mengigil kedinginan. Tak berapa lama Ia menghentikan pekerjaannya, sebuah tanda "SOS" hampir sebesar lapangan bola berhasil Ia selesaikan. Dari bangku bioskop, penonton ikut merasakan kelelahan. Demikianlah film Arctic dibuka.

Berhasil meraih penghargaan di festival film bergengsi, Cannes, Arctic disebut-sebut sebagai salah satu film tentang bertahan hidup terbaik yang pernah ada oleh kritikus film. Film dengan durasi 98 menit ini disutradarai oleh Joe Panne sebagai debut film panjang pertamanya.

 Arctic mengisahkan tentang perjuangan pria bernama Overgard (Mads Mikkelsen) untuk bertahan hidup seorang diri di Arktika. Overgard adalah kru pesawat yang selamat dari kecelakaan yang membuatnya terdampar di lautan es yang membeku di Kutub Utara.

 Terdampar seorang diri di salah satu tempat paling sulit ditaklukkan di bumi membuat Overgard harus berjuang keras. Sambil mencari bantuan, Ia juga harus bertahan dari badai salju, beruang kutub hingga sulitnya mencari makanan. Menariknya, Ia terlihat tenang dan terbiasa dalam menjalani rutinitasnya. Bahkan, ketika seekor burung kutub lewat dihadapannya, Overgard tidak panik berlebihan. Ia seperti tahu betul apa yang mesti dilakukannya. Ia pun selamat dari beruang kutub. 

Sampai sebuah pesawat menanggapi sinyal yang Ia kirim. Di tengah badai salju, pesawat itu berusaha mendekati Overgard. Nahas, pesawat itu jatuh karena tidak mampu melawan badai salju. Overgard mengahmpiri pesawat itu. Ia berusaha menyelamatkan awak dalam pesawat. Sayang, pilot pesawat meninggal. Hanya seorang perempuan muda sekarat (Maria Thelma) yang bisa Ia selamatkan. Overgard membawa perempuan itu ke pesawatnya untuk dirawat

 Mendapati peta Arktika di pesawat yang baru saja kecelakaan itu, Overgard dilema: apakah Ia akan tetap bertahan di tempatnya yang relatif aman sambil mencari bantuan ataukah menjemput bantuan itu dengan kemungkinan bahaya-bahaya yang lebih besar akan mengancamnya.

 Overgard memutuskan untuk pergi. Ia membawa serta perempuan muda itu dengan alat tarik yang diikat di pinggang. Perjalanan Overgard sangat tidak mudah. Ia harus berhadapan dengan beruang kutub yang ganas, gunung es yang terjal dan dataran salju yang sulit untuk dilalui. Ditambah lagi, Ia harus membawa dan merawat perempuan itu.

 Arctic adalah debut film panjang Joe Panne yang brilian. Penonton tidak diajak untuk tenggelam dalam dialog yang bertele-tele. Lebih dari itu, Joe Panne menculik penonton untuk merasakan sendiri nestapa dan perjuangan Overgard untuk bertahan hidup.

 Keputusan untuk membuat dialog seminim mungkin dalam film ini adalah langkah yang berani. Apalagi, Joe Panne hanya memainkan dua tokoh utama dan konflik yang sederhana. Tentu, bukanlah hal yang mudah untuk membuat penonton tetap menikmati alurnya tanpa rasa bosan. Untnglah, Joe Panne berhasil mengeksplorasi elemen emosional dalam film. Patut diakui, Joe Panne piawai memainkan emosi penontonnya dengan cemerlang. Ya, Ia berhasil.

 Arctic bukan cuma perkara hidup atau mati. Arctic adalah cerita yang elegan tentang bagaimana manusia seharusnya menjadi manusia. Joe Panne memperlihatkan pada kita betapa Overgard merindukan teman untuk mengobrol melalui patung salju. Juga, upaya Overgard untuk menyelamatkan perempuan sekarat tanpa embel-embel lain selain kemanusiaan. Joe Panne menyampaikannya dengan jujur.

 Sayangnya, Meski tokoh Overgard diperankan oleh Mads Kinnelston dengan apik dan emosional, film ini bukan tanpa cela. Penokohan Overgard terlalu filmistik membuat film ini tidak berasa hidup. Logika film dalam penokohan Overgard terasa muluk-muluk, hampir tidak mungkin kita temukan tokoh seperti itu.

 Terakhir, penutup yang luar biasa berkesan. Meski awalnya terlihat seperti putus asa. Ternyata, ending yang Joe Panne buat pas, sangat tepat. Cukup segitu saja, Joe Panne mempersilakan penonton untuk membuat ending film sesuai yang mereka harapkan, sesuai yang mereka bayangkan. Alhasil film ini benar-benar meninggalkan pertanyaan-pertanyaan bagi para penontonnya. Dan akhirnya memutuskan sendiri apa yang mesti terjadi pada dua orang itu. Bravo.

 Saya merekomendasikan film ini bagi siapa saja yang jatuh cinta pada romantisme manusia dengan alam. Menonton film ini akan membuat kita berpikir ulang mengenai eksistensi diri kita yang seorang dan alam.


Adzan zuhur menyambut kami saat pertama kali kami memasuki daerah Kotagede. Segera, kami menuju Masjid Gede untuk menunaikan ibadah sekaligus bertamasya ke tempat bersejarah itu.


Kotagede adalah sebuah kecamatan yang terletak di Yogyakarta. Dikenal sebagai "Kota Perak", Kotagede adalah sentra kerajinan perak terbesar di Yogyakarta. Tidak hanya itu, Kotagede juga menjadi saksi bisu berdirinya Kearajaan Mataram Islam. Alhasil banyak peninggalan kerajaan tersebut yang masih bisa kita nikmati hingga kini.

Beberapa diantaranya menawarkan nilai historis dan estetis yang potensial sebagai destinasi wisata. Masjid Gede adalah salah satu yang wajib untuk dikunjungi. Dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Masjid Gede sudah berusia ratusan tahun sekaligus menjadi masjid tertua di Yogyakarta. Meskipun masjid ini pernah terbakar dan pernah direnovasi besar-besaran.Namun, ciri khas bangunan itu masih bisa kita saksikan hingga kini yaitu arsitektur bangunan inti masjid yang berbentuk limasan. Konon, inti masjid ini adalah bangunan yang asli sebelum akhirnya majisd Gede diperluas dan direnovasi. 


Secara umum, Masjid Gede, Kotagede memiliki banyak kemiripan dengan masjid-masjid agung peninggalan kerajaan islam di Jawa. Seperti adanya bedug besar, mimbar terbuat dari kayu yang dihiasi ukiran-ukiran, dan halaman yang luas. Uniknya, gapura Masjid Gede, Kotagede berbentuk Paduraksa. Gapura ini menjadi bukti akulturasi budaya Islam dan Hindu di Kotagede pada masa itu.

Masjid Gede dikelilingi oleh parit dan pohon-pohon. Oleh karenanya, suasana Masjid Gede cukup tenang dan sejuk. Tak Jauh dari Masjid Gede, kami menuju makam raja-raja yang masih satu kompleks dengan masjid tersebut. Sayang sekali, saat kami datangi makam raja-raja sedang tutup. Meski sedikit kecewa kami pun segera melanjutkan perjalanan kami menuju Sendang Seliran yang juga berada di wilayah kompleks yang sama. 



Memasuki area Sendang Seliran, aroma dupa yang kuat menemani perjalanan kami. Sendang seliran adalah sebuah kolam permandian yang tersiri dari dua bagian, yaitu Sendang Kakung dan Sendang Putri. Masing-masing sendang terdapat kolam yang di dalamnya bisa kita lihat ikan-ikan dari yang ukurannya kecil hingga besar sekali. Menariknya, di area ini juga terdapat sebuah makam yong konon empunya adalah seseorang yang amat diagungkan di Kotagede. 

Sendang Seliran menutup kunjungan kami di kompleks masjid-makam-sendang ini. Sebagai warga Yogyakarya, sebenarnya kompleks ini tidak begitu familiar bagi kami. Hanya bermodal browsing, bensin dan uang pas-pasan, akhirnya sampai juga kami ke tempat ini. Padahal jaraknya ya, gak jauh -jauh amat. Oiya, selain nilai sejarahnya, Kotagede juga memeiliki sosio-antropologi yang unik lho.



Kotagede adalah daerah enklave Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyalarya lho. Sehingga pergesekkann budaya Solo dan Yogya bisa kita temui di sini. Bila kalian datang ke tempat ini kalian akan mendapati abdi dalem khas Yogya dan solo sekaligus. Meski begitu, harmonisasi budaya Yogya dan Solo masih terjaga dan terawat baik dan tidak mengalahkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan budaya Yogya dan Solo yang berkembang di sini berasal dari asal yang sama: Mataram Islam. Tunggu apalagi, ayo berkunjung ke Kotagede!


 Pembahasan mengenai Hallyu Waves belum pernah sememikat ini, sampai Patjar Merah meenyajikannya dengan menarik. Menjadi penikmat industri hiburan Korea bukanlah hal yang mudah bagi saya. Banyak yang bilang hal-hal semacam itu tidak sesuai dengan persona saya. Sayangnya, saya tidak bisa membohongi diri sendiri. Saya sering diam-diam maraton menonton drama produksi negeri gingseng itu sampai-sampai saya juga hampir hafal lirik lagu Dala-Dala milik girl grup anyar Korea, Itzy . Hmm Sebenarnya, saya bukanlah umat Hallyu garis keras. Terlebih lagi ekosistem industri Korea yang membuat saya prihatin. Jadinya, saya tidak suka-suja amat. Ya, biasa-biasa sajalah. Berkali-kali trending di Youtube Indonesia, saya mulai penasaran dengan Hallyu Waves. Riset kecil-kecilan- dan tidak selesai-selesai- mulai saya jalankan. Saya menemukan bahwa Hallyu Waves adalah fenomena yang kompleks. Beruntung, entah kebetulan atau memang cermat membaca fenomena, Senin kemarin, 3 Maret 2019, di gelar diskusi menyoal tentang fenomena ini bertajuk Korean Waves dan Industi Buku di Indonesia. Saya mendatangi diskusi itu bersama teman saya, Rizka. Sebagai Indonesia Local People, saya cukup terkejut mengetahui acara dimulai benar-benar tepat waktu. Acara berlangsung kondusif dan interaktif dengan mendatangkan penulis dan penerbit buku yang membahas fenomena ini sebagai pemateri. Pemateri yang saya maksud yaitu Cahyo Satria (Pemred Shira media), Syafial Rustama (Pemeed Bukune) , Shifra Lushka penulis "BTS- Today We Fight!", serta Asabel Audida penulis fan-fiction Eufloria yang sedang naik daun.

 Kami, saya dan Rizka teman saya itu, awalnya hanya mangut-mangut menyaksikan diskusi tersebut. Lawong rapaham. Di sekeliling kami, berhamburan remaja-remaja tanggung yang sebagian besar adalah perempuan. Juga, Alexander Thien yang sebenarnya menjadi alasan kami datang ke tempat itu. Hehe Ditemani dengan asap vape dan asap sosis bakar, saya mulai mengikuti arah pembicaraan dalam diskusi tersebut. Kecintaan Kpopers-Kpopers terhadap idolanya dan kegilaan masyarakat kita terhadap produk Korea ternyata sangat "renyah" untuk dinikmati. Bagaimana tidak, saya sering senyum-senyum sendiri melihat komentar-komentar warganet yang sering memperdebatkan mengapa Jenny Black Pink akhir-akhir ini malas menari atau Joy Red Velvet yang seharusnya berpasangan dengan Sung Jae BTOB. Penggemar merasa memiliki kuasa atas tindakkan idolanya. Tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta apa-apa saja yang mesti dilakukan oleh sang idola. Ekspresi-ekspresi seperti itu mulai direpresentasikan dalam media bacaan. Maka, merambatlah Korean Waves dalam belantara industri buku Indonesia. Dimualai dari drama percintaan hingga tulisan-tulisan berbentuk kampanye untuk melakukan hal positif, fan-fiction mulai di tawarkan di pasaran. Salah satu yang menjadi fokus diskusi adalah supergroup BTS yang liriknya saja diinterpretasikan sedemikian rupa hingga memiliki pengaruh dalam aspek politik.

Diceritakan bahwa BTS ini memiliki pesan-pesan yang sangat positif dan jenius dalam lirik serta video-klipnya. Untuk itu, Shifra, seorang sarjana ilmu politik tertarik untuk membahasnya secara holistik dan mendalam. Bahkan, Ia mengajak Army-sebutan untuk penggemar BTS- untuk ikut menulis tentang interpretasi mereka terhadap grup kesayangannya itu. Tak mau kalah, Asa yang mendeklarasikan dirinya sebagai Army dan Exo-L sekaligus juga mengungkapkan kesukaannya terhaap BTS. Ia bahkan mengaku terinspirasi terhadap pesan dalam video klip yang secara implisit mengatakan untuk melakukan sesuatu dengan fokus dan tidak setengah-setengah. Berkat kesukaannya itu pula, Ia berhasil menerbitkan bukunya yang berisi imajinasinya terhadap BTS dan Exo. Menarik ya!. Seketika, saat itu pula saya suka dengan BTS dan tau nama-nama personilnya. Beberapa menit setelahnya kami saya menyatakan diri sebagai Army, anyong. Diskusi di akhiri dengan sesi foto bersama dan tanda tangan. Dikarenakan saya terkesan dengan per fan-fictionan saya pun menyempatkan diri untuk wawancara Asabel. (tulisan wawancara saya dan Asa akan saya post di blog saya sendiri h3h3)
Suasana Acara Obrolan Patjar

 Kemarin, (3/10) telah berlangsung diskusi menyoal fenomena Hallyu bertajuk Korean Waves dan Industri Buku di Indonesia di Gedong Kuning, Yogyakarta. Diskusi ini berlangsung kondusif dan disambut antusisme remaja yang sebagian besar adalah perempuan. Dimulai tepat pada pukul 15.30, diskusi ini turut mendatangkan penulis dan penerbit buku yang menyoal dampak supergroup Korea terhadap industri buku di Indonesia sebagai pemateri. Pemateri tersebut yaitu Cahyo Satria (Pemred Shira media), Syafial Rustama (Pemeed Bukune) , Shifra Lushka penulis BTS- Today We Fight!, serta Asabel Audida penulis fan-fiction Eufloria yang kini sedang digandrungi para remaja putri.

Ihwal kecintaan dan fanatisme terhadap produk Korea ternyata bukan persoalan remeh-temeh. Pasar yang dijanjikan juga tidak main-main. Melihat Korean waves sudah mulai merambah media bacaan, industri buku di Indonesia mulai memanfaatkan peluang yang prospek ini. Maka, lahirlah buku-buku, novel romance, fan-fiction yang sengaja diciptakan untuk meramaikan euforia pasar. Materi yang dijual juga tidak melulu soal percintaan, berbagai kampanye juga turut disampaikan sebagai respons terhadap fanatisme fenomena Hallyu yang marak terjadi. Seperti gerakkan anti fanwar hingga kampanye untuk mencintai diri sendiri.

 Membaca dampak Korean Waves yang kompleks membuat fenomena ini penting untuk dibahas. Sebagian dari kita mungkin menjadi salah satu diantara yang menggilai produk-produk asal negeri gingseng tersebut tetapi enggan atau urung memahami apa yang sebenarnya kita nikmati. Kita sering melihat seseorang yang berlebihan kesukaanya terhadap drama korea atau idol mereka lalu melabelinya sebagai tindakkan yang "lebai" atau "alai". Boleh jadi hal itulah yang memang ditawarkan oleh industri hiburan Korea. Kita dibujuk untuk mengkonstruksi diri berdasarkan referensi subjektifitas yang ditawarkan namun bertentangan dengan akar tradisi.

Singkatnya, Korean Waves adalah ujung dari upaya moderniasi diri konfusianisme. Mengingat literasi bagi penikmat produk Korea yang terhitung kurang maka diskusi ini perlu untuk diapresiasi. Diskusi Korean Waves dan Industri Buku di Indonesia sendiri adalah rangkaian dari acara Patjar Merah yaitu kegiatan literasi dan pasar buku yang berlangsung sejak 2 Maret hingga 8 Maret 2019 nanti.