Pengalaman Sang Detektif Handal, The Adventures of Sherlock Holmes





Judul buku      : The Adventures of Sherlock Holmes
Penulis            : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit           : Immortal Publishing
Tahun Terbit   : 2019
Cetakan           : Pertama
Tebal buku      : vi + 434 halaman
Ukuran buku   : 13 x 19 cm
ISBN               : 978-602-5868-52-8
Harga              : Rp 76.500

Merasa familiar dengan sosok bercerutu dan memakai topi Deerstalker? Yup, kita semua, terutama penggemar novel bergenre misteri pasti sudah tidak asing dengan sosok Sherlock Holmes, seorang detektif swasta yang mampu menyelesaikan berbagai macam kasus yang dianggap mustahil oleh sebagian orang, tentu dengan metode dan deduksi-deduksi nya yang benar-benar akan membuat kagum orang di sekitarnya. Kejeniusan nya dalam memecahkan kasus yang dibalut dengan sifat anti sosial dan kecenderungan narsisme membuat pembaca semakin betah untuk mengikuti setiap kasus yang ditulis oleh penulis legendaris Inggris, Sir Arthur Conan Doyle ini.

            Kasus-kasus pendek Sang Detektif Legendaris lah yang dikemas oleh Immortal Publishing dalam buku berjudul The Adventure of Sherlock Holmes terbitan 2019 ini, berisi 12 kasus pilihan yang tentu akan memuaskan kerinduan bagi para penggemar Sherlock Holmes atau mungkin akan membuat anda jatuh cinta apabila ini buku Sherlock Holmes pertama yang anda baca. Selain itu, buku yang berisi cerita pendek ini juga merupakan pilihan yang sangat tepat bagi anda yang sekedar menghabiskan waktu santai anda dengan cerita yang ringan dan ringkas.

            Seperti setiap buku Sherlock Holmes pada umum nya, tentu tidak akan kita temui kasus-kasus baru di dalam buku The Adventure of Sherlock Holmes ini. Seluruh cerita pendek nya diterbitkan pertama kali pada tahun 1982 oleh majalah The Strand Magazine, Inggris. Walau begitu, kehebatan Sir Arthur Conan Doyle dalam menulis cerita tidak akan lekang oleh waktu. Cerita nya masih seru untuk dibaca dan Sherlock tetap mampu membuat kagum banyak orang. Detail-detail kecil, gagasan-gagasan tidak masuk akal, permintan-permintaan yang bahkan kadang membuat orang di sekeliling nya jengkel, namun dijelaskan secara rinci oleh Sherlock diakhir cerita demi pemecahan kasus.

            Yang membuat penulis lebih kagum adalah, Sir Arthur Conan Doyle menggunakan tokoh fiksi bernama Dr. John Watson – yang ditempatkan sebagai sahabat dan orang kepercayaan Sherlock Holmes – untuk menceritakan setiap detail kasus Sherlock kepada pembaca melalui sudut pandang nya. Mudah nya, setiap kasus Sherlock Holmes dinarasikan oleh Sir Arthur Conan Doyle sebagai catatan hasil pengamatan Dr. Watson terhadap setiap gerak-gerik Sherlock yang kemudian dipublikasikan untuk kita baca bersama. Dia catat semua hal yang dia lihat, baik itu yang dia pahami maupun yang tidak dia pahami tentang Sherlock. Apa yang kita baca dibuku, adalah apa yang Dr.Watson lihat disana. Ketika ada waktu nya Sherlock pergi sendiri untuk menyelidiki kasus, cerita akan melompat ke waktu Sherlock kembali dari penyelidikan nya. Ini yang membuat pembaca semakin bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Sherlock saat dia pergi atau permintaan gila apa yang akan ia berikan berikutnya kepada Dr.Watson dan Watson, seperti biasa, hanya bisa menuruti keinginan Sherlock tanpa bisa bertanya. Sisi Dr.Watson ini bagi saya sangat mewakili perasaan pembaca, yang juga bertanya-tanya seperti Dr.Watson dan hanya dapat mengetahui seluruh maksud Sherlock saat kasus nya telah berakhir.

            Tapi itulah Sherlock dan Watson. Chemistry  yang dibangun oleh Sir Arthur Conan Doyle terhadap keduanya lah yang membuat kita terus ingin membaca kasus nya hingga habis. Deskripsi mendetail Dr.Watson menjadi daya tarik dan nilai jual seluruh cerita Sherlock. Sebagai tokoh yang diciptakan untuk menjadi narator dalam setiap kasus Sherlock Holmes, Dr.Watson mampu menjelaskan dengan baik kepada pembaca seluruh trik dan deduksi yang digunakan oleh Sherlock dalam 12 kasus yang ada di buku ini. Bahkan Dr.Watson juga mampu mendeskripsikan rasa kekalahan yang muncul pada diri Sherlock saat Sherlock dikalahkan dengan intrik oleh seorang wanita pada kasus “Skandal di Bohemia.” Dr.Watson berpendapat bahwa tokoh wanita bernama Irene Adler itu adalah lawan pertama yang mampu bersaing menggunakan kecerdikan menghadapi Sherlock. Lebih jauh, Dr.Watson juga menyebut bahwa Sherlock sangat mengagumi Irene Adler, walau mungkin yang dikagumi Sherlock adalah kecerdasan daripada kecantikan Miss Adler. Kesan romantis itu lah yang menutup kasus pertama dan menurut penulis merupakan kasus terbaik di dalam buku ini.

Mungkin ini cara Sir Arthur Conan Doyle untuk menunjukan bahwa betapapun cerdas, anti sosial dan narsis nya Sherlock, dia tetap manusia. Kadang bisa kurang tanggap terhadap sesuatu atau teralihkan oleh wanita. Dr.Watson menulis menulis bahwa otak Sherlock adalah mesin jenius yang mendekati sempurna bagi seorang detektif tapi hanyalah orang bodoh yang mudah tertipu apabila berurusan dengan wanita. Sebuah sisi manusiawi yang tetap membuat kita menghargai Sherlock sebagai manusia yang memiliki kelemahan.

            Setelah itu kita akan disajikan oleh cerita-cerita menegangkan lagi seru tentang seorang ayah dan pernikahan putri sulung nya dalam kasus The Adventure of The Specled Band atau pembalasan dendam Ku Klux Klan yang dibumbui aroma Thriller dimana Sir Arthur Conan Doyle benar-benar memasukan referensi tentang kengerian Ku Klux Klan di dunia nyata. Mampu membuat adrenalin kita terpompa disetiap halaman kasusnya.

            Sebagai penutup, untuk meringkas paragraf-paragraf diatas, yang bisa penulis katakan adalah gaya menulis Sir Arthur Conan Doyle yang mengambil sudut pandang Dr.Watson membuat setiap cerita Sherlock Holmes lebhih terlihat sebagai laporan penyelidikan daripada cerita pendek menghibur. Bisa jadi itu karena apa yang kita baca hanyalah cerita pendek nan ringkas, maka itu juga menjadi secuil dari dunia Sherlock Holmes yang dibangun oleh Sir Arthur Conan Doyle. Setelah membaca buku nya secara keseluruhan, akan ada beberapa perasaan yang akan muncul di hati pembaca. Untuk penulis pribadi, perasaan yang timbul adalah bagaimana seseorang yang tidak mementingkan perasaan atau Emotionless seperti Sherlock bisa memahami begitu banyak hal. Mungkin itu adalah pesan tersirat dari Sir Arthur Conan Doyle yang ingin mengatakan kepada pembaca bahwa cinta dan perasaan akan membuat pikiran mu menjadi tidak rasional – dan menjadi tidak rasional tentu saja, menjadi hal terakhir yang harus dilakukan oleh detektif secemerlang Sherlock.

0 comments:

Post a Comment