Memahami Ihsan Dalam Islam


Judul Buku       : Akhlak Menggapai Makrifat
Penulis       : Ki H. Ashad Kusuma Djaya
Penerbit       : KREASI WACANA
Cetakan       : Pertama, Maret 2016
Jumlah Halaman   : 284 Halaman

Buku ini tergolong buku yang materinya disajikan dengan bahasa yang lugas dan disertai dalil naqli maupun dalil aqli yang bersumber pada al-qur’an dan hadist. Buku ini juga didukung dengan tampilan tata letak yang baik, desain dan ilustrasi dalam cover buku ini juga menggunakan tampilan yang menarik minat pembaca. Buku ini dapat digolongkan sebagai bacaan yang berorientasi pada perbaikan akhlak umat berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist yang shahih. Dalam buku ini pembaca diajak untuk mengkaji islam yang ada pada rukun Ihsan. Selain itu buku ini juga memberi jalan bagi pembaca untuk menjalankan rukun ihsan secara tepat. Buku yang ditulis oleh Ki H. Ashad kusuma Djaya ini layak untuk dibaca dan dijadikan rujukan materi- materi pengajian.
Umat Islam akrab dengan Rukun Iman dan Rukun islam, tapi tidak dengan Rukun Ihsan. Dalam buku ini dijelaskan mengenai apa itu Rukun Ihsan dan cara mengkaji islam. Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim dari Umar radhiallahuanhu, Rasulullah menyebutkan bahwa Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu. Rasulullah juga menyebutkan bahwa iman adalah engkau beriman kepada allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir baik maupun buruk. Lalu tentang Ihsan Rasulullah menyebutkan bahwa Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau. Jika disederhanakan maka rukun ihsan itu ialah : 1. Beramal saleh secara ikhlas; 2. Makhrifat; dan 3. Muraqabah ( merasa selalu diawasi Allah). Makna ihsan ini sesuai dengan sabda Rasulullah, yang artinya : “...kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu”.( Halaman VI)
 Dalam mengkaji islam ada tiga cara sebagaimana yang ada dalam manhaj tarjih, yaitu pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan Bayani adalah pengkajian islam menggunakan nas-nas syariah. Penggunaan Burhani adalah pengkajian menggunakan ilmu pengetahuan yang berkembang. Seperti dalam ijtihad mengenai hisab menentukan kalender hijriyah. Sedangkan pendekatan Irfani adalah pengkajian islam melalui penyucian hati dan perbaikan akhlak sehingga jiwa mudah menangkap ayat-ayat allah yang ada dalam al-qur’an, maupun disegenap alam. (Halaman IX)
Pada bab ini kita diajak untuk memahami secara ringkas mengenai tiga prinsip akhlak pembebas setan yang harus dipegang manusia untuk membebaskan diri dari godaan setan. Tiga prinsip itu ialah iman, tawakal, dan ikhlas. Menurut bahasa iman itu berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati,mengikrarkan dengan lisan ,dan mengamalkan dengan anggota badan. Dalam Al-Qur’an surah Al-Anfal ada dua tanda orang beriman, yaitu tanda dalam bentuk amaliah batin dan tanda dalam bentuk amaliah lahir. Buku ini juga menjelaskan bahwa iman bukan hanya wacana dan pengakuan, tapi iman membentuk akhlak yang membedakan mereka dengan orang munafik dan kafir. Tawakal kepada Allah ialah menjadikan hati ridha kepada segala ketentuan dan takdir Allah. Tawakal adalah akhlak yang terpenting bagi seorang mukmin sejati. Bagi seorang mukmin sejati, twakal harus dibangun diatas dua hal pokok yaitu bersandarnya hati kepada Allah dan mengupayakan sebab maslahat yang dihalalkan. Ketahuilah bahwa tempat tawakal yang sebenar-benarnya adalah hati. Pada dasarnya tawakal bukanlah pasrah tanpa berusaha, namun harus disertai dengan ikhtiyar/ usaha. Ikhlas, satu hal yang perlu dipahami bahwa ikhlas berkaitan erat dengan niat dalam hati seseorang ketika beribadah. ( Halaman 15-39)
Selain tiga prinsip diatas buku ini juga membahas tiga prinsip lainnya yaitu prinsip akhlak untuk hidup bahagia. Kebahagiaan hidup manusia sesungguhnya didapat karena berkembangnya potensi kebaikan dalam diri manusia. Potensi kebaikan tersebut berbuah menjadi amal-amal baik yang dijalani dengan sabar, syukur, dan ridha. Sabar bermakna menahan diri untuk tidak terpancing ketika menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan demikian orang yang sabar dapat menjalani segala ujian hidup dengan baik. Syukur bermakna senangnya hati atas pemberian Allah disertai pengakuan lisan berupa pujian kepada-Nya yang diikuti dengan menggunakan pemberian itu sesuai dengan petunjuk sang pemberi. Sedangkan Ridha adalah engakau berbuat sesuatu yang membuat Allah senang atau ridha, dan Allah meridhai apa yang engaku perbuat. (Halaman 75-77)
 Secara ringkas materi pada bab ini berisikan segala sesuatu yang berkaitan dengan ketiga prinsip diatas  seperti menjelaskan bagaimana membangun pribadi yang sabar , jenis-jenis sabar, menyadari nikmat alllah apa saja yang patut disyukuri dan beberapa teladan mengenai syukur dalam Al-Qur’an. Selain hal-hal tersebut ada juga tingkatan orang yang bersyukur yaitu tingkatan ‘Awaam (orang umum), tingkatan khash (orang khusus), dan tingkatan khawashul khawasaash. (Halaman 125-127)
 Pada bab akhir disitu menjelaskan “Akhlak Pendakian Menuju Allah”. Maksud dari pendakian menuju allah ini adalah peningkatan kualitas diri dengan membebaskan diri dari hal-hal yang bisa menjauhka diri dari Allah dan menghiasi diri dengan hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pendakian ini ada empat unsur penting , pertama tazkiyatun nafs ( penyucian jiwa), kedua Tafakur yang artinya merenungkan atau memikirkan, ketiga riyadhah yang mengandung arti melatih diri untuk membiasakan diri melaksanakan ibadah,dan yang terakhir Dzikrullah yaitu mengingat Allah yang bermaksud mendekatkan diri kepada Allah. (Halaman 147-150)
 Selain itu juga menjelaskan tentang orang yang berdzikir mendahului orang lain dan tingkatan-tingkatan dari Dzikir itu sendiri. Buku ini diakhiri dengan ayat al-qu’an yang berisikan tahmid dan pujian kepada allah dengan pujian yang sepantasnya. Dan penulis mengajak kita untuk menjadikan kebenaran haruslah karena allah, seperti menasehati karena Allah.

JURNIVA ANANDA / 16419149001
Resensi Buku

0 comments:

Post a Comment