Devi sedang duduk sambil termenung dibawah pohon mangga halaman rumahnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Devi di siang yang terik ini. Pandangannya kosong ke depan. Membuat orang yang sejak 5 menit yang lalu berada di sampingnya mengerutkan dahinya heran.
“Dev, Devi... heeyy Devi...” panggil Shinta sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Devi.
“Eehmm... Aah kamu Shin, aku kira siapa.. hehehe...””maaf ya Shin tadi aku nggak jawab panggilan kamu” jawab Devi setelah tersadar dari lamunannya.
“Iya nggak apa-apa Dev, santai aja”
“Eemm btw nih ya tadi kamu ngelamun kenapa Dev ? aku kira kamu kesambet apaan tadi hehehe”tanya Shinta sambil cengengesan.
“Aku nggak apa-apa kok Shin, aku cuma lagi mikirin setelah lulus SMA ini aku kuliah dimana. Sampai sekarang aku sama sekali belum ada bayangan tentang kuliah itu, sementara orangtua ku sudah beberapa kali menanyakan padaku tentang hal itu” jawab Devi panjang lebar pada Shinta yang duduk di sebelahnya.
“Oh tentang sekolah, aku kira kamu baru putus cinta... hahaha..”ujar Shinta sambil tertawa garing.
“Kamu mah Shin, boro-boro putus cinta, pacaran aja aku nggak pernah”kata Devi pada Shinta dengan malas.
“hahaha... makanya jangan kelamaan sendiri, jadi kalo punya pacar kan ada tempat berbagi cerita, tukar pikiran gitu kan” kata Shinta
“Halah buat apa pacaran, manfaatnya aja nggak ada tapi banyak dosanya tau nggak Shin” Timpal Devi yang tidak sepakat dengan perkataan Shinta tentang pacar tadi.
Wajar saja devi tidak setuju dengan pernyataan Shinta tadi, karena latar belakang keluarga Devi saja adalah keluarga yang religius.
Devi yang bernama lengkap Devia Riska Winanda tersebut adalah anak sulung dari dua bersaudara. Dan devi memiliki seorang adik perempuan bernama Isti Fadilah. Keluarga Devi benar-benar memegang teguh ajaran agama islam. Ayahnya tidak segan-segan untuk menghukum anak-anaknya apabila ada salah satu dari anaknya yang meninggalkan Sholat dan melanggar ajaran Allah.
Ayah dan Ibu nya selalu mengingatkannya untuk memikirkan masa depan terlebih dahulu dan pacaran adalah sesuatu yang amat sangat di larang oleh kedua orangtuanya. Membatasi pergaulan dengan laki-laki ketika di Sekolah adalah nasihat yang berulang kali Devi dengar dari orang tuanya. Devi tau dan paham akan hal itu. Terlebih ia pernah sekali melakukan kebohongan pada orangtuanya.
Flashback#
Saat itu ia sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti ekstrakulikuler di Sekolahnya. Langit sudah menunjukkan cahaya jingga di sebelah barat dengan kumandang azan yang menggema di seluruh penjuru Sekolah. Tandanya sudah memasuki waktu untuk menunaikan ibadah sholat maghrib.
Devi berjalan keluar lapangan menuju mushola Sekolah dengan ransel biru polos di gendongannya. Devi duduk di tangga mushola sembari melepas sepatu olahraganya. Setelah itu Devi menuju loker untuk menyimpan tasnya terlebih dahulu sebelum mengambil air wudhu.
Setelah wudhu Devi mengenakan mukena nya dan sedikit mengintip ke tempat jama’ah laki-laki yang hanya dibatasi oleh tirai putih. Ternyata hanya ada seorang laki-laki disana.
“Ada laki-laki tidak ya kalau tidak, aku sholat sendiri saja” gumam Devi sebari mengintip sedikit.
Namun, hal itu justru dilihat oleh laki-laki yang baru saja memasuki mushola selepas wudhu. Tatapan mereka bertemu sebentar kemudian keduanya saling mengalihkan pandangannya dengan canggung.
“Khhmm... kita sholat sendiri-sendiri saja ya dev karena sepertinya Cuma kita yang ada disini” kata laki-laki tersebut menghilangkan sedikit kecanggungan diantara mereka.
“O.oh iya kak”jawab Devi canggung
Akhirnya mereka melaksanakan sholat maghrib sendiri-sendiri, karena memang benar. Hanya tinggal mereka saja yang tersisa di Mushola saat itu. Teman-temanya sudah pulang terlebih dahulu, bahkan Shinta sahabatnya meninggalkan nya begitu saja.
Selepas sholat maghrib, hari sudah mulai gelap. Devi yang biasanya pulang bersama Shinta, kini kebingungan siapa yang akan mengantarkannya pulang sekarang. Hp devi saat itu mati dan tidak ada jemputan untuknya.
Namun tiba-tiba seseorang dengan menggunakan sepede motor menghampiri Devi di depan gerbang sekolah.
“Dev, nunggu jemputan ya ?” tanya Kak Adi yang tadi menyapa Devi di Mushola
“Nggak kak, kebetulan lagi nungguin angkot lewat, soalnya Devi nggak di jemput Ayah” jawab Devi.
“Jam segini mah mana ada angkot yang lewat Dev. Sudah pulang semua angkotnya”kata Kak Adi
“Kakak anter Devi aja ya, nggak baik perempuan pulang malem-malem sendirian gini. Nanti duduknya di kasih jarak aja nggak apa-apa. Lagian ini juga mendesakkan jadi nggak apa-apa” kata Kak Adi menawarkan tumpangan kepada devi.
“Emm baiklah kak, terima kasih ya kak sebelumnya, maaf Devi jadi merepotkan kakak” sungkan Devi pada Kak Adi
“Ayo Dev naik aja”
“Iya kak”
Setelah itu Devi diantar pulang oleh Adi tapi tidak sampai depan rumah, melainkan hanya sampai depan gerbang komplek saja. Karena Devi takut ketahuan oleh sang Ayah pulang diantar oleh laki-laki.
“Makasih ya kak sudah mau nganter Devi pulang” kata devi
“Oke nggak apa-apa.. santai aja Dev, Kakak juga nggak buru-buru banget. Yaudah kamu pulang sana sudah malem gini. Kakak pamit duluan ya, Assalamualaikum” pamit Adi pada Devi
“Hehe iya kak, hati-hati dijalan kak, sekali lagi makasih sudah dianter. Wa’alaikumussalam”jawab Devi
Selama perjalanan menuju rumahnya, Devi terngiang-ngiang ucapan Sang Ayah yang mengakatan bahwa “dimana pun kita berada, Allah selalu tau apa yang dilakukan hambanya. Kalian bisa membohongi Ayah, tapi Allah tidak bisa kalian bohongi.”
Flashback End#
Rasa bersalah terus menghantui Devi ketika itu. Ia merasa bersalah karena telah membohongi Ayahnya saat itu dan kembali meyakinkan dirinya dalam hati dan pikirannya bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahnnya yang sama lagi terlebih untuk tidak melanggar apa yang dilarang oleh Allah.
Cukup sekali Devi terbayang oleh rasa bersalahnya yang ia sembunyikan hingga saat ini. Kita tunggu entah sampai kapan devi akan menyampaikan yang sebenarnya pada sang ayah.
#Selesai#
Jurniva Ananda
16419149001
Cerpen
0 comments:
Post a Comment