Nama ku Zahra, aku adalah seorang mahasiswi semester atas yang akan mendekati masa-masa terakhir perkuliahan. Ya tepatnya dalam fase menuju kelulusan kuliah. Rasa senang sekaligus terharu terpancar di benak ku. Perjuangan belajar selama 4 tahun di Universitas idaman akan segera terbayar lunas oleh baju toga yang ku kenakan nantinya. Teringat dimana masa-masa awal menjadi mahasiswa, terkenang betapa lugunya diriku yang masih kelu akan dunia kampus beserta jajarannya. Aku bersyukur mempunyai watak yang mudah bergaul membuat hubungan sosial ku berjalan dengan baik, mendapatkan teman-teman yang begitu peduli terhadapku, perkuliahan yang ku selingi dengan organisasi menjadikan relasi dengan orang banyak cukup luas. Itu semua akan menjadi memori perjalanan hidupku. Sungguh sebuah kenangan. Saat ini, masa-masa dimana aku sedang menyelesaikan skripsi. Sudah hampir memasuki akhir. Keputusan terkait setelah lulus sudah ku pikirkan sejak awal. Aku ingin menjadi guru, mengajar dan mengabdi kepada banyak orang. Tekad ku sudah pernah tersampaikan kepada kedua orang tua ku saat awal kuliah, namun sepertinya mereka belum terlalu memantapkan keyakinan ku. Mungkin karena aku baru memasuki awal perjuangan belajar di kampus. Aku pun saat itu tidak terlalu menggubris respon kedua orang tua ku, sebab aku masih ingin memantapkan keputusan karier ku setelah melewati perkuliahan.
Di sela bimbingan skripsi, tak lupa aku juga terkadang berkumpul dengan teman-teman angkatan yang juga sedang tahap skripsi. Di sebuah rumah makan, aku berbincang-bincang dengan kedua teman ku yaitu Nia dan Intan. Kita membicarakan masa depan setelah lulus. Kita saling mengungkapkan keinginan untuk menuju ke depan. Kamu setelah itu jadi cari pekerjaan guru Ra?. Kata Nia. Iyaa.. InsyaAllah Nia, dulu sempet bicara sama orang tua. Tapi saat ini belum memastikan lagi. Saat itu, aku mendengar rencana Intan yang akan membuka usaha setelah lulus. Aku pun bingung dengan perubahan keputusannya, sebab pada awalnya ia ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Iya dulu sempet pikiran gitu. Tapi kalau di pikir-pikir aku itu perempuan. Ya tau lah perempuan banyakan di rumah. Apalagi kalau udah berumah tangga. Jelas Intan. Aku tidak mengerti mengapa dia bisa berpikir seperti itu, bukankah cita-citanya ingin menjadi PNS. Apakah keputusannya saat ini benar-benar sudah yakin ia akan jalani?. Namun setelah mendapat penjelasan lebih lanjut ternyata, ia akan menikah dengan seorang angkatan laut. Intan berasumsi bahwa dia tidak perlu lelah-lelah bekerja karena pendapatan seorang yang bekerja di angkatan laut cukup besar.
Enak juga sih ya. Sayang aku belum ada calon hmm. Keluh Nia. Dasar Nia. Tapi Intan, apa itu gak sia-sia ya. Kamu sudah 4 tahun kuliah dan cuman di rumah aja. Apalagi ilmu mu itu tidak di salurkan ke orang lain. Kata ku kurang setuju dengan keputusan Intan.
“Kita itu perempuan, banyak doktrin bahwa perempuan itu ya tempatnya di rumah, dapur sekitaran itu aja kali ya. Dulu pernah tidak sepakat dengan anggapan itu. Tapi lama-kelamaan aku malah senengnya di rumah. Sepertinya lebih ringan. Perempuan kan mudah lelah gais. Ya kalau terkait ilmu kan bisa di terapin di mana saja kan. Tungkas Intan panjang lebar. Orang tua Intan juga mendukung keputusannya yang akan membuka usaha dan menikah. Mendengar pengakuan Intan tersebut, gelisah dan bingung tiba-tiba datang ke pikiranku. Seolah-olah diriku terpengaruh dengan kalimat yang di utarakan Intan. Apakah benar nyatanya seperti itu?. Apakah keputusanku sudah tepat?. Hati ku berbicara. Bagaimana ini, Tolong Ya Tuhan berikan jalan untuk meluruskan keputusanku
Kala itu singgap saja ku teringat oleh pembicaraan ku dengan kedua orang tua 2 tahun silam. Sebenarnya kedua orang tua lebih memilih diriku bekerja menjadi pegawai bank atau membuka usaha. Memang saat itu, aku belum terlalu memasuki ke dalam hati. Sebab ku berpikir. Paling-paling orang tua hanya sekadar menguji diriku atau mungkin saja bergurau denganku karena saat itu diriku masih berstatus mahasiswa baru. Namun aku tetap mengutarakan keinginan yang terdalam yaitu menjadi guru. Dan saat ini, aku berpikir jika dahulu orang tua ku memang benar menginginkan selain keputusan ku, bagaimana jadinya?. Apalagi orang tuaku mempunyai alasan yang kuat. Sungguh aku tidak ingin mengecewakan mereka. Zaman sekarang lebih pentingkan cari uang yang banyak Ra. Kasian tenaga mu kalau terlalu kerja keras. Kata ibu.
Terus percuma dong bapak sama ibu biayain Zahra kuliah kalau tidak mengembangkan ilmu Zahra nanti. Bantahku cukup keras.
Itu supaya kamu mempunyai derajat lebih tinggi daripada kami, orang tua mu nak. Orang tua kan pengen anaknya yang terbaik ya. Bapak mempertegas. Perkataan mereka membuat ku melamun seorang diri di tengah teman-teman. Nia pun menyadarkan ku dari kelamunan. Hingga di tengah perjalanan pulang, Nia dan Intan sedang asyik saling mengobrol. Sedangkan aku masih teringang-teringang keputusan menuju masa depan. Bagaimana ini?. Kenapa tiba-tiba aku dilema memikirkan arah karier?. Apa aku harus mengikuti saran orang tua?. Tapi apakah sudah tepat?. Aku juga ingin menjadi guru.Ya Allah....
Di rumah, Aku menceritakan kembali keputusanku untuk menjadi guru kepada kedua orang tua
Ya sudah kalau mau mu begitu Zahra. Tapi coba di pikirkan lagi apakah sudah tepat. Ini juga untuk kebaikan kamu nak. Bapak menyakinkan
“Iya Ra. Yang terakhir ini kami minta sama kamu. Bagaimana pun keputusannya nanti insyaAllah kami menerima”. Lanjut Ibu
Hari-hari ku pun di penuhi dengan ketidakpastian terkait keputusan karier. Aku banyak merenung saat di kampus atau bersama teman-teman. Tak lupa aku meminta petunjuk dalam setiap sujud dan doa yang di panjatkan kepada YangMahaKuasa. Namun kedilemaan itu tak menghalangi untuk mencari peluang-peluang pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatku. Aku memang tidak ingin mengecewakan kedua orang tua dan orang lain tapi tetap saja aku ingin menggapai cita-cita menjadi guru. Maka pada saat duduk di teras rumah. Muncullah kepastian itu lalu ku utarakan kembali kepada kedua orang tua pada saat selesai makan di meja makan
“Kenapa tidak jadi pilih yang Bapak ibu minta?. Kata Ibu
“Beneran, nanti gak nyesel?”. Bapak menambahkan
“ Zahra akan berjuang Bu, Pak demi masa depan Zahra . Bukannya tidak patuh pada permintaaan Bapak, Ibu. Tapi keyakinan itu sudah tertanam sejak awal di dalam hati dan pikiran Zahra. Zahra akan berusaha untuk membahagiakan Bapak dan Ibu juga semua orang. Zahra sudah berhari-hari memikirkannya matang-matang. Ungkap ku percaya diri. Mereka pun akhirnya luluh dengan keputusan ku, namun tetap berdoa yang terbaik untuk anaknya ini.
Setelah 4 tahun pasca kelulusan, aku akhirnya mengajar di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Aku bahagia dengan waktu-waktu mengajar dan beraktivitas menjadi guru. Namun ku mendengar kabar, bahwa suami Intan yang bekerja di angkatan laut meninggal dunia setelah 1,5 tahun pernikahan mereka. Aku pun segera melayat ke rumah Intan. Intan nampak terpuruk keadaannya. Apalagi perekonomian keluarga kecilnya yang saat ini pas-pasan sepeninggal suami tercinta. Sebab ia sendiri ternyata memilih tidak bekerja setelah menikah dan hanya tergantung dengan penghasilan sang suami
Yang sabar Intan, doakan saja almarhum tenang di sana ya. Kataku Iba
Iya Ra. Makasih ya. Aku merasa bersalah tidak memilih untuk menjadi PNS dulu. Sekarang tanpa suami, aku harus berjuang memenuhi hidup lebih-lebih untuk calon anak di kandungan ku. Intan menangis tersedu-sedu
Yang tabah Intan, masih ada keluarga, saudara-saudara, teman-teman termasuk aku di sini yang akan membantu mu Tan. Jalani aja ya, ada hikmah yang besar nanti akan datang. Jangan terlalu di ratapi. Kataku menyemangati
Makasih banyak Zahra. Intan pun nampak tersenyum lega
Setelah 1 jam di rumah Intan, Aku pun pamit untuk pulang. 1 tahun berikutnya, Aku di pinang oleh seorang pria yang bekerja sebagai polisi. Kita saling membagi peran dalam mengurus rumah tangga namun tidak menyudahi pekerjaan masing-masing. Suami yang singgap berangkat menuju kantor dan patroli. Sedang aku yang bersyukur dapat menggapai impian menjadi guru. Orang tua ku pun juga bahagia melihat kehidupan ku saat ini.
Bekerja merupakan sebagian perwujudan misi atas keberadaan jiwa dalam tubuh kasar manusia. Sebagai makhluk spiritual manusia memiliki tugas atau maksud dan tujuan keberadaannya di dunia. Jadi bekerja adalah kegiatan utama di dunia sebagai bagian penting dari perjalanan hidup untuk mencapai misi hidup dan takdir kita. Oleh karena itu, penting sekali untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan misi hidup kita. Pekerjaan yang dapat memberi perasaan istimewa, memberi arti bagi kehidupan, pekerjaan yang dicintai dan ditekuni sepenuh hati. Ada banyak jenis pekerjaan yang mungkin pernah dimiliki atau dilakukan, tetapi pasti hanya ada satu pola atau jalur yang akhirnya membawa manusia kepada pencapaian misi hidupnya. Jika sudah menemukan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan kata hati, kita harus sepenuhnya berdedikasi dan mencintai pekerjaan tersebut.
Jurniva Ananda 16419149001
#NaskahDramaRadio
0 comments:
Post a Comment