Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts




Judul buku      : The Adventures of Sherlock Holmes
Penulis            : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit           : Immortal Publishing
Tahun Terbit   : 2019
Cetakan           : Pertama
Tebal buku      : vi + 434 halaman
Ukuran buku   : 13 x 19 cm
ISBN               : 978-602-5868-52-8
Harga              : Rp 76.500

Merasa familiar dengan sosok bercerutu dan memakai topi Deerstalker? Yup, kita semua, terutama penggemar novel bergenre misteri pasti sudah tidak asing dengan sosok Sherlock Holmes, seorang detektif swasta yang mampu menyelesaikan berbagai macam kasus yang dianggap mustahil oleh sebagian orang, tentu dengan metode dan deduksi-deduksi nya yang benar-benar akan membuat kagum orang di sekitarnya. Kejeniusan nya dalam memecahkan kasus yang dibalut dengan sifat anti sosial dan kecenderungan narsisme membuat pembaca semakin betah untuk mengikuti setiap kasus yang ditulis oleh penulis legendaris Inggris, Sir Arthur Conan Doyle ini.

            Kasus-kasus pendek Sang Detektif Legendaris lah yang dikemas oleh Immortal Publishing dalam buku berjudul The Adventure of Sherlock Holmes terbitan 2019 ini, berisi 12 kasus pilihan yang tentu akan memuaskan kerinduan bagi para penggemar Sherlock Holmes atau mungkin akan membuat anda jatuh cinta apabila ini buku Sherlock Holmes pertama yang anda baca. Selain itu, buku yang berisi cerita pendek ini juga merupakan pilihan yang sangat tepat bagi anda yang sekedar menghabiskan waktu santai anda dengan cerita yang ringan dan ringkas.

            Seperti setiap buku Sherlock Holmes pada umum nya, tentu tidak akan kita temui kasus-kasus baru di dalam buku The Adventure of Sherlock Holmes ini. Seluruh cerita pendek nya diterbitkan pertama kali pada tahun 1982 oleh majalah The Strand Magazine, Inggris. Walau begitu, kehebatan Sir Arthur Conan Doyle dalam menulis cerita tidak akan lekang oleh waktu. Cerita nya masih seru untuk dibaca dan Sherlock tetap mampu membuat kagum banyak orang. Detail-detail kecil, gagasan-gagasan tidak masuk akal, permintan-permintaan yang bahkan kadang membuat orang di sekeliling nya jengkel, namun dijelaskan secara rinci oleh Sherlock diakhir cerita demi pemecahan kasus.

            Yang membuat penulis lebih kagum adalah, Sir Arthur Conan Doyle menggunakan tokoh fiksi bernama Dr. John Watson – yang ditempatkan sebagai sahabat dan orang kepercayaan Sherlock Holmes – untuk menceritakan setiap detail kasus Sherlock kepada pembaca melalui sudut pandang nya. Mudah nya, setiap kasus Sherlock Holmes dinarasikan oleh Sir Arthur Conan Doyle sebagai catatan hasil pengamatan Dr. Watson terhadap setiap gerak-gerik Sherlock yang kemudian dipublikasikan untuk kita baca bersama. Dia catat semua hal yang dia lihat, baik itu yang dia pahami maupun yang tidak dia pahami tentang Sherlock. Apa yang kita baca dibuku, adalah apa yang Dr.Watson lihat disana. Ketika ada waktu nya Sherlock pergi sendiri untuk menyelidiki kasus, cerita akan melompat ke waktu Sherlock kembali dari penyelidikan nya. Ini yang membuat pembaca semakin bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Sherlock saat dia pergi atau permintaan gila apa yang akan ia berikan berikutnya kepada Dr.Watson dan Watson, seperti biasa, hanya bisa menuruti keinginan Sherlock tanpa bisa bertanya. Sisi Dr.Watson ini bagi saya sangat mewakili perasaan pembaca, yang juga bertanya-tanya seperti Dr.Watson dan hanya dapat mengetahui seluruh maksud Sherlock saat kasus nya telah berakhir.

            Tapi itulah Sherlock dan Watson. Chemistry  yang dibangun oleh Sir Arthur Conan Doyle terhadap keduanya lah yang membuat kita terus ingin membaca kasus nya hingga habis. Deskripsi mendetail Dr.Watson menjadi daya tarik dan nilai jual seluruh cerita Sherlock. Sebagai tokoh yang diciptakan untuk menjadi narator dalam setiap kasus Sherlock Holmes, Dr.Watson mampu menjelaskan dengan baik kepada pembaca seluruh trik dan deduksi yang digunakan oleh Sherlock dalam 12 kasus yang ada di buku ini. Bahkan Dr.Watson juga mampu mendeskripsikan rasa kekalahan yang muncul pada diri Sherlock saat Sherlock dikalahkan dengan intrik oleh seorang wanita pada kasus “Skandal di Bohemia.” Dr.Watson berpendapat bahwa tokoh wanita bernama Irene Adler itu adalah lawan pertama yang mampu bersaing menggunakan kecerdikan menghadapi Sherlock. Lebih jauh, Dr.Watson juga menyebut bahwa Sherlock sangat mengagumi Irene Adler, walau mungkin yang dikagumi Sherlock adalah kecerdasan daripada kecantikan Miss Adler. Kesan romantis itu lah yang menutup kasus pertama dan menurut penulis merupakan kasus terbaik di dalam buku ini.

Mungkin ini cara Sir Arthur Conan Doyle untuk menunjukan bahwa betapapun cerdas, anti sosial dan narsis nya Sherlock, dia tetap manusia. Kadang bisa kurang tanggap terhadap sesuatu atau teralihkan oleh wanita. Dr.Watson menulis menulis bahwa otak Sherlock adalah mesin jenius yang mendekati sempurna bagi seorang detektif tapi hanyalah orang bodoh yang mudah tertipu apabila berurusan dengan wanita. Sebuah sisi manusiawi yang tetap membuat kita menghargai Sherlock sebagai manusia yang memiliki kelemahan.

            Setelah itu kita akan disajikan oleh cerita-cerita menegangkan lagi seru tentang seorang ayah dan pernikahan putri sulung nya dalam kasus The Adventure of The Specled Band atau pembalasan dendam Ku Klux Klan yang dibumbui aroma Thriller dimana Sir Arthur Conan Doyle benar-benar memasukan referensi tentang kengerian Ku Klux Klan di dunia nyata. Mampu membuat adrenalin kita terpompa disetiap halaman kasusnya.

            Sebagai penutup, untuk meringkas paragraf-paragraf diatas, yang bisa penulis katakan adalah gaya menulis Sir Arthur Conan Doyle yang mengambil sudut pandang Dr.Watson membuat setiap cerita Sherlock Holmes lebhih terlihat sebagai laporan penyelidikan daripada cerita pendek menghibur. Bisa jadi itu karena apa yang kita baca hanyalah cerita pendek nan ringkas, maka itu juga menjadi secuil dari dunia Sherlock Holmes yang dibangun oleh Sir Arthur Conan Doyle. Setelah membaca buku nya secara keseluruhan, akan ada beberapa perasaan yang akan muncul di hati pembaca. Untuk penulis pribadi, perasaan yang timbul adalah bagaimana seseorang yang tidak mementingkan perasaan atau Emotionless seperti Sherlock bisa memahami begitu banyak hal. Mungkin itu adalah pesan tersirat dari Sir Arthur Conan Doyle yang ingin mengatakan kepada pembaca bahwa cinta dan perasaan akan membuat pikiran mu menjadi tidak rasional – dan menjadi tidak rasional tentu saja, menjadi hal terakhir yang harus dilakukan oleh detektif secemerlang Sherlock.




Judul                : Para Bajingan Yang Menyenangkan
Penulis             : Puthut EA
Penerbit           : Buku Mojok
Cetakan           : Pertama
Tahun              : Desember 2016
Tebal               : vi + 178 halaman; 13x20 cm
ISBN               : 978-602-1318-44-7
Harga              : Rp58.000,00

Buku apa sih ini sebenernya? Sangat menarik perhatianku ketika aku melihat-lihat buku. Judulnya nyeleneh. Bajingan. Kata yang asing digunakan untuk sebuah judul. Buku ini kayak mendobrak norma sosial dengan menjadikan kata umpatan sebagai judul sebuah buku. Apalagi buku ini ditulis oleh Puthut EA, dan diterbitkan oleh Mojok. Dulu Mojok sempat jadi perbincangan karena gaya kepenulisannya yang asik dan berbeda dari media-media lain. Tentu saja membuatku makin penasaran tentang isi buku ini. Sepertinya akan menjadi seru ketika membacanya.
Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.

Ya, itu tulisan di belakang bukunya. Apalagi ini. Kehidupan mereka diselamatkan oleh permainan judi. Tambah penasaran saya, akhirnya saya beli buku ini dengan harga yang lumayan terjangkau.
Cerita dalam buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Berisi beberapa karakter, yaitu penulis, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Jujur saya sendiri sulit menghafal nama. Biasanya ketika membaca sebuah buku fiksi, saya hanya mengingat dua karakter saja. Maksimal tiga lah. Itu aja kadang-kadang masih suka lupa siapa namanya yang selain tokoh utama. Namun, entah kenapa aku tetep bisa baca gitu. Lanjut terus mengalir mengikuti cerita. Ceritanya asik soalnya. Sekumpulan laki-laki yang suka nongkrong, mungkin kurang lebih akan sama seperti cerita di buku ini. Dalam percakapannya, sering diselingi umpatan-umpatan. Tidak seperti buku fiksi pasaran yang normatif. Entah akunya yang termasuk golongan bajingan, jadi bisa relate atau bagaimana ya kurang tahu saya hehe.

Bahasa yang digunakan tidak hanya bahasa Indonesia, sering kali menggunakan bahasa Jawa. Buat kamu yang kurang mengerti bahasa Jawa namun ingin membacanya, jangan khawatir. Dibagian belakang buku ini terdapat kamus kecil. Terjemahan bahasa Indonesia dari diksi bahasa Jawa yang digunakan dalam proses berceritanya.

Buku ini menarik. Buku ini mendapat rating 3.86/5 oleh GoodReads. Pembawaan yang lugas dan ringan bikin kita bisa rehat sejenak. Sambil tertawa terhadap guyonan receh Jackpot Society. Recommended gaez!



The Choice We Make : Sebuah Pilihan Sulit Sepasang Sahabat untuk Kehidupan yang Indah




Judul                           : The Choice We Make

Penulis                         : Karma Brown

Penerbit                       : Elex Media Komputindo

Terbit                           : 2014

Terbit di Indonesia     : 2019

Alih Bahasa                 : Airien Kusumawardani

Tebal                           : 348 Halaman



Sebuah pilihan hidup yang sulit, berisiko, dan butuh pengorbanan besar ditawarkan Kate pada sahabatnya Hannah. Kate dan Hannah, sepasang sahabat yang memiliki takdir berbeda dalam kehidupan masing-masing. Hannah tak lebih beruntung dari Kate. Hidupnya tak sebahagia Kate yang hidup dalam keluarga harmonis dengan dua orang anak yan menghiasi hari-harinya. Hannah yang infertile membuat dirinya tak bisa merasakan bagaimana indahnya menjadi seorang ibu. Hingga pada akhirnya, Kate dengan segala kebesaran hatinya merelakan dirinya menjadi sebuah “rumah” untuk calon bayi Hannah dengan jalan surogasi. Namun, pilihan Kate tak seindah yang dibayangkan. Kate harus menderita aneurisme sehingga kelanjutan hidup Kate dan calon bayi Hannah terancam.

Novel ini memang novel fiksi namun hampir sebagian besar kisah yang ditulis adalah terinspirasi dari kisah nyata yang dialami penulis. Karma Brown sendiri memiliki kisah yang hampir sama dengan jalan cerita novel. Sama-sama pernah merasakan bagaimana menjadi perempuan yang infertile dan harus menjalani berbagai perawatan medis demi mendapatkan sebuah anak. pengalamannya itu menjadi inspirasi besar dalam pembuatan novel ini. Namun ada perbedaan antara kisah nyata Karma Brown dengan jalan cerita pada Novel. Karma Brown meramu cerita nyatanya dengan kisah persahabatan yang romantis penuh cinta dalam novel The Choice We Make.

Buku karangan dari Karma Brown ini lebih mengisahkan perjalanan sepasang sahabat yang sama-sama berjuang untuk kebahagian salah satu diantaranya. Ada pelajaran yang besar yang dapat diambil dari membaca buku ini terutama persoalan persahabatan antara dua wanita. Mengisahkan tentang Kate dan Hannah yang memiliki kehidupan yan berbeda. Ketika Hannah diterpa sebuah cobaan besar, Kate yang telah lama menjalin persahabatan memberikan sebuah pengorbanan besar untuk sahabatnya yang bahkan sangat berisiko untuk kehidupannya sendiri.

Kisah yang diangkat dalam novel ini bukan kisah persahabatan perempuan remaja seperti pada umumnya. Namun mengangkat kisah persahabat perempuan dewasa yang bahkan telah melalui level kehidupan setelah menikah. Sebuah kisah perahabatan yang jarang dijumpai dalam kehidupan nyata dengan keromantisan dan kehangatan penuh cinta bahkan setelah menikah. Novel ini memiliki segmentasi yang cocok untuk perempuan dewasa usia di atas 19 tahun hingga tua. Hal tersebut karena kisah yang diangkat adalah perjalanan hidup perempuan usia dewasa dan mengangkat kisah hidup seputar persahabatan perempuan dewasa, kekeluargaan, dan kisah cinta suami dan istri di dalamnya. Nilai-nilai moral yang disampaikan dalam novel ini dapat menjadi pelajaran berharga khususnya perempuan.

Kelebihan buku ini adalah memberikan referensi baca dari luar negeri untuk para pembaca dalam negeri. Terbitnya buku The Choice We Make dalam versi Bahasa Indonesia dapat membantu pembaca Indonesia yang menggemari novel karya Karma Brown yang best seller di Amerika. Nilai moral yang ditonjolkan dalam novel tersebut relevan untuk diserap oleh perempuan dari negara manapun dengan catatan mengabaikan gaya hidup wanita Amerika yang konstruksi dalam novel tersebut karena tentu akan terjadi perbedaan besar gaya hidup wanita Amerika dan wanita Asia. Novel ini juga memeberikan edukasi dari dunia kesehatan khususnya problema wanita dewasa. Nilai lebih dari novel ini adalah kisah persahabatan manis yang ditonjolkan hingga nilai-nilai kekeluargaan di dalamnya. Selain itu, penulis banyak mendeskripsikan secara detail mengenai lokasi atau setting cerita dan aktivitas yang dilakukan para tokohnya. Namun ini bisa jadi dianggap kekurangan bagi sebagian pembaca karena terlalu bertele-tele dan melelahkan untuk dibaca.

Kekurangan lainnya dari novel ini adalah tentang hasil terjemahan yang kurang alih bahasakan ke Bahasa Indonesia yang sempurna. Masih banyak istilah-istilah dalam Bahasa Inggris yang tidak dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Sedikit menyulitkan pembaca namun bisa diantisipasi dengan mencari sendiri arti dari istilah-istilah dalam Bahasa Inggris tersebut. Dari segi penulisan, novel terbitan Elex Media Komputindo terdapat kesalahan menulis pada kata “caloin” yang seharusnya ditulis “calon” pada bagian deskripsi buku.

Namun dibalik semua kelebihan dan kekurangannya, novel ini layak untuk dibaca khususnya untuk perempuan. Banyak nilai moral yang ditawarkan dalam novel ini. Memiliki kisah menyentuk, emosional, dan penuh harapan. Pada halaman depan novel ini ditulis banyak testimoni dari para pembacanya yang semuanya mengatakan bahwa novel ini layak untuk dibaca karena kisah menyentuh, menarik dan penuh pelajaran berharga. (Eka Putriyana Widyastuti/16419141010)






Judul      : Princess of Tales
Penulis   : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Halaman : 259 halaman
ISBN      : 978-602-441-095-7
Edisi Ketiga, Cetakan 1, Februari 2019

Mengapa kita harus mengeluarkan banyak uang untuk cerita-cerita bohong?

Mengapa kita rela menghabiskan banyak waktu untuk membaca kisah-kisah fiktif?
Maka Jostein Gaarder akan menjawabnya, " Karena Peter telah membuatkannya untukmu, mengaturmu untuk membacanya dan membuatmu terkesima" 

Princess of Tales mengisahkan tentang kehidupan Peter " Si Laba-laba", si kesepian dan penyendiri. Peter dibesarkan oleh Ibunya. Sejak kecil, Ia harus tinggal terpisah dengan ayahnya. Meski begitu, Peter tak pernah kurang kasih sayang dari ayah dan ibunya. 

Peter dikenal sebagai "Si laba-laba". Ini disebabkan karena Peter meyampaikan cerita tentang laba-laba dan damar di depan kelas. Juga, ketika Ia dewasa "Si laba-laba" makin melekat pada Peter sebab Peter suka mrmbuat cerita dan cerita-cerita itu membuat jaringan seperti benang laba-laba. Jaringan itu adalah Writer's Aid, jalan keluar bagi penulis-penulis putus asa.

Peter pandai mengarang cerita tapi Ia tidak pernah menyangka jika suatu hari Ia akan terjebak dalam cerita karangannya sendiri. Ia tentu tak pernah mengira Panina Manina, seorang putri sirkus akan keluar dari dunia yang Ia buat dan mengajaknya mandi di air terjun. Sayangnya, Ia terlanjur membiarkan gadis itu membangkitkannya sekaligus membunuhnya di waktu yang sama.

Peter, Dilahirkan oleh Posmodernisme

Princess of Tales berlatar kehidupan Peter dari masa Ia anak-anak hingga lanjut usia. Pada pertengahan hingga akhir abad ke-20. Pada masa itu, di Eropa muncul kritik terhadap modernisme yang dianggap gagal. Di saat yang bersamaan pemikiran posmodern keluar kandang dan menyoraki absolutisme kebenaran khas aliran modernisme.

Peter adalah seorang yang spiritualis. Menurutnya, kehidupan pascamodern tidak lebih dari taman bermain. Tidak menjamin kesenangan apapun setelah taman itu tutup. Pun begitu dengan peradaban pascamodern, menurutnya kehidupan seperti itu akan mengeliminasi kehormatan manusia setelah Ia meninggal. Peter tidak setuju dengan itu. 

Peradaban pascamodern memang rumit. Pascamodern menjadikan manusia sebagai pusat kebenaran. Artinya, kebenaran adalah bagaimana manusia itu memaknainya. Hal ini berarti, kebenaran bernilai relatif, tidak mutlak seperti yang ditawarkan agama dan ilmu pengetahuan pada masa sebelumnya. Tapi Peter juga matrialistis. Dualisme sifat manusia yang mungkin kita dapati dalam satu jiwa. Tentu tidak mustahil bagi Gaardner untui membuat tokoh sekacam itu. Peter tidak liyan, kita bisa menemuinya di rumah, sekolah, gedung pemerintahan, di mana-mana. Menurutnya, di antara bangunan-bangunan itu terdapat jembatan yang menghubungkan. Tidak menyatukan tapi menghubungkan. 

Di awal, alur cerita dibangun dengan berat sehingga sulit untuk diikuti dan sedikit membosankan.  Meskipun begitu, Gardner berhasil membangun cerita dengan renyah. Plot dikembangkan dengan kuat. Seperti biasa, cerita diakhiri dengan memukau. Dengan anggun, Gaarner mampu menyeret pembaca untuk menikmati nestapa Peter. Itulah ciri khas dan kekuatan tulisan-tulisan Gaardner selain nilai-nilai cerita yang kaya.

Princess Of Tales menantang kita untuk menyelami kehidupan lebih dalam dan lebih dalam lagi. Saya tidak akan katakan novel ini adalah tulisan yang ringan tapi juga bukan cerita yang berat untuk bacaan filsafat. Saya sarankan untuk tidak membaca karya ini bila usia kalian masih dalam kategori anak-anak. Saya tegaskan ini adalah cerita imajinatif untuk orang dewasa. Di dalamnya berisi konten dewasa meskipun dikemas dengan sopan. Selebihnya, siapapun kalian bacalah ini. Tulisan ini sarat akan nilai kehidupan dan penghidupan.


Judul                : Orang-Orang Biasa
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit           : PT Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama
Tahun              : Februari 2019
Tebal               : xii + 300 halaman; 20,5 cm
ISBN               : 978-602-291-524-9
Harga              : Rp89.000,00


            Mereka yang ingin belajar, tidak bisa diusir. Sebuah kalimat ini sebenarnya telah mewakili seluruh isi dari novel ini. Selama 15 tahun pengembaraan di dunia kepenulisan, akhirnya Andrea Hirata berhasil menerbitkan novel ke-10 nya yang berjudul “Orang-Orang Biasa (Ordinary People)”.
            Tidak jauh berbeda dengan karya sebelumnya, Hirata masih dengan temanya mengenai orang-orang marjinal khususnya ketidakadilan pendidikan di Indonesia. Novelnya bermula dari kegagalan penulis dalam memperjuangkan hak seorang anak untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama. Mengenai sosok bernama Putri Belianti bercita-cita untuk masuk di fakultas kedokteran di Universitas Bengkulu.
Berkat kegigihan dan kepandaiannya, Ia berhasil diterima di universitas tersebut. Namun, atas keterbatasan materi yang dimiliki Ia terganjal dalam masalah biaya. Bukan sebuah rahasia publik lagi bahwasannya tuntutan biaya dari fakultas kedokteran memang tidaklah sedikit. Di Indonesia khususnya, fakultas tersebut hanya dapat dimasuki oleh masyarakat dari kalangan atas. Kepandaian masih kalah dibandingkan dengan kekayaan.
            Menyikapi adanya fenomena tersebut Hirata mencoba mengangkat ceritanya secara satire. Sindiran dikemas dengan bahasa yang satire dengan berbagai bumbu humor. Menariknya, unsur kriminal didalamnya dilakukan oleh orang-orang biasa yang sama sekali belum pernah melakukan kejahatan.
            Novel “Orang-Orang Biasa” merupakan jenis Caper Story (fiksi kriminal dengan tokoh protagonis sebagai pelakunya). Bermula dari perkumpulan sepuluh orang yang berniat merampok sebuah bank. Kesamaan misi dalam memperjuangkan hak Putri Beliantilah yang memperkuat tekad mereka.
Sorotan utamanya mereka bersepuluh adalah orang-orang biasa, lugu, dan polos yang belum pernah merampok. Sehingga berbagai cara unik atas kepolosan mereka menjadi daya tarik tersendiri. Rencana-rencana unik nan konyol memancing interaksi dari pembacanya untuk tertawa geli.
Dilihat dari sampulnya, warna kuning dan hitam terlihat sangat mencolok. Hal tersebut dapat menjadi daya tarik untuk menarik calon pembaca. Selain itu, judul buku sengaja dibuat timbul guna meminimalisir tindak pembajakan. Walaupun cukup tebal, namun novel ini masih terbilang ringan untuk dibawa.
Diksi yang digunakan penulis dalam bercerita berhasil membawa pembaca seakan merasakan kejadian secara langsung. Namun alurnya sedikit terbelit-belit, penggambaran beberapa situasi dituliskan secara random. Tentunya hal tersebut menyusahkan orang-orang yang menyukai alur runtut dan searah.
Secara keseluruhan novel ini sangat direkomendasikan bagi para novel addict. Karya ini dapat menjadi momentum yang tepat dalam mengkritisi ketidakadilan di dunia pendidikan. Andrea Hirata berhasil membawa pembacanya untuk masuk ke dalam ceritanya secara langsung.




Penulis merupakan seorang mahasiswi kelas kreatif di salah satu universitas ternama di Yogyakarta.
Chika Amazella Subekti




Judul                     : Pembunuhan di Teluk Pixy
Judul Asli             : Evil Under The Sun
Penulis                 : Agatha Christie
Penerjemah          : Joyce K. Isa
Editor                    : Lanna Puspitasari
Sampul                 : Staven Andersen
Tahun Terbit      : Cetakan Pertama Juni 1941, Cetakan kedelapan Februari 2019
Jumlah Halaman : 312
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Arlena Marshall yang bertubuh menggiurkan, berwajah cantik, dan berambut tebal merah menyala tampak sangat mencolok di antara para penghuni Hotel Jolly Roger di Pulau Penyelundup. Beberapa hari kemudian ia ditemukan tewas tercekik di salah satu pantai pulau itu. Siapakah yang membunuh Arlena si perayu ?

Hercule Poirot, yang sedang berlibur di tempat tragedi ini terjadi, bersedia mengorbankan liburnya untuk mencoba mengungkap kasus yang membingungkan ini.     

Agatha Christie adalah ratu novel kriminal. Setiap bukunya selalu memberikan pengalaman yang mengesankan bagi pembacanya. Hercule Poirot dan Miss Marple adalah dua tokoh detektif populer yang ia ciptakan. Dalam setiap bukunya, kita akan dibawa berpetualang, seakan kita berada di dalam kisahnya dan mengantar kita untuk ikut mengungkap kasus bersama sang detektif. Seperti halnya kisah detektif pada umumnya, ketika seorang detektif datang ke sebuah tempat baru, akan ada tragedi di tempat itu. Pembunuhan di Teluk Pixy (Evil Under The Sun) menceritakan tentang liburan Hercule Poirot yang berubah menjadi pengungkapan misteri kematian salah seorang tamu di Hotel Jolly Roger. Arlena Marshall, wanita berparas cantik dengan rambut tebal berwarna merah menyala, istri dari Kapten Kenneth Marshal yang kaya raya, ditemukan tewas di salah satu pantai dekat Gua Pixy. Tubunya tergeletak lemas dengan bekas cekikan di lehernya. Kuat dugaan ia dibunuh oleh tamu hotel lainnya. 

Pada awalnya, kita diantarkan dengan kisah dari masing-masing tamu Hotel Jolly Roger. Mulai dari suami-istri Gardener, sang istri yang suka mengoceh dan suami yang penurut, Christine Redfern seorang istri yang baik hati, Patrick Redfern, suaminya yang tampan dan pemain perempuan yang terpikat kecantikan Arlena Marshall, Kenneth Marshall suami Arlena yang kaya raya nan angkuh, Rosamund Darnley penjahit terkenal, teman lama Kenneth Marshall, Linda Marshall anak gadis Kenneth dari pernikahan sebelumnya yang membenci ibu tirinya, sampai seorang pendeta, Stephen Lane yang misterius. 

Patrick Redfern adalah pemuda tampan dengan tubuh atletis, suami dari Christine Redfern, seorang istri baik hati yang amat mencintai suaminya. Patrick terpikat akan kecantikan Arlena sang perayu. Hubungan gelap mereka berdua menjadi bahan omongan tamu hotel lainnya. Bahkan saat Arlena ditemukan tewas, Patrick lah yang terlihat lebih terpukul. Ia adalah salah satu dari dua orang pertama -bersama Emily Brewster - yang pertama kali menemukan tubuh Arlena tergeletak di bibir pantai. Wajahnya pucat dan terlihat kesedihan dari mata pria tampan itu.

Hercule Poirot yang bijaksana, bersama kepolisian setempat mencoba mengungkap kasus yang membingunkan ini. Sempat menemui jalan buntu, namun kasus ini dapat dipecahkan dengan metode unik ala Hercule Poirot, yakni “piknik”.

Kata-kata dalam buku ini akan membangkitkan Theater of Mind  serta imajinasi kita. Kita diajak untuk membayangkan bagaimana kejadian yang terjadi di Hotel Jolly Roger. Kisah setiap tokoh dijelaskan dengan rinci, lewat narasi tokoh lain dan penjelasan langsung. Kita akan dibuat simpatik dengan tokoh Linda Marshall, yang pemalu serta Christine Redfern yang selalu dikaitkan dengan pembunuhan ini. Atau Rosamund Darnley, teman lama Kenneth Marshall yang sepertinya masih memiliki perasaan untuk Kenneth.

Secara keseluruhan, buku yang terbit pertama kali pada tahun...... , bisa dibilang sempurna dalam beberapa aspek. Namun penceritannya sedikit agak membingungkan, banyaknya tokoh, serta narasi yang coba dibangun cukup membingungkan. Latar belakang beberapa tokoh tidak digali secara dalam dan mungkin akan membuahkan beberapa tanya. Tetap saja, buku ini adalah salah satu buku Agatha Christie dengan kisah twist ending yang cukup bagus.



Urip iku wang sinawang demikian kata pepatah jawa dalam pemaknaan hidup yang diyakini masyarakat jawa, bahwa kehidupan seseorang yang kita lihat selalu lebih indah dari kehidupan kita, namun nyatanya tak seperti yang kita bayangkan. Seseorang yang biasa terlihat ceria setiap harinya kadang hanya berpura-pura menggores senyum diatas lukanya. terkadang kita masih tega untukk bertanya kepada diri sendiri “mengapa aku tak bahagia seperti dirinya?” padahal “dia” yang kau maksud itu batinnya sedang tersiksa, terluka parah, menangis, dan ingin hilang saja dari planet yang kata orang bulat dan sebagian mengatakan datar.


Judul                   : This Is Why I Need You
Penulis                : Brian Khrisna
Penerbit              : Mediakita
Tempat Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit        : 2019
Cetakan              : Pertama
Jumlah Halaman: 592 Halaman
ISBN                   : 978-979-794-577-0
Harga                  : 126.500.00

Sebuah novel yang bercerita tentang alur kehidupan yang tak selamanya menyesakkan dada namun pasti bertemu pelangi yang entah kapan akan terjadi. Merupakan kisah dua manusia yang dipertemukan oleh luka dan disatukan oleh takdir, dimana ketidak sempurnaan menjadikan mereka untuk saling melengkapi, saling mengisi sela jari setelah sekian lama kosong dan menanti. Ryan, teman-teman biasa memanggil namanya dengan sebutan “ian” seorang mahasiswa sederhana, berbadan tinggi, tegap dan berisi dikenal sebagai sosok lelaki ramah yang tampan dan suka membantu siapapun ditengah kesulitannya menjalani kehidupan yang penuh tuntutan dan tekanan. Ia adalah owner sekaligus pelayan disebuah bar. Kehidupan malam tak asing lagi baginya.  Ia juga merupakan pemilik sebuah kos puteri titipan ibunya. Kehidupannya terus berjalan dengan membosankan, teman - temannya menganggapnya sebagai sosok yang tak pernah marah ataupun bersedih. Ia dikenal sebagai laki-laki yang kuat dan tahan banting. Hingga suatu hari ia dipertemukan oleh sesosok wanita yang membuat hidupnya semakin sulit.

Lifana. Adalah nama dari sosok perempuan yang ia temui secara tak sengaja yang membuat hidupnya berantakan. Lifana yang saat itu sedang kacau, memilih untuk mencari ketenangan di sebuah bar yang ternyata bar tersebut milik ryan. Disanalah awal pertemuan mereka dua manusia yang dipertemukan oleh luka. Saat itu lifana yang sedang tertunduk lesu tanpa kata dan memilih untuk mabuk sebagaipelampiasan atas masalah yang dialaminya. Dibalik itu ryan yang hanya bertugas melayani pesanan justru ikut merasa khawatir dengan lifana sebab ryan tahu ciri-ciri seseorang yang baru menjajal minuman beralkohol. Jika dibiarkan ia akan tepar dan tidak fokus menyetir saat perjalanan pulang. Hingga pada akhirnya ryan mengantar lifana untuk pulang. Semenjak kejadian itu ryan tahu bahwa cewek yang dia antar pulang semalam ternyata satu kampus hanya saja berbeda fakultas, ryan fakutas psikologi, sedangkan lifana fakultas kedokteran. Ryan sebisa mungkin menghindari lifana sebab ia merasa sangat direpotkan atas kehadiran lifana. Ditambah lagi masalalu ryan yang begitu memberi luka mendalam membuatnya sulit intuk menerima kehadiran orang baru di hidupnya. Namun sebaliknya, lifana justru sangat ingin bertemu dengan ryan untuk mengucapkan terima kasih atas pertolonga ryan saat lifana dalam keadaan mabuk. Hingga pada akhirnya lfana berhasil menemui ryan. Dan hubungan mereka menjadi sedikit lebih akrab. Di mata lifana, ryan adalah sosok yang tegar, kuat, peberani dan selalu ada ketika dia butuh. Dan ryan menganggap lifana seperti pengganggu dalam hidupnya hingga suatu ketika lifana dengan segaja untuk memilih tinggal di  kos putri milik ryan agar bisa lebih dekat dengannya. Awalnya ryan menolak, namun karna cerdiknya lifana akhirnya ryan menerimanya. Namun ryan meminta agar lifana tak lagi mengganggu hidupnya dan tidak ingin dilibatkan dalam segala urusan lifana. Saat ryan mengatakan itu semua betapa hancur hati lifana, ia sangat sedih dan kecewa, sebab selama ini ia tak memiliki siapa-siapa dan hanya ingin berteman baik dengan ryan namun yang ia dapat adalah penolakan. Ia menangis sejadi-jadinya di depan ryan sembari menceritakan masalah yang sebearnya ia alami. Mendengar semua masalah yang lifana alami, ryan menjadi merasa bersalah dan tidak tega sebab ia juag pernah berapa pada posisi lifana. Akhirnya saat itu ryan berjanji untuk selalu ada bersama lifana sebagai teman. Meski begitu, sikap ryan yang cuek dan acuh tak pernah hilang dan membuat lifana penasaran sebenarnya ada apa dengan ryan. Berbagai kejadian yang mengejutkan tentang ryan telah lifana alami dan membuat lifana bingung sebenarya ada apa dan apa yang disembunyikan ryan?  Karena selama ini ryan terlihat baik-baik saja dan seperti tanpa beban.

Terkadang apa yang kita lihat baik-baik saja juga tak harus sesuai ekspektasi kita. dari novel This Is Why I Need You ini banyak pelajaran yang bisa dipetik. Dibalik ryan yang selalu semangat, ceria, suka membantu, ternyata memiliki masalalu yang sangat membuat sebagian orang kaget dan tidak bisa menerima namun ada sebagian yang sangat bisa menerima masalalu  ryan, kini lifana tahu mengapa selama ini ryan bersikap apatis namun sesungguhnya sangat peduli dengannya. lifana adalah satu dari sebagian teman-teman ryan yang hadir namun tidak untuk pergi. Banyak hal-hal kelam yang dialami ryan dan tidak semua orang mengetahuinya. Begitupun dengan lifana. Banyak orang yang tidak tahu sekeras apa lifana berjuang menghadapi semua cemoohan orang sendirian dan tetap berusaha tersenyum walaupun tak seorangpun  orang yang mau berteman denganya.

Ryan dan Lifana dua manusia yang akhirnya saling mengisi, saling menutup luka dan saling jatuh hati. cinta mereka lahir dari rasa sakit yang menemukan obatnya. Ryan adalah obat untuk Lifana, dan Lifana adalah obat untuk Ryan.

“URIP IKU WANG SINAWANG apapun yang terlihat indah tak selamanya sesuai yang kita bayangkan”


Novel ini sebaiknya direkomedasikan untuk 18+ sebab alam novel karangan Brian Khrisna tersebut terdapat bagian-bagian romantis yang memasukkan unsur sensual seperti berciuman, having sex, minum-muniman beralkohol, dll. kelebihan dari buku ini ialah plot twist dalam cerita yang sangat tidak terduga. Membuat pembaca bertanya-tanya sebenarnya konflik apa yang ingin ditampilkan dalam novel tersebut. Buku ini membawa kita masuk kedalam imajinasi tentnag hal yang tabu dan tidak mudah diterima oleh semua kalangan namun setelah membacanya, novel ini sedikit banyak membuka pandangan kita sebagai pembaca tentang bagaimana penggambaran orang-orang yang sedang mengalami depresi hampir mati karena masalah yang membelit dan tak ada teman untuk berbagi. Selain itu pembaca juga diajak untuk paham dengan keadaan sosial yang tidak selamanya bisa ditetukan oleh ego kita sendiri. Lingkungan sosial adalah milik semua orang yang ingin bersosialisasi baik itu orang normal, disabilitas atau kelainan jiwa. Semua memiliki hak yang sama untuk bergaul dengan siapapun dan dilingkungan sosial manapun.

Sekilas resensi yang disajikan oleh penulis tidak lebih dari sekedar meghibur, dan memberi pengetahuan praktis tentang isi dan sekilas makna dari novel yang berjudul “This Is Why I Need You”, selain itu novel karya Brian Khrisna tersebut juga sekaligus memberi nasihat tersirat jika hidup tak selamanya diatas, tersenyum bukan berarti selalu bahagia, dan marah bukan berarti menyerah, menangispun tak selalu lemah.

Penulis : Jihan Arrifa M/16419141012



Resensi Novel Persimpangan
Novel Persimpangan ini diangkat dari kisah seorang lelaki yang berprofesi sebagai jurnalis dari majalah Halo sekaligus seorang sastrawan yang akhirnya mengajukan diri untuk keluar dari Halo karena majalah Halo cetak tutup dan beralih ke platform online dan melakukan perjalanan melupakan kehilangan karena dirinya bercita-cita ingin menjadi jurnalis yang hebat di majalah Halo yang semenjak kecil sudah Ia impi-impikan dan tulisannya yang terakhir tidak jadi rilis dikarenakan tidak disetujui oleh pemimpin redaksi karena masalah financial perusahaan tersebut pada masa krisis nya. Padahal tulisan terakhirnya sangat berkesan karena dirinya mewawancarai seorang artis cantik yang baru saja menorehkan prestasi bermain film di Perancis dan berhasil memenangkan festival film di negeri yang serba romantic itu. Dengan Ariani Molita seorang Habel jatuh cinta, namun perasaan tersebut berubah seiring dengan kekecewaan Habel si mantan jurnalis majalah Halo keluar dari perusahaan. Dengan pikiran yang matang dan masukan dari seorang sahabatnya yang bernama Cacik dan Redaktur senior yang ada di majalah Halo yang ia anggap sudah seperti orangtua nya sendiri yang biasa ia sebut dengan sebutan sang legenda. Habel memutuskan untuk pergi dari Jakarta dan pergi ke arah Timur hingga sampai ke Indonesia Timur, Habel sudah mempersiapkan uang yang cukup setelah menjual motor kesayangannya yang bernama si Nero yaitu Suzuki Inazuma kepada sang legenda.
Singkat cerita sesampainya Habel di Jawa Tengah tepatnya di kota Semarang, Habel bertemu dengan penulis senior sekaligus sastrawan top Indonesia, yang dengan ketidaksengajaan bertemu dengannya di bumi Perkemahan yang kebetulan penulis senior tersebut menjadi narasumber dalam sebuah acara tahunan yang bertempat di bumi perkemahan di daerah kota Semarang. Singkat cerita si penulis tersebut cerita masa lalunya tentang desa di bumi perkemahan tersebut, Habel dimintai tolong untuk menemukan kerangka almarhum ayah dari seorang penulis senior tersebut dan alhasil Habel berhasil menemukan kerangka ayah dari si seorang penulis senior. Lalu Habel melanjutkan perjalanannya ke Bali dan disana mendapatkan banyak sekali cerita dengan kenalan kenalan barunya dan menyelesaikan masalah yang terjadi di kota Bali yang berhubungan dengan pacuan kuda dan alhasil Habel pun berhasil menaklukannya dengan percaya diri dan akhirnya Habel pun dapat melanjutkan perjalanannya ke Indonesia Timur dengan tenang bersama sahabat barunya yang berkenalan di kota Bali. Intinya novel Persimpangan ini layak banget untuk dibaca karena didalam novel ini banyak hal baik yang bersangkutan dengan kehidupan yang dapat dipetik dan diambil hikmah nya. Tentang arti perjuangan, cinta, menolong sesama dan passion. Novel persimpangan ini memiliki tema “Perjuangan hidup melakukan perjalanan melupakan kehilangan dengan passion” berlatar tempat di kota Jakarta, Semarang, Bali, Nusa Tenggara Timur.
Berlatar waktu pagi, siang, sore, malam dan berlatar suasana mengharukan, menyedihkan dan menyenangkan. Beralur maju, memiliki gaya bahasa yang mudah untuk dipahami dan terkadang penulis menyelipkan sajak yang istimewa agar menonjolkan bahwa novel ini adalah karya seorang penulis sekaligus seorang sastrawan. Dalam novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, dan tentunya memiliki amanat, mempelajari arti kehidupan, bahwa hidup itu adalah pilihan dan kita harus bisa menerima konsekuensi nya dan mengajarkan passion dapat memberimu semangat dalam hidup dan jika ditekuni maka kesuksesan akan datang dengan sendirinya pastinya dengan usaha dan doa. Kekurang dalam Novel ini, covernya terlalu simpel dan kurang menarik dan endingnya kurang gereget karena sudah dapat ditebak bahwa si Habel akan melanjutkan. perjalanannya hingga menyusuri Indonesia Timur. Kelebihan dalam Novel ini, bahasa nya menarik, ceritanya dapat mengambil emosi pembaca dan tentunya banyak amanat yang dapat dipetik oleh para pembaca, ada karya sastra yang sangat apik dan menarik di dalam novel Persimpangan dan ceritanya sangat menarik dan bagus, sangat recommend bagi anak muda yang suka membaca.


Twista Gilang Ramadhan
16419144014


Judul: Kami (Bukan) Sarjana Kertas
Penulis: J.S. Khairen
Penerbit: PT. Bukune Kreatif Cipta
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: Februari 2019
Cetakan: Pertama
Tebal buku: 362 Halaman
ISBN: 978-620-220-304-9

Harga Buku: Rp 88.000,00



Sinopsis
               Di Kampus UDEL, terjebaklah tujuh mahasiswa yang hidup segan kuliah tak mau. Mereka terpaksa kuliah di kampus yang google saja tak dapat mendeteksi. Cobalah sekarang Anda googling "Kampus UDEL", takkan bertemu!

               Alasan mereka masuk UDEL macam-macam. Ada yang otaknya tak mampu masuk negeri, ada yang orangtuanya tak cukup masuk swasta unggul, ada pula yang karena.... biar kuliah aja.
              
               Hari pertama kuliah, Ibu Lira Estrini dosen konseling yang masih muda menggemparkan kelas dengan sebuah kejadian gila, lucu dan tak masuk akal. Ia membawa sekotak piza dan koper berisi tikus. Seisi kelas panik, tapi anehnya, semangat para mahasiswa buangan ini justru terbakar untuk berani bermimpi!

Akankah mereka bertahan di kampus amburadul ini ?
Sekalipun iya, bisakah mereka jadi sarjana yang tidak sekadar di atas kertas?


Kami (Bukan) Sarjana Kertas merupakan buku novel yang menceritakan tentang perjuangan menggapai mimpi agar tidak sekadar lulus, lalu menjadi sarjana kertas. Ijazah–yang merupakan selembar kertas penanda kelulusan–tidak dapat menjadi indikator kesuksesan seseorang. Skill dan minatlah yang mengarahkan kita pada kesuksesan lewat sebuah mimpi.

Berkisah tentang perjalanan hidup tujuh orang mahasiswa kampus UDEL (Universitas Daulat Eka Laksana), buku ini layaknya sebuah fakta kehidupan mahasiswa dalam dunia perkuliahan . Ogi, Randi, Arko, Gala, Juwisa, Sania, dan Cath merupakan para tokoh yang nasib serta kisah hidupnya dituangkan dalam buku Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Di kampus UDEL– dengan stereotip kampusnya yang negatif–mereka berjuang bersama mencapai mimpi besarnya dengan berbagai macam hambatan dan cobaan yang menanti.

Sebagai buku bergenre fiksi, J.S. Khairen berhasil menggaet minat pembaca untuk terus membaca ceritanya sampai tuntas dengan cepat. Pada buku Kami (Bukan) Sarjana Kertas, ia menyampaikan maksud yang ingin ia sampaikan lewat tokohnya dengan baik. Pembaca di ajak untuk ikut merasakan suka duka para tokoh hingga terbawa oleh cerita tersebut.

Buku ini bercerita seputar kehidupan mahasiswa dengan alur maju yang sistematis. Alur yang maju membuat pembaca semakin mudah dalam memahami setiap cerita. Masalah dijelaskan secara umum, lalu terjadi konflik dan muncul solusi yang kemudian ada penyelesaian konflik. Di buku kami (bukan) sarjana kertas, pengarang mengangkat ide utama seputar mimpi dan perjuangan. Setiap orang dikatakan memiliki proses panjang dalam menggapai mimpi yang ia cita-citakan. Hal itu tergambar dalam cerita dimana awal mula tokoh menuliskan mimpinya dan berjanji untuk setia mencapainya di kemudian hari.

Bicara tentang sebuah karya tulis–buku–pasti ada poin yang menjadi kelebihan maupun kelemahan. Tak terkecuali untuk buku Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Pada buku ini, J.S Khairen berhasil menampilkan cerita perjuangan para mahasiswa tersebut dengan apik. Selain itu, struktur penulisan ceritanya tersusun dengan rapi sehingga membuat pembaca senantiasa mudah dalam mencerna cerita. Buku ini juga menjadi sangat berkaitan erat dengan para kaum mahasiswa atau yang pernah menjadi mahasiswa. Selain itu, Secara fisik, buku Kami (Bukan) Sarjana Kertas menggunakan sampul berupa softcover dan bahan kertas khusus buku sehingga terasa ringan walaupun dengan halaman yang cukup tebal.

Di sisi lain, buku ini memiliki kelemahan walaupun tak sebanding dengan kelebihannya. Kami (Bukan) Sarjana Kertas belum menyajikan cerita yang konkrit dan jelas. Ada beberapa bagian cerita yang sepertinya tak ada titik temunya dan dilupakan begitu saja tanpa keberlanjutan yang jelas. Eksplor para tokoh pun dinilai belum seimbang. Selain itu, ada beberapa permasalahan atau konflik yang dapat dengan mudah menemukan jalan keluar, proses menuju penyelaesaian cerita menjadi lebih mudah ditebak. Meskipun begitu, buku ini layak menjadi pilihan.

Informasi dalam buku ini disajikan dengan cakap. Penulis menuliskan cerita dengan gaya bahasa yang santai dan ringan tanpa penggambaran dan kiasan yang rumit. selain itu, cara penyampaian ini terbukti dapat menjadi hiburan yang di sisi lain dapat memberikan wawasan atau pandangan baru mengenai makna kehidupan, khususnya di perkuliahan, mahasiswa dan menjadi sarjana.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi para remaja khususnya mahasiswa atau yang baru akan menjadi mahasiswa. Penulis buku ingin menyampaikan sebuah pesan lewat cerita ini, yaitu jangan mudah menyerah dalam menggampai mimpi. Berdasarkan itu, ada salah satu kutipan pada Kami (Bukan) Sarjana Kertas yang mengajak kita mengejar mimpi:

“jadilah anjing yang setia, anjing yang menyalak untuk impian! Untuk impian teman-teman kalian! Membantu orang menghidupkan mimpinya, akan membantu kita sendiri pula kelak. Seperti anjing, ada saat untuk menyalak, ada saat untuk jinak. Ingat! Setia pada impian!.”



Judul: The Kudryavka Sequence
Pengarang: Yonezawa Honobu
Penerbit: Haru Media
Tempat Terbit: Surabaya
Tahun Terbit: 2019
Cetakan: Pertama, Januari 2019
Ukuran: 19 cm
Jumlah Halaman: 392 hlm
ISBN: 978-602-52972-2-9
Harga: Rp. 91.000,00

Sampul novel The Kudryavka Sequence, seri ketiga Hyouka

Festival Budaya SMA Kamiyama akhirnya tiba. Setelah berhasil memecahkan arti Hyouka dan membuat antologinya serta membantu kelas 2-F memecahkan akhir film, Klub Sastra Klasik yang beranggotakan Oreki Hotaro, Fukube Satoshi, Chitanda Eru, dan Ibara Mayaka dapat membuka stan mereka saat Festival Budaya SMA Kamiyama. Tentu saja stan mereka bertempat di Ruang Geologi yang berada di Gedung Khusus Lantai 4.

Masalah yang berkenaan dengan Hyouka kembali datang. Bukan perkara arti dan isinya seperti cerita di buku seri pertama, sekarang mereka diharuskan menjual antologi Hyouka yang salah cetak. Bukan salah cetak akibat kesalahan penulisan tetapi kesalahan dalam memesan jumlah cetakan. Harusnya antologi Hyouka hanya akan dicetak 30 kali tetapi kenyataannya Hyouka dicetak sebanyak 200. Mayaka yang bertugas untuk mencetak Hyouka merasa bersalah karena kekeliruannya. Jumlah cetakan antologi Hyouka tertukar dengan jumlah cetakan poster milik Klub Manga. Sebetulnya hal ini juga bukan kesalahan Mayaka sepenuhnya. Pihak percetakanlah yang salah memahami perkataan Mayaka.

Klub Sastra Klasik diharuskan untuk menjual habis antologi Hyouka. Sebab mereka harus menutupi biaya yang dikeluarkan untuk produksi Hyouka. Keempat anggota akhirnya berbagi tugas. Masing-masing harus menemukan cara untuk menjual habis Hyouka. Namun, walau begitu tetap saja harus ada yang menjaga stan. Memiliki motto terkenal “tidak akan melakukan sesuatu yang tidak harus dilakukan. Namun, jika hal tersebut harus dilakukan, kerjakan dengan praktis” atau hemat energi, Oreki Hotaro mengajukan diri untuk menjaga stan.

Ternyata menjual 200 Hyouka yang diberi harga 200 yen tidaklah mudah. Beruntung saat Festival Budaya SMA Kamiyama terjadi kasus pencurian. Sang pencuri mencuri barang milik beberapa Klub yang ada di SMA Kamiyama. Pencurian ini sangat menarik karena pencuri memang merencanakan aksinya. Pencuri mengaplikasikan urutan Pembunuhan ABC karya Agatha Christie. Hanya saja memang sedikit dirubah menggunakan urutan abjad Jepang. Klub Sastra Klasik akhirnya memutuskan untuk memecahkan kasus ini guna batu loncatan menjual habis Hyouka.

Si pencuri kemungkinan besar adalah salah satu murid SMA Kamiyama. Artinya dia adalah salah satu dari seribu orang sebab jumlah murid SMA Kamiyama ada seribu. Satoshi sangat bersemangat bertugas sebagai detektif untuk menemukan si pencuri yang memiliki sepuluh huruf dalam namanya. Oreki Hotaro yang bermotokan hemat energi sebenarnya sangat berbakat dalam memecahkan misteri seperti yang sudah diceritakan pada seri Hyouka pertama (Hyouka) dan kedua (Credit Roll of The Fool). Bagaimanapun juga Hotaro harus turut andil dalam menjual habis Hyouka. Sesuai dugaan, Hotaro berhasil memecahkan kasus ini, Hyouka pun habis terjual tak bersisa.

Seperti pada seri buku sebelumnya yaitu Hyouka dan Credit Roll of The Fool, Yonezawa Honobu kembali mengusung misteri dalam seri ketiga. Namun, tokoh utama pada seri ketiga ini sangat berbeda dan cukup unik sebab tokoh utama bukanlah tokoh yang hidup dalam novel. Artinya, Yonezawa Honobu memilih objek mati sebagai tokoh utama dalam seri ketiga ini. Festival Budaya SMA Kamiyama lah yang menjadi tokoh utama dalam The Kudryavka Sequence. Yonezawa Honobu menggunakan sudut pandang keempat anggota Klub Sastra Klasik untuk menonjolkan si tokoh utama.

The Kudryavka Sequence merupakan buku ketiga dari seri Hyouka yang diterbitkan pertama kali pada tanggal 30 Juni 2005 di Jepang. Novel ini baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia belum lama ini dan berhasil diterbitkan di Indonesia pada Januari 2019 lalu. Di Jepang kelima seri telah berhasil diterbitkan. Hal ini berarti perlu beberapa waktu lagi untuk mendapatkan seri Hyouka ke empat dan ke lima versi bahasa Indonesia.

Yonezawa Honobu lahir pada tahun 1978. Dia pernah mendapatkan penghargaan Mystery Writers of Japan Awards dan Shugoro Yamamoto Prize. Mystery Writers of Japan Awards merupakan penghargaan yang diberikan kepada karya fiksi misteri terbaik. Panitia seleksi terdiri dari penulis dan kritikus terkemuka. Penghargaan ini dianggap sebagai penghargaan paling bergengsi di kalangan misteri Jepang. Sedangkan, Shugoro Yamamoto Prize adalah penghargaan yang didirikan pada tahun 1988 oleh Perusahaan Penerbit Shinchosa untuk mengenang penulis populer Shugoro Yamamoto (1903-1967).

Yonezawa Honobu dikenal berkat seri Hyouka atau yang dikenal sebagai seri Klub Sastra Klasik di Jepang. Bahkan berkat kesuksesan ketiga seri Hyouka dikalangan pembaca novel misteri, akhirnya novel seri Hyouka ini juga di adaptasi ke dalam bentuk manga dan tv series. Hyouka versi manga di buat oleh seniman dan illustrator manga, Task Ohna, yang diterbitkan di majalah Shanon Ace edisi Maret 2012. Sedangkan tv series Hyouka di produksi oleh Kyoto Animation dalam bentuk anime. Tak cukup sampai disitu saja, live action Hyouka juga sudah ditayangkan secara serentak di Jepang pada 2017 lalu.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi para penikmat novel misteri. Terlebih lagi yang sudah membaca karya-karya Agatha Christie. Sebab dalam setiap serinya dari satu sampai ketiga, Yonezawa selalu membawa-bawa karya Christie dalam cerita karyanya. Walau pada seri kedua secara langsung dia berkata pada sesi Kata Penulis bahwa seri kedua ia tulis sebagai penghormatan “Kasus Cokelat Beracun” karya Antony Barkeley dan sama sekali tidak ada kaitan dengan Agatha Christie. Sedangkan pada seri ketiga ini, Yonezawa benar-benar menuliskan “mengotak-atik Pembunuhan ABC karya Christie”. Sering juga dia membawa karya besar Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes, pada cerita karyanya.

Identitas peresensi: Nufasah Umri Hafifah - 16419141044