Khianat

PROLOG

Musik adalah hidup, apalagi untuk Rene. Ia adalah seorang musisi yang cukup produktif di tahun 2035 yang bergerak dalam genre Thrash Metal. Bisa ditebak ia terpengaruh band-band Barat seperti Megadeth dan Metallica yang berfokus pada genre tersebut. Memang genre tersebut tidak begitu populer di Negara Kesatuan Rakyat Iskandrium, namun berkat karyanya, ia telah menciptakan sebuah ruang komunitas yang dinamakan “the Underground” dimana karya seni , terutama musik yang dinilai merusak moral didengungkan , tempat para masyarakat marjinal berkumpul, serta konser-konser metal kecil yang menghentak dunia bawah tanah Distrik Pusat tiap dini hari hingga fajar tiba. Namun itu di tahun 2035 yang menjadi masa keemasan Rene bersama bandnya, Lintah Darat, yang beranggotakan empat orang itu. Masa itu adalah masa dimana suara Rene dan gitar listriknya yang menyihir, dentuman bass dari Tobi, hentakan snare drum Suryana, dan iringan ritme Ahsan dengan gitarnya, mampu menyihir para penonton berhentak-hentakan di konser Metal Bawah Kota yang legendaris pada masanya.

Namun sekarang, The Underground yang dulu menjadi “Paris-nya musik underground” itu sekarang bak kota hantu yang tak terurus. Tidak ada bedanya dengan saluran pembuangan tinja Distrik Pusat yang tengik nan gelap. Hal itu dikarenakan Revolusi Zurat yang menyita kebebasan berekspresi para seniman karena dianggap karya yang dipengaruhi iblis pada tahun 2040. Segala karya seni digantikan dengan hal yang dinilai mengagungkan Tuhan. Lukisan artistik digantikan dengan Lukisan yang mengagungkan agama, seperti potret Pendeta Tinggi Zurat atau pemandangan alam. Sedangkan musik hanya diperbolehkan satu genre musik tertentu yakni musik Religius. Tentunya, Thrash Metal dikecam pada masa “Iskandrium Zurat” ini. Bagaimana dengan nasib Rene bersama Lintah Darat, bandnya?

Adegan I (Rene, Tobi, Suryana, Ahsan)
Soundtrack: Suara ambience malam hari

Malam itu, Tobi, Suryana, dan Ahsan tengah duduk di teras rumah Rene. Mereka mendiskusikan suatu hal yang kelihatannya serius.

Ahsan: Kau gila ya, Ren?! Para militant itu akan memasung kau di lapangan seperti Oskar!
Rene: Tak usah bersikap paranoid, San. Aku hanya berguyon! Masa gitu aja bisa dipasung.
Tobi: Ye, Kamu tidak tau saja, Ren. Jika mereka menilai cuitan Twittermu itu merupakan penghinaan, habislah kau.
Rene: Dan mereka itu? Siapa?
Suryana: Zurat Cyber Army. Perpanjangan tangan dari Zurat si Sok Suci.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Suryana. Kecuali Ahsan.
Ahsan: Memang gila kalian! Bisa-bisa kita semua diburu oleh entah apa organisasi yang bekerja dalam naungan Zurat itu!
Suryana: Santai lah sedikit, San! Kau mungkin terlalu banyak melihat televisi hari ini. Kan sudah kubilang, jual saja televisimu untuk membetulkan gitarmu itu! Lagipula kita tidak butuh televisi. Benda itu hanya menayangkan propaganda-propaganda omong kosong saja!
Ahsan: Jika kujual televisiku, Bapak ku akan menghabisiku! Lagi pula gitarku tidak ada yang bisa memperbaiki dan siapa pula yang berani mereparasi gitar salah satu anggota Lintah Darat? Bisa dipasung dia dengan dalih membantu pemuja Iblis kembali menyiarkan propaganda satanik.
Mereka tertawa terbahak-bahak lagi mendengar lelucon Ahsan.
Rene: Itu baru Ahsan yang ku kenal!
Seketika teras rumah Rene hening. Ambience Jangkrik mulai muncul.
Tobi: Ah, Lintah Darat. Masa itu memang masa-masa kejayaan the Underground. (melihat keatas langit)
Rene: Sungguh masa yang tak bisa ku lupakan.
Mereka terdiam, mendengar teriakan jangkrik di gelap malam
Rene: Ingat ketika kita memainkan single pertama kita “Hipokrit’? Dan disaat itu pula Ahsan terjatuh dari panggung akibat para penonton naik dan moshing diatas.
Mereka Tertawa
Ahsan: Oh aku tidak akan pernah melupakan itu. Aku juga ingat Rene muntah-muntah akibat kebanyakan makan sebelum manggung.
Mereka tertawa lagi.
Suryana: Ah andai saja the Underground masih hidup.
Narator: Sungguh indah memori yang telah dikenang mereka, mereka terus mengenang kejadian-kejadian diatas panggung ketika mereka masih Berjaya hingga terdengar suara langkah kaki kerumunan dari depan pagar rumah Rene.

Adegan II (Hudar, Anak Buah Hudar, Rene, Tobi, Ahsan, Suryana)
(Suara langkah kaki kerumunan)

Hudar: Salam sejahtera! Kami mengingatkan bahwa 10 menit lagi akan dilaksanakan ibadah pagi. Mohon segera bergegas ke Rumah Perkumpulan terdekat! (Teriak dari depan gerbang)
Suryana: Ren! Militan di depan rumahmu!
Tobi: Waduh! Saya tidak mengenakan baju biru!
Ahsan: Ayo masuk!
Rene: Sial! Kalian masuklah! Biar aku yang tangani mereka.
Suryana, Tobi, dan Ahsan masuk kedalam rumah
Hudar: Salam Sejahtera! Kami akan masuk untuk memastikan bahwa kalian akan berangkat ibadah pagi. (Gerbang dibuka oleh Hudar, Terdengar langkah kaki mendekati teras rumah Rene.)
Hudar: Salam Sejahtera, saudara.
Rene: Salam Sejahtera. Ada apa ya?
Hudar: Saya Hudar komandan peleton satu, kesatuan patroli wilayah rumah tangga, dari Militan Rawana. Kami sedang melakukan patroli ibadah pagi untuk memastikan seluruh warga Distrik Pusat untuk beribadah di Rumah Perkumpulan. Apakah anda akan berangkat ke Rumah Perkumpulan?
Rene: I-Iya. Saya sedang bersiap-siap.
Hudar: Waktunya 10 menit lagi dan terus berkurang, lebih baik anda berangkat sekarang. Apakah ada orang lainnya di dalam rumah? Keluarga? Atau Teman?
Rene: Tidak. Saya tinggal sendiri dirumah ini.
Hudar: Baiklah, tetapi kami akan menjalankan prosedur untuk pengecekan mendalam sehingga kami harus masuk kedalam untuk memastikan.
Rene: (Berbicara dalam hati) Keparat!
Hudar: Anda bisa bergegas ke Rumah Perkumpulan terdekat sekarang.
Rene: Baik (Berjalan kaki keluar rumahnya)
Narator: Sementara Rene bergegas ke Rumah Perkumpulan di dekat rumahnya, Hudar membuka pintu rumah Rene dan mulai menggeledah tiap ruangan yang ada di rumah Rene. Rene pun khawatir akan keadaan teman-temannya.
Rene: (Berbicara dalam hati) Bagaimana ini, para keparat itu menggeledah rumahku! Semoga mereka berhasil mengumpat di ruang bawah tanah tepat wakti dan tidak ketahuan. Semoga mereka tidak melakukan tindakan bodoh.
Narator: Rene pun tiba di rumah perkumpulan. Seluruh tetangganya sudah hadir dan melingkari sang pendeta yang bertugas dalam menyampaikan ceramah rohaninya. Sementara Hudar, masih menggeledah rumah Rene.
Hudar: (Suara menggeledah rumah)
Anak Buah Hudar: Tuan, rumah sudah digeledah.
Hudar: Hmm, tetapi ada yang aneh disini. Aku mencium bau kopi disini.
Anak Buah Hudar: Apa perintah tuan selanjutnya?
Hudar: Kita akan kesini lagi besok, secara mendadak. Aku tahu pasti orang itu meminum kopi.
Anak Buah Hudar: Siap, Tuan!
Narator: Mereka pun bergegas keluar rumah Rene, hingga anak buah Hudar melihat seseorang di depan pagar rumah Rene.
Anak buah Hudar; Tuan! Ada laki-laki disana!
Hudar: Kejar dia! Dan seret dia ke rumah perkumpulan terdekat!

Adegan III (Rene, Ahsan, Suryana, Hudar, Anak Buah Hudar, Pendeta)

Narator: Hudar dan anak buahnya masih mengejar sosok laki-laki di depan rumah Rene. Sedangkan Rene sedang memperhatikan ceramah pendeta di Rumah Perkumpulan seperti tetangganya yang lain. Ia merasa cemas ketika ceramah pendeta saat itu membahas tentang musik dan dosa.

Pendeta: Saudaraku sekalian! Kalian tahu bahwa pada tahun 2035, merupakan masa kejayaan Iblis! Tahun 2035 merupakan masa dimana musik-musik menguasai pikiran pemuda, dan mereka menampilkannya di muka umum dengan dalih kebebasan berekspresi! Sungguh cerdik nan licik iblis-iblis itu!
Rene: (Berbicara dalam hati) Si tua keparat itu tidak tahu apa-apa tentang musik!
Pendeta: Pertama-tama saya ingin mengapresiasi kehadiran salah satu mantan musisi di tengah kita. Nyonya Rene dari komplek Tuangga.
Rene: Bagaimana dia tahu namaku?!
Pendeta: Saya yakin tuan Zurat  dan Tuhan telah memberi pencerahan untuk nyonya Rene agar bertaubat dan meninggalkan masa lalunya itu. Benar begitu nyonya Rene?
Narator: Seluruh mata menuju ke Rene. Ia merasa gugup sekaligus kesal. Didalam lubuk hatinya, ia tidak akan pernah mengkhianati karya-karyanya selama di the Underground. Namun jika ia ketahuan masih mencintai musik yang dianggap karya iblis itu, ia akan dipasung di Lapangan Pengakuan untuk ‘bertaubat’. Tentunya, tidak ada orang yang menginginkan hal tersebut.
Rene: Be-Betul!
Pendeta: Bagus, semoga tuan Zurat dan Tuhan memberkati anda, nyonya Rene. Mari kita lanjutkan ke cerita ayah Zurat dan hari kelahiran tuan suci kita, Pendeta Tinggi Zurat.
Narator: Sementara itu, Hudar dan Anak Buahnya sedang memikirkan bagaimana menangkap sosok lelaki itu.
Anak Buah Hudar: Tuan! Nampaknya mustahil untuk menangkapnya. Dia cepat sekali tuan!( terengas-engas kelelahan)
Hudar: Kita harus tangkap dia! Kita bagi dua tim. Kau dan yang lain kejar dia melalui jalur barat. Sisanya bersamaku, kita kejar dia di jalur timur!
Anak Buah Hudar: Baik, Tuan!
Narator: Mereka pun menjalankan rencana Hudar. Sedankan dalam perspektif lelaki yang dikejar, Ahsan sangat ketakutan dan panik hingga ia bertemu kawannya, Suryana.
Ahsan: Sial! Kau mengagetkanku, Sur! (Terengas-engas kelelahan)
Suryana: Ayo ikut aku, San! Aku tau jalan pintas.
Ahsan: Oke, Tobi bagaimana?
Suryana: Ia masih di ruang bawah tanah rumah Rene. Katanya, dia akan memberitahu Rene bahwa dia menemukan sesuatu.
Ahsan: Sesuatu apa?
Suryana: Entahlah. Katanya bisa membangkitkan Lintah Darat lagi.
Ahsan: Dasar bocah gila! Tapi-
(Suara pukulan pentungan besi menghajar kepala Ahsan)
Suryana: Maaf kawan. Aku minta maaf sekali.
Ahsan: Sialan kau! Akan kubunuh kau Sur-
(Suara pukulan pentungan besi beberapa kali menghajar kepala Ahsan)
(Suara kerumunan mendekati Suryana)
Hudar: Ah, Suryana. Kerja bagus untuk hari pertamamu di kesatuan intelejen Rawana. Apa kabar ayahmu, Sur?
Suryana: Bajingan kau! Diam saja! Tak usah sok peduli dengan ayahku!
Hudar: Ah jangan begitu, aku sungguh sayang dengan ayahmu. Apalagi ketika kupasung pendosa itu.
Suryana: Sial kau!
Hudar: (Tertawa) Aku yakin dia akan baik-baik saja, Sur. Ngomong-ngomong apakah ada lagi hasil tangkapanmu? Temanmu yang lain mana? Kok Cuma satu?
Suryana: Ia di rumah yang kau geledah tadi. Dia mengunpat di ruang bawah tanah.
Hudar: Wow, sungguh pengkhianat kau Suryana! Kau memukuli temanmu sendiri dan memberi tahu persembunyian temanmu kepada militan!
Suryana: (Berteriak) Aku hanya melakukan ini demi membebaskan ayahku!
Hudar: (Tertawa) Baiklah, anak ayah. Akan kukabarkan kerja bagusmu kepada tuan Rawana. Sekarang enyahlah! Ini mangsaku sekarang.

Narator: Itulah kisah Lintah Darat di masa Iskandrium Zurat. Penuh kebencian, penuh pengkhianatan.




0 comments:

Post a Comment