Sekuler

Dia meneguk kopinya lagi. "Taubatlah kau wahai pemuda!" teriak salah satu pentolan dari kerumunan berbaju hitam. Seakan tak mendengar teriakan si pentolan, ia kembali meneguk kopinya hingga habis. Kerumunan berbaju hitam terdiam sambil menggenggam erat pentungan besi mereka. "Taubatlah! Atau kau kami seret ke Lapangan Pengakuan!" perinta sang pentolan sambil menunjuk pemuda itu. "Tuk!" Hentakan gelas kopi tersebut semakin mensunyikan suasana warkop.

"Orang bijak perah berkata, ketika pemuka agama bergaul dengan pemegang kuasa, maka agama tersebut niscaya tercemar akibat kepentingannya." ucap si pemuda. Mendengar perkataan tersebut, sang pentolan meletakkan tangan di pundak si pemuda. Ia mendekati telinganya, dan berbisik "Ini adalah dosa terakhirmua yang kau nikmati". Kerumunan baju hitam langsung mengelilingi si pemuda. Tiga orang menahan badannya, satu memegang lengan kiri, satu di lengan kanan, satunya mengunci lehernya. Ketiga orang tersebut mengarahkan badan si pemuda yang sudah pasrah ke hadapan pentolan. "Aku kira orang bijak itu benar." ucap si pemuda.

"Tung!" Bunyi pentungan besi menghajar wajah si pemuda. Pemuda itu pun langsung meludah kan darah dari pelipisnya. "Tutup mulut pendosa ini!" perintah sang pentolan. Dua orang langsung mendekap mulutnya dan menutupnya dengan syal katun hitam. Pemuda itu terdiam, pasrah menghadapi kedua orang itu. Ia rasakan aliran darah mengalir dari pelipis hingga memerahkan kerah baju birunya itu.

"Saudara Oskar!" teriak sang pentolan. "Anda telah melakukan aktivitas berdosa, yaitu: Meminum Kopi, Berdiskusi tentang Pemerintahan Negara Kesatuan Rakyat Iskandrium, Mengkritik Pendeta Tinggi Zurat, Mengkritik Agama Maundria sebagai agama pemersatu dan wajib Iskandrium, dan menyebarkan pamflet propaganda subversif di kota suci Korinthia, Magiran, dan Distrik Pusat. Dengan ini, atas nama Militan Rawana sebagai organisasi dibawah pendeta Tinggi Zurat menyatakan bahwa anda akan dihukum pasung selama satu tahun di Lapangan Pengakuan." Kerumunan berbaju hitam masing-masing mengangkat tangan dan membentuk angka empat lalu berteriak, "Maha Besar Tuhan! Panjang Umur Tuan Zurat!"

Tiba-tiba suara tertawa terdengar dibalik syal katun hitam si pemuda. Tertawanya semakin keras hingga mengheningkan suara warung kopi sehabis kerumunan tersebut mewarnainya dengan spirit agama. Hingga ayunan pentungan besi menghantam wajah pemuda mewarnai lagi suasana warung kopi menjadi sunyi mencekam. "Tung!Tung!Tung!" Ayunan ketiga pun berhasil melukis gelas kopi si pemuda menjadi merah. Si pemuda kemudian diam dan lemas bak orang sekarat. "Bakar warung laknat ini!" perintah sang pentolan kepada anak buahnya,

Si pemuda pun diseret dengan kepala di tanah, dan warung kopinya digerogoti api, menciptakan sinar di tengah Distrik Kota bagai cahaya di tengah gelapnya malam.

0 comments:

Post a Comment