Showing posts with label Normandya Bagaskara. Show all posts
Showing posts with label Normandya Bagaskara. Show all posts


Hari sudah sore. Sudah waktunya aku berangkat ke kantor. Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang berat. Siang tadi, banyak orang unjuk rasa di depan kantor kepolisian. Korban-korban mulai bermunculan. Mulai dari yang terkena luka bacok, terinjak-injak, bahkan terkena pistol listrik. Malam ini aku akan melanjutkan perawatan. Memulai prosedur operasi bagi korban dengan luka berat. Aku berdoa, semoga kota Los Susi akan kembali damai seperti dulu lagi.

Hai. Namaku Joshua. Aku chief doktor di Rumah Sakit Sehat. Menjadi kepala rumah sakit ini tidaklah mudah. Seiring dengan adanya kekacauan di kota, maka korban pun akan berdatangan. Rumah sakit ini sudah seperti mesin yang bekerja dua puluh empat jam tanpa henti. Terus menerus merawat korban kekacauan kota. Baik itu dari sekelompok provokator, hingga kepolisian. Rumah sakit ini menjadi ruang netral. Tidak ada yang melawan satu sama lain. Keselamatan nyawa seseorang merupakan prioritas paling utama disini.

Ditengah kericuhan kota, ada seseorang yang membuat kondisi menjadi lebih nyaman. Samsul. Dia anak sekolah dasar yang tidak melanjutkan sekolahnya. Sehari-hari, kita bisa menemukannya di alun-alun kota. Bermain kesana kemari, mengajak orang-orang disekitarnya untuk bermain. Pada pagi hari dia biasa memberi makan kucing-kucing liar di sekitar alun-alun kota. Pada siang hari, Samsul biasanya jalan-jalan. Mencari teman. Kadang-kadang, minta dibelikan eskrim. Sorenya, dia bermain layang-layang di alun-alun kota atau di pantai. Berbagai lapisan masyarakat mengenalnya. Mulai dari geng motor, kartel, komunitas, kepolisian, hingga teman-teman rumah sakit semua mengenalnya. Samsul adalah teman kita. Membawa kebahagiaan ditengah kerusuhan kota.

Pernah kala itu Samsul datang ke rumah sakit. Waktu itu aku sedang mendapat tugas jaga. Berjalan ke arah rumah sakit sambil menuntun sepedanya. Dalam keranjang sepedanya, ada anak kucing yang terlihat berlumuran darah.

“Hey Samsul!, ada apa? Kenapa terlihat lusuh sekali?”, tanyaku.

“Pak Jos, mau minta tolong Pak Jos. Kucing Pak Jos. Dia berdarah”.

“Ya ampun. Habis dari mana kamu? Apa yang terjadi dengan kalian?”

“Tadi habis ada perampokan di bank pak. Lalu aku menemukan kucing ini di dekat bank. Tolong pak disembuhin pak”

Aku bukan dokter hewan. Walaupun begitu, aku mencoba membantu kucing tersebut. Rekan-rekan dokter kuperintahkan untuk bersiap. Perampokan yang terjadi di bank, tidak menutup kemungkinan akan adanya korban.

Kubersihkan kucing tersebut sambil ku tanya kepada Samsul, apakah dia baik-baik saja. Dia terlihat lelah, ku merasa kasian dengan Samsul. Samsul kuminta untuk istirahat di ruang tunggu. Kuberikan dia sekotak jus untuk menenangkannya. Aku kembali masuk untuk merawat si kucing. Setelah aku periksa, dia baik-baik saja. Hanya terdapat luka lecet. Sepertinya dari peluru yang menyasar. Darah yang ada ditubuhnya juga bukan darahnya. Kukabarkan kepada Samsul bahwa dia baik-baik saja.
Samsul memang anak yang baik.

Pada suatu ketika, Samsul mulai tidak terlihat di sekitar kota. Orang-orang mulai membicarakan keberadaan Samsul. Aku mulai khawatir. Rekan-rekan di rumah sakit mulai khawatir. Sudah beberapa hari ini dia tidak terlihat.

Matahari mulai muncul. Shift malamku sudah habis. Pagi ini aku berniat mencari Samsul. Aku akan mulai mencari dari alun-alun kota. Sebagai pusat keramaian kota, aku berharap bisa menemukannya disana. Namun ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Samsul tidak ada disini. Aku lanjutkan perjalanan ke pelabuhan, tak juga bertemu dengannya.

Hari sudah mulai sore. Hari ini merupakan hari yang panjang. Pencarian Samsul memakan cukup banyak tenagaku. Sepertinya, malam ini aku akan istirahat. Sebelum pulang ke rumah, aku mesti ke rumah sakit terlebih dahulu. Mengganti shiftku untuk hari berikutnya. Semoga malam ini tidak terjadi apa-apa di kota, sehingga aku bisa menikmati istirahatku.

Sesampainya di rumah sakit, aku melihat sepeda Samsul sedang diparkir diluar. Aku terkejut. Apa yang terjadi dengan Samsul kali ini. Semoga dia tidak apa-apa. Segera ku berlari masuk ke rumah sakit. Kudapati Samsung sedang terlentang di ruang gawat darurat. Terlihat kakinya terdapat bekas gigitan. Entah apa yang dia lakukan selama ini hingga mendapatkan luka seperti itu.

Aku mulai melakukan prosedur perawatan. Kuminta rekan-rekan untuk membantu. Lukanya terlihat cukup parah. Sepertinya bukan luka baru. Lebih seperti luka yang sudah dibiarkan terbuka terlalu lama. Samsul dibius. Kita bersihkan lukanya. Untungnya, luka Samsul tidak menyebabkan perlu dilakukannya amputasi. Kini biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Aku yakin dia telah melewati hari yang panjang.

Samsul mulai siuman. Aku tanyakan dia habis dari mana. Kenapa dia bisa mendapatkan luka seperti itu. Sayangnya, dia tidak ingat. Yang dia ingat hanya perjalanannya ke atas gunung. Kuberikan dia obat oles, dan beberapa vitamin agar dia dapat segera sembuh. Dengan pincang-pincang, dia pamit dari rumah sakit.

Keesokan harinya, Samsul melakukan ulah yang aneh. Dia mulai usil. Di garasi kota, dia memukul-mukul mobil warga dengan tongkat baseball. Samsul meminta-minta permen ke semua orang. Ada apa ini. Apa yang terjadi dengan Samsul. Kemudian dia berlari-larian kesana kemari. Sambil tertawa. Warga Los Susi mulai curiga. Ada yang bilang Samsul mulai nakal karena stres. Ada yang bilang juga kalau dia rabies. Namun, berita kalau dia rabies cepat menyebar. Pihak kepolisian mulai khawatir akan terjadi kericuhan. Pencarian terhadap Samsul pun dilakukan.

Surat perintah penangkapan Samsul dirilis. Komunitas, warga, dokter, dan kepolisian melakukan pengejaran besar-besaran untuk menangkap Samsul. Samsul dulu anak yang baik. Aku tidak tahu apa yang membuat dia menjadi seperti ini. Dia sangat lihai. Samsul tahu seluk beluk kota ini. Maka dari itu perlu masa yang cukup banyak untuk menangkap Samsul.

Laporan masuk, komunitas motor melihat Samsul di dekat Samsat. Kami segera menuju kesana. Ternyata benar. Samsul berada disana. Sedang mengorek-orek sampah.

“Samsul!”, teriak pak polisi.

Dia menoleh, kemudian langsung berlari ke arah rumah sakit. Kami mengejar Samsul ke arah rumah sakit. Aku lupa. Dulu, aku pernah mengajak Samsul untuk melihat helikopter rumah sakit di atap. Jangan-jangan, Samsul menuju kesana. Ternyata benar. Samsul naik ke atap melalui emergency stairs di luar gedung. Untungnya, kami berhasil menangkap Samsul sebelum Samsul berhasil naik ke atas helikopter. Kami bius, kemudian kami bawa ke ruang gawat darurat.

Kami menemukan ada busa di mulut Samsul. Luka di kaki samsul mulai membusuk. Syarafnya berwarna hijau. Matanya membelalak. Giginya mulai keropos. Kukunya membiru. Setelah dilakukan cek darah, Samsul ternyata membawa sebuah virus. Virus yang belum pernah kami temui sebelumnya. Virus ini bukan rabies. Aku yakin lebih berbahaya dari rabies.

Kami bingung. Pihak kedokteran melakukan forum kilat bersama pihak kepolisian. Kami takut virus ini akan menular. Ditambah lagi, kami tidak memiliki obat untuk virus ini. Akhirnya telah diputuskan. Samsul akan diistirahatkan untuk selamanya. Jujur, aku sedih. Kota ini akan kehilangan sosok anak yang ceria. Kami akan kehilangan sedikit kebahagiaan di kota ini.

Esoknya, suntikan diberikan. Hari itu, kota menjadi tenang. Tidak ada kerusuhan. Tidak ada sirine yang berbunyi. Tidak ada perampokan yang terjadi.

Mengenang Samsul. Anak yang membawa kebahagian di kota Los Susi.




Judul                : Para Bajingan Yang Menyenangkan
Penulis             : Puthut EA
Penerbit           : Buku Mojok
Cetakan           : Pertama
Tahun              : Desember 2016
Tebal               : vi + 178 halaman; 13x20 cm
ISBN               : 978-602-1318-44-7
Harga              : Rp58.000,00

Buku apa sih ini sebenernya? Sangat menarik perhatianku ketika aku melihat-lihat buku. Judulnya nyeleneh. Bajingan. Kata yang asing digunakan untuk sebuah judul. Buku ini kayak mendobrak norma sosial dengan menjadikan kata umpatan sebagai judul sebuah buku. Apalagi buku ini ditulis oleh Puthut EA, dan diterbitkan oleh Mojok. Dulu Mojok sempat jadi perbincangan karena gaya kepenulisannya yang asik dan berbeda dari media-media lain. Tentu saja membuatku makin penasaran tentang isi buku ini. Sepertinya akan menjadi seru ketika membacanya.
Sekelompok anak muda yang merasa hampir tidak punya masa depan karena nyaris gagal dalam studi tiba-tiba seperti menemukan sesuatu yang dianggap bisa menyelamatkan kehidupan mereka: bermain judi.

Ya, itu tulisan di belakang bukunya. Apalagi ini. Kehidupan mereka diselamatkan oleh permainan judi. Tambah penasaran saya, akhirnya saya beli buku ini dengan harga yang lumayan terjangkau.
Cerita dalam buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Berisi beberapa karakter, yaitu penulis, Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Jujur saya sendiri sulit menghafal nama. Biasanya ketika membaca sebuah buku fiksi, saya hanya mengingat dua karakter saja. Maksimal tiga lah. Itu aja kadang-kadang masih suka lupa siapa namanya yang selain tokoh utama. Namun, entah kenapa aku tetep bisa baca gitu. Lanjut terus mengalir mengikuti cerita. Ceritanya asik soalnya. Sekumpulan laki-laki yang suka nongkrong, mungkin kurang lebih akan sama seperti cerita di buku ini. Dalam percakapannya, sering diselingi umpatan-umpatan. Tidak seperti buku fiksi pasaran yang normatif. Entah akunya yang termasuk golongan bajingan, jadi bisa relate atau bagaimana ya kurang tahu saya hehe.

Bahasa yang digunakan tidak hanya bahasa Indonesia, sering kali menggunakan bahasa Jawa. Buat kamu yang kurang mengerti bahasa Jawa namun ingin membacanya, jangan khawatir. Dibagian belakang buku ini terdapat kamus kecil. Terjemahan bahasa Indonesia dari diksi bahasa Jawa yang digunakan dalam proses berceritanya.

Buku ini menarik. Buku ini mendapat rating 3.86/5 oleh GoodReads. Pembawaan yang lugas dan ringan bikin kita bisa rehat sejenak. Sambil tertawa terhadap guyonan receh Jackpot Society. Recommended gaez!


Senayan
Kerabat mentari pagi
Sejak hari ini
Hingga esok hari

Senayan
Lima tahun sekali
Membawa aspirasi
Perebutan akuisisi

Senayan
Suara rakyat
Perwakilan rakyat
Rakyat yang mana?

Senayan
Harapan nelayan
Harapan akuntan
Harapan masa depan


Hari sudah petang. Waktu menunjukkan pukul 18.30. Hari ini hari yang melelahkan. Sebelum pulang, aku mesti menjemput anakku terlebih dahulu. Segera ku berkemas dan mulai menyalakan motor tua ini.

Kulihat dari kejauhan, dia mengenakan seragam pramuka. Bajunya sudah tidak serapi ketika ku mengantarkannya ke sekolah pagi tadi. Terlihat lelah, ku ajak dia pulang. Sambil perjalanan ke rumah, ku ajak basa basi. Bagaimana sekolah hari ini, ada PR atau tidak, dan sebagainya.

Sesampainya di rumah, dia diam. Melihat ke arah taman, lalu segera masuk ke kamar. Aku melanjutkan tugas dari atasan yang masih saja terkena revisi.

Hpku berdering. Siapa yang menelepon malam-malam begini. Ku angkat.

“Pah, kok ngga njemput njemput?”


Pika-pika! Siapa sih yang tidak kenal dengan karakter lucu yang satu ini? Buat temen-temen angkatan 90an pasti tahu banget deh film kartun ini. Kartun yang dulu (kalau tidak salah) sering diputar di kanal Indosiar setiap minggu pagi. Salah satu acara yang bisa memotivasi anak-anak buat bangun pagi. Pada tahun 2019 ini, Nintendo bekerja sama dengan Warner Bros memproduksi sebuah film layar lebar dengan judul Pokemon: Detective Pikachu.

Cerita film ini berawal dari seorang detektif yang tiba-tiba menghilang. Anaknya, Tim, yang berumur 21 tahun ini kemudian penasaran dan ingin mencari tahu. Dalam penyelidikannya, dia dibantu oleh partner detektif tersebut, yaitu pikachu. Namun ada sesuatu yang berbeda dari pokemon ini. Dia bisa berbicara dengan manusia! Akhrinya mereka berdua menyelidiki kasus ini. Tim dan Pika hijrah ke kota Ryme. Kota dimana manusia dan pokemon bekerja sama hidup berdampingan dalam dunia hiper-realistis. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan berbagai macam pokemon dan mengungkap fakta mengejutkan terkait ayahnya.

Rabu lalu, tepatnya pada tanggal 8 Mei 2019 aku menyempatkan untuk menonton film ini bersama Lisa jam empat sore. Hitung-hitung sekalian kita ngabuburit menunggu buka puasa. Kita menonton film ini di CGV J-Walk. Untuk tiketnya sendiri, dijual dengan harga Rp30.000 pada hari kerja, dan Rp35.000 pada hari libur.

Film ini cocok banget buat temen-temen yang memang sebelumnya sudah kenal dengan pokemon, maupun yang baru tahu tentang pokemon. Jadi, buat kamu yang sebelumnya tidak pernah nonton kartunnya, tidak perlu takut karena kalian tetap akan disajikan cerita pengenalan yang asik Pada awal film ini juga diceritakan tentang latar belakang lakon utamanya. Tim.


Animasinya juga asik. Lucu gitu pokemon-pokmonnya. Seperti yang bisa kita liat dari trailer, si pikachu sangat gemuk sekali. Gemas berbulu. Pokemon-pokemon lain juga tidak kalah lucunya. Disini tim animasi sangat baik dalam menginterpretasikan makhluk ini. Dari yang sebelumnya animasi 2D, menjadi animasi 3D. salah satu pokemon yang aku suka dari film ini adalah Squirtle. Buat kamu yang belum nonton, peringatan ya. Habis ini ada sedikit banyak spoiler.

Warning! Spoiler ahead!

Cerita dalam film ini menurutku keren sih. Banyak plot-twitst. Namun, kurasa saking banyaknya plot-twist jadi kurang begitu suka sayanya. Awalnya Tim dapat kabar kalau bapaknya meninggal, kemudian mencari tahu penyebabnya. Pergi ke kota Ryme, sampai sana ketemu pikachu. Ternyata pikachu bisa bicara. Ternyata bapaknya belum mati. Ternyata pelopor kota Ryme adalah penjahatnya. Ternyata Mewtwo adalah pokemon baik. Ternyata bapaknya Tim itu ada di Pikachu. Banyak banget ternyata-ternyata jadi keseringan kaget.

Dalam petualangannya, Tim ditemani oleh wartawan magang dari CNM. Namanya Lucy, bersama partner pokemonnya Psyduck. Menuutku mbaknya ini tidak berguna-berguna banget. Kerasa banget kalo dia hanya karakter sampingan yang andilnya tidak begitu terasa dalam alur cerita ini. Tapi, Psyduck nya itu lucu banget. Apalagi ketika Psyduck menjahili Pikachu. Dia minta Pikachu memijat kakinya. Kalau tidak, Psyduck akan meledak.

Secara keseluruhan, film ini sangat mantab. Film Detective Pikachu mendapat rating 7.2/10 di IMDB, 64% di Rotten Tomatoes, dan 52% Metacritic. Dari aku sendiri sih ngasihnya tujuh dari sepuluh. Untuk film selingan diantara hiruk pikuk kloter perfilman marvel, boleh banget ditonton. Apalagi buat refreshing setelah kehilangan manusia besi.




Norman, Bagas, Nonong, Andy, Bagong. Itulah nama-nama panggilannya. Namun, banyak orang memanggilnya Bagas. Dia lahir di Yogyakarta pada 27 Agustus 1997. Tumbuh besar di Yogyakarta namun kurang fasih berbahasa Jawa. Sekarang Bagas sedang menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Yogyakarta. Merupakan alumni lulusan SMP Negeri 16 Yogyakarta, dan SMA Negeri 8 Yogyakarta.

Bagas memiliki banyak nama panggilan. Hal itu disebabkan karena perbedaan situasi, kondisi, dan siapa orang yang memanggilnya. Teman-temannya memanggil Norman, ketika dalam lingkup pertemanan tersebut ada lebih dari satu orang bernama Bagas. Biasanya mereka para “Bagas” berkumpul, kemudian menyepakati untuk tidak menggunakan nama Bagas. Bagas merupakan nama panggilannya pada umumnya. Nonong merupakan nama panggilan teman-teman Bagas ketika masih menempuh sekolah dasar. Kala itu gaya rambut Bagas klimis dan menonjolkan jidat yang lebar, dari situlah Nonong berasal. Andy diambil dari Normandya. Norm(Andy)a. Merupakan sebuah usaha rebranding untuk menjadi ‘keren’, namun tidak berhasil. Teman-teman lebih memilih memanggil dirinya dengan sebutan Norman. Sedangkan Bagong, adalah panggilan dari Ibunya Bagas ketika dia tidak melakukan pekerjaan rumah hehe.

Tumbuh di sekitar kegiatan videografi, membuat Bagas ingin terjun ke dunia tersebut. Ibunya Bagas mengajarikan bagaimana cara mengedit video menggunakan Premiere. Itu sudah lama sekali. Sejak premiere versi 7.5 yang masih bergambar kuda. Bagas mengisi waktu luang untuk mencari tahu lebih dalam seputar dunia videografi. Ketika menginjak bangku SMA, Bagas mengikuti kegiatan yang tidak jauh dari kegiatan videografi. Menjadi anggota divisi Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi, menjadi koordinator Dokumentasi, koordinator Film Akhir Tahun, dan sebagainya. Hingga akhirnya, masuk ke jurusan yang tak jauh berbeda, yaitu jurusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi media.
Kini Bagas menjadi videografer lepas. Tukang suting lah. Kadang liputan, event, atau acara hajatan lainnya. Belakang ini sering ikut agensi travel sebagai tim dokumentasi, khususnya bagian drone. Cukuplah untuk menambah uang saku dan jalan-jalan. Kelak Bagas ingin memiliki agensi multimedia, yang dapat mengabadikan momen-momen berharga khalayak. Tentunya dengan cara olah yang kreatif dan asik.



Buat kamu yang bosan bermain ke alam, pantai, hutan, mall, atau wahana hura-hura lainnya, aku ada alternatif lain nih. Cocok banget buat yang suka kesenian. Kamu bisa mampir berkunjung ke Kedai Kebun Forum (KKF). Jadi, Kedai Kebun Forum ini merupakan wadah seni alternatif yang dikelola secara independen oleh seniman. Di Kedai Kebun Forum ini tersedia Galeri, Ruang Pertunjukan, Bookstore, dan Restoran. Merupakan sebuah komunitas kecil yang bertujuan untuk belajar dan pengkajian terhadap setiap gejala perubahan sosial, melalui kesenian. Kegiatan dan aktivitas yang ada, dibiayai melalui restorannya.

Pada tanggal 17 Maret 2019, iseng-iseng aku berkunjung ke Kedai Kebun Forum. Kala itu sedang ada pameran seni yang diisi oleh seniman Klub Remaja “OPEN CALL FOR ARTISTS:Bertamasya”. Apa sih klub remaja ini? Klub remaja merupakan sebuah kolektif seniman dari Bandung yang berlatar belakang seni. “OPEN CALL FOR ARTISTS:Bertamasya” menjadi judul yang diambil, karena mereka bertamasya ke Yogyakarta pada bulan maret ini. Klub Remaja membuka pamerannya di Kedai Kebun Forum mulai dari tanggal 9 hingga 29 Maret 2019. 

Pada tahun 2017, Klub Remaja juga pernah bikin pameran dengan format yang sama di Kolekt, Bandung. Pameran ini memiliki proyeksi berlanjut dari karya Klub Remaja, layaknya sebuah sekuel. Pada pameran kali ini, Klub Remaja ingin memperkenalkan bahwa diskusi dan bertukar pikiran juga merupakan sebuah karya.

Dari beberapa karya yang dipamerkan, ada satu yang kurasa menarik. Karya tersebut memprediksi bagaimana dunia ini akan berjalan kedepannya. Bagaimana sistem alfabet akan hilang, dan akan muncul sistem baru yang universal. Suhu bumi meningkat hingga 4 derajat celcius, dan lain sebagainya. Membuatku agak merinding juga, karena sadar bagaimana dunia ini semakin lama semakin terpuruk.

Buat kamu yang ingin berkunjung ke pameran ini, buruan ya! Hingga tanggal 29 maret aja lho. Terbuka untuk umum dan GRATIS. Setiap hari jam 11:00 WIB – 21:00 WIB (KKF tutup setiap hari Selasa).



Buat kamu yang suka baca buku lokal, pasti tau dong sama pameran yang baru-baru ini diselenggarakan di Gedong Kuning. Yak betul! Festival Literasi Kecil dan Pasar Buku Patjar Merah. Pameran yang diselenggarakan pada tanggal 2-10 Maret 2019 ini memamerkan buku-buku yang bermutu dengan harga terjangkau. Kamu bisa membawa pulang buku-buku tersebut mulai dari harga lima ribu rupiah saja. Selain memamerkan buku-buku yang kece, diadakan pula talkshow dan workshop dengan tokoh-tokoh yang ga kalah asik.

Pada hari Kamis, 7 Maret 2019 lalu saya berkunjung ke pameran tersebut. Bertepatan dengan diadakannya talkshow dengan Tim Kisah Tanah Jawa. Acara yang dimulai pada pukul tujuh malam tersebut di isi oleh Hari Hao, Bonaventura D. Genta, dan Mada Zidan. Pengunjung Patjar Merah dilempar ke masa lampau dan diceritakan bagaimana tim tersebut menyusun buku yang berjudul ‘Kisah Tanah Jawa’.  Pengunjung dengan asik mendengarkan kisah-kisah yang berada di luar akal sehat tersebut.

Pengunjung terlihat antusias terhadap sesi talkshow tersebut. Kursi penonton penuh. Banyak yang berdiri mengitari panggung hingga empat saf. Ketika di buka sesi sharing-sharing, tak sedikit yang mengangkat tangannya. Mereka menceritakan pengalaman ‘di luar akal sehat’ ke pembicara. Cerita dari para pengunjung sempat membuatku ngeri.

Buat temen-temen yang ingin kesana, bisa cari di GoogleMaps untuk lokasi acaranya. Cukup membayar parkir dua ribu rupiah saja. Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk pameran. Walaupun belum ada buku yang menarik perhatian saya, tapi acara ini cukup mengundang banyak penggiat buku indie yang lain.