Showing posts with label Analisa Yudika. Show all posts
Showing posts with label Analisa Yudika. Show all posts
Sebulan yang lalu kami tengah mempersiapkan proyek besar. Semua orang mendapat jatah pekerjaannya masing-masing dengan tenggat waktu masing-masing pula. Kebetulan sekali aku tidak ingin berada di posisi pengambil keputusan. Tidak, setelah satu tahun yang melelahkan itu. Jeehan—yang akhirnya menjadi kepala pelaksana proyek—menempatkan aku di riset. Aku harus mencari data yang valid agar rekan-rekanku di bagian yang lebih teknis dapat menjalankan tugas mereka jauh lebih presisi daripada proyek sebelumnya. Tanpa menimbulkan apa yang mereka sebut sebagai korban lagi.
            Beberapa malam kuhabiskan di kantor untuk memastikan semua yang kubutuhkan sudah siap. Jeehan cukup baik memperlakukan kami. Dia selalu mendampingiku ketika lembur hingga malam. Malam sebelum hari proyek dilaksanakan, ia berkata padaku di basemen,
            “Kalau kau butuh apa-apa, bilang saja padaku. Aku mungkin tidak di dekatmu, tapi aku masih memantaumu. Kau menyimpan nomor ponselku, kan?” dia tersenyum sambil menggendong tasnya dan masuk ke mobil.
            Aku berangkat menuju stasiun kereta bawah tanah keesokan harinya. Ngomong-ngomong, namaku Madiva. Aku sudah satu tahun bekerja di Beyond Standard Company. Sebelumnya, aku adalah pegawai magang di Best. Best adalah sebutan untuk perusahaan kami. Best sangat terkenal dengan hasil pekerjaannya yang melampaui standar, atau dengan kata lain, terbaik. Best memang berisi orang-orang terbaik dari penjuru negeri. Setidaknya, versi Best sendiri.
Sejak kuliah, aku selalu mendambakan perusahaan ini. Aku melakukan semua persiapan yang dibutuhkan agar aku bisa bekerja di Best. Waktu itu, setahun sebelumnya, Best menerima pegawai magang sejumlah 214 orang. Aku dan Jeehan beruntung karena bisa lolos di semua uji coba. Orang-orang menyebut kami beruntung, tapi aku tak yakin. Agaknya aku mulai tak yakin sejak proyek besar setahun yang lalu. Proyek besar yang sama seperti tahun ini. Anak magang tentu saja dilibatkan dalam proyek tersebut. Ya, anak magang yang bisa mengerjakan proyek besar ini akan langsung diterima di Best. Kami semua memegang pekerjaan yang berbeda-beda. Kami tidak tahu pekerjaan satu sama lain sudah sejauh mana atau apa yang akan mereka lakukan. Setidaknya, aku tahu pekerjaanku.
Beberapa malam kuhabiskan di kantor saat itu. Aku pulang ke rumah orang tuaku dengan letih dan agak putus asa. Bagaimana tidak, Best benar-benar sulit ditembus olehku. Aku mempersiapkan diri mati-matian pada proyek besar yang menentukan masa depanku itu. Aku yakin bukan hanya aku yang berusaha hingga sedemikian stres. Kami, para anak magang, jarang bertegur sapa selama di kantor sejak proyek ini mencuat. Kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing.
“Aku pulang...” ujarku sambil melepas jaket. Kutangkap sekilas jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Ruangan tampak gelap. Aku masuk ke area dapur. Dapur seketika jadi sedikit bercahaya ketika aku membuka kulkas. Kutemukan puding cokelat kesukaanku di dalamnya. Aku hendak berdiri dan berjalan ke ruang menonton TV  ketika tiba-tiba ibu sudah berada di balik pintu kulkas yang kututup.
Gees! Bu, kau mengagetkanku!” aku sedikit berteriak karena baru sadar kalau itu benar ibu setelah dua detik kemudian.
“Kau lembur lagi?” tanyanya dengan muka yang jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Aku tidak begitu memperhatikan wanita ini, tapi aku yakin ada yang berbeda dari wajahnya. Apa ya itu? Aku hampir tidak ingat saat itu. Aku hanya mengabaikan pandanganku dan mulai berjalan dengan sepiring puding di tangan.
“Iya. Dan besok aku akan mulai proyek Best,” ujarku sambil menyendok puding ke dalam mulutku.
“Kau tahu kan kami membutuhkanmu di sini?” nada bicaranya agak mengeras sedikit.
“Aku tidak ingin tahu,” aku terus mengunyah puding dingin yang mulai terasa tidak nikmat lagi karena aku tahu arah percakapan ini.
“Kau, keterlaluan. Tidak ada bedanya dengan laki-laki itu!”
Ibu berjalan mendekatiku di dalam gelap. Ia menggerutu habis-habisan kali ini.
“Oh, Bu, tolonglah! Kalian kan sudah sama-sama dewasa. Kalian bisa hidup tanpa aku. Kenapa kalian selalu bergantung padaku? Apa kalian tidak bisa mencari jalan keluar masalah kalian sendiri?” aku berhenti mengunyah puding. Selain pudingnya sudah habis, aku memang berniat untuk pergi ke atas untuk tidur.
“Apa? Kau sama sekali tidak peduli pada ibumu lagi sejak..” kalimatnya terputus di sana. Dia tidak sanggup mengeluarkan kata itu. Tidak, setelah perjuangan yang dia berikan padaku selama ini.
“Kau benar, Bu. Aku tidak peduli pada ibu, bahkan pada siapa pun, sejak di Best,” aku berjalan memunggunginya yang kini tidak berkicau lagi. Ibu mematung diam saja.
Aku berhenti sesaat. Merasa bisa menyerangnya kali ini, “kalau saja mungkin ibu lupa, ibu lah yang selalu mendukungku untuk masuk ke Best. Apa sekarang ibu menyesal? Apa aku tidak boleh mengejar impianku setelah aku berhasil berdiri di garis start?” kataku hampir tidak gentar. Tidak kusangka aku bisa melontarkan kalimat itu, pada akhirnya.
Kudengar ia terisak. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah cukup mengeluarkan sejumlah tenaga untuk pekerjaanku dan sekarang, ini? Oh, yang benar saja. Aku tahu mereka cukup dewasa dan kuat untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sedangkan aku hanyalah gadis 24 tahun yang baru akan memulai kehidupan barunya di Best, perusahaan impian, everyone’s dream. Kuputuskan untuk meninggalkan ibu yang masih menangis sendirian di lantai bawah. Aku lelah. Dan entah kenapa aku agak pusing dan mual juga malam itu.
Aku merasa sangat lelah dan mungkin berkeringat dalam tidurku. Aku merasa tertidur sangat lama. Ketika bangun, aku mendapati diriku tidak berada di kamar tidur. Maksudku, kamar tidur tetapi bukan kamar tidurku. Kepalaku sakit sekali. Aku belum begitu kuat berdiri. Kupejamkan mataku untuk mengumpulkan sejumlah tenaga untuk bangkit. Dalam pandangan yang hitam dan kosong itu aku justru mendengar suara orang, dua orang, saling berteriak. Aku yakin itu suara ibu dan ayah. Aku yakin mereka sedang bertengkar seperti hari-hari sebelumnya. Suara ibu bahkan tidak terdengar seperti berteriak, ia menjerit. Aku tersentak kaget. Aku takut ayahku yang mulai tidak waras itu menyerangnya.
Aku berusaha semampuku untuk bangun dan berjalan ke arah pintu. Tapi tidak ada pintu. Hanya ada lubang yang menghubungkan kamar dengan ruangan yang lain. Aku berjalan tergopoh-gopoh berusaha mencari ibu dan ayahku di ruangan yang luas ini. Pencarianku tidak membuahkan hasil. Aku tidak bisa menemukan mereka. Napasku tersengal-sengal karena kaget bercampur tidak percaya pada apa yang kulihat. Aku berada di sebuah rumah besar yang semua dindingnya berwarna putih. Tentu saja ini bukan rumah orang tuaku yang sempit dan reot di Guinevere Street. Aku baru akan melangkah lagi untuk mencari ruang utama sampai aku dikejutkan oleh sosok orang lain, yang juga sama terkejutnya sepertiku.
  “Siapa kau?” tanyaku sambil memundurkan kaki beberapa langkah agar tidak terlalu dekat dengannya. Dalam penglihatanku, laki-laki itu tampak lebih tenang meskipun matanya menyorotkan keterkejutan yang sama denganku. Pakaiannya bersih. Dia mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung dan celana kain hitam. Dia tampak tidak mengancam. Belum mendapat jawaban, aku kembali bertanya sedikit panik.
“Dimana aku? Kau tahu tempat ini?” aku tidak sadar sudah bertanya tiga kali.
“Aa.. aku Devin. Dan... kau?” laki-laki itu berusaha mencaritahu juga tentang aku.
“Bagaimana cara kau kesini?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.
“Aku tidak tahu,” katanya sambil memandang tepat ke mataku.
“Aku sudah berada di sini sejak tadi malam. Aku jurnalis,” katanya sambil mengeluarkan sebuah kamera poket dari saku celananya. “Foto. Jurnalis foto.”
“Aku tidur dan bangun-bangun sudah berada di bangunan ini,” kataku seakan menjawab pertanyaan yang tidak dilontarkan Devin, si jurnalis. Aku memegang kepalaku yang mulai pusing lagi.
“Kau tidak apa-apa?” laki-laki itu mendekatiku. Dia agak berhati-hati.
“Aku baik-baik saja. Mmm, Devin, kurasa kau juga sama sekali tidak tahu kita berada dimana, kan?” tanyaku memastikan dia juga sama denganku.
“Tidak. Sama sekali tidak. Apa kau memakan sesuatu sebelum tidurmu semalam?” tanya laki-laki itu yang kini tampak lebih muda dari pertama aku melihatnya. Dia sekitar 25 tahun. 
“Puding. Banyak sekali puding,” kataku sambil mengingat-ingat betapa senangnya aku semalam menemukan sepanci puding di kulkas.
“Seseorang pasti memasukkan date rape drug dalam pudingmu.”
“Date, apa?”
“Flunitrazepam atau date rape drug. Obat yang akan membuatmu tidak sadarkan diri hingga 8 jam. Banyak kasus pemerkosaan yang dilakukan dengan memasukkan obat ini ke dalam minuman atau makanan seseorang. Tidak berbau, tidak berasa, dan larut di dalam air. Sepuluh menit kemudian korban tertidur dan pelaku bisa menyerangnya tanpa perlawanan apa-apa. Kau tahu, jurnalis selalu bersentuhan dengan hal-hal semacam ini.”
“Dan kenapa obat itu harus berada di puding di dalam kulkasku?”
“Karena kau harus dibawa kesini dengan cara yang aman. Kurasa, seseorang memang menginginkan kita berada di sini.”
“Dan bagaimana denganmu? Kau juga diracun sepertiku?”
“Tidak.  Aku sedang menyelidiki bangunan ini.”
“Apa maksudmu?”
Aku tidak tahu apakah aku sedang berbicara dengan orang waras atau bukan, tapi roman mukanya sangat meyakinkan. Dan aku tidak pernah seyakin ini terhadap penculikan-penculikan dengan obat sampai akhirnya menimpaku sendiri. Maksudku, coba pikir, bagaimana mungkin ibu membuat puding cokelat kesukaanku dan secara tidak sadar bukannya memasukkan gula tetapi justru obat tidur?! Tidak, kecuali jika bukan ibu yang memasukkannya. Oh, Tuhan, aku pasti sudah gila memikirkannya!
“Aku sedang mencari berita dan gambar untuk diterbitkan di halaman depan majalah kami. Ada sebuah kastil kuno yang menarik para investor untuk dijadikan tempat wisata baru di daerah ini. Pencarianku menuntunku ke sini. Bangunan yang ternyata tidak memiliki pintu keluar maupun masuk.”
Kami diam selama beberapa saat. Jam di dinding berdetak kencang menunjukkan pukul 11, tapi degup jantung kami terdengar lebih kencang daripada jam. Aku baru ingat hari ini aku seharusnya memulai proyek Best yang sudah kupersiapkan sejak lama.
“Sial,” ujarku tanpa sadar.
“Ada apa?”
“Hari ini harusnya aku mulai proyek perusahaan tempat aku magang.”
“Kalau begitu seseorang pasti akan mencarimu.”
Aku tersentak kaget dan seakan baru menyadari sesuatu, “apa kau membawa ponselmu kesini?”
“Ya.” Laki-laki itu mengeluarkan ponsel di saku yang tidak ada kamera di dalamnya. Tapi ponsel itu ternyata mati kehabisan daya.
“Aku Madiva, ngomong-ngomong,” aku mengenalkan diri sedikit agak terlambat.
Laki-laki itu tersenyum dan menghela napas. “Aku tidak tahu kalau aku masuk bukan ke sebuah kastil tapi bangunan yang lebih mirip penjara.”
“Semacam portal dalam Alice in Wonderland saja, ya?”
Kami mulai menelusuri bangunan ini. Aku yakin ini kali kedua Devin melakukan penelurusan di bangunan ini. Dia lebih dulu sampai daripada aku. Kami tidak bisa menemukan alat komunikasi di dalam bangunan.
Bangunan ini nampak seperti rumah masa depan yang futuristik dan mewah. Bangunan ini benar-benar luas dan bersih. Ada kamar tidur lain yang mirip dengan kamar tempatku terbangun tadi pagi. Ada sebuah aula besar dengan air terjun yang menempel di kaca besar sebagai dindingnya. Langit-langit bangunan sangat tinggi. Kamar mandinya seukuran kamar tidurku di Guinevere Street. Ada kolam renang juga di bagian belakang bangunan. Sebuah ruang berkumpul yang santai tetapi mewah berada di bagian belakang dekat kolam. Ada sebuah perapian besar menyala di sana. Tidak ada lampu dimana-mana, tapi ruangan-ruangan selalu menyala dengan terang. Semua perabotan bercat putih. Hanya beberapa barang yang berwarna biru metalik. Jam di dinding adalah satu-satunya barang yang berwarna hitam. Dan kini jam itu mulai menunjukkan pukul 3.
Aku tidak tahan lagi. Ada tugas yang lebih mendesak dari berkeliling rumah masa depan ini. Akhirnya, aku berhasil menemukan petunjuk.
“Apa kau menemukan sesuatu?” Devin menghampiriku yang berdiri diam di belakang rumah tempat kolam renang berada.
“Apa kau bisa berenang?” tanyaku.
“Iya. Mengapa?”
“Aku rasa cincinku terjatuh di dasar kolam saat tadi mencari petunjuk.”
“Baiklah, akan kuambilkan. Kau tetap di sini, oke?”
Laki-laki itu membuka kemejanya dan kini hanya mengenakan kaus putih dan celana pendek. Ia benar-benar hendak menyelam ke dasar kolam. Aku melihat ke sekelilingku, takut kalau ternyata kami sedang dijebak. Tapi ada yang lebih penting dari perasaan takut. Aku harus segera keluar dari sini!
 Ia mulai berenang di kolam yang luasnya hampir seukuran aula itu. Aku berteriak padanya, “Apa kau melihatnya?”
Laki-laki itu timbul dari dalam air. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai merah kemasukan air. Kulihat kepalanya yang tampak kecil di ujung kolam menggeleng. Ia kembali masuk ke air dan menyelam.
Aku berjalan ke pinggir kolam dengan hati-hati. Aku mulai mendekati Devin yang masih berada di air. Dia pasti tidak sadar aku sudah berada di dekatnya. Saat itu juga aku menceburkan diri ke kolam dan menggapai kepala Devin. Kutahan kepalanya di dalam air. Ia mulai menggapai-gapai badanku hendak menyingkirkan tanganku darinya. Tapi air sudah mulai masuk ke mulut laki-laki malang itu. Setelah pergulatan yang melelahkan, ia akhirnya diam.
Aku muncul di permukaan dengan terbatuk-batuk. Aku ingat aku pernah juara menyelam dulu ketika kuliah. Menyelam tanpa alat selam jauh lebih sulit, tapi aku berhasil lagi kali ini. Aku berjalan dengan menggigil ke arah ruang berkumpul. Aku berhasil, pikirku. Aku akan segera menjadi pegawai Best, bukan lagi anak magang.
Sesaat sebelumnya aku hampir putus asa. Nyaris, kalau saja aku tidak menemukan petunjuk itu. Sebuah tulisan di dekat perapian. The border of your standard is here, Best of you.
Sejak itu, aku tahu ini adalah uji coba yang dilakukan Best. Proyek besar yang sedang kulakukan adalah menguji coba diriku sendiri. Apakah aku pantas masuk Best atau tidak. Cara membuktikannya adalah dengan melampaui batas-batas standar dalam diri ketika dikenakan pada suatu masalah. Menyerah pada keadaan, Best tidak akan pernah menerima staff semacam itu. Aku merasa cukup membuktikannya kepada Best ketika aku tidak lagi memperdulikan ibu dan ayah yang selalu bertengkar hebat di rumah. Best selalu ingin dijadikan nomor satu, maka kujadikan Best sebagai apapun di dunia ini. Bahkan melampaui ibu yang mendukungku untuk masuk ke Best. Kupikir itu sudah cukup, tapi ternyata Best butuh pembuktian lebih.
Untuk bisa keluar dari bangunan ini aku harus membunuh Devin. Itu sudah jelas. Devin sudah terlalu lama berada di dalam bangunan dan seseorang yang terbaik lah yang bisa keluar dari sini.
Aku tiba-tiba dijemput oleh seseorang berjas hitam yang muncul entah dari mana dari dalam rumah. Ia menuntunku ke aula. Tangan orang itu menekan sesuatu di balik air terjun yang menempel di dinding kaca. Seketika sebuah ruangan besar muncul dari baliknya. Itu adalah ruang dengan desain interior yang sama persis dengan kantor Best.
“Wah, wah, Madiva. Kau adalah anak magang kedua yang berhasil setelah Jeehan. Selamat ya,” ujar Roger, Kepala HRD di Best.
Aku hanya diam sambil menahan dinginnya air yang masih membasahi tubuhku yang kuyup. Aku hampir tidak percaya dengan uji coba ini. Mereka semua pasti sudah gila. Dan lebih buruk lagi, aku akan jadi sama gilanya dengan mereka.
“Tapi tentu saja, seharusnya kau tidak usah membunuh si jurnalis itu.”
Aku tercekat mendengarnya.
“Tidak apa-apa. Ini murni kesalahan dari kami, meski tentu saja, bukan dari HRD, tapi dari tim riset kami. Kami tidak pernah memperkirakan akan ada orang yang senekat kau. Tapi kau justru membuktikan pada kami kalau kau sudah melampaui batas standar itu. Sekarang kau sudah resmi menjadi bagian dari Best.” Roger pergi meninggalkanku yang masih kesulitan berpikir.
**
Aku berada di dalam kereta bawah tanah sekarang. Aku teringat pesan Jeehan tadi malam. Kuambil ponselku dan kukatakan padanya di telepon,
“Di antara orang-orang itu, aku tahu kau yang sama warasnya denganku. Aku sudah memutuskan mau menggunakan metode apa untuk proyek ini. Dan aku yakin, tidak akan ada korban lagi kali ini. Tapi aku membutuhkan bantuanmu sebagai pengambil keputusan.”
“Aku setuju. Mari kita akhiri.” Jeehan menutup telepon.
Sebelum ia menutupnya, aku bisa mendengar suara gemuruh di seberang sana. Aku yakin dia telah mengambil keputusan yang tepat. Meledakkan kantor Best beserta bangunan uji coba terkutuk itu. 

Siang hari menyengat tubuhku yang berselimut jaket abu-abu. Saat itu masuk jam makan siang. Aku buru-buru melajukan motorku ke arah pet shop di dekat rumah selepas pulang kuliah. Banyak majikan yang membeli makanan untuk peliharaannya di sini, salah satunya aku.

Kubawa keluar sekaleng makanan basah untuk kucing-kucing yang sudah menungguku di rumah. Sesampainya di rumah, seekor kucing gemuk berbulu putih duduk di atas kursi ruang tamuku. Dia adalah Oboss. Mata kuningnya menatap bungkusan hitam di tanganku.

“Aku membawa makanan kesukaanmu, Boss”, kataku sambil berjalan ke arah dapur, akan menyiapkan santapan terbuat dari ikan itu.

Oboss berjalan perlahan ke arahku yang tengah sibuk mengeluarkan ikan-ikan mentah dari kaleng. Ia berdiri tak bersuara menatap punggungku.

Aku keluar lewat pintu belakang, mulai memanggil-manggil kucing-kucing peliharaanku yang berada di luar untuk mendekat.

“Puss.. puss.. sini pus, makan”.

Satu, dua, hingga akhirnya lima kucing mulai mengerubungiku yang membawa dua buah piring. Kucing-kucing itu kuajak ke garasi, di sebelah rumah. Oboss mengikuti mereka di belakang. Kutinggalkan piring-piring di garasi sementara kelima kucing itu menyergap ikan di dalam piring dengan segera. Fokus mereka sekarang ada pada benda berbau amis yang jumlahnya tak sama rata untuk dibagi itu. Sementara itu, Oboss memperhatikanku yang mulai berjalan kembali ke dalam rumah. Ia tak tertarik sama sekali dengan dua piring yang dirubung lima ekor kucing.

Oboss berjalan mendahuluiku untuk kembali ke rumah. Ia menunggu dengan tenang di tempat ia biasa makan. Matanya masih menatapku. Aku kembali sibuk mengeluarkan ikan-ikan dari kaleng. Kali ini, aku hanya membawa satu piring. Kuletakkan piring itu di depan Oboss.

“Ini makan siangmu, Boss”.

Kucing putih itu mendekati piring dan mulai melahap makan siangnya. Tak lama, piring itu sudah kosong. Mata kucingnya yang bulat menatapku. Sesaat saja, aku langsung kembali menyendok beberapa ikan berukuran besar keluar dari kaleng. Kuberikan itu pada Oboss yang melahapnya dengan sangat puas.

Kucing-kucing di luar terdengar memanggil-manggil. Mulanya dengan menggaruk-garuk pintu, lalu mengeong sedikit pelan kemudian agak keras, tanda kalau mereka masih lapar. Tak kuhiraukan sama sekali, beberapa menit kemudian suara berisik itu reda. Kucing-kucing akhirnya pergi tidur. Tidur biasa dilakukan peliharaan untuk meredam rasa lapar karena tidak dihiraukan majikannya.

Selesai menyantap makan siang, Oboss kembali duduk di kursi sambil menjilati bulunya. Jam makan siang belum berakhir. Aku berjalan mendekati Oboss. Hembusan napas pendek-pendek keluar dari moncongnya yang pesek. Kugerak-gerakkan tubuhnya yang gempal. Kupanggil namanya berulang kali dari pelan hingga sedikit mengeras. Ia tak menghiraukanku sama sekali bahkan saat aku memanggil dan menggoncang tubuhnya lebih keras lagi, tanda aku lapar. Tak dihiraukan oleh Oboss, aku memutuskan pergi ke kamar untuk tidur meredam rasa lapar.
sumber: audebant.com

pengecut
dia yang penakut
siksa dan paksa bagai pecut
tendangan kekuasaan di perut

carut marut
keningnya pula berkerut
leher tercekik kemelut
himpit defisit yang kian bangkrut

semrawut
padat mandat ia turut
sana sini bersahut sahut
sudah seperti orkes dangdut

tapi hak-hak yang sudah dilucut
mana berani dia tuntut
cuma seulas senyum kecut
sebelum nyawanya dicabut

“if we could go back in time with time capsule, what memory will you choose?”

1998—Anggota Baru

Bulan purnama menggantung di langit malam 5 September 1998 di Bengkalis, Riau. Seorang ibu beranak dua mendapat berkah malam itu dengan lahirnya jabang bayi. Di dalam bilik rumah, sang suami mengadzani gadis kecil yang merengek di tengah malam. Ibu ditemani bidan Jawa yang terus-terusan memberi doa dan selamat kepada kedua suami istri yang kini beranak tiga itu. Sang putri kecil diberikan nama dengan tiga kata: Analisa yang berarti anak Bengkalis asli, Yudika yang dalam istilah hukum berarti keadilan, dan Wulandari. Kedua nama diberikan oleh orang tua si bayi kecil, namun untuk nama terakhir, merupakan kenang-kenangan dari indahnya purnama bagi sepasang suami istri malam itu.

Analisa adalah anggota baru dalam keluarga Taufik Rahman dan Yulini. Sebelumnya, kedua ayah dan ibunya telah memiliki putri sulung bernama Anita Yusticia Sari dan seorang putra, Agung Candra Yuristra. Keluarganya berasal dari Sumatera Selatan. Setiap empat tahun, sang ayah berpindah tugas (dinas) ke tempat lain, dan Bengkalis adalah tempat dinas keduanya. Selama kira-kira satu tahun, Analisa menjalani masa merangkak dan berjalannya di Bengkalis hingga tahun 2000, ayahnya kembali dipindah ke wilayah lain yaitu Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

2006—Sebuah Bencana

SD-saksi kesulitan beradaptasi
Analisa tumbuh di tempat-tempat yang berbeda. Mulai dari Bengkalis—tempat ia mendapat memori masa kecil yang kini tidak bisa ia ingat, Muara Enim—yang mempertemukan ia dengan teman-teman sekolah dasarnya yang karib, hingga Magelang. Di Magelang lah, Analisa menjalani sebagian besar masa hidupnya. Dirinya pindah ke Magelang mengikuti sang ayah sejak tahun 2006 ketika ia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Selama ini ia mengenal bahasa Sumatera dalam bercakap-cakap sehingga kepindahan keluarganya ke Magelang, Jawa Tengah, adalah bencana. Ia sama sekali tidak dapat berkomunikasi dengan lancar dengan teman-temannya. Adaptasi sangat sulit dilakukan kala itu. Analisa pun kesulitan mengikuti pelajaran terutama Bahasa Jawa yang 360 derajat berbeda dari bahasa kesehariannya. Peringkatnya di sekolah turun drastis hingga angka 32. Menyedihkan.

Tak disangka, Analisa mulai lancar berdialog menggunakan bahasa Jawa. Bahkan tidak sedikit orang yang kecelik menganggap dirinya orang Jawa. Ia pun lebih mudah mendapat teman meskipun sebagai minoritas di sekolahnya.

2013—Belajar Agar Tidak Belajar

Sejak SMP, Analisa terkesan sebagai murid baik-baik yang rajin belajar. Meski awalnya ia ragu bersaing dengan murid-murid jago lainnya, ia akhirnya berubah semenjak tengah semester kedua di bangku kelas 7. Sejak itu, Analisa hampir selalu menduduki peringkat 2 besar di kelas. Ia pun kerap tampil dalam lomba-lomba.

kamus adalah sahabat karib
(tapi bukan ini kamusnya)
Ia juga dikenal guru-gurunya berkat kemampuannya dalam berbagai mata pelajaran, terutama bahasa Inggris. Analisa memang suka dengan pelajaran yang satu itu. Ayahnya pandai bahasa Inggris dan menurunkan kemampuannya kepada si sulung dan si bungsu, Analisa. Ketika teman-temannya berbekal Alfalink (kamus elektronik yang tenar pada jamannya), Analisa justru berkutat dengan kamus yang tebal. Meski begitu, ia jauh lebih cekatan mencari arti kata dalam kamus. Ia belajar bahasa Inggris dengan mencatat setiap kata yang tidak ia ketahui artinya dan mencarinya di dalam kamus. Ketekunannya menjadikan ia pandai berbahasa Inggris bahkan tanpa menempuh les yang mahal.

Prinsipnya dalam belajar sangat tidak terduga namun masuk akal. Jangan sampai belajar dua kali. Ia tidak ingin mengulang pelajaran atau ujian alias remidi. Baginya, belajar sangat tidak menyenangkan dan membuatnya selalu tertekan. Ketidaksukaannya pada belajar lah yang menggerakkan dirinya untuk belajar hingga tanpa sadar dirinya mencapai 100 ketika yang lain hanya sebatas 70. Akhirnya, ketika lulus dari SMP, Analisa mendapat nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolah dan mendapat hadiah uang serta kebanggaan.

2014—Jalan yang Dihindari Mereka

Berbekal NIM yang tinggi, Analisa bisa saja mendaftar pada sekolah nomor satu di kotanya dan tanpa ragu diterima. Akan tetapi, ia lebih memilih SMA N 4 Magelang untuk meneruskan perjalanan. Di sekolahnya ini, ia mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya. Ia memilih masuk ke kelas imersi yang menggunakan bilingual atau dua bahasa dalam pelajaran-pelajarannya. Pada tahun kedua, dirinya memilih pindah jurusan yang semula IPA menjadi Bahasa. Kecintaannya pada bahasa terutama bahasa Inggris mengarahkannya pada kelas Bahasa yang hanya diminati 17 murid.
kelas Bahasa selalu ditunggu-tunggu saat pensi
Berkali-kali ia memilih jalan yang oleh kebanyakan orang akan dihindari. Selain memilih SMA yang kurang favorit, kelas imersi yang repot, dan kelas Bahasa yang sepi, Analisa juga memilih organisasi sekolah di SMA yang kurang diminati kala itu. Ia masuk Ambalan Abikarya, Pramuka di SMAnya.

bersama 27 selalu membuat bahagia
Analisa yang lemah itu kemudian ditempa fisik dan mentalnya selama tiga tahun. Setiap pagi dan sore, ia harus apel dan baris berbaris. Latihan fisik tidak pernah lewat, suara lantang selalu menggaung, disiplin nomor satu. Baginya, Abikarya sudah membentuknya menjadi pribadi yang lebih tegas dan bermental kuat. Dari Abikarya pula lah, Analisa mendapat saudara-saudara baru bernama 27 yang hingga kini masih berhubungan baik dengannya. Jalan yang telah ia pilih itu kini memberikannya bekal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.  

2016—Memilih Tanpa Menyesali

Analisa & teman-teman Ilkom
Memasuki dunia perkuliahan, Analisa lagi-lagi harus memilih. Ia diterima di dua jurusan sekaligus yaitu S1 Pariwisata UGM dan S1 Ilmu Komunikasi UNY. Keinginan orang tua menjadi pertimbangan yang sangat berat baginya sebab keinginan tersebut bertentangan dengan keinginannya sendiri. Dengan latar belakang jurusan yang masih baru, Analisa justru memilih Ilmu Komunikasi UNY. Ia pun mulai menjalani kehidupan kuliah sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Selama berkuliah, Analisa telah menjalani serangkaian pengalaman. Ia berkenalan dengan proses pembuatan film pendek yang menariknya untuk menjadi penulis naskah pada film-film pendek garapannya dengan teman-teman. Ia masih mencintai bahasa Inggris, tentunya. Ia pun mendapat keuntungan dari kecintaannya ini. Skor Protefl yang tinggi mengantarkan uang Rp1.000.000,00 kepadanya. 

Pertama kali ke luar negeri, Bangi, Malaysia
Tahun 2017, ia berkesempatan untuk Sit In di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan dibiayai oleh universitas. Berkat pengalamannya tersebut, ia juga dianugerahi penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi di bidang penalaran dan mendapat sejumlah uang. Menjajal berbagai macam kegiatan juga ia lakukan seperti menjadi enumerator penelitian kakak tingkatnya. Ia mendapat uang saku yang lumayan sebagai hasilnya mewawancarai 20 turis asing di Jalan Malioboro selama 5 hari.

2019—Kini

Analisa masih berusaha “mencintai belajar” agar dirinya lebih berguna tak hanya bagi diri sendiri namun pula bagi orang-orang. Ia menjadi lebih peduli pada media, kesetaraan gender, lingkungan, dan hewan-hewan. Salah satu kepeduliannya pada lingkungan terwujud pada keikutsertaanya pada kompetisi yang diadakan WWF Indonesia, organisasi nirlaba yang bergerak dalam konservasi lingkungan. Ia berhasil menjuarai kompetisi video kampanye yang menentang perdagangan sirip hiu untuk disantap dan mengantarkannya lebih dekat kepada WWF Indonesia, mimpinya. Ya, Analisa bermimpi untuk bisa bekerja di WWF suatu saat nanti.

Kini, Analisa masih harus menjalani perkuliahan di semester 6 akhir. Banyak hal telah ia pilih dan lalui. Perjalanannya, ia harapkan, masih panjang. Satu hal yang kini sudah ia pahami: sesudah memilih jalanmu sendiri, jangan lupa untuk dijalani.

Catatan akhir penulis:
Ketika teman-teman yang lain menulis biografi dengan singkat, saya mulai ragu untuk berkisah, tapi sekali lagi, saya memilih yang tidak orang-orang pilih, menuliskannya dengan panjang. 
Jadi, apa yang unik dari perempuan yang adalah saya ini?

“Life’s not a fairy tale. Girls like us don’t get that.” – Isn’t It Romantic, 2019.

Isn't It Romantic
(sumber: fandangonow.com)

Ketika seorang perempuan yang merasa dirinya tidak cantik harus terjebak dalam kisah cinta seperti di film-film komedi romantis. Mencoba bertahan menjalani kehidupannya bak perempuan cantik yang selalu mendapat perlakuan baik atas apa pun tindakannya. Yup, itulah cerita menarik yang disuguhkan film Isn’t It Romantic yang menggandeng Rebel Wilson sebagai pemeran utama, Natalie.

Film Isn’t It Romantic menampilkan kehidupan Natalie sebagai arsitek yang cenderung tidak percaya diri dan tertutup. Natalie biasa merancang garasi parkir bukan ruangan yang biasa mendapat perhatian seperti kamar atau lobby sehingga dirinya merasa malu untuk mengungkapkan ide rancangannya. Natalie diperlakukan dengan rendah oleh rekan kantornya bahkan oleh klien baru mereka, Blake—yang diperankan oleh Liam Hemsworth—yang menganggap dirinya bukan arsitek melainkan pesuruh yang tugasnya mengambil pesanan kopi saat pertemuan digelar di kantornya. Natalie akhirnya tidak jadi mempresentasikan garasi parkir rancangannya karena terlalu malu dikira pesuruh.

Whit, asisten Natalie dan rekan kantornya, Josh adalah satu-satunya yang tampak mendukung Natalie. Whit sibuk menonton drama komedi romantis di kantor yang sama sekali tidak disukai dan tidak dipercayai oleh Natalie. Baginya, komedi romantis hanyalah kebohongan sebab tidak ada tempat bagi orang sepertinya untuk merasakan situasi di dalam drama fiksi tersebut. Dirinya tidak pernah ‘terlihat’ oleh orang sekitarnya, tidak seperti pemeran dalam drama komedi romantis. Padahal Josh selalu mengajak Natalie untuk karaoke yang sebenarnya adalah ajakan berkencan tetapi selalu ditolak karena ia tidak suka karaoke dan terlalu menutup diri. Whit pun menyarankan Natalie—yang tidak peka ini—untuk bersikap lebih terbuka agar orang-orang dapat melihat dirinya lebih mudah.

Natalie mencoba mengikuti saran Whit untuk terbuka kepada seorang pria yang terlihat tertarik padanya tetapi ternyata sedang merampok dirinya. Hari-hari Natalie pun berubah sejak ia tidak sadarkan diri setelah dirampok di subway. Layaknya film komedi romantis yang mana pemeran utamanya berparas cantik, memiliki rekan kerja wanita yang menjadi saingan beratnya, dan berteman dengan seorang gay yang membantu mewujudkan cinta sejatinya, Natalie terjebak dalam situasi yang berbeda total dari kesehariannya.

Natalie yang dulunya tidak pernah ‘terlihat’ kini selalu mendapat perhatian oleh orang-orang berkat kecantikannya. Natalie bertemu Blake secara ‘sangat kebetulan’ karena hampir tertabrak, namun kemudian Blake jatuh cinta padanya. Tetangganya, Dony, yang dulu sangat kasar dan cuek kini menjadi sahabat gay Natalie yang nampak selalu membantunya kapan pun saat dibutuhkan. Setiap orang sangat ramah padanya, New York yang kumuh berubah menjadi bersih dan penuh bunga-bunga, apartemennya berubah mewah dan rapi. Natalie menyadari dirinya terjebak dalam komedi romantis. Ia pun meminta pertolongan Whit namun kehidupan komedi romantis mengubah asistennya menjadi saingannya. Akhirnya Natalie meminta bantuan Josh yang masih normal.

Hubungan Natalie dan Blake ternyata berjalan romantis seperti di film-film. Dengan bantuan Donny, Natalie pergi untuk berkencan dengan Blake. Mereka pergi makan malam di kapal pesiar mewah dan makan es krim di kedai yang sudah tutup. Meski demikian, Natalie ingin menyudahi kehidupan halunya di komedi romantis dan ingin segera kembali ke kehidupan asli. Satu-satunya cara adalah ia harus mendapatkan cinta sejatinya. Natalie berpikir kalau dirinya mencintai Blake yang tampan nan tajir, tetapi ketika Blake sudah mengucapkan kata “aku mencintaimu” Natalie tidak kembali ke kehidupan aslinya.

Josh bertemu Isabella
(sumber: Slash Film)
Josh yang dulunya menyukai Natalie malah bertemu Isabella dan berencana menikah. Josh menyadarkan Natalie bahwa ia tidak seperti Isabella yang percaya diri, mau berkaraoke, dan percaya akan kemampuan sendiri. Natalie kemudian sadar bahwa bukan Blake melainkan Josh orang yang ia cintai. Sekali lagi, dengan bantuan Donny, Natalie mencoba merebut kembali Josh. Ketika hari pernikahan Josh dan Isabella di gereja, Natalie ingin menggagalkan pernikahan mereka. Namun refleksi dirinya yang bahagia muncul berkelebatan di ingatannya hingga akhirnya ia sangat-sangat sadar dirinya sendirilah yang ia cintai, bukan Blake, bukan Josh, apalagi Donny hehe. Kehidupan asli Natalie yang menyebalkan pun segera saja menjemputnya dari drama komedi romantis.

Natalie kembali ke kantor namun dengan lebih percaya diri dan menghargai dirinya sendiri. Ia melangkah dengan yakin menuju ruang rapat dan mempresentasikan idenya tentang garasi parkir hotel. Ia berhasil meyakinkan kepada orang-orang dan kepada Blake saat meeting kalau garasi parkir yang tidak biasa diperhatikan oleh orang-orang bisa menjadi daya tarik baru di hotel Blake. Natalie akhirnya menyadari ketertarikan Josh pada dirinya selama ini. Mereka pun akhirnya berkencan. Film ditutup dengan para pemain yang menyanyi dan menari.

Film ini jelas sangat menyindir film-film komedi romantis yang klise dan kadang tidak masuk akal. Sosok seperti Natalie yang jarang menjadi tokoh utama dalam komedi romantis manapun mengingatkan kita pada kehaluan fiksi romantis tersebut. Bahwa kehidupan sempurna komedi romantis hanya bagi mereka yang cantik dan tampan dan bukan bagi selain mereka. Banyak orang yang bermimpi bisa menjalani kehidupan komedi romantis dan akhirnya menemukan pasangan sejati mereka, namun Natalie yang terjebak di dalamnya justru lebih menginginkan kehidupan asli yang normal. Garasi parkir dengan Natalie, perempuan yang tidak pernah terlihat adalah analogi menarik yang diberikan cerita ini. Film ini sendiri sebenarnya juga komedi romantis tetapi dengan cerita yang sedikit keluar dari alur klisenya. Film ini mengajarkan untuk mencintai diri sendiri dan...

Jika kamu berada dalam situasi yang dialami Natalie, segeralah keluar! It’s a trap.

Judul: Isn’t It Romantic
Sutradara: Todd Strauss-Schulson
Skenario: Erin Cardillo, Dana Fox, Katie Silberman
Pemain: Rebel Wilson, Liam Hemsworth, Adam Devine, Priyanka Chopra



Wonderworks Prodigy
(sumber: goodreads.com)
Judul: Wonderworks Prodigy: Petualangan Baru di Reign of Avalon
Penulis: Ginger Elyse Shelley
Penerbit: PING!!!, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-602-0806-47-1

Novel Wonderworks Prodigy adalah jawaban atas kelanjutan kisah penyihir-penyihir remaja yang bersekolah di Reign of Avalon. Kisah tersebut tertuang dalam novel prekuel yang berjudul hampir sama—Wonderworks namun diterbitkan oleh Dar! Mizan. Penulis prekuel tersebut ialah Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie—yang namanya tidak wajar panjangnya. Entah apa yang membuat Ziggy akhirnya mengganti nama penanya menjadi Ginger Elyse Shelley, yang pasti buku ini terbit sebagai kelanjutan petualangan Hani Kalista, Axel Marvell, dan kawan-kawannya yang menarik.

Pembaca baru yang tidak mengenal prekuelnya akan penasaran dengan latar belakang kisah dalam buku ini sebab begitu banyak misteri yang diceritakan kembali dalam penjelasan yang kurang detail. Akan tetapi bagi pembaca dan penunggu setia Wonderworks, buku ini mengobati kerinduan mereka akan tokoh-tokoh penyihir muda Reign of Avalon yang telah lulus.

Wonderworks, Prekuel dari Wonderworks Prodigy
(sumber: goodreads.com)
Kisah sebelumnya mengenalkan peserta pelatihan sihir baru dari penjuru dunia yang mendapat Glodscend sebagai undangan untuk bersekolah di Reign of Avalon, sekolah sihir yang berdiri di Glastonbury Abbey dengan dimensi Sentruum. Peserta-peserta tersebut—Hani Kalista, Axel Marvell, Xin Xiao Mei, Kyle Honeywell, Abbey Lee Talbot, Chai Sun Hi, Zoe Marshall, Raksha Rajesh Shrivastava, dan Ethan Barret memiliki keunikan dan keajaiban masing-masing sehingga membuat pembaca asyik dan terhibur dengan tingkah mereka. Tokoh utama dalam novel prekuel ini adalah Hani Kalista, Si Pemilik Keberuntungan yang berasal dari Jakarta. Novel Wonderworks mengisahkan ke-9 peserta ini belajar dan mengendalikan potensi sihir yang terpendam dalam diri mereka hingga pada suatu hari keberuntungan Hani membawa malapetaka di Avalon yang menyebabkan mereka tidak jadi mengikuti ujian.

Berbeda dengan prekuelnya, novel kelanjutan ini berkisah tentang salah satu peserta baru yang masih kecil namun memiliki kemampuan sihir yang besar. Seperti nama bukunya, prodigy berarti anak kecil yang luar biasa pandai. Jika pada siklus lalu terdapat sembilan peserta, maka ada delapan peserta baru yang diundang ke Reign of Avalon pada siklus pelatihan baru ini. Tak hanya itu, buku ini juga menghadirkan kembali alumni Avalon periode sebelumnya. Hani, Xiao Mei, Kyle, dan Axel  kembali ke Avalon sebagai mentor para murid baru, sedangkan Abbey menjadi guru di Avalon. Sementara itu, Chai Sun Hi membuka toko penukaran hadiah di Avalon. Kembalinya penyihir-penyihir ini bagaikan reuni yang dinantikan oleh segenap pembaca Wonderworks dan Hani, tentunya.

Kisah bermula dengan latar empat tahun setelah insiden keberuntungan Hani yang terjadi di Avalon. Sekolah sihir tersebut tengah menerima peserta pelatihan baru yang selalu diadakan setiap empat tahun sekali. Para guru berkumpul di Glastonbury Abbey dan mulai menyebarkan Glodscend, bola cahaya yang akan “memindahkan” peserta-peserta baru dari negara asalnya ke Avalon. Terdapat delapan buah Glodscend yang berarti akan ada delapan peserta baru di Avalon. Akan tetapi, sebuah Glodscend kabur dengan menghilang di udara. Kaburnya bola sihir itu mengindikasikan keistimewaan si penerimanya. Pembaca pun diajak untuk mengungkap siapa peserta yang akan mendapat Glodscend yang kabur tersebut.

Kisah berlanjut dengan kedatangan delapan peserta baru Avalon, yaitu Altan Sevim, Cael Reid, Mariska Sipos, Gabriel Moreno Vega, Lori Grey, Alexis Martinovich, Brielle Roux, dan Robin Locket. Peserta pelatihan baru ini akan menjalani empat bulan masa pelatihan di Avalon sehingga harus tinggal di asrama. Menggandeng tokoh utama baru bernama Robin Locket, bocah berusia 10 tahun yang mendapatkan Glodscend yang kabur, novel ini lebih banyak menaruh perhatian pada Robin dan teman-teman seangkatannya yang istimewa. Ke-8 peserta pelatihan menjalani hari-hari mereka di Avalon sebagai peserta pelatihan. Mereka dikenalkan dengan mantra untuk membuat tongkat sihir, cara menerbangkan sapu terbang, dan transformasi benda, persis seperti kisah-kisah penyihir terkenal lain. Mereka pun mendapatkan jadwal pelatihan dari hari Senin hingga Sabtu yang terdiri dari berbagai jenis sihir seperti sihir umum, transformasi, sihir penyerangan, sihir putih, sihir hitam, telekinesis dan levitasi. Tidak hanya pelatihan di kelas, mereka pun mendapat jadwal untuk berduel sihir di Koloseum.

Kemampuan sihir rupanya tidak hanya berada dalam diri manusia melainkan juga hewan. Dalam buku ini, para penyihir memiliki hewan familiar yang bisa menguatkan sihir mereka. Hewan familiar berasal dari telur bernama pyewacket yang akan menetas jika sihir pemiliknya sudah cukup kuat. Hewan-hewan tersebut tidak muncul di siklus pelatihan sebelumnya, akan tetapi pada siklus ini tiap peserta pelatihan dan para mentor mendapatkan hewan familiar untuk membantu penyihir apabila insiden buruk terjadi.

Sejak insiden yang terjadi di Avalon pada siklus lalu, keamanan ditingkatkan dan para mentor harus bertanggung jawab pada peserta pelatihan. Para mentor masing-masing mendapat tanggung jawab terhadap dua peserta. Hani yang di kisah sebelumnya mendapat porsi paling banyak, kini berkesempatan muncul lebih sering dibanding mentor lain sebab ia bertanggung jawab pada tokoh Robin Locket dan Altan Sevim. Altan Sevim, seperti halnya Robin, merupakan tokoh yang cukup istimewa di kisah ini. Mrs. Wiesner, salah seorang guru di Avalon yang menyadari keistimewaan Robin, mengundang Departemen Pertahanan untuk menyelidiki potensi sihir yang besar pada diri Robin yang kecil.

Konflik mulai muncul ketika Robin mengalami kecelakaan sapu terbang dan tidak bisa bangun. Robin kecil rupanya tidak pernah tidur sejak kedatangannya di Avalon. Ia beralasan bahwa dirinya selalu mengalami mimpi buruk ketika tidur. Insiden tersebut berujung pada kedatangan Adelfo English, mantan guru sihir penyerangan di Avalon yang kini bekerja di Departemen Pertahanan. Adelfo datang atas panggilan dari Mrs. Wiesner untuk menyelidiki Robin. Ia pun mulai menggali data dari para mentor, penjaga perpustakaan, bahkan dari teman-teman seangkatan Robin. Ia mendapati fakta bahwa Robin adalah Robin Johannes Locket yang terkenal dari Georgia dengan IQ tinggi dan pernah menerbitkan buku tentang kakaknya yang koma.

Robin ternyata terjebak dalam mimpi buruk dan tidak bisa bangun. Hani terbawa ke alam mimpi Robin dan ikut-ikutan tidak bisa keluar dari mimpi. Hewan familiar yang dimiliki para mentor akhirnya digunakan Adelfo untuk membangunkan keduanya. Robin pun bercerita tentang mimpi buruknya. Tentang bagaimana kakaknya kecelakaan sehingga harus mendapat donor mata dan akhirnya koma. Juga tentang pendonor mata kakaknya yang telah meninggal tetapi selalu muncul pada mimpi Robin untuk mengambil tubuh kakaknya agar bisa hidup kembali.

Apa yang telah dialami Robin rupanya tidak hanya mendatangkan Adelfo, tapi juga teman-teman Hani lainnya. Raksha yang bekerja di apotekari Departemen Teknologi dan Penemuan Sihir datang untuk memberi ramuan perasaan agar Robin tidak mengalami mimpi buruk lagi. Zoe dan Ethan pun harus datang ke Reign of Avalon pada akhirnya. Bencana akibat mimpi buruk Robin tidak dapat terelakkan. Avalon dan para penyihir berada dalam bahaya karena ternyata insiden pada pelatihan siklus lalu masih berlanjut.

Semua ini sebenarnya bermula pada keinginan kuat Hani untuk berkumpul lagi dengan teman-temannya. Hani yang masih belajar mengendalikan keberuntungannya secara tidak sengaja telah mendatangkan bahaya kepada Avalon. Dengan cara yang ‘ajaib’ seperti pada buku sebelumnya, keberuntungan Hani justru membawa kembali teman-temannya beserta malapetaka ke tanah Avalon.

Banyak hal menarik yg bisa dibaca dari buku ini. Buku yang berasal dari Indonesia ini memang kurang terkenal jika dibandingkan dengan kesohoran serial Harry Potter karangan J. K. Rowling yang menjadi acuan cerita fiksi sihir. Akan tetapi kisah yang disajikan oleh Ziggy alias Ginger ini tidak kalah menarik dan menggugah imajinasi pembaca. Bercerita tentang dunia sihir yang penuh daya imajinatif, buku ini pantas untuk dibaca bagi penikmat Harry Potter tanpa harus mengubahnya menjadi buku serupa. Maksudnya adalah ceritanya sudah menarik tanpa harus menjiplak kisah penyihir Hogwarts itu. Buku ini juga menyuguhkan kesegaran baru dalam dunia sihir. Adanya Glodscend sebagai alat transportasi ke dimensi lain bagaikan portkey dalam dunia Harry Potter namun bentuknya lebih magis ketimbang sepatu boots. Harry Potter punya animagus sebagai bentuk transformasi penyihir namun Wonderworks Prodigy memunculkan  hewan familiar yang bahkan memiliki kemampuan-kemampuan sihir. Pembuatan tongkat oleh penyihirnya langsung dengan mantra juga sangat berbeda dari dunia Harry Potter yang tongkatnya sudah dibuat oleh Ollivanders Si Pembuat Tongkat Sihir. Jika Inggris memiliki buku fiksi sihir kenamaan Harry Potter, maka Indonesia dengan bangga memiliki Wonderworks Prodigy.

Pada akhirnya, buku ini telah menjawab keingintahuan para pembaca Wonderworks yang penasaran akan kisah apa lagi yang terjadi setelah kelulusan Hani dan kawan-kawannya. Ginger maupun Ziggy telah berhasil menggaet pembaca setianya lewat semesta Avalon yang berkekuatan magis.