Showing posts with label Amrullah Surya Hartama. Show all posts
Showing posts with label Amrullah Surya Hartama. Show all posts
Hasil gambar untuk hujan

Aku sedang berada ditempat dimana semua akan kembali, tempat dimana semua akan pulang dan tempat dimana semua akan menuju akhir.

Aku disini berdiri kaku disebuah pusara yang ditempati dirinya
Aku, masih disini terdiam sepi melihat batu nisan yang mengukir namanya untuk selamanya.
Aku masih tak beranjak dari sini walau alam terlihat pekat.
Angin pun berhembus cukup kencang untuk menerbangkan sekelompok kelopak bunga yang menghiasi tempat dia dibaringkan.

Ya, aku sedang berada di pemakaman.

Tempat dimana terburai nya rasa ku
Tempat dimana hancur nya catatan mimpi ku
Tempat dimana tenggelam nya harapan dan khayal ku.
Tempat dimana aku ingin menangis! Tidak! Aku tak boleh menangis.
Tapi sesak sekali dada ini, kontrol untuk membendung air mata pun seperti tak berjalan baik.
Siaallll aku harus kuat.

Aku pun coba untuk mengatur nafas agar mengontrol sesak yang berat ini, mengatur agar air mata ini tak mengalir.
Siaaall, semakin ditahan semakin itu pula aku ingin menangis. 
Hingga suara itumenyadarkan ku
"Nak, balik yuk?? Udah lama kita disini lihat yang lain udah pada balik, lagipula udah mau hujan nak" ucap ibu yang sekarang satu satunya aku punya.
Aku hanya melirik sedikit kebelakang dan aku pun menatap ke langit. 
Iya langit yang hitam pekat.
"TESS" setetes butir hujan mengenai pipi ku disertai dengan tetesan lain yang semakin banyak, aku pun memejamkan mataku untuk merasakan butiran butiran hujan.


"Hujan"


Sang pejabat
Berbaju cokelat
Sepatu sangat mengkilat
Kerja dari rapat ke rapat
Berlomba mengejar naik pangkat

Sang pejabat
Enggan berkeringat
Merasakan nikmat
Menjadi terhormat
Dapat jaminan hidup sepanjang hayat
Tapi lupa akan janji rakyat





Hallo teman –teman !

Assalamualaikum Wr. Wb,

Kali ini saya akan menceritakan tentang biografi saya sendiri. Bagi yang belum mengenal saya, perkenalkan nama saya Amrullah Surya Hartama. Saya lahir di Lampung 21 tahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 29 Mei 1998. Walaupun saya lahir di Lampung tapi saya besar di Yogyakarta. Nah, jadi ayah saya adealah orang lampung dan ibu saya orang Yogyakarta. Sehingga selama hidup saya sering berkunjung ke kampung halaman juga yaitu di Lampung.
Lepas dari itu semua, kali ini saya akan lebih membahas tentang bisnis yang sudah saya keguluti dari saya masih kecil. Jadi bisa dibilang bisnis ini adalah bisnis keluarga. Kok bisnis keluarga sih? Memang bisnis apa? Mungkin kalian bertanya – tanya tentang bisnisku ini. Jadi yang saya maksud bisnis keluarga adalah bisnis helm. Karena dari saya kecil, saya sudah diajak untuk ikut ayah saya berjualan helm. Selain itu paman – paman saya juga berjualan helm. Hingga saat ini bisnis paman – paman saya semakin besar, karena mereka menjadi distributor petama yang ada di Yogyakarta. Walaupun merk dearti kedua paman saya ini berbeda, dan kadang kala terjadi perselisihan tetapi saya tetap bangga. Bahkan saat ini saya mulai memulai bisnis ini sendiri.
Jadi saya diberi modal untuk membuka toko helm sendiri. Bisnis saya ini sudah berjalan sekitar dua tahun. Dengan saya memulai membuka bisnis ini harapan dari keluarga bisa melanjutkan bisnis yang sudah dicapai paman –paman saya. Walaupun selama saya membuka tokon ini merasa untung yang saya dapat tidak begitu besar tetapi syaa merasa senang dan juga akan melanjutkan terus bisnis ini. Jadi pesanku untuk kalian, jangan pernah mengeluh dengan keadaan. Ingatkan roda pasti akan berputar. Jika saat ini kalian belum ada di atas bersabarlah, karena mungkin esok hari kalian akan berada di atas. Nah, saya rasa cukup ya biografi dari saya hehehe.
Sampai jumpa ditulisan saya selanjutnyaa 

Wassalamuaikum Wr. Wb



Hallo teman – temann !!!


Assalamualaikum wr.wb
Kemarin tanggal 14 Maret 2019 ada film yang mulai tayang di bioskop. Nah beberapa hari kemudian saya mendatangi bioskop dan menonton film Yowis Ben 2. Film Yowis Ben 2 ini merupakan film lanjutan dari Yowis Ben pertama. Cerita dari Film Yowis Ben ini adalah menceritakan perjalanan karir suatu band dan juga jalan percintaan masing – masing personilnya. Yang menjadi tokoh utama dari film ini yaitu band Yowis Ben. Pada Yowis Ben pertama menceritakan awal band ini dibentuk, mulai dari Bayu dan Doni yang mencari personil. Kemudian bertemu dengan Yayan dan juga Nando. Mereka berempat merupakan siswa SMA di Malang. Nah teman - teman film Yowis Ben ini menggunakan bahasa daerah yang sangat kental. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Timuran. Dari penggunaan bahasa daerah inilah yang menjadikan film Yowis Ben menarik dan berbeda.



Kemudian pada Yowis Ben 2 ini lebih menceritakan karier mereka yang ingin semakin melejit. Akhirnya mereka bertemu dengan Cak Jim yang mengaku sebagai manajer yang sudah berpengalaman dan mengajak mereka ke bandung. Mereka pun merasa senang dan menyetujuinya. Namun, pada saat di Bandung ternyata tidak seperti yang diharapkan. Karena Mr Smith ternyata membohongi mereka.Meereka pun akhirnya kembali ke Malang dengan tangan hampa. Di samping cerita tentang proses perjalanan karier Yowis Ben ini terdapat cerita cinta juga dari masing – masing personil yang bertemu dengan perempuan – perempuan baru. Bahkan salah satu personilnya yaitu Yayan juga sudah menikah. Kenudian Bayu mendapatkan kenalan baru di Bandung yang bernama Asih. Diakhir cerita ternyarta Yowis Ben tetap dapat melanjutkankariernya, bahkan akan mengadakan toour ke beberapa kota di Indonesia dengan manajer mbak Bondol yang disukai oleh Doni.

Nah teman –teman dari ceritra ini kita dapat simpulkan bahwa jika kita memiliki kemauan dan mimpi, maka kita harus mengejar mimpi itu dan yakin apa yang terbaik dari mimpi itu. Film ii juga sangat bagus untuk ditonton. Memiliki banyak pesan moral dan ceritanya sangat mengena dihati para penontonya. Nah itu tadi resensi film dari saya. Semoga bermanfaat bagi semua pembaca.

Wassalamualaikum wr.wb


Judul : FATMAWATI Catatan Kecil Bersama Bung Karno
Penulis : Fatmawati Soekarno
Penerbit : Media Pressindo dan Yayasan Bung Karno
Tahun Tebit : 2016
Kota Penerbit : Yogyakarta
No ISBN : (10) 979-911-600-7
Tebal Halaman : xxii + 274 hlm
Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Buku yang berjudul Fatmawati Catatan Kecil Bersama Bung Karno ini merupakan buku yang ditulis oleh Ibu Fatmawati sendiri. Tahun 2016 adalah cetakan keempat buku yang diterbitkan di Yogyakarta. Dalam buku ini Ibu Fatmawati menceritakan segala suatu hal apapun yang beliau alami dan dilengkapi dengan foto-foto pada saat itu. Pada halaman awal, Ibu Fatmawati menuliskan beberapa sajak “ PETA PERJALANAN “ tahun 1977. Lalu halaman selanjutnya terdapat prakata dari Ibu Fatmawati dan juga pengantar dari Guruh Sukarno Putra yang merupakan anak terakhir Bung Karno dan Ibu Fatmawati. Kemudian terdapat juga prakata dari penerbit yang merupakan terbitan keempat setelah terbitan ketiga 33 tahun yang lalu. Dalam buku ini akan membahas beberapa pokok pembahasan yaitu periode Bengkulu, periode zaman Jepang dan kemerdekaan, periode Yogyakarta, periode Istana Merdeka, dan periode Sriwijaya. 

Kemudian pada periode Bengkulu, Ibu Fatmawati menceritakan tentang kelahiran Ibu Fatmawati dan juga masa kecil beliau. Ibu Ftamawati lahir di Bengkulu pada tanggal 5 Februari 1923. Ayah dan ibu dari Ibu Fatmawati adalah Hassan Din dan Siti Chadijah. Bengkulu menurut Ibu Fatmawawi adalah pelabuhan tempat eksport hasil hutan dan hasil perkebunan. Ayah dari Ibu Fatmawati adalah seorang pegawai Borsumy dengan pangkat klerk dan gaji yang cukup baik. Pada tahun 20-an ayah Ibu Fatmawati melepas pekerjaannya karena panggilan perjuangan yaitu diorganisasi Muhammadiyah. Masa kecil Ibu Fatmawati tidak seperti anak-anak zaman sekarang. Beliau mengaalami banyak permasalahan karena pada masa itu Indonesia masih dikuasai pleh Belanda. Ibu Fatmawati tinggal di kota kecil tidak jarang keluarganya mengalami krisis rumah tangga. Ibu Fatmawati juga seorang putri yang mandiri, beliau mau meringankan beban orangtuanya dengan berjualan. Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa Ibu Fatmawati berkali-kali pindah rumah.

Selanjutnya masih periode Bengkulu dimana pertama kali Ibu Fatmawati bertemu dengan Bung Karno. Pada saat itu Bung Karno memiliki seorang istri yang bernama Ibu Inggit. Ibu Fatmawati juga sempat melanjutkan sekolah bersama Ratna yang merupakan anak angkat Bung Karno dan tinggal di rumah Bung Karno. Namun, terjadi permasalahan yang disebabkan Ratna yang mengharuskanku pulang dan meninggalakan rumah Bung Karno. Setelah kejadian itu, pada suatu waktu Bung Karno mendatangi rumahku. Tak disangka saat itu Bung Karno menyatakan cinta pada Ibu Fatmawati. Namun, Ibu Fatmwati merasa bingung karena Bung Karno sudah memeliki istri. Sehingga ayah menyuruh Ibu Fatmawati untuk menanyakan hal tersebut kepada para tetua. Setelah Ibu Fatmawati bertanya kesana kemari akhirnya beliau mengiyakan Bung Karno namun dengan syarat harus menjadi istri satu-satunya. Setelah Ibu Fatmawati memberi jawaban Bung Karno pergi ke Jawa. Ibu Fatmawati harus menunggu Bung Karno mengikuti perjuangan selama empat tahun dan melakukan pernikahan. 

Setelah menikah Ibu Fatmwati dibawa ke Jawa untuk bertemu dengan orangtua Bung Karno dan juga menetap di Jakarta. Perjalanan ke Jawapun merupakan perjalanan yang tidak mudah. Sepanjang perjalanan rombongan Ibu Fatmawati haru was-was terhadap Belanda. Periode Bengkulu berakhir dengan dibawanya Ibu Fatmawati ke Jakarta. Pembahasan yang kedua yaitu mengenai periode zaman Jepang dan kemerdekaan. Periode ini diawali dengan tempat tinggal Ibu Fatmawati di Jakarta yaitu di Pegangsaan Timur 56. Di rumah inilah Ibu Fatmawati melahirkan putra pertama yang bernama Muhammad Guntur Sukarno Putra. Rumah ini juga menjadi saksi kemerdekaan dengan dibacakan teks proklamasi, pengumungan kemerdekaan juga pengibsran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya. Saat ini juga menceritakan lahirnya pancasila di gedung Tjo Sangi In dengan pidato Bung Karno yang membara. Selain itu juga tak lupa Ibu Fatmawati menceritakan kejadian di Rengasdengklok. Periode ini merupakan periode yang sangat menegangkan.

Setelah zaman Jepang dan Kemerdekaan kita akan disuguhkan dengan periode Yogyakarta. Pada masa ini Ibu Fatmawati menceritakan hijrahnya ke Yogyakarta dikarenakan Jakarta sudah tidak aman lagi. Di Yogyakarta, Bung Krano dan Ibu Fatmawati tinggal di Gedung Agung. Hijrahnya Bung Karno beserta keluarga menjadikan Yogyakarta sebagai pusat perjuangan. Segala sesuatu mulai pemerintahan dan juga sebagai markas dilakukan di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengkubuwono juga memberi bantuan yang sangat mencukupi kebutuhan selama di Yogyakarta. Pergolakan juga tidak henti-hentinya terjadi, dan saat iitu pula lahir putri Ibu Fatmawati yang bernama Megawati. Ibu Fatmawati juga selalu mendampingi Bung Karno disetiap kunjungannya. Pada periode ini juga diceritakan mengenai Agresi Militer Belanda satu dan dua. Hal tersebut mengharuskan keluarga Bung Karno untuk berpindah tempat karena Belanda sudah mengetahui keberadaan Bung Karno. Saat itu juga Bung Karno dan Bung Hatta di bawa ke pulau Bangka dan kami yang berada di Yogyakarya menjadi tahanan Belanda. Hingga Ibu Fatmawati dan yang lainnya juga harus keluar dari Gedung Agung.

Selanjutnya pada saat masa di Istana Merdeka dimana Bung Karno dan keluarga kembali ke Jakarta. Namun, sebelum Bung Karno dan keluarga kembali ke Jakarta keadaan sudah membaik sehingga Bung Karno dan Bung Hatta dilantik sebagai Presiden dan Wakil presiden RIS (Republik Indonesia Serikat). Dalam periode ini Ibu Famawati menceritakan saat dirinya kembali ke Jakarta dan dijemput para kerabatanya. Ibu Fatmawati juga membahas mengenai gedung Istana Merdeka dan Istana Negara di sebelah utaranya. Ibu Fatmawati mendampingi Bung Karno ke berbagai negara untuk kunjungan. Kelahiran putra putri Bung Karno dan Ibu Fatmawati juga diceritakan pada periode ini. Pada tahun 1951 lahir seorang putri yang bernama Dyah Permana Rachmawati Sukarno Putri. Tahun 1952 lahir putri ketiga yang bernama Dyah Mutiara Sukmawati. Terakhir pada tahun 1953 lahir seorah putra yang diberi nama Mohammad Guruh Irianto Sukarno. Kelahiran Guruh merupakan anak terakhir dari Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

Kemudian yang terakhir adalah periode Sriwijaya yang dalam buku ini diceritakan sangat singkat. Periode ini menceritakan kepergian Ibu Fatmawati dari Istana Merdeka dikarenakan hubungan beliau dengan Bung Karno yang kian memburuk. Bahkan Ibu Fatmwati juga meninggalkan kelima anaknya di Istana Merdeka. Ibu Fatmawati merasa sedih dan terpukul sekali atas apa yang diperbuat Bung Karno. Dalam periode sebelumnya Bung Karno pernah meminta izin pada Ibu Fatmawati untuk menikah lagi. Namun, Ibu Fatmawati tidak mengizinkannya dan bertahan hingga Guruh lahir. Ibu Fatmawati tetap tegar dan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Sehingga buku ini sangat menarik dan seakan-akan membawa para pembacanya terlibat dalam segala peristiwa. Buku ini juga sangat cocok dibaca untuk yang menyukai sosok ibu Fatmawati. Bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti. Sehingga para pembaca mudah untuk memahami isi dari buku ini. 



 Assalamualaikum, Hallo teman – teman !!!
Bagimana kabar kalian? Semoga baik – baik saja ya. Oiya kali ini saya akan memberikan suatu informasi tentang lokasi wisata yang sangat cocok untuk bersantai. Kalian mau tau? Yuk simak terus tulisan ini. Nah jadi tempat wisata tersebut adalah Telaga Desa Baturetno. Ada yang sudah tau tentang Telaga Desa Baturetno? Dimanasih letaknya? Nah Telaga Desa Baturetno ini merupakan Telaga atau masyarakat menyebutnya dnegan embung yang berada di Kelurahan Baturetno. Untuk letak pastinya berada di Jl Wiyoro Kidul, Wirono, Baturetno, Banguntapan, Bantul. 
Berada di Telaga Desa Baturetno kita bisa menikmati pemandangan air yang tenang dibumbui suara kendaraan yang bersautan. Jadi pada saat saya kesana, saya dapat merasakan hal itu. Karena lokasi dari Telaga Desa Baturetno ini berada di pinggir jalan raya yang biasa disebut dengan ring road tiimur. Sensasi itulah yang membuat Telaga Desa Baturetno berbeda. Kemudian selain itu ada pula pemandangan dari alat – alat untuk membuat semen milik PT Suradi yang menjadi pemandangan indah tersendiri. Nah, temen – temen tertarik kan untuk datang ke Telaga Desa Baturetno? Oiya untuk maasuk ke sana juga tidak dipungut biaya loh, alias geratisss hehe. Tapi satu yang belum ada di Telaga Desa Baturetno adalah tidak adanya poenjual makanan di sana. Aku tau kalau kalian pergi pasti butuh cemilan sebagai teman untuk menikmati keindahan hehe. Jadi saranku kalian bawa makanan dari rumah hehe.
Kalau kalian sudah bawa makanan kalian juga harus ingat untuk  membuang sampah pada tempatnya ya. Jangan sampai tempat yang indah menjadi tercemar dengan sampah – sampah kalian. Dimanapun kita menginjakan kaki, kita harus selalu menjaga kelestariaanya ya. Nah itu tadi informasi tentang tempat wisata yang sudah saya kunjungi beberapa hari yang lalu. Jika kalian tertarik cus langsung datang yaa dan nikmati keindahannya hehe.
Terimakasih sudah membaca, Wassalamualaikum.

Halloo teman-teman!! Kali ini saya akan memberikan review tentang si kecil gudang pengetahuan. Menurut kalian apasih yang saya maksud? Nah jadi yang saya maksud adalah festival patjar merah. Patjar merah merupakan sebuah festival kecil literasi dan pasar buku. Patjar merah sendiri dapat ditemukan di Jalan Gedongkuning No 118 Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Masuk ke dalam patjar merah adalah suatu hal yang sangat menakjubkan. Di sana dapat menemui berbagai jenis buku, mulai buku referensi, penunjang pelajaran, agama, politik dan soshum, novel, hingga buku memasak. Sehingga semua kalangan usia dapat memasuki festival kecil nan bermanfaat ini. Untuk masuk ke  dalam ribuan ilmu ini tidak harus merogok uang karena benar-benar geratis. Kemudian setiap harinya di festival ini juga terdapat sarana untuk berdiskusi dengan berbagai tema yang menarik.


Pada saat saya ke sana, saya sigap berburu buku hingga membuat saya kebingungan. Karena banyak buku yang menarik hati saya. Kemudian, saya juga tidak melawatkan diskusi nan asyik. Pembicara yang mengisi diskusi tersebutpun sangat bagus. Mampu menarik perhatian yang datang. Selain itu, yang membuat saya kagum dengan festival ini yaitu sama sekali tidak menggunakan plastik untuk pembeli buku. Karena yang saya ketahui dari awal, festival ini memang mendorong untuk menugari penggunaan plastik yang hingga saat ini masih melimpah. Hal ini merupakan hal yang sangat baik untuk memulai perubahan. Gimana teman-teman? Asyik kan bisa menikmati festifal ini hehe. Saya juga berharap, kedepannya festival seperti ini harus sering diadakan. Sehingga minat membaca anak bangsa akan lebih meningkat. Seperti ini review dari saya. Semoga bermanfaat.