Hari sudah sore. Sudah waktunya aku berangkat ke kantor.
Malam ini sepertinya akan menjadi malam yang berat. Siang tadi, banyak orang
unjuk rasa di depan kantor kepolisian. Korban-korban mulai bermunculan. Mulai
dari yang terkena luka bacok, terinjak-injak, bahkan terkena pistol listrik. Malam
ini aku akan melanjutkan perawatan. Memulai prosedur operasi bagi korban dengan
luka berat. Aku berdoa, semoga kota Los Susi akan kembali damai seperti dulu
lagi.
Hai. Namaku Joshua. Aku chief
doktor di Rumah Sakit Sehat. Menjadi kepala rumah sakit ini tidaklah mudah.
Seiring dengan adanya kekacauan di kota, maka korban pun akan berdatangan.
Rumah sakit ini sudah seperti mesin yang bekerja dua puluh empat jam tanpa
henti. Terus menerus merawat korban kekacauan kota. Baik itu dari sekelompok
provokator, hingga kepolisian. Rumah sakit ini menjadi ruang netral. Tidak ada
yang melawan satu sama lain. Keselamatan nyawa seseorang merupakan prioritas
paling utama disini.
Ditengah kericuhan kota, ada seseorang yang membuat kondisi
menjadi lebih nyaman. Samsul. Dia anak sekolah dasar yang tidak melanjutkan
sekolahnya. Sehari-hari, kita bisa menemukannya di alun-alun kota. Bermain
kesana kemari, mengajak orang-orang disekitarnya untuk bermain. Pada pagi hari
dia biasa memberi makan kucing-kucing liar di sekitar alun-alun kota. Pada
siang hari, Samsul biasanya jalan-jalan. Mencari teman. Kadang-kadang, minta
dibelikan eskrim. Sorenya, dia bermain layang-layang di alun-alun kota atau di
pantai. Berbagai lapisan masyarakat mengenalnya. Mulai dari geng motor, kartel,
komunitas, kepolisian, hingga teman-teman rumah sakit semua mengenalnya. Samsul
adalah teman kita. Membawa kebahagiaan ditengah kerusuhan kota.
Pernah kala itu Samsul datang ke rumah sakit. Waktu itu aku
sedang mendapat tugas jaga. Berjalan ke arah rumah sakit sambil menuntun
sepedanya. Dalam keranjang sepedanya, ada anak kucing yang terlihat berlumuran
darah.
“Hey Samsul!, ada apa? Kenapa terlihat lusuh sekali?”,
tanyaku.
“Pak Jos, mau minta tolong Pak Jos. Kucing Pak Jos. Dia
berdarah”.
“Ya ampun. Habis dari mana kamu? Apa yang terjadi dengan
kalian?”
“Tadi habis ada perampokan di bank pak. Lalu aku menemukan
kucing ini di dekat bank. Tolong pak disembuhin pak”
Aku bukan dokter hewan. Walaupun begitu, aku mencoba
membantu kucing tersebut. Rekan-rekan dokter kuperintahkan untuk bersiap.
Perampokan yang terjadi di bank, tidak menutup kemungkinan akan adanya korban.
Kubersihkan kucing tersebut sambil ku tanya kepada Samsul,
apakah dia baik-baik saja. Dia terlihat lelah, ku merasa kasian dengan Samsul.
Samsul kuminta untuk istirahat di ruang tunggu. Kuberikan dia sekotak jus untuk
menenangkannya. Aku kembali masuk untuk merawat si kucing. Setelah aku periksa,
dia baik-baik saja. Hanya terdapat luka lecet. Sepertinya dari peluru yang
menyasar. Darah yang ada ditubuhnya juga bukan darahnya. Kukabarkan kepada
Samsul bahwa dia baik-baik saja.
Samsul memang anak yang baik.
Pada suatu ketika, Samsul mulai tidak terlihat di sekitar
kota. Orang-orang mulai membicarakan keberadaan Samsul. Aku mulai khawatir.
Rekan-rekan di rumah sakit mulai khawatir. Sudah beberapa hari ini dia tidak
terlihat.
Matahari mulai muncul. Shift malamku sudah habis. Pagi ini
aku berniat mencari Samsul. Aku akan mulai mencari dari alun-alun kota. Sebagai
pusat keramaian kota, aku berharap bisa menemukannya disana. Namun ternyata
hasilnya tidak sesuai harapan. Samsul tidak ada disini. Aku lanjutkan
perjalanan ke pelabuhan, tak juga bertemu dengannya.
Hari sudah mulai sore. Hari ini merupakan hari yang panjang.
Pencarian Samsul memakan cukup banyak tenagaku. Sepertinya, malam ini aku akan
istirahat. Sebelum pulang ke rumah, aku mesti ke rumah sakit terlebih dahulu. Mengganti
shiftku untuk hari berikutnya. Semoga malam ini tidak terjadi apa-apa di kota,
sehingga aku bisa menikmati istirahatku.
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat sepeda Samsul sedang
diparkir diluar. Aku terkejut. Apa yang terjadi dengan Samsul kali ini. Semoga dia
tidak apa-apa. Segera ku berlari masuk ke rumah sakit. Kudapati Samsung sedang
terlentang di ruang gawat darurat. Terlihat kakinya terdapat bekas gigitan. Entah
apa yang dia lakukan selama ini hingga mendapatkan luka seperti itu.
Aku mulai melakukan prosedur perawatan. Kuminta rekan-rekan
untuk membantu. Lukanya terlihat cukup parah. Sepertinya bukan luka baru. Lebih
seperti luka yang sudah dibiarkan terbuka terlalu lama. Samsul dibius. Kita bersihkan
lukanya. Untungnya, luka Samsul tidak menyebabkan perlu dilakukannya amputasi. Kini
biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Aku yakin dia telah melewati hari yang
panjang.
Samsul mulai siuman. Aku tanyakan dia habis dari mana. Kenapa
dia bisa mendapatkan luka seperti itu. Sayangnya, dia tidak ingat. Yang dia ingat
hanya perjalanannya ke atas gunung. Kuberikan dia obat oles, dan beberapa
vitamin agar dia dapat segera sembuh. Dengan pincang-pincang, dia pamit dari
rumah sakit.
Keesokan harinya, Samsul melakukan ulah yang aneh. Dia mulai
usil. Di garasi kota, dia memukul-mukul mobil warga dengan tongkat baseball. Samsul
meminta-minta permen ke semua orang. Ada apa ini. Apa yang terjadi dengan
Samsul. Kemudian dia berlari-larian kesana kemari. Sambil tertawa. Warga Los
Susi mulai curiga. Ada yang bilang Samsul mulai nakal karena stres. Ada yang
bilang juga kalau dia rabies. Namun, berita kalau dia rabies cepat menyebar. Pihak
kepolisian mulai khawatir akan terjadi kericuhan. Pencarian terhadap Samsul pun
dilakukan.
Surat perintah penangkapan Samsul dirilis. Komunitas, warga,
dokter, dan kepolisian melakukan pengejaran besar-besaran untuk menangkap
Samsul. Samsul dulu anak yang baik. Aku tidak tahu apa yang membuat dia menjadi
seperti ini. Dia sangat lihai. Samsul tahu seluk beluk kota ini. Maka dari itu
perlu masa yang cukup banyak untuk menangkap Samsul.
Laporan masuk, komunitas motor melihat Samsul di dekat Samsat.
Kami segera menuju kesana. Ternyata benar. Samsul berada disana. Sedang mengorek-orek
sampah.
“Samsul!”, teriak pak polisi.
Dia menoleh, kemudian langsung berlari ke arah rumah sakit. Kami
mengejar Samsul ke arah rumah sakit. Aku lupa. Dulu, aku pernah mengajak Samsul
untuk melihat helikopter rumah sakit di atap. Jangan-jangan, Samsul menuju
kesana. Ternyata benar. Samsul naik ke atap melalui emergency stairs di luar gedung. Untungnya, kami berhasil menangkap
Samsul sebelum Samsul berhasil naik ke atas helikopter. Kami bius, kemudian
kami bawa ke ruang gawat darurat.
Kami menemukan ada busa di mulut Samsul. Luka di kaki samsul
mulai membusuk. Syarafnya berwarna hijau. Matanya membelalak. Giginya mulai
keropos. Kukunya membiru. Setelah dilakukan cek darah, Samsul ternyata membawa
sebuah virus. Virus yang belum pernah kami temui sebelumnya. Virus ini bukan
rabies. Aku yakin lebih berbahaya dari rabies.
Kami bingung. Pihak kedokteran melakukan forum kilat bersama
pihak kepolisian. Kami takut virus ini akan menular. Ditambah lagi, kami tidak
memiliki obat untuk virus ini. Akhirnya telah diputuskan. Samsul akan
diistirahatkan untuk selamanya. Jujur, aku sedih. Kota ini akan kehilangan sosok
anak yang ceria. Kami akan kehilangan sedikit kebahagiaan di kota ini.
Esoknya, suntikan diberikan. Hari itu, kota menjadi tenang. Tidak
ada kerusuhan. Tidak ada sirine yang berbunyi. Tidak ada perampokan yang
terjadi.
Mengenang Samsul. Anak yang membawa kebahagian di kota Los
Susi.

0 comments:
Post a Comment